NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Rival

Menikah Dengan Rival

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rii_Risa

"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"

"Mau."

Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.

Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.

Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

"Astaga, anak gadis Mama! Sudah jam sepuluh pagi belum bangun?!"

Kara mengerjap pelan begitu mendengar omelan mamanya dari ambang pintu. Wanita itu menggeliat malas, lalu mengeratkan pelukannya pada guling, dan membenamkan wajahnya di bantal dengan mata yang terpejam erat.

"Hmm... masih jam sepuluh pagi kan, Ma?" gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.

Sonya melangkah mendekati ranjang, lalu menarik tangan Kara pelan. "Erlangga udah datang tuh. Cepat bangun!"

"Kayaknya Kara nggak bisa pergi deh. Kapan-kapan aja ya ma fitting bajunya," ucapnya santai tanpa membuka mata sedikitpun.

Sonya langsung melipat tangannya di depan dada, matanya menatap tajam kearah Kara. "Apa perlu mama mandiin kamu di atas kasur, Kara?!"

Mendengar ancaman itu, Kara langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia bangkit dan duduk tegak dengan gerakan cepat sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing.

"Iya-iya, Kara mandi nih."

Setelah mengucapkan itu, Kara segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan dengan langkah lesu menuju kamar mandi.

Sonya langsung menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Dasar anak itu, nggak bisa kalau sehari nggak bikin ulah!" gerutunya kesal, lalu ia berbalik dan melangkah keluar.

Setelah hampir satu jam berada di dalam kamar mandi, Kara akhirnya keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya. Ia melangkah menuju ruang ganti. Setelah selesai memakai pakaiannya, ia melanjutkan duduk di depan meja rias.

"Biar tahu rasa tuh si Erlangga nungguin gue," gumamnya puas sambil terkikik pelan.

Kara mengambil lipstik yang berada di atas meja, lalu memoles tipis bibirnya dengan lipstik itu. Tak lupa, ia juga merapikan rambutnya dan menyepolnya tinggi-tinggi. Setelah itu, ia mengambil tas selempang hitam yang tergeletak di atas sofa.

Ia bercermin dahulu sebelum keluar untuk memeriksa penampilannya. Kaos oversize putih dan celana pendek hitam yang tertutup oleh kaos tersebut.

"Perfect," gumamnya bangga.

Setelah puas dengan penampilannya, Kara segera keluar dari kamar sambil mengenakan sandal jepit berwarna hitam.

Ia menuruni anak tangga satu persatu dengan langkah santai. Begitu kakinya menginjak lantai bawah, ia melihat mamanya duduk berhadapan dengan Erlangga di ruang tamu, ditemani sang papa yang duduk di sofa seberang.

Tiga pasang mata langsung menoleh tajam ke arahnya.

"Kenapa kalian lihatin aku kayak gitu? Emang ada yang salah ya?" tanya Kara dengan nada tanpa dosa.

Lesmana langsung memijat pangkal hidungnya sambil menghela nafas berat, tampak pening melihat kelakuan putrinya itu.

"Erlangga sudah menunggumu dari tadi, Kara. Dan pakaianmu itu... apa nggak bisa lebih sopan sedikit?!" tegur Sonya, suaranya naik satu oktaf dengan dahi yang berkerut dalam.

Kara langsung menunduk. Ia mengamati penampilannya dari atas ke bawah, lalu mendongak. "Sopan kok. Lagian, mending gini kan daripada telanjang?"

"Kara?!"

Kara langsung menempelkan jari telunjuknya ke bibir sang mama, untuk membungkamnya agar tidak mengomel. Setelah itu ia membungkuk, dan langsung mengecup pipi mamanya itu.

"Nanti aja ngomelnya, Ma. Keburu malam, nih!"

Tanpa memberi waktu untuk Mamanya bersuara, ia langsung berbalik ke arah papanya dan mengecup pipi pria paruh baya itu yang hanya bisa melongo pasrah.

"Bye, Papa... Mama! Kara pergi dulu!" teriaknya sambil menggeret lengan Erlangga yang sejak tadi hanya diam menonton. Pria itu bahkan hampir tersandung karena ditarik paksa oleh Kara yang tubuhnya lebih kecil darinya.

Lesmana dan Sonya saling pandang selama beberapa detik sebelum akhirnya menatap kembali kearah pintu.

"Anakmu kenapa bisa kayak gitu, sih?!" tanya Sonya heran.

Lesmana mengusap wajahnya pasrah, lalu menoleh pelan ke arah istrinya. "Itu juga anakmu, Ma..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!