Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Kisah
Malam di ruang isolasi sel tahanan maksimum Markas Kepolisian Metropolitan Jakarta Selatan terasa sangat pekat dan mencekam. Udara di dalam bilik sempit berjeruji besi tebal itu dipenuhi oleh bau kelembapan dan sisa-sisa keputusasaan yang menguap dari dinding beton tua.
Di dalam sel tersebut, Viola Sanustika terduduk meringkuk di sudut lantai yang gelap.
Penampilannya jauh melampaui kata hancur—pakaian tahanan jingganya kotor berlumuran debu, rambut panjangnya kusut masai menutupi wajahnya yang pucat pasi, dan bibirnya kering pecah-pecah akibat tidak makan selama berhari-hari.
Pikiran Viola sepenuhnya telah dikuasai oleh kebencian yang mendarah daging dan dendam kesumat yang membara. Di dalam kepalanya yang rusak akibat halusinasi kegilaan, bayangan kemenangan Evita Desniati dan pelukan erat Ma Yong Hua terus berputar-putar tanpa henti, mencemooh dan menyiksanya setiap detik.
"Tidak... Tidak mungkin aku kalah..." bisik Viola parau seorang diri, mencakar-cakar lantai semen dengan kuku-kukunya yang berdarah. "Aku ratu sosialita... Aku tidak boleh berakhir di tempat busuk ini... Sialan kalian... Sialan Evita... Sialan Ma Yong Hua!"
Ia tertawa histeris pelan, air matanya bercampur dengan seringai psikopat yang mengerikan. Namun, di balik tawa itu, kesadaran pahit menghantam keras jiwanya: ia telah kehilangan segalanya. Hartanya lenyap, Xander meninggalkannya dalam kemiskinan, reputasinya hancur lebur, dan ia kini mendekam selamanya sebagai pesakitan tanpa jalan keluar.
Ketidakmampuan menahan beban kebencian dan rasa frustrasi yang melampaui batas kewarasan manusia itu akhirnya mencapai puncaknya. Viola mendongakkan kepalanya, menatap teralis besi ventilasi sel di atas dinding yang tinggi.
"Jika aku tidak bisa merobek nyawa kalian... maka aku sendiri yang akan mengakhiri pementasan ini dengan cara paling tragis..." desis Viola tajam.
Dengan menggunakan sisa-sisa kain seragam tahanannya yang dirobek paksa hingga membentuk lilitan tali yang kuat, dalam kesunyian malam yang kelam, wanita itu melangkah menuju jeruji besi sudut sel, mengikatkannya ke teralis tinggi, dan melepaskan seluruh tumpuan kakinya.
****
Keesokan paginya, matahari pagi bersinar terang, namun suasana di Markas Kepolisian mendadak berubah menjadi gempar luar biasa.
Sirene kendaraan operasional berbunyi nyaring, para perwira polisi berlari hilir mudik di koridor tahanan, dan tim forensik dikerahkan secara darurat. Berita kematian tragis Viola Sanustika yang bunuh diri di dalam sel isolasi maksimum langsung menyebar bagaikan sambaran petir di siang bolong, menghiasi halaman utama seluruh portal berita nasional dan televisi swasta dalam hitungan menit.
Masa lalu yang kelam, penuh fitnah, teror, dan pertumpahan darah itu akhirnya menemui titik akhir yang sunyi dan mengerikan.
Jauh dari hiruk-pikuk pemberitaan media massa yang menggemparkan ibu kota, suasana di kamar VIP 308 Rumah Sakit Santa Carolus justru diliputi oleh kehangatan fajar baru yang menenangkan.
Evita Desniati berdiri di dekat jendela kaca besar, mengenakan dress rajut berwarna krem yang elegan. Pelipisnya kini telah bersih dari perban, dan wajahnya tampak jauh lebih segar, memancarkan aura ketenangan batin yang luar biasa setelah melewati badai panjang dalam hidupnya.
Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Dokter Hartono bersama perawat yang datang membawa berkas kepulangan.
"Selamat pagi, Nona Evita," sapa Dokter Hartono tersenyum ramah. "Hasil evaluasi medis terakhir pagi ini menunjukkan pemulihan Anda sempurna seratus persen. Anda sudah resmi dibolehkan untuk pulang hari ini!"
Mendengar pengumuman itu, Pak Santoso dan Bu Yekti yang berdiri di sisi ruangan langsung menghela napas panjang penuh kelegaan. Bu Yekti segera memeluk putrinya erat-erat.
"Alhamdulillah ya Allah... Terima kasih, Dok," ucap Bu Yekti terharu.
****
Tak lama kemudian, langkah kaki tegap menggema di ambang pintu. Ma Yong Hua melangkah masuk ke dalam kamar. Sang taipan mengenakan setelan jas abu-abu terang dengan kemeja rapi tanpa dasi, memancarkan pesona ketampanan dan wibawa mutlak yang membuat siapa pun terpesona.
"Semua urusan administrasi kepulangan sudah saya selesaikan, Om, Tante," ucap Ma Yong Hua sopan kepada orang tua Evita, sebelum mengalihkan pandangannya lekat-lekat kepada Evita. "Dan mobil jemputan sudah siap di lantai bawah."
Pak Santoso mengangguk hormat. "Terima kasih banyak, Nak Yong Hua. Selama ini kamu sudah merawat dan melindungi keluarga kami bagaikan keluarga sendiri."
Sore harinya, di sebuah taman atap gedung pencakar langit privat milik Ma Group yang menghadap langsung ke panorama kota Jakarta yang megah, angin sore berhembus lembut menerbangkan helai rambut Evita.
Di tempat yang tenang dan terisolasi dari keramaian luar itulah, Ma Yong Hua mengajak Evita untuk berbicara berdua sebelum mereka benar-benar melangkah ke babak kehidupan selanjutnya.
Ma Yong Hua berdiri di hadapan Evita, menatap wanita itu dengan sorot mata sipit yang memancarkan kelembutan mendalam—sebuah sisi hangat yang hanya ia tunjukkan kepada satu orang di dunia ini.
"Evita," panggil Ma Yong Hua dengan suara baritonnya yang tenang dan berwibawa.
Evita menoleh, menatap lurus ke dalam bola mata sang taipan. "Ya, Tuan Yong Hua?"
****
Ma Yong Hua menarik napas perlahan, lalu mengambil langkah kecil mendekati Evita. Ia meraih tangan kanan Evita dengan sangat lembut, menyatukan jemari mereka dalam genggaman yang hangat.
"Hari ini, lembaran kelam masa lalumu telah ditutup rapat oleh semesta," ucap Ma Yong Hua penuh kesungguhan. "Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan, tidak ada lagi air mata, dan tidak ada lagi rasa sakit. Selama berbulan-bulan aku berdiri di sisimu, menyaksikan betapa kuatnya dirimu bertahan melewati badai... Dan di detik ini, di hadapan langit kota ini, aku ingin mengucapkan sesuatu yang sudah lama tersimpan di dalam lubuk hatiku."
Evita terperanjat kecil, napasnya sedikit tercekat di tenggorokan. Ia bisa merasakan debar jantung di dadanya mulai berdegup kencang.
"Evita Desniati," lanjut Ma Yong Hua dengan suara yang semakin dalam dan penuh ketulusan. "Aku jatuh cinta padamu. Bukan sekadar rasa ingin melindungi atau rasa iba... Tapi aku mencintaimu apa adanya, sebagai wanita paling cerdas, tegar, dan luar biasa yang pernah mengisi hidupku. Maukah kamu memberiku kehormatan untuk mendampingimu, mencintaimu, dan membangun masa depan bersama sebagai suamimu?"
****
Pernyataan cinta yang begitu tulus, lugas, dan terucap dari bibir pria paling berpengaruh di negeri itu membuat Evita tertegun membeku. Air mata haru tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya.
Evita menarik tangannya perlahan dari genggaman Ma Yong Hua, menundukkan pandangannya sejenak dengan senyuman pahit-manis yang tersungging di bibirnya.
"Tuan Yong Hua..." bisik Evita dengan suara parau bergetar halus. "Aku... aku sangat tersentuh mendengar ketulusan hatimu. Kamu menyelamatkan hidupku, membangkitkan kembali karierku, dan melindungiku dari neraka dunia... Tapi... kumohon, mengertilah keadaanku."
Ma Yong Hua menatap Evita dengan kerutan halus di dahinya, menunggu kelanjutan kalimat wanita itu.
"Luka dari pernikahanku di masa lalu... kepedihan, pengkhianatan, dan trauma hancurnya rumah tanggaku bersama Xander... masih menyisakan bekas yang dalam di batinku," lanjut Evita jujur, menatap mata Ma Yong Hua dengan sorot penuh kejujuran. "Aku tidak ingin menjadi wanita yang tidak adil bagimu. Aku butuh waktu... waktu yang cukup untuk menata kembali kepingan hatiku yang hancur, menyembuhkan jiwaku sepenuhnya, sebelum aku siap melangkah membuka lembaran pernikahan yang baru."
Mendengar kejujuran Evita, Ma Yong Hua sama sekali tidak menunjukkan kekecewaan. Sebaliknya, senyuman tipis yang sangat hangat merekah di wajah tampannya. Ia kembali mengangkat tangannya, mengelus lembut puncak kepala Evita dengan penuh pengertian.
"Aku mengerti, Evita," jawab Ma Yong Hua lembut. "Aku tidak akan pernah memaksamu. Aku telah menunggumu selama ini, dan aku akan tetap menunggumu sampai kapan pun hingga hatimu benar-benar siap dan sembuh sepenuhnya. Ap pun waktu yang kamu butuhkan, aku akan selalu ada di sisimu."
Evita menatap pria itu dengan rasa kagum yang tiada tara. Di dunia bisnis yang kejam, Ma Yong Hua adalah seorang naga yang tak terkalahkan; namun di hadapannya, pria itu adalah dermaga kesabaran yang paling tulus. Evita mengangguk perlahan, lalu menyambut pelukan hangat sang taipan dengan penuh kedamaian.
****
Dua Tahun Kemudian...
Suasana pagi yang tenang dan sejuk menyelimuti sebuah kota kecil yang asri di kawasan pedesaan negara bagian Virginia, Amerika Serikat.
Di dalam sebuah rumah kayu minimalis berdesain hangat yang dikelilingi oleh pepohonan hijau rindang, sinar matahari menyusup melalui jendela kaca ruang kerja yang tertata rapi.
Di atas meja kayu jati tua di sudut ruangan, terletak sebuah bingkai foto elegan berwarna perak. Di dalam bingkai tersebut terpampang potret pernikahan yang sangat indah: Evita Desniati mengenakan gaun pengantin putih berenda klasik yang sangat elegan, berdiri berdampingan dengan Ma Yong Hua yang mengenakan tuksedo hitam rapi sambil tersenyum bahagia menatap sang istri.
Waktu dua tahun di tanah seberang telah menyembuhkan segalanya. Setelah melalui proses penataan hati yang sabar dan perjalanan cinta yang penuh ujian, Evita dan Ma Yong Hua akhirnya resmi menikah tepat satu tahun yang lalu di hadapan keluarga kecil mereka. Di benua Amerika yang jauh dari hiruk-pikuk intrik ibu kota, mereka memulai segala sesuatunya dari awal—membangun kehidupan keluarga yang tenang, damai, dan dipenuhi oleh cinta sejati yang tak lekang oleh waktu.
Evita melangkah masuk ke ruang kerja membawa secangkir teh hangat, meletakkannya di atas meja dekat bingkai foto pernikahan mereka, lalu tersenyum manis saat sepasang lengan kokoh melingkar hangat di pinggangnya dari arah belakang.
"Teh hangat untuk suamiku tersayang," bisik Evita lembut.
Ma Yong Hua mengecup lembut pipi istrinya sambil tersenyum bahagia. "Terima kasih, istriku tercinta... Menikahlah denganku sekali lagi di setiap kehidupan yang akan datang."
Evita tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami, menatap masa depan cerah yang terbentang luas di hadapan mereka.
TAMAT.