Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Pertama — 14
Sepekan setelah hari yang menyenangkan dialun alun kota, mereka menjadi semakin dekat, sesekali meski keduanya berusaha bersikap biasa saja didepan teman sekelas, jari jemari mereka tanpa sadar sering bertautan.
"Ciee... Ciee... Kapan nih jadiannya? udah keliatan banget kayak pacaran." Goda Tika saat melihat mereka berjalan beriringan menuju kantin.
Bram tersipu malu dan buru buru melepaskan genggaman tangannya dari Karina, sementara Karina sendiri hanya tertawa kecil sambil mencoba menutupi tona merah dipipinya.
"Kita cuma temenan." Jawab Karina dengan nada kurang meyakinkan.
"Dihh boong banget." Tika terkekeh sambil menggelengkan kepalanya dan meninggalkan keduanya dalam keheningan yang canggung.
...----------------...
Malam itu Karina menerima pesan dari Bram yang meminta untuk bertemu ditaman belakang gedung olahraga setelah magrib.
Ia tiba ditaman itu dengan jantung yang berdetak kencang.
Bram sudah menunggu dibangku yang sama ditempat biasanya mereka bertemu sambil membawa sebuah kotak kecil sederhana ditangannya dengan beberapa lilin kecil yang menyala disekelilingnya.
"Bram, ini...." Karina terpana melihat pemandangan sederhana namun penuh perhatian itu.
"Duduk dulu." Ucap Bram dengan sedikit gugup sambil menepuk bangku disampingnya.
Karina duduk menatapnya dengan penuh tanda tanya." Ada apasih? Kamu kayak niat banget nih persiapannya."
Bram menghela napas panjang, tangannya sedikit gemetaran saat menggenggam kotak kecil itu. "Al, gue udah mikirin ini lama banget dan gue rasa sekarang waktu yang tepat buat gue ngomong ini."
"Ngomong apa?" Tanyanya meski dalam hati sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
"Sejak lo dateng kehidup gue, semuanya berubah. Gue yang dulu selalu ngerasa sendirian, selalu ngerasa enggak ada yang peduli, sekarang punya alasan buat bangun tiap pagi, buat berani ngadepin hidup, buat percaya kalau gue juga pantas bahagia." Ucapnya dengan suara bergetar.
Karina merasakan matanya mulai memanas mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Bram, kata kata yang begitu jujur dan murni tanpa ada sedikit pun kepuraa puraan.
"Gue tau lo pernah bilang kalo lo nggk bisa ceritain semuanya, gue juga tau lo mungkin suatu saat bakalan pergi ntah kemana. Tapi gue nggak peduli lagi Al, yang gue tau sekarang dimomen ini, gue sayang sama lo beneran sayang, lebih dari yang pernah gur tasain kesiapan." Lanjutnya lagi.
Pengakuan itu membuat dada Karina terasa sesak dengan berbagai perasaan yang campur aduk antara bahagia, takut dan kesedihan.
"Bram...." Karina mencoba berbicara tapi suaranya tercekat.
"Gue nggak minta jawaban sekarang." Potong Bram dengan cepat sambil membuka kotak kecil ditangannya yang menampilkan sebuah gelang sederhana dari manik manik kayu uang jelas ia buat sendiri dengan tangan yang belum terampil.
"Gue cuma pengen lo tau perasaan gue dan gue pengen lo punya ini, sebagai pengingat apapun yang terjadi nanti sama kita.
Karina menerima gelang itu dengan tangan gemetar, air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. "Bram, ini... ini bagus banget."
"Gue bikin sendiri." Ucapnya sambil tersenyum kecil dengan sedikit malu. "Nggak sebagus yang dijual ditoko tapi—"
"Ini bagus kok, beneran Bram. Ini udah sempurna." Potong Karina sambil tersenyum dengan air mata yang masih menetes.
...----------------...
Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat, hanya diterangi cahaya lilin kecil yang mulai meredup dengan angin malam yang sejuk berembus pelan menggoyangkan dedaunan di sekitar mereka.
"Bram." Karina akhirnya bicara mesji suaranya masih bergetar. "Aku juga sayang sama kamu. Beneran sayang. Tapi..."
"Tapi ada 'tapi'nya kan." Bram menghela napas, meski senyumnya tidak sepenuhnya hilang. "Gue tau lo mungkin harus pergi."
"Iya." Karina mengangguk pelan dengan perasaannya yang terasa berat mengucapkan kejujuran yang menyakitkan itu.
"Aku nggak tau kapan, aku nggak tau gimana caranya, tapi aku tau suatu saat aku emang harus pergi dari sini dan aku nggak mau kamu ngerasa dikhianati atau ditinggalin gitu aja kalau saatnya beneran tiba."
Bram terdiam sambil menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang. "Lo tau nggak, dulu gue selalu mikir mendingan nggak usah berharap apaapa dari siapa pun biar nggak kecewa. Tapi semenjak kenal lo, gue belajar sesuatu yang penting."
"Belajar apa?"
"Kalo kebahagiaan itu nggak selalu harus permanen buat berharga. Bahkan kalau suatu saat lo beneran harus pergi, momen momen yang kita punya sekarang ini, semua yang udah lo ajarin kegue, itu nggak akan pernah ilang dan akan terus jadi bagian dari diri gue apa pun yang terjadi."
Kalimat itu menghantam Karina dengan kekuatan yang luar biasa, bukan hanya karena kedewasaan yang ditunjukkan Bram jauh melampaui usianya, tapi juga karena kata kata itu seolah menjadi jawaban atas semua kekhawatiran yang selama ini menghantuinya.
"Bram." Katanya dengan suaranya penuh haru."Kamu udah jauh lebih kuat dari yang kamu sadari sendiri."
"Karena lo yang ngajarin gue jadi kuat." Jawab Bram, tersenyum tulus. "Jadi nggak peduli apa pun yang terjadi nanti, gue bakal selalu berterima kasih udah pernah kenal lo Al. Apa pun nama lo yang sebenarnya."
Kalimat terakhir itu membuat Karina terdiam, menatap Bram dengan mata terbelalak. "Maksud kamu?"
Bram tersenyum misterius. "Gue nggak tau apa rahasia lo yang sebenarnya. Tapi gue tau, siapa pun lo yang sebenarnya, itu nggak akan pernah ngerubah perasaan gue.”
“Karena yang gue sayang bukan cuma nama atau identitas lo, tapi hati lo, cara lo peduli sama orang lain, cara lo selalu berusaha bikin orang di sekitar lo jadi lebih baik."
Air mata Karina kembali mengalir, kali ini karena keharuan yang begitu dalam hingga sulit ia ungkapkan dengan katakata.
Ia memeluk Bram erat, membiarkan semua emosi yang selama ini ia pendam akhirnya tumpah dalam pelukan sederhana namun penuh makna itu.
"Makasih Bram." Bisiknya. "Makasih udah nerima aku apa adanya walaupun kamu nggak tau seluruh kebenarannya."
Bram membalas pelukan itu dengan lembu dan mengecup puncak kepala Karina dengan penuh kasih sayang. "Lo nggak perlu jelasin semuanya, yang penting lo ada di sini sekarang sama gue."
...----------------...
Setelah Karina kembali ke kamar kosnya dengan gelang manik manik kayu masih melingkar di pergelangan tangannya, layar tembus pandang muncul dengan pembaruan yang membuat matanya terbelalak.
[Pembaruan status.]
[Poin Kehidupan: 6.800 / 100.000.]
[Poin sangat besar diberikan atas pencapaian kematangan emosional puncak subjek, penerimaan tanpa syarat terhadap ketidaksempurnaan dan ketidakpastian, sebuah kualitas yang jarang dicapai bahkan oleh individu dewasa sekalipun.]
[Catatan penting: subjek kini menunjukkan pemahaman mendalam bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada kepastian atau permanensi, melainkan pada kualitas hubungan dan pertumbuhan diri yang telah dicapai. Ini adalah indikator terkuat sejauh ini menuju definisi akhir bahagia subjek.]
Karina menatap angka itu dengan perasaan campur aduk antara bahagia melihat lompatan besar dalam progresnya, tapi juga semakin gelisah menyadari bahwa semakin dekat Bram pada kebahagiaan sejatinya, semakin dekat pula saat perpisahan yang harus ia hadapi.
“Bram udah belajar banyak hal.” Pikirnya sambil menyentuh gelang dipergelangan tangannya dengan lembut.
“Tapi ntah kenapa semakin dia siap buat aku tinggalin, semakin berat rasanya buat beneran ninggalin dia?” Pertanyaan itu terus menghantuinya sepanjang malam dan tanpa sadar tertidur.
buang aja,karina mati lagi aja