Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 15. Ciuman Pertama
Entah bagaimana, percakapan itu membuat jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Mereka saling menatap.
Awalnya hanya beberapa detik.
Namun tak ada yang bergerak menjauh.
Vellano sedikit mendekat.
Alessia pun tanpa sadar melakukan hal yang sama,lalu...........
Dan sebelum keduanya sempat berpikir, bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman singkat.
Entah bagaimana, percakapan itu membuat jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Mereka saling menatap.
Awalnya hanya beberapa detik.
Namun tak ada yang bergerak menjauh.
Vellano sedikit mendekat.
Alessia pun tanpa sadar melakukan hal yang sama.
Hanya beberapa detik.
Namun rasanya seperti waktu berhenti.
Mereka segera menjauh hampir bersamaan.
Alessia menunduk, wajahnya memerah.
Vellano membeku.
“Aku…” katanya.
Alessia langsung menyela, “Tidak perlu dijelaskan.”
“Aku sebenarnya tidak bermaksud—”
“Aku tahu.”
Keduanya kembali diam.
Vellano mengusap tengkuknya dengan gugup.
Alessia malah menatap halaman, pura-pura sangat tertarik pada tanaman.
Beberapa detik kemudian, Vellano berkata pelan, “Kau tidak marah?”
Alessia menggeleng cepat.
“Tidak.”
Hening lagi.
Lalu terdengar suara burung malam dari halaman.
Alessia tersentak.
Vellano menoleh.
“Itu burung.”
“Aku tahu!”
Vellano hampir tersenyum.
Malam itu, untuk pertama kalinya, keduanya benar-benar kehabisan kata-kata—sesuatu yang bahkan lebih memalukan daripada cerita ayam masa kecil Vellano.
Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur. Lampu kamar dimatikan, dan suasana kembali sunyi.
Vellano tampak sudah terlelap di sofa, napasnya teratur dan wajahnya tenang. Berbeda dengan Alessia yang justru terus berguling di atas ranjang.
Setiap kali memejamkan mata, kejadian di balkon kembali terbayang.
Ciuman singkat itu.
Alessia menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
“Kenapa aku masih memikirkannya?” gumamnya pelan.
Ia mencoba mengalihkan pikiran dengan menghitung bintang, mengingat percakapan tadi, bahkan memikirkan cerita konyol tentang Vellano dan ayam.
Tetap saja gagal.
Pipinya kembali memanas.
Setelah cukup lama bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya rasa kantuk menang.
Alessia pun tertidur.
......................
Sejak kejadian di balkon malam itu, hubungan Alessia dan Vellano berubah sedikit. Tidak drastis, tetapi cukup untuk membuat keduanya menyadarinya.
Mereka mulai lebih sering saling memperhatikan.
Vellano diam-diam memastikan kopi Alessia sudah tersedia setiap pagi. Alessia pun mulai mengingatkan Vellano agar tidak melewatkan sarapan ketika ia terlalu sibuk membaca berita di ponselnya.
Pagi itu, mereka duduk berhadapan di meja makan.
Alessia sedang mengoleskan selai ke rotinya ketika Vellano tiba-tiba mendorong segelas jus ke arahnya.
“Minum.”
Alessia mengangkat alis. “Kenapa?”
“Kau belum minum apa-apa sejak bangun.”
Alessia menatap gelas itu, lalu tersenyum kecil. “Perhatian sekali.”
Vellano langsung kembali menatap ponselnya. “Jangan salah paham.”
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Itu wajahmu sudah mengatakan banyak.”
Alessia terkekeh.
Beberapa detik kemudian, Vellano mengambil sepotong roti dari piringnya.
Alessia langsung menatap tajam.
“Itu punyaku.”
Vellano berhenti mengunyah.
“Kau tadi bilang sudah kenyang.”
“Aku bilang hampir kenyang.”
Vellano mengangguk santai. “Berarti masih ada ruang.”
Alessia mengambil kembali piringnya. “Dasar pencuri makanan.”
Vellano justru tersenyum tipis.
Suasana sarapan mereka terasa jauh lebih ringan dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Namun ketika tangan mereka tanpa sengaja bertemu saat mengambil sendok, keduanya langsung berhenti.
Mata mereka bertemu.
Sesaat, kejadian di balkon kembali terlintas.
Alessia buru-buru menarik tangannya.
Vellano berdeham.
“Kau mau kopi?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Takut tumpah.”
Vellano menatap cangkir di tangannya.
“Yang tumpah bukan kopinya.”
Alessia menyipitkan mata.
“Vellano!”
Untuk pertama kalinya, Vellano tertawa kecil.
Dan tanpa mereka sadari, jarak di antara keduanya perlahan mulai menghilang.
......................
Siang itu, suasana kantor Vellano cukup sibuk. Namun, semuanya mendadak berubah ketika Alessia muncul di lobi sambil membawa sebuah kotak bekal.
Ia datang tanpa banyak pemberitahuan, berniat memberikan kejutan kecil kepada suaminya.
Hari itu Alessia memasak sendiri pasta dengan saus gurih dan potongan daging sapi panggang. Sederhana, tetapi ia membuatnya dengan sungguh-sungguh.
Begitu melangkah masuk, hampir semua mata langsung tertuju kepadanya.
Beberapa karyawan saling berbisik.
“Itu Nyonya Vellano?”
“Cantik sekali.”
“Pantas saja bos kita kelihatan makin bahagia akhir-akhir ini.”
Alessia yang menyadari tatapan mereka langsung merasa canggung. Ia hanya tersenyum sopan lalu berjalan menuju lift.
Sementara itu, di lantai atas, Vellano sedang membaca dokumen ketika asistennya masuk.
“Tuan, istri Anda datang.”
Vellano mengangkat wajah.
“Alessia?”
Begitu pintu terbuka dan Alessia muncul membawa kotak makanan, Vellano terdiam.
“Aku membawakan makan siang,” katanya pelan.
Vellano menatap bekal itu, lalu menatap istrinya.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Terima kasih.”
Untuk pertama kalinya, perhatian kecil Alessia membuat hari kerja Vellano terasa jauh lebih menyenangkan.
Makan siang di ruang kerja Vellano berlangsung cukup tenang. Pasta buatan Alessia ternyata benar-benar disukai suaminya. Bahkan beberapa kali Vellano memuji masakannya, meski tetap dengan gaya sok tenang yang membuat Alessia ingin mencubitnya.
Alessia duduk di seberangnya sambil memperhatikan Vellano makan.
Diam-diam ia memperhatikan wajah tampannya.
Kenapa orang ini kalau sedang diam malah terlihat semakin tampan? batinnya.
Tatapannya kemudian turun tanpa sengaja.
Ke bibir Vellano.
Dan saat melihat bibir itu bergerak ketika mengunyah, ingatannya langsung melayang kembali ke balkon malam sebelumnya.
Ciuman itu.
Alessia buru-buru mengalihkan pandangan.
Namun terlambat.
Vellano sudah menyadarinya.
Ia meletakkan garpunya perlahan dan menatap Alessia dengan ekspresi tenang yang justru membuat perempuan itu semakin gugup.
“Kenapa?”
“Tidak ada.”
“Kau terus melihatku.”
“Aku tidak melihatmu.”
Vellano mengangkat alis. “Oh?”
Alessia mengambil gelas air dan meminumnya terlalu cepat.
Ia langsung tersedak.
“Uhuk!”
Vellano spontan mendorong tisu ke arahnya.
“Pelan-pelan. Aku tidak akan mengambil makananmu.”
Alessia menatapnya kesal sambil membersihkan bibir.
“Aku cuma haus.”
“Tentu.”
Nada suara Vellano terdengar begitu santai hingga Alessia tahu dirinya sedang digoda.
Vellano kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kalau kau masih memikirkan kejadian di balkon…”
Alessia langsung membeku.
“…kita bisa mengulanginya.”
Mata Alessia membesar.
“Hah?!”
Vellano menahan senyum. “Kalau kau mau.”
Wajah Alessia seketika memerah.
“Kau gila?”
“Kenapa? Bukankah tadi kau yang menatap bibirku?”
“Aku tidak!”
Vellano menunjuk wajahnya. “Wajahmu mengatakan sebaliknya.”
Alessia mengambil satu potong daging dari kotak makan lalu memasukkannya ke mulut dengan kesal.
“Diam dan makan!”
Vellano tertawa kecil.
“Baik, Nyonya Vellano.”
Alessia mendengus, tetapi sudut bibirnya justru ikut terangkat.
Di balik candaan itu, keduanya sama-sama tahu bahwa ciuman di balkon malam itu perlahan mulai mengubah sesuatu di antara mereka.
Dan sekarang, bahkan makan siang sederhana pun terasa jauh lebih berbahaya daripada yang seharusnya.
......................
Sepulang dari kantor, Alessia memutuskan mampir sebentar ke kafe langganannya. Hari itu ia tidak membawa motor maupun mobil sendiri karena sejak pagi diantar oleh sopir pribadi keluarga Vellano. Setelah makan, sang sopir akan menjemputnya kembali.
Begitu duduk di sudut kafe, Alessia memesan croissant kesukaannya dan secangkir minuman hangat.
Namun baru beberapa gigitan, pikirannya kembali melayang.
Balkon.
Tatapan Vellano.
Dan ciuman singkat itu.
Alessia menghela napas panjang.
“Kenapa harus kejadian sih…”
Ia menggigit croissant sedikit terlalu keras.
“Dan tadi di kantor dia malah bilang bisa mengulanginya.”
Wajahnya kembali memanas.
Seolah belum cukup memalukan, ia teringat bagaimana tadi ia ketahuan menatap bibir Vellano.
Alessia menutup wajah dengan kedua tangan.
“Memalukan sekali.”
Seorang pelayan yang kebetulan lewat menoleh bingung.
Alessia langsung menurunkan tangannya dan berpura-pura sibuk memakan croissant.
“Tidak terjadi apa-apa,” gumamnya.
Namun di dalam kepalanya, suara Vellano kembali terdengar.
Kalau kau mau, kita bisa mengulanginya.
Alessia hampir tersedak.
Ia buru-buru mengambil minuman.
“Pria itu benar-benar berbahaya.”
Ia kemudian terdiam.
Sebenarnya yang lebih berbahaya adalah pikirannya sendiri.
Karena semakin ia berusaha melupakan kejadian di balkon, semakin jelas bayangan itu muncul.
Dan yang paling membuatnya kesal adalah satu hal.
Vellano tahu persis apa yang sedang ia pikirkan.
Alessia menghela napas, lalu menatap croissant di tangannya.
“Seharusnya aku fokus makan.”
Namun beberapa detik kemudian, ia kembali tersenyum malu seorang diri.
Sementara itu, ia sama sekali tidak sadar bahwa perjalanan pulang nanti mungkin akan membuat keadaan menjadi jauh lebih canggung
Alessia baru saja menggigit croissant kesukaannya ketika seseorang berhenti tepat di depan mejanya.
“Sendirian?”
Alessia membeku.
Suara itu.
Ia perlahan mengangkat kepala dan langsung kehilangan selera makan........
...****************...
Siapa yang datang ya?Axel/mantannya Vellano?
Yok Subscribe ,vote dan like.Ikuti terus keseruan kisah cinta Vellano dan Alessia.
Terimakasih yang sudah mampir,semoga kalian sehat selalu.Salam damai🫶🏽🥰