**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Harga Sebuah Seragam
Tiga hari setelah Bagas menyebut Kirana sebagai istrinya di depan satu kantin, kabar itu tiba di meja Letkol Bramantyo.
"Masuk," perintahnya.
Bagas menutup pintu kantor dan berdiri tegak di depan meja. Keringat latihan masih membasahi punggung seragamnya. Di luar, suara peluit dan hentakan sepatu terdengar teratur.
Bramantyo tidak langsung mengangkat kepala. Ia menyelesaikan satu tanda tangan, menutup map, lalu menunjuk kursi.
"Duduk. Ini bukan pemeriksaan resmi."
Bagas duduk, tetapi punggungnya tetap lurus.
"Saya dengar mantan istrimu datang."
"Benar, Pak."
"Dan sekarang kamu memperkenalkannya sebagai istri."
"Kami sedang menyiapkan penyelesaian status secara resmi."
Bramantyo menyandarkan tubuh. "Kamu tahu kenapa saya memanggilmu?"
"Karena laporan perubahan keluarga belum masuk."
"Itu salah satunya." Ia mengeluarkan map lain. Di sudutnya tertulis daftar calon program pendidikan pengembangan perwira. "Namamu sedang saya dorong untuk tahap penyaringan. Nilai lapanganmu kuat, disiplinmu baik, dan rekomendasi komandan kompi bersih. Tapi berkasmu punya satu noda yang mudah dipakai orang."
"Pengaduan atas nama Kirana."
"Betul. Tidak terbukti ada pelanggaran, tetapi masalah pribadi yang berulang bisa membuat panitia memilih orang lain. Mereka mencari calon yang stabil, bukan nama yang setiap bulan muncul bersama gosip baru."
Bagas menatap map itu. "Kirana tidak mengirim pengaduan tersebut."
"Kamu punya bukti?"
"Belum lengkap. Ada ketidakcocokan alamat korespondensi dan pernyataan keluarga. Sedang diperiksa."
"Kalau belum lengkap, jangan membuat klaim resmi." Bramantyo mengetuk meja. "Dan soal rujuk, pikirkan matang. Keluarga Prawira sedang terseret utang dan berita. Saya tidak menilai perempuan dari keadaan keluarganya, tapi dunia di luar kantor ini akan menilai."
"Dia mengandung anak saya."
Untuk pertama kali, Bramantyo kehilangan ketenangannya. "Sudah dipastikan?"
"Dokter memastikan usia kehamilan sesuai. Kembar."
Lelaki yang biasanya sulit terkejut itu terdiam beberapa detik. "Siapa saja yang tahu?"
"Dokter, ibunya, saya, dan Kirana. Gunawan tahu dia hamil, tidak tahu kembar."
"Jaga informasi medisnya. Tapi jangan jadikan rahasia sebagai kebohongan administrasi." Bramantyo mendorong formulir ke arah Bagas. "Laporkan lewat jalur personalia. Bertanggung jawab sebagai ayah tidak harus menunggu pernikahan. Menikah lagi juga tidak boleh hanya karena takut omongan orang."
"Saya mengerti."
"Benarkah?"
Bagas mengangkat mata. "Saya akan mengurus keduanya. Keluarga dan seleksi."
Bramantyo mendengus pelan. "Serakah."
"Saya tidak mau memilih salah satu."
"Kalau begitu buktikan kamu mampu. Jaga nama baik, selesaikan dokumenmu, dan jangan sampai ada orang menjatuhkanmu lewat urusan pribadi."
Bagas mengambil formulir. "Siap."
Bramantyo membuka halaman jadwal. "Enam minggu lagi penyaringan tingkat satuan. Ada tes fisik, psikologi, bahasa Inggris, dan tulisan analisis. Setelah itu berkas prestasi dan kondisi administrasi keluarga diperiksa sebelum nama dikirim ke tingkat berikutnya."
"Status perceraian saya sudah tercatat."
"Kalau kamu rujuk atau akad ulang, laporkan sebelum berkas ditutup. Jangan biarkan panitia mengetahui perubahan dari gosip. Begitu juga soal calon anak. Tulis sesuai fakta, tidak lebih dan tidak kurang."
"Apakah kehamilan Kirana bisa menggugurkan saya?"
"Bukan kehamilannya. Yang berbahaya adalah kalau ada kebohongan, perkara hukum, atau konflik terbuka yang dianggap mengganggu kesiapan tugasmu." Bramantyo mengetuk kolom rekomendasi. "Karena itu, bedakan nama baik dari menutupi fakta. Nama baik dijaga dengan bertindak benar, bukan berpura-pura tidak punya masalah."
Bagas membaca setiap syarat. Tidak ada larangan menikahi perempuan dari keluarga bangkrut. Tidak ada larangan menjadi ayah sebelum menyelesaikan rujuk. Hambatan sebenarnya adalah penilaian, waktu, dan orang yang sengaja memelintir keadaan.
"Saya akan menyerahkan laporan keluarga minggu ini," katanya.
"Bagus. Setelah itu, jangan beri celah lain."
"Satu lagi. Nilai akademikmu paling lemah di daftar ini. Pengalaman lapangan tidak akan menjawab soal analisis kebijakan atau bahasa Inggris."
"Saya belajar."
"Belajar lebih keras. Orang dengan sekolah lebih tinggi darimu sudah mulai setahun lalu."
Bagas berdiri. "Siap, Pak."
Bramantyo memandangnya seperti seorang kakak yang ingin memukul sekaligus mendorong adiknya maju. "Saya mempertaruhkan nama saya saat merekomendasikanmu. Jangan buat saya menyesal."
"Tidak akan."
***
Di lapangan, Bagas menambah dua putaran lari setelah kelompoknya selesai.
Gunawan berdiri di pinggir sambil memegang stopwatch. "Pak Bram marah?"
"Tidak."
"Kalau tidak marah, kenapa Mas menghukum diri sendiri?"
Bagas menyelesaikan putaran, berhenti, lalu meneguk air. "Nilai akademikku kurang."
"Nilai fisikmu sudah jauh di atas syarat."
"Itu tidak cukup."
Gunawan menyerahkan handuk. "Jadi benar mau ikut seleksi pendidikan itu?"
"Kalau lolos penyaringan."
"Dengan urusan Kirana?"
Bagas menatapnya. "Kenapa semua orang menganggap aku harus membuang salah satu?"
"Karena sehari cuma dua puluh empat jam. Mas latihan, belajar, urus dokumen, antar kontrol, cari bukti pengaduan. Kapan tidurnya?"
"Nanti."
Gunawan tertawa tidak percaya. "Jawaban orang yang sebentar lagi tumbang."
"Kamu bisa bantu."
"Bantu apa?"
"Latihan bahasa. Kamu lebih bagus di bagian itu."
Gunawan menatapnya seolah baru diminta memindahkan gunung. "Mas yang selama ini bilang pengucapan saya bikin orang tersesat?"
"Tetap lebih baik daripada aku."
"Ini pertama kalinya Mas mengaku kalah. Saya harus mencatat tanggalnya."
"Pukul lima besok pagi. Bawa modulmu."
Wajah Gunawan langsung jatuh. "Kenapa bantuan selalu berarti saya harus bangun lebih cepat?"
"Karena kamu sudah menawarkan pendapat tanpa diminta. Sekarang sekalian berguna."
Meski mengeluh, Gunawan mengangguk. Dukungan itu kecil, tetapi mengubah keputusan Bagas dari tekad pribadi menjadi rencana yang benar-benar bisa dijalankan.
Bagas mengabaikannya dan kembali ke barisan.
***
Malam hari, lampu meja di asrama masih menyala setelah seluruh kamar sunyi.
Di depan Bagas terbuka buku strategi, modul bahasa Inggris, dan lembar latihan menulis analisis. Tulisan tangannya kuat tetapi kaku. Ia menghapus satu paragraf, menulis ulang, lalu membandingkan dengan contoh jawaban.
Bagas tidak tumbuh bersama guru privat atau sekolah terbaik. Di Sumberrejo, ia belajar di meja warung sambil membantu pekerjaan rumah. Setelah masuk dinas, setiap kenaikan dicapai dengan nilai lapangan, disiplin, dan malam-malam seperti ini.
Seorang rekan sekamar terbangun untuk minum. "Belum tidur?"
"Belum."
"Besok latihan subuh."
"Aku tahu."
"Kalau mau, saya punya modul lama kakak saya untuk tes bahasa."
Bagas mengangkat kepala. "Bawa besok. Aku pinjam."
Rekannya mengangguk lalu kembali tidur.
Ponsel Bagas bergetar. Pesan dari Kirana masuk.
`Vitamin sudah diminum. Anak-anakmu membuatku lapar lagi.`
Bagas menatap kata anak-anakmu cukup lama. Ia membuka aplikasi pesan makanan, memilih bubur kacang hijau dan roti, lalu mengirimkannya ke wisma dengan catatan agar diserahkan melalui Bu Marni.
`Makan. Jangan tidur dengan perut kosong.`
Balasan datang cepat.
`Siap, Komandan Keadaan.`
Sudut bibir Bagas bergerak. Ia mematikan layar dan kembali ke modul.
Dulu ia ingin naik karena lelah dipandang sebagai anak desa yang hanya berguna saat tenaga dibutuhkan. Sekarang ada alasan lain. Kirana dan dua bayi itu tidak boleh terus menunduk karena ia kekurangan pendidikan, pangkat, atau jaringan.
Seragam di tubuhnya bukan hadiah. Setiap garis dan kesempatan memiliki harga.
Bagas mengambil lembar baru dan mulai menulis dari awal.
Di tempat lain, akun anonim yang dihubungi Melati menyusun potongan informasi tentang rumah Prawira, kehamilan, dan seorang perwira yang sedang dipertimbangkan untuk program pendidikan.
Bagas belum tahu bahwa peringatan Bramantyo sudah terlambat beberapa jam.
Seseorang telah mengarahkan pisau tepat ke kesempatan yang baru dibukakan untuknya.