Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.
Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.
Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.
Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.
Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
BAB 14: Darah yang Tak Diinginkan
[Sudut Pandang: SURA]
Semifinal Turnamen Debat diadakan di Amfiteater Matahari. Berbeda dengan auditorium tertutup, tempat ini terbuka, beratapkan langit. Sinar matahari siang terasa terik, membakar kulit dan membakar semangat ratusan penonton yang memadati tribun batu.
Hanya tersisa empat tim.
Sura berdiri di podium, mengibas-ngibaskan kipas tangannya (sekarang dia sudah mahir menggunakannya). Di sebelahnya, Kian tampak lebih diam dari biasanya. Matanya terus menatap ke arah kotak undian topik di tengah arena.
"Ada yang tidak beres," gumam Kian pelan.
"Kenapa?" tanya Sura. "Kita sudah riset semua topik umum. Ekonomi, Perang, Pajak..."
"Lysander ada di panitia pengarah," potong Kian, dagunya menunjuk ke arah tribun VIP di mana Lysander duduk santai sambil meminum limun dingin. "Dia tersenyum. Dia tidak pernah tersenyum kecuali ada sesuatu yang akan mati."
Moderator melangkah maju, memegang gulungan kertas tersegel.
"Topik untuk Semifinal Pertama," suara moderator menggema. "Antara Tim Golden Key (Kian & Sura) melawan Tim Iron Wall (Vesper & Gunt)."
Sura mengenali Vesper. Senior ahli geografi yang pernah mempermalukannya di pesta dansa. Vesper menyeringai licik dari podium seberang.
Moderator membuka segel.
"Topiknya adalah: 'Legitimasi Kekuasaan: Apakah Garis Darah Murni Lebih Menjamin Stabilitas daripada Meritokrasi?'"
Jantung Sura berhenti sejenak.
Dia menoleh cepat ke arah Kian.
Wajah Kian pucat pasi. Bibirnya kehilangan warna. Tangannya yang memegang pena bulu angsa gemetar hebat hingga pena itu jatuh. Tuk.
Topik ini bukan kebetulan. Ini serangan pribadi.
Kian adalah anak haram (illegitimate child).
Lysander adalah anak sah (pure blood).
Posisi undian menentukan bahwa Tim Golden Key harus menjadi Oposisi (Mendukung Meritokrasi/Kemampuan), sementara Tim Iron Wall menjadi Proposisi (Mendukung Darah Murni).
"Kian?" panggil Sura lembut.
Kian tidak menjawab. Matanya kosong. Dia tidak berada di amfiteater ini lagi. Dia kembali ke masa kecilnya, saat dia dilarang masuk ke ruang makan utama karena 'darahnya kotor'.
"Silakan Tim Proposisi," perintah Moderator.
Vesper maju dengan percaya diri. Dia tahu persis siapa lawannya. Dia tahu persis luka mana yang harus ditaburi garam.
"Hadirin sekalian," Vesper memulai, suaranya lantang penuh arogansi. "Sejarah membuktikan bahwa kekacauan selalu dimulai ketika garis suksesi menjadi kabur. Ketika 'anak-anak liar' yang tidak dididik dalam tradisi kerajaan mencoba merebut takhta."
Vesper menatap langsung ke mata Kian.
"Darah Murni bukan sekadar biologi. Itu adalah jaminan kualitas. Seekor kuda pacu juara lahir dari induk juara. Jika Anda membiarkan kuda liar masuk ke kandang... dia hanya akan menendang dan menghancurkan segalanya karena dia tidak tahu aturan."
Penonton berbisik-bisik. Semua orang tahu sindiran itu ditujukan pada Kian Arselio.
"Anak yang lahir dari kesalahan," lanjut Vesper kejam, "Hanya akan membawa kesalahan dalam kepemimpinannya. Mereka memiliki cacat bawaan: rasa rendah diri yang ditutupi ambisi berlebihan."
Vesper mundur diiringi tepuk tangan riuh dari pendukung Iron Wall dan Silver Quill.
Kian masih mematung. Gilirannya bicara. Tapi mulutnya terkunci. Trauma masa kecilnya mencekik lehernya. Kata-kata Vesper adalah gema dari kata-kata ayahnya sendiri.
Tiga detik berlalu.
Lima detik.
"Kian," desis Sura. "Bangun."
Kian menggeleng lemah. "Dia benar... aku cacat..."
Sura melihat Lysander di tribun VIP. Kakak tiri itu sedang menyesap limunnya, menikmati kehancuran mental adiknya.
Amarah meledak di dada Sura. Bukan amarah panas seperti api, tapi amarah dingin seperti es. Dia tidak akan membiarkan Kian hancur di sini.
Sura menyambar palu podium. BRAK!
Bunyi hantaman itu mengejutkan seluruh amfiteater. Kian tersentak sadar.
Sura tidak menunggu Kian. Dia melangkah maju mengambil alih podium. Dia melanggar urutan bicara, tapi dia tidak peduli.
"Tuan Vesper bicara soal kuda," suara Sura tenang, tapi tajam setajam silet. "Analogi yang menarik. Mari kita bicara soal peternakan."
Sura menatap Vesper, lalu menyapu pandangan ke seluruh penonton.
"Tuan Vesper mengklaim bahwa 'Darah Murni' menjamin kualitas. Tapi ilmu biologi—jika Tuan Vesper pernah membaca buku selain peta butanya—mengatakan sebaliknya."
Sura berjalan mondar-mandir di panggung, menguasai area.
"Inbreeding. Perkawinan sedarah. Itulah yang terjadi jika Anda terobsesi pada kemurnian. Apa hasilnya? Penyakit genetik. Hemofilia. Kegilaan. Dan..." Sura menatap Vesper dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan, "...otak yang tumpul."
Gelak tawa meledak di tribun. Wajah Vesper memerah.
"Sebaliknya," lanjut Sura, suaranya meninggi penuh tenaga. "Hibrida. Campuran. Alam menciptakan hibrida untuk bertahan hidup. Tanaman yang paling kuat adalah hasil silangan. Hewan yang paling cerdas adalah yang belajar beradaptasi di dua dunia."
Sura berbalik menatap Kian. Dia menatap mata mitranya itu lekat-lekat, mengirimkan pesan tanpa suara: Kau bukan sampah. Kau adalah evolusi.
"Anda menyebut 'Anak Liar' sebagai ancaman, Tuan Vesper?" Sura kembali menghadap lawan. "Saya menyebutnya Harapan. Karena seseorang yang lahir di luar istana, yang harus berjuang untuk setiap keping rotinya, yang harus belajar berdiri tanpa bantuan nama ayahnya... dia memiliki sesuatu yang tidak akan pernah dimiliki oleh bangsawan manja di ruangan ini."
Sura menggebrak podium.
"Dia memiliki Rasa Lapar. Dan rasa lapar itulah yang membangun peradaban. Bukan kenyamanan."
Tepuk tangan mulai terdengar. Bukan dari bangsawan, tapi dari mahasiswa beasiswa, dari rakyat biasa yang menonton di barisan belakang.
Sura mundur, napasnya memburu. Dia sudah melakukan bagiannya: menangkis serangan dan mengubah narasi. Sekarang, dia butuh finisher.
Dia menepuk bahu Kian saat berpapasan. "Giliranmu, Partner. Tunjukkan pada mereka siapa kuda liar itu."
Kian menarik napas panjang. Kata-kata Sura tadi seperti air dingin yang menyiram wajahnya. Hibrida. Kuat. Lapar.
Bayangan ayahnya memudar. Yang tersisa hanyalah wajah sombong Vesper dan senyum meremehkan Lysander.
Kian maju ke podium. Posturnya berubah. Bahunya tegak. Matanya tidak lagi kosong, tapi menyala dengan api yang berbahaya.
"Tuan Vesper benar tentang satu hal," suara Kian rendah, berat, dan penuh wibawa. "Saya memang ambisius."
Kian menatap Lysander di tribun VIP. Tatapan mereka bertemu. Perang saudara di kejauhan.
"Tapi Anda salah mengira ambisi itu sebagai cacat," lanjut Kian. "Stabilitas yang Anda agungkan hanyalah nama lain dari Stagnasi. Air yang diam akan membusuk. Darah yang tidak diperbarui akan melemah."
Kian merentangkan tangannya.
"Meritokrasi bukan tentang siapa ayahmu. Tapi tentang apa yang bisa kau lakukan. Jika Raja membutuhkan seorang jenderal, apakah dia akan memilih pangeran yang tidak pernah memegang pedang, atau prajurit yang memiliki seribu bekas luka?"
Kian menunjuk Vesper.
"Darah Murni mungkin memberimu akses ke pintu gerbang, Vesper. Tapi Kemampuanlah yang membuatmu tetap berada di dalam ruangan. Dan hari ini... pintu gerbang itu terbuka untuk siapa saja yang berani mendobraknya."
"Saya Kian Arselio. Dan saya bangga bahwa darah saya tidak murni. Karena itu artinya darah saya hidup."
Kian menutup argumennya.
Hening sedetik.
Lalu, amfiteater meledak.
Mahasiswa berdiri. Tepuk tangan membahana. Bahkan beberapa dosen terlihat mengangguk kagum. Itu adalah pidato yang mengubah kekurangan menjadi senjata. Pidato seorang pemimpin.
Vesper ternganga. Dia tidak punya balasan. Argumen 'kuda juara'-nya hancur berkeping-keping.
Moderator mengetuk palu.
"Pemenang Semifinal: Tim Golden Key!"
Sura merosot di kursinya, kakinya lemas. Kian berbalik, wajahnya masih merah karena adrenalin.
Mereka saling tatap. Tidak ada kata-kata. Hanya senyum lega.
Di tribun VIP, Lysander tidak bertepuk tangan. Dia meletakkan gelas limunnya yang masih penuh. Wajahnya datar, tapi tangannya mencengkeram sandaran kursi hingga kayunya retak.
Dia gagal mematahkan mental Kian. Justru sebaliknya, dia baru saja membantu Kian berdamai dengan identitasnya.
"Menarik," bisik Lysander pada dirinya sendiri. Dia berdiri dan pergi meninggalkan arena sebelum pengumuman selesai.
Sura melihat punggung Lysander menjauh.
"Kita masuk Final, Kian," kata Sura.
"Ya," jawab Kian, menatap langit biru. "Satu langkah lagi menuju Raja."
Tapi Sura tahu, langkah terakhir selalu yang paling berat. Final nanti bukan melawan Vesper atau Si Kembar.
Final nanti kemungkinan besar melawan Lysander sendiri. Atau senjata pamungkasnya.