Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISA HARI
Cahaya matahari pagi yang hangat menembus kelambu putih di ranjang utama vila, membawa kesadaran Naura kembali perlahan. Dia mengerjapkan mata, merasakan kehangatan yang tidak biasa melingkupi tubuhnya. Saat dia mencoba bergerak, sebuah lengan kekar yang kokoh di atas pinggangnya menahannya dengan lembut namun posesif.
Naura menoleh sedikit dan mendapati wajah tampan Adrian yang masih terpejam erat di sampingnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Naura bisa merasakan embusan napas teratur suaminya di keningnya. Tanpa sadar, seulas senyuman manis terukir di bibir Naura. Dia mengulurkan jarinya, menelusuri garis rahang tegas Adrian yang tampak lebih rileks pagi ini tanpa beban pekerjaan kantor.
Malam pertama mereka di pulau privat ini telah menghapus semua sisa keraguan di hati Naura. Mereka bukan lagi dua orang asing yang terikat perjanjian hitam di atas kertas, melainkan pasangan yang saling menyerahkan hati seutuhnya.
"Menikmati pemandangan pagi ini, Nyonya Mahendra?" sebuah suara bariton yang serak khas orang baru bangun tidur mendadak terdengar.
Naura tersentak kaget, mencoba menarik jarinya kembali dengan wajah yang seketika merah padam. Namun, Adrian bergerak lebih cepat. Mata elangnya terbuka, memancarkan binar kehangatan yang intens saat dia menangkap pergelangan tangan Naura dan mengecup telapak tangannya dengan lembut.
"A-Adrian... kamu sudah bangun?" bisik Naura malu-malu, mencoba menyembunyikan wajahnya di bawah selimut.
Adrian terkekeh pelan, menarik tubuh Naura lebih erat ke dalam pelukannya. "Bagaimana bisa aku tidur nyenyak jika ada seorang wanita cantik yang sedang mengagumi suaminya sendiri, hm?" goda Adrian, mengecup puncak kepala Naura dengan penuh kasih sayang. Pria posesif itu benar-benar enggan melepaskan dekapannya pagi ini.
Hari-hari berikutnya di pulau privat Raja Ampat berjalan bagaikan potongan surga kecil bagi mereka berdua. Adrian benar-benar menepati janjinya untuk mengosongkan seluruh waktunya demi Naura. Tidak ada gawai bisnis, tidak ada rapat darurat, dan tidak ada gangguan dari lingkaran keluarga Mahendra yang penuh intrik.
Pada hari ketiga, Adrian mengajak Naura untuk menikmati keindahan bawah laut pulau privat tersebut. Meskipun Naura awalnya sempat takut karena tidak bisa berenang dengan baik, kesabaran dan perlindungan dari Adrian membuatnya berani mengenakan peralatan snorkeling.
Di dalam air laut yang bening bak kristal, Adrian terus menggenggam tangan Naura, menuntunnya berenang di antara terumbu karang yang berwarna-warni dan kawanan ikan badut yang menggemaskan. Saat Naura mendongak di dalam air, dia melihat Adrian yang menatapnya dengan binar mata yang sarat akan rasa bangga dan cinta. Di tengah samudra yang luas itu, Naura tahu dia telah menemukan pelabuhan terakhirnya.
Sore harinya, mereka menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sepanjang hamparan pasir putih yang selembut sutra. Angin laut bertiup lembut, memainkan helai rambut hitam Naura yang dibiarkan terurai. Adrian berjalan di sampingnya dengan celana pendek, sementara tangannya tidak pernah lepas merangkul pinggang ramping sang istri.
"Adrian..." panggil Naura pelan, menghentikan langkahnya untuk menatap matahari terbenam yang memancarkan warna jingga keemasan yang luar biasa indah di cakrawala. "Terima kasih untuk liburan ini. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia."
Adrian menghentikan langkahnya, ikut menatap pemandangan di depan mereka sebelum memutar tubuh Naura agar menghadap ke arahnya. Dia menangkup kedua pipi Naura yang merona dengan tangan hangatnya.
"Kau salah, Naura," ucap Adrian, suaranya terdengar begitu berat dan tulus, meresap hingga ke lubuk hati Naura. "Akulah pria yang paling beruntung di dunia karena kau mau menerima pria arogan dan kaku seperti diriku ke dalam hidupmu. Tempat ini, harta, dan jabatanku... semuanya tidak ada artinya jika aku tidak memilikimu di sisiku."
Adrian merundukkan wajahnya, menyatukan kening mereka dengan penuh keintiman. "Satu minggu ini membuatku sadar bahwa aku tidak akan pernah bisa hidup tanpamu lagi. Saat kita kembali ke Jakarta nanti, badai dan tantangan mungkin akan kembali datang dari orang-orang yang tidak suka melihat kita bahagia. Tapi berjanjilah, kau tidak akan pernah melepaskan genggaman tanganmu dariku."
Naura menatap mata elang Adrian yang kelam, melihat bayangan dirinya sendiri di sana yang penuh obsesi. Dia mengulurkan tangannya, menyentuh dada bidang Adrian tempat jantung pria itu berdetak liar. "Aku berjanji, Adrian. Sejauh apa pun badai itu mencoba memisahkan kita, aku akan tetap berdiri di sampingmu sebagai istrimu."
Adrian tersenyum posesif, dipenuhi rasa kemenangan. Dia menutup janji manis itu dengan sebuah ciuman yang mendalam dan hangat di bawah siraman cahaya matahari terbenam yang romantis, mengunci hati mereka dalam ikatan batin yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun.
Hari ketujuh pun tiba, menandakan akhir dari liburan manis mereka di pulau privat. Pagi itu, jet pribadi keluarga Mahendra sudah kembali bersiap di bandara utama untuk membawa mereka pulang ke ibu kota.
Saat mereka melangkah memasuki kabin jet mewah, atmosfer di antara keduanya sudah jauh berbeda dibandingkan satu minggu yang lalu. Keheningan canggung telah sepenuhnya melebur menjadi kemesraan yang alami. Naura duduk bersandar dengan nyaman di lengan kokoh Adrian, sementara jemari mereka saling bertautan erat tanpa jarak.
"Tuan Adrian, Nyonya Naura, kita akan mendarat di Jakarta dalam waktu tiga jam," lapor Dimas melalui interkom dengan nada formalnya. "Saya juga ingin mengabarkan bahwa kondisi Ibu Naura di rumah sakit pagi ini sangat stabil dan beliau sudah bisa mulai berjalan kecil untuk terapi pemulihan."
Naura tersenyum lega mendengar kabar tersebut, menatap Adrian dengan binar mata penuh rasa syukur. "Dengar itu, Adrian? Ibu sudah semakin sehat."
"Aku mendengarnya, Sayang," jawab Adrian, menyelipkan panggilan manis yang membuat pipi Naura kembali merona hangat. Adrian mengecup pelipis Naura perlahan, sebelum pandangan matanya beralih menatap keluar jendela jet pribadi yang membelah awan.
Meskipun hatinya dipenuhi oleh kebahagiaan bersama Naura, insting bisnis dan ketajaman seorang Adrian Mahendra tahu bahwa kepulangan mereka ke Jakarta akan langsung disambut oleh dinamika baru. Gavin mungkin sudah disingkirkan, namun dewan direksi yang meragukan keputusan pernikahannya serta intrik bisnis lainnya pasti sudah menunggu di balik pintu kantor Mahendra Group.
Namun kali ini, Adrian tidak lagi merasa terbebani. Dia memiliki Naura sebagai sumber kekuatannya yang sesungguhnya. Pria posesif itu mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri, bersiap membawa wanitanya menerjang babak baru kehidupan mereka di ibu kota dengan keyakinan penuh bahwa cinta mereka akan mampu menaklukkan segalanya.