Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Menghindar
“Tidur," ujar Ares.
Alisha mengangguk patuh, lalu mulai berbaring. Ares menarik selimut, kemudian berbaring di samping Alisha.
Beberapa saat kemudian, lengannya merengkuh tubuh perempuan itu seperti malam-malam sebelumnya.
Alisha tidak menolak. Tubuhnya justru perlahan menyesuaikan diri dengan pelukan itu. Kepalanya bersandar di dada Ares, sementara napasnya mulai teratur.
Ares menatap langit-langit. Seharusnya ia bisa tidur. Namun pikirannya masih dipenuhi percakapan mereka tadi.
Arga. Rania. Pengkhianatan yang pernah membuatnya bersumpah tidak akan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada seorang perempuan lagi.
Sekarang ia takut hal yang sama terjadi pada Alisha. Bukan karena Alisha sudah melakukan sesuatu. Justru itu masalahnya. Alisha belum memberinya alasan untuk curiga.
Perempuan itu hanya menjalani apa yang sudah mereka sepakati. Datang ketika dipanggil, menjaga batas, bahkan tetap berusaha merahasiakan pernikahan mereka demi adiknya.
Ares menundukkan pandangan. Tangannya masih berada di pinggang Alisha. Ia takut kehilangan perempuan ini. Namun ia lebih takut membiarkan dirinya mencintai seseorang lagi, lalu mengetahui bahwa semua yang ia percaya ternyata hanya kebohongan.
Ares mengembuskan napas panjang. "Jangan terlalu jauh."
Ia memejamkan mata. Untuk malam ini cukup, tidur.
Entah berapa lama berlalu. Ares terbangun ketika tubuh di dalam pelukannya bergerak.
Alisha bergeser dalam tidurnya, lalu tanpa sadar semakin mendekat. Pipinya menyentuh dada Ares dan salah satu tangannya menempel di dadanya, menyentuh kulitnya.
Ares membuka mata. Dalam cahaya samar dari luar jendela, ia bisa melihat wajah Alisha yang masih terlelap.
Rambut perempuan itu sedikit berantakan. Napasnya hangat menyentuh kulit Ares.
Jantung Ares berdetak lebih cepat. Ia menahan napas. Keinginan yang sejak tadi ia tekan kembali muncul begitu saja. Sesuatu di bawah sana mulai terbangun dan berdenyut. Ia memejamkan mata, berusaha mengendalikannya.
Namun Alisha kembali bergerak kecil dalam tidurnya. Tubuhnya semakin mendekat, seolah mencari posisi paling nyaman dalam pelukan Ares. Kepalanya bergeser hingga bibirnya tanpa sengaja menyentuh dada Ares.
Lengan Alisha ikut berpindah. Dari siku hingga telapak tangannya kini menempel di dada dan perut Ares, membuat tubuh pria itu seketika menegang.
Tangannya yang berada di pinggang Alisha perlahan mengendur. Ia bisa saja membiarkan dirinya mengikuti dorongan itu. Tetapi Ares membuka mata lagi. Tatapannya jatuh pada wajah Alisha.
Perempuan itu tidak tahu apa-apa. Tidak tahu bagaimana tubuhnya sendiri mampu mengacaukan pertahanan Ares hanya dengan sebuah gerakan kecil.
Ares mengalihkan pandangan ke langit-langit.
“Jangan sekarang,” gumamnya pelan.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membenarkan selimut yang menutupi tubuh Alisha. Setelah itu, ia kembali merengkuhnya. Bukan untuk memenuhi keinginannya. Hanya untuk membuat Alisha tetap nyaman.
Ares memejamkan mata. Kalau suatu hari mereka melangkah lebih jauh, ia ingin Alisha menginginkannya dalam keadaan sadar, bukan karena kontrak atau rasa percaya yang sedang mereka bangun. Ia ingin perempuan itu memilihnya.
Masalahnya, semakin lama Ares mengenal Alisha, semakin ia sadar bahwa menunggu bukan lagi perkara sulit.
Yang sulit adalah memastikan hatinya tidak ikut berjalan terlalu jauh sebelum ia siap.
Alisha terbangun perlahan. Hal pertama yang ia sadari adalah lengannya masih berada di antara tubuhnya dan Ares. Ia masih berada dalam pelukan pria itu, dengan punggung menempel pada dada bidangnya.
Alisha hendak bergeser.
Namun begitu tubuhnya bergerak sedikit, lengan Ares yang melingkar di pinggangnya justru mengencang sesaat.
Alisha berhenti. Ada yang terasa berbeda. Dada Ares naik turun lebih berat daripada biasanya. Kulitnya juga terasa hangat ketika lengan Alisha tanpa sengaja menyentuhnya.
Alisha mengerutkan kening. “Tuan Ares?”
Tidak ada jawaban. Ia menunggu beberapa detik sebelum memanggil lagi. “Tuan?”
“Hm?” Suara Ares terdengar rendah dan agak serak.
Alisha menelan ludah. “Anda sudah bangun?”
“Sudah.” Jawabannya terlalu cepat.
Alisha kembali mencoba bergerak, tetapi kali ini Ares langsung melepaskan pelukannya dan bergeser menjauh.
“Maaf.”
Alisha mengangkat wajah. “Kenapa minta maaf?”
Ares terdiam. “Gak apa-apa.”
Jawaban itu justru membuat Alisha semakin bingung. Ia merasakan Ares bangkit dari ranjang.
“Kamu... tetap di sini.”
Alisha mengangguk meski tidak bisa melihat pria itu. “Kenapa?”
“Aku mau ke kamar mandi.”
Langkah Ares terdengar menjauh. Alisha duduk di tepi ranjang. Tangannya menyentuh dada sendiri yang tiba-tiba ikut berdebar. Ia mengingat kembali beberapa detik tadi.
Pelukan Ares terasa berbeda, lebih kaku, napasnya berat, dan tubuhnya terasa jauh lebih panas dari biasanya.
Alisha mengusap pipinya yang mulai hangat. “Apa dia sakit?”
Ia segera menggeleng sendiri. “Tapi kalau sakit, kenapa malah buru-buru pergi?”
Dari balik pintu kamar mandi terdengar suara keran menyala. Alisha semakin bingung. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Ares pagi itu.
Yang ia tahu hanya satu. Entah kenapa, suasana di antara mereka terasa jauh lebih canggung daripada biasanya.
***
Alisha berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar Raka. Saat melewati ruang perawat, langkahnya melambat ketika mendengar percakapan dari dalam.
“Kalo pria terlalu lama nahan hasrat, emang bisa kelihatan dari sikapnya?” tanya seorang perawat.
“Bisa saja,” jawab rekannya. “Respons tubuh tiap orang beda. Ada yang jadi gelisah, susah tidur, atau lebih tegang dari biasanya.”
“Terus?”
“Kadang malah menghindari orang atau situasi yang bisa memicunya.”
Langkah Alisha berhenti. Tangannya yang memegang tali tas perlahan mengencang.
Lebih tegang. Napas berat. Menghindari pemicu.
Pikirannya langsung kembali pada pagi tadi. Pelukan Ares yang mendadak mengencang. Tubuhnya yang terasa lebih panas. Napas berat yang terdengar begitu dekat.
Dan bagaimana Ares buru-buru melepaskannya sebelum pergi ke kamar mandi.
Alisha menelan ludah. Jangan-jangan...
Wajahnya langsung terasa panas. “Enggak mungkin.”
Ia buru-buru melanjutkan langkah. Namun semakin ia mencoba melupakan percakapan itu, semakin sulit mengabaikan tingkah Ares pagi tadi.
Sore menjelang malam, Alisha baru selesai berbicara dengan Raka ketika ponselnya bergetar. Satu pesan masuk.
Tuan Ares:
> Malam ini kamu gak usah datang.
Alisha menatap layar cukup lama. Biasanya justru Ares yang mengingatkannya untuk datang. Ia mengetik perlahan.
Alisha:
> Tuan ada keperluan lain?
Pesan itu terbaca. Tidak lama kemudian balasan masuk.
Tuan Ares:
> Nggak. Aku cuma pengen sendiri malam ini.
Alisha mengerutkan kening. Ingin sendiri?
Entah kenapa, kalimat itu membuat percakapan dua perawat tadi kembali terlintas. Menghindari orang atau situasi yang bisa memicunya.
Alisha menggigit bibir bawah. Ia mencoba mencari alasan lain. Mungkin Ares sedang lelah. Mungkin ada pekerjaan.
Mungkin...
Ponselnya kembali bergetar.
Tuan Ares:
> Besok datang kayak biasa.
Alisha membaca pesan itu dua kali. Kalau Ares memang hanya ingin beristirahat, kenapa besok harus datang seperti biasa?
Ia kembali menatap layar ponselnya. Pagi tadi Ares bersikap aneh. Sekarang pria itu justru menyuruhnya tidak datang.
Dan untuk pertama kalinya, sebuah dugaan yang sebelumnya terasa mustahil mulai muncul di kepalanya.
"Jangan-jangan... aku benar-benar penyebabnya?"
Alisha langsung menutup layar ponselnya. Pipinya semakin panas.
“Gak mungkin,” gumamnya.
Namun kali ini, ia sendiri tidak terdengar yakin.
...✨“Kontrak bisa menentukan kapan sebuah hubungan dimulai dan berakhir, tetapi tidak pernah bisa menentukan kapan hati mulai terikat.”✨...
.
To be continued
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏