Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Anin Menebus
Anin kembali ke rumah keluarga Kusuma tanpa memberi tahu Yuliana.
Rumah di perumahan lama itu tidak berubah. Cat pagar mengelupas, pot bunga plastik memenuhi teras, dan tirai ruang tamu selalu tertutup meski siang. Dulu Anin menganggap tempat tersebut aman. Kini setiap sudut mengingatkannya pada kebohongan yang ia terima sebagai kasih sayang.
Wira menunggu di mobil. Ratri tidak ikut masuk, tetapi memberi satu pesan sebelum Anin berangkat.
Ambil hanya dokumen yang bisa dibuktikan milik kantor atau berkaitan dengan warisan. Jangan menyentuh barang lain.
Anin membuka pintu dengan kunci lamanya.
Yuliana sedang menghitung uang di meja makan. Bimo duduk di seberang dengan topi rendah dan wajah kusut. Ia tampak jauh berbeda dari pria yang pernah menjanjikan saham dan pernikahan.
"Kau datang untuk apa?" tanya Bimo.
Anin menatapnya. "Mengambil barang milik Mbak Ratri."
Yuliana buru-buru memasukkan uang ke tas. "Tidak ada barang dia di sini."
"Ada kotak dokumen warisan ibunya di lemari belakang. Mama menyimpannya."
"Itu biaya aku membesarkan kalian!"
"Mbak Ratri bukan anak Mama."
Kalimat itu membuat wajah Yuliana merah. Ia memukul meja.
"Siapa yang memberinya makan setelah ibunya mati? Siapa yang mengurus pemakaman? Perempuan itu tidak tahu terima kasih, sekarang kau ikut menjadi anak durhaka!"
"Mama memakai uang warisannya untuk membayar utang. Mama juga berbohong soal pusaka ibunya."
Yuliana berdiri. "Jaga mulutmu. Benda penyelamat nyawa itu masih ada padaku. Kalau Ratri mau hidup lama, dia harus memohon."
Anin hampir tertawa. Ia teringat kotak beludru merah di rumah sakit dan kepanikan ibunya setelah menerima empat miliar.
"Kalau benda itu benar-benar berharga, kenapa Mama terus meminta uang?"
"Karena dia berutang kepadaku!"
Bimo bangkit hendak pergi. Anin menghalangi jalannya.
"Mas juga pernah melihat dokumen warisan itu."
"Aku tidak tahu apa-apa."
"Mas memotret beberapa halaman sebelum membuat surat pengalihan palsu."
Bimo menatap Yuliana. "Dia yang memberikannya."
"Bimo!"
"Jangan seret aku lagi. Polisi terus memanggilku gara-gara kalian."
Ia mendorong kursi dan keluar lewat pintu samping. Yuliana mengejarnya sambil memaki, tetapi Bimo tidak menoleh.
Aliansi yang dahulu membuat Anin takut kini runtuh hanya karena masing-masing ingin menyelamatkan diri.
Anin menuju kamar belakang. Lemari besi kecil tersembunyi di balik tumpukan selimut. Ia tidak membukanya paksa. Kode yang pernah dipakai ibunya masih bekerja.
Di dalamnya terdapat salinan akta, buku tabungan lama, tanda terima penjualan perhiasan, serta catatan penggunaan dana atas nama ibu Ratri. Jumlahnya tidak kecil. Banyak penarikan dilakukan beberapa bulan setelah kematian perempuan itu.
Yuliana muncul di pintu sambil menangis keras.
"Jangan ambil! Itu milikku! Aku menghabiskan hidup untuk keluarga ini."
Ia membuka jendela dan sengaja meninggikan suara agar tetangga mendengar. "Lihat! Anak kandungku datang membawa preman untuk merampok ibunya sendiri!"
Dua kepala muncul di balik pagar sebelah. Yuliana segera menangis lebih keras, menepuk dada, lalu menceritakan bagaimana ia konon membesarkan Ratri dari kemiskinan sampai menjadi istri keluarga kaya.
Anin mengambil salah satu buku tabungan. "Kalau Mama ingin semua orang ikut melihat, aku bisa bacakan penarikan dana warisan ini dari teras."
Tangis Yuliana berhenti seketika.
"Jangan membuat malu keluarga."
"Mama baru saja memanggil tetangga."
"Itu berbeda."
Yuliana mencoba merebut kotak, tetapi kakinya tersandung ujung karpet. Ia hampir jatuh, memegang lemari, lalu tetap menyalahkan Anin karena sengaja memasang jebakan di rumahnya sendiri.
"Mama menghabiskan uang orang mati."
"Aku ibumu!"
"Karena itu aku malu."
Tamparan Yuliana mengenai pipi Anin. Kepala gadis itu terlempar ke samping, tetapi ia tidak mundur.
Wira masuk setelah mendengar suara dari luar. Ia tidak menyentuh Yuliana. Ia hanya berdiri di belakang Anin dan mengaktifkan kamera tubuh.
"Semua dokumen akan dicatat satu per satu," katanya. "Bu Yuliana boleh mengajukan keberatan melalui kuasa hukum."
Yuliana segera mengubah tangis menjadi teriakan tentang pencurian. Wira membacakan judul setiap berkas di depan kamera, lalu meminta Anin memasukkannya ke kantong terpisah. Tidak ada uang tunai atau perhiasan yang diambil.
Ratri menunggu di mobil kedua di ujung jalan.
Ketika Anin keluar membawa dua kotak, pipinya masih merah. Ia masuk dan duduk di hadapan kakaknya tanpa berani menatap.
"Mama bilang aku anak durhaka," katanya.
Ratri menyentuh bekas tamparan itu dengan dua jari, sangat ringan. "Sakit?"
Anin menggeleng, lalu air matanya jatuh.
"Mbak, aku melakukan ini bukan supaya Mbak memaafkanku."
"Bagus. Karena saya belum memaafkan semuanya."
Anin tertawa kecil di antara tangis.
Ratri menarik tangannya. "Kau tidak berutang kepada saya. Jangan biarkan dirimu dipegang siapa pun lagi, termasuk ibumu."
Mereka memeriksa kotak di rumah. Sebagian besar berisi jejak penggelapan warisan. Di dasar kotak kedua, Anin menemukan amplop foto yang menempel pada map tipis.
Mbak Lia ikut melalui panggilan video dan membuat daftar asal setiap dokumen. Buku tabungan difoto bersama nomor halaman. Tanda terima dimasukkan ke map transparan terpisah. Berkas yang tidak berkaitan dengan warisan dikembalikan ke dalam kotak dan disegel untuk mencegah tuduhan bahwa mereka mengambil barang lain.
"Ada cukup jejak untuk meminta perhitungan ulang harta peninggalan," kata Mbak Lia. "Tapi beberapa penarikan memakai surat kuasa yang belum kita lihat aslinya."
"Cari melalui arsip bank dan notaris," perintah Ratri. "Jangan hubungi Tante Yuli lagi sebelum datanya lengkap."
Anin memandang kakaknya. "Mbak tidak akan melaporkannya sekarang?"
"Saya tidak mau memberinya kesempatan menghilangkan bagian yang belum kita temukan."
Ratri tidak menginginkan satu pertengkaran yang memuaskan. Ia menginginkan seluruh perbuatan Yuliana tercatat, dihitung, dan tidak bisa disangkal dengan tangisan.
Foto pertama memperlihatkan ibu Ratri dalam pakaian rapi di depan sebuah lembaga pendidikan, tersenyum bersama para pengajar. Di belakang foto terdapat cap tanggal dan catatan acara. Itu cukup untuk membantah cerita bahwa ia perempuan tanpa pendidikan dan asal-usul.
Foto berikutnya diambil beberapa hari sebelum kematiannya. Ibu Ratri berdiri di balkon gedung, berbicara dengan seseorang yang wajahnya terpotong dari bingkai. Tangannya menunjuk pagar balkon yang tampak miring.
Map tipis di bawah foto berisi salinan laporan perawatan gedung.
Ada catatan bahwa dua baut pagar balkon ditemukan longgar pada pagi sebelum ia jatuh. Permintaan pemeriksaan lanjutan dicoret dengan tinta hitam. Nama penerima laporan telah disobek.
Ratri membaca tanggalnya dua kali.
Ia mengenali tulisan tangan ibunya pada catatan kecil di sudut foto.
Pagar ini goyah lagi. Mereka bilang sudah diperbaiki, tetapi seseorang masuk setelah pemeriksaan.
Kalimat itu berakhir tanpa tanda tangan. Di bawahnya ada nomor telepon lama yang sebagian tintanya luntur.
Selama ini semua orang mengatakan ibunya melompat karena malu.
Tidak ada seorang pun yang pernah mengatakan pagar balkon itu telah dirusak.