Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan yang Tak Terbendung
Matahari sore mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan warna jingga keemasan yang menimpa area konstruksi Proyek Wibowo Park. Suara deru mesin alat berat kembali terdengar bertahap, menandakan aktivitas pembangunan telah pulih sepenuhnya. Namun, di sudut lapangan dekat mobil sedan putih, atmosfer di antara Arka dan Maya justru terasa makin tegang.
Maya masih menggenggam jemari kanan Arka. Tatapannya sangat tajam, menembus langsung ke dalam manik mata suaminya. Tidak ada lagi rasa takut atau panik di wajah cantik itu, yang tersisa hanyalah keraguan yang mendalam terhadap sosok pria di hadapannya.
"Aku menunggumu menjawab, Arka," panggil Maya dengan suara pelan namun sarat akan ketegasan. "Seorang montir jalanan tidak punya keahlian membunuh presisi seperti tadi. Pria biasa tidak akan membuat seorang Kapolres Kota membungkuk hormat."
Arka menatap Maya dalam dalam. Ia bisa merasakan getaran kecil di jemari Maya yang masih memegang tangannya. Pria itu menghela napas panjang, lalu perlahan membalas genggaman tangan istrinya dengan hangat.
"Maya," panggil Arka dengan nada suara yang sangat lembut. "Ada beberapa hal dari masa laluku yang belum sempat aku ceritakan padamu."
Maya mengernyitkan alisnya. "Masa lalu?"
"Sebelum aku kembali ke kota ini dan bekerja serabutan," ujar Arka menyusun alibi barunya dengan tenang dan meyakinkan, "aku pernah mengabdi selama delapan tahun di unit pengamanan khusus tingkat tinggi. Aku bertugas melindungi tokoh tokoh penting negara dan pimpinan konsorsium raksasa, termasuk jajaran eksekutif Nusantara Group."
Maya tertegun sejenak. Manik matanya bergetar saat mencerna informasi tersebut.
"Pengamanan khusus?" bisik Maya ragu. "Maksudmu... kamu mantan pengawal pribadi?"
"Benar," jawab Arka tanpa ragu. "Itu alasan kenapa aku memiliki kemampuan bertarung untuk melindungimu. Kartu titanium yang aku perlihatkan tadi adalah akses keamanan tingkat tinggi yang diberikan langsung oleh Executive Chairman Nusantara Group kepadaku sebagai bentuk apresiasi atas jasaku di masa lalu. Dan soal Kapolres tadi... dia adalah mantan atasku saat aku masih bertugas di satuan pengamanan."
Maya menatap Arka dengan cermat, mencoba mencari kebohongan di dalam raut wajah suaminya. Penjelasan Arka terasa sangat masuk akal dan masuk ke dalam logikanya. Itu menjelaskan mengapa Arka sangat tangguh secara fisik, memiliki akses khusus ke perbankan melalui koneksi pengawal elite, serta dihormati oleh pejabat kepolisian.
Namun, bagian kecil di dalam dada Maya masih merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang disembunyikan oleh Arka.
"Kalau kamu punya latar belakang sehebat itu..." gumam Maya pelan, menatap kemeja putih sederhana yang dikenakan Arka, "kenapa kamu memilih hidup menyamar menjadi montir serabutan dan mau menerima pernikahan kontrak seharga warisan denganku?"
Arka menyunggingkan senyum tipisnya yang hangat. Ia mengusap punggung tangan Maya dengan jempolnya.
"Karena aku lelah dengan dunia yang penuh pertumpahan darah dan politik kekuasaan," jawab Arka jujur. "Dan mengenai pernikahan kita... membantumu mempertahankan Wibowo Group adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku, Maya."
Pipi Maya mendadak merona tipis mendengar ucapan tulus tersebut. Dadanya berdebar kencang, menghancurkan benteng pertahanan emosinya yang sejak tadi dipasang erat. Ia memalingkan wajahnya ke samping untuk menyembunyikan rasa canggung yang mendadak menyerang.
"Sudah... tidak usah menggombal," cetus Maya sambil menarik pelan tangannya dari genggaman Arka. "Ayo kita pulang. Hari sudah makin sore."
Arka terkekeh pelan melihat reaksi menggemaskan dari istrinya. Ia membukakan pintu mobil untuk Maya dengan sikap yang sangat sopan. "Siap, Ibu Direktur Utama."
Sementara itu, di sebuah kediaman mewah bergaya klasik di kawasan elit kota.
Pak Gunawan duduk di sofa kulit mahal dengan wajah yang teramat pucat pasi. Di hadapannya, Sisca menangis sesenggukan sambil melempar cangkir teh hingga pecah menghantam lantai marmer.
"Papa!" jerit Sisca histeris. "Rian ditangkap polisi! Proyek Wibowo Park gagal disegel! Dan sekarang seluruh rekening pribadi kita dibekukan! Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga kita?!"
Pak Gunawan meremas rambutnya yang mulai memutih dengan kedua tangan yang gemetar hebat. "Tenang, Sisca! Papa sedang berpikir!"
"Bagaimana bisa tenang?!" pekik Sisca dengan mata memerah karena marah dan takut. "Maya dan suami gembelnya itu seperti punya sihir! Setiap kali kita menyusun rencana untuk menghancurkan mereka, selalu saja ada kekuatan besar yang menghancurkan kita balik!"
Pintu utama rumah mewah itu mendadak terbuka.
Seorang pria paruh baya bertubuh jangkung dengan setelan jas mahal berwarna gelap melangkah masuk. Pria itu memegang sebuah tongkat kayu berukiran kepala naga bersalut emas. Dua orang pengawal berbadan tegap mengikuti di belakangnya dengan aura intimidasi yang sangat pekat.
Pak Gunawan tersentak kaget, lalu berburu buru berdiri dari sofanya dengan sikap sangat membungkuk hormat.
"Tuan Surya!" panggil Pak Gunawan dengan suara bergetar.
Pria bernama Surya Wijaya itu adalah pimpinan dari Megah Pratama Group, saingan bisnis terbesar Nusantara Group sekaligus musuh bebuyutan almarhum ayah Maya.
Surya melangkah mendekati meja, menatap Pak Gunawan dengan pandangan jijik dan dingin.
"Gunawan," suara Surya terdengar berat dan sarat akan ancaman. "Aku mendanai aksi hukum dan pergerakan premanmu hari ini untuk menjatuhkan Maya Wibowo. Tapi yang aku dapatkan justru kabar bahwa anakmu ditangkap polisi dan proyek Wibowo Park makin kokoh di bawah perlindungan Otoritas Nasional."
Pak Gunawan berlutut di atas lantai, gemetar ketakutan. "Maafkan saya, Tuan Surya! Ini semua gara gara suami gembel Maya! Pria bernama Arka itu sangat aneh! Dia punya akses khusus ke Bank Konsorsium Nusantara dan Mahkamah Agung!"
Surya mengernyitkan alisnya rapat rapat. "Suami gembel? Maksudmu pria serabutan yang dinikahi Maya secara mendadak minggu lalu?"
"Iya, Tuan!" sahut Sisca ikut menimpali sambil menyapu air matanya. "Pria itu cuma montir jalanan! Tapi dia punya kemampuan bertarung yang sangat mengerikan dan bisa memerintah Kapolres Kota!"
Surya menyunggingkan senyum sinis yang teramat kejam. Ia menyandarkan kedua tangannya di atas tongkat kepala naga miliknya.
"Montir jalanan dengan akses tingkat tinggi dan kemampuan militer?" gumam Surya pelan, matanya menyipit penuh intrik. "Tampaknya Maya Wibowo tidak sengaja memungut seekor naga yang sedang menyamar di jalanan."
Surya memutar tubuhnya, menatap pengawal pribadinya. "Perintahkan tim intelijen utama kita untuk menyelidiki seluruh latar belakang pria bernama Arka itu sampai ke akar akarnya dalam waktu dua puluh empat jam."
"Baik, Tuan Surya!" jawab sang pengawal tegas.
Surya menoleh kembali ke arah Pak Gunawan yang masih berlutut di lantai.
"Bangkitlah, Gunawan," perintah Surya dingin. "Perang ini belum selesai. Jika kita tidak bisa menjatuhkan Maya lewat jalur perusahaan, kita akan menyerangnya lewat acara Malam Gelora Bisnis Tahunan besok malam. Aku akan memastikan Maya Wibowo dan suami gembelnya itu dipermalukan secara terbuka di hadapan seluruh konglomerat papan atas kota ini!"
Pak Gunawan mendongak, matanya kembali menyala oleh dendam yang membakar. "Apa rencana Anda, Tuan Surya?"
Surya tersenyum licik. "Besok malam, pimpinan tertinggi Nusantara Group dikabarkan akan menghadiri pesta tersebut untuk pertama kalinya. Kita akan memanfaatkan momen itu untuk menghancurkan Maya secara permanen!"
itu.