Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.
Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.
Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Matanya mengikuti gerak gerikku
Suara adzan bersahutan memberikan kesunyian memanggil hampa yang lelah. Kegelapan telah menutupi dengan sempurna langit yang tadi jingga. Dengan semilir angin menuntun bergerak menuju perintah keyakinan.
Kami yang berkewajiban bergegas menuju sumber suara untuk menunaikan ibadah 3 rakaat karena waktu yang singkat.
Putri sambil melipat mukena "Kalau udah sholat Maghrib rasanya tenang enggak terburu buru"
"Iya bener, harusnya latihan sebelum Maghrib udah selesai ya" Tamiya ikut mengiyakan Putri.
Jawabku sambil terburu buru "Bukanya setiap latihan memang gitu udah selesai sebelum Maghrib?? Kitanya aja yang kebanyakan acara tiba tiba hampir kelewat. Aku buru buru nih, udah ditunggu didepan"
Kami berjalan keluar dari mushola bersama sama menuju gerbang sekolah. Dari kejauhan aku melihat Bapak disebelah pos satpam, sepertinya sedang ngobrol sama seseorang lalu pergi lagi.
"Ay sini Ay..." suara Arya berteriak memangilku dari kejauhan
Aku mengikuti suara Arya, menuju semakin dekat dan terlihat ternyata berdiri disamping Arya ada sosok dia.
Aku sibuk menyusun beberapa skenario dikepalaku, aku tidak akan mempedulikan dia. Niatku sudah bulat untuk tidak menganggapnya ada.
Semakin dekat denganya langkahku tiba tiba menjadi kaku, kami berpapasan. Aku menggagalkan sendiri skenario yang telah kuatur, sesaat mataku meliriknya. Wajahnya terlihat teduh, tenang tapi tak bergeming tetap tertunduk menatap ke arah sepatunya. Dia seperti menyembunyikan sesuatu atau mungkin sembunyi dariku.
Langkahku perlahan melewatinya semakin mendekat ke arah Arya,
"Ay... maaf tadi motornya udah aku keluarin" suara Arya lirih dan lembut didepanku.
Aku sedikit kaget membulatkan kedua mataku "Kok kamu yang keluarin?"
"Iya tadi biar kamu enggak kelamaan, mau langsung pergikan?" Arya berjalan mengikuti kami ke depan.
Aku tersenyum menatap Arya "O... Iya, makasih ya..."
Kami berhenti didepan gerbang, Bapak dan pak Wandi sudah menunggu, aku memberikan kunci motor kepada pak Wandi "Nitip sebentar ya Pak, tolong dijagain"
Pak Wandi menerima kunci yang kuberikan dengan tersenyum "Selamat liburan, pak Wandi langsung pulang saja ya, biar enggak kelamaan"
Pak Wandi berpamitan dengan Bapak dan Ibu lalu membawa sepeda motorku pulang. Bapak melihat ke arah Arya, dengan wajah yang datar mengucapkan terimakasih lalu naik kemobil.
"Aku duluan Put, Tam... Arya..." Aku berpamitan menatap satu persatu mereka.
"Selamat menikmati liburan Ya, jadi pengen kepantai" sahut Putri.
"Hati hati dijalan ya Ya, enggak usah nginget inget yang disini" jawab Tamiya
Arya berjalan dibelakangku, mengikutiku sampai di dekat mobil lalu membukakan pintu, saat aku akan masuk kedalam Arya berkata pelan disertai senyum yang berbinar dan matanya yang menyipit "Selamat bersenang senang Ay"
Aku mengangguk kecil lalu tersenyum membalas senyuman Arya.
Mobil mulai berjalan pelan, aku dapat melihat saat melewati Arya, Putri, Tamiya lalu Aldrian. Ternyata sedari tadi dia melihatku dengan wajah datar tetapi pandangan matanya tajam. Matanya mengikuti gerak gerikku sampai aku tak terlihat dipandangannya.
Mataku terus menatap lekat kearahnya. Matanya memancarkan ribuan kata namun tertutup rapat. Dalam diam mata kami sering bertemu, tak ada kata, tak ada suara.
Didalam mobil ternyata ramai penumpang, didepan ada Bapak dan mas Nandito yang duduk dikemudi. Dibelakang ada mba Renata yang sedang bermain main dengan Wibin, ditengah ada ibu lalu ditambah aku. Mobil berisi muatan penuh.
"Mas Nandito bikin kaget aja, tiba tiba udah ada, Kok mas Nandito sudah pulang sih? sebulannya masih kurang beberapa hari lagi?" tanyaku dengan sedikit kaget tiba tiba ada mas Nandito, sedangkan tadi pagi waktu aku berangkat sekolah mas Nandito belum pulang.
"Iyalah... Mas Nandito kan punya ilmu menghilang, jadi sekali kedipan mata bisa berpindah pindah tempat jadi besok udah balik lagi kesana buat ngepasin pas sebulan" Mas Nandito menjawab dengan nada serius.
Seisi mobil tertawa dengan jawaban yang mas Nandito berikan, berbeda dengan aku menertawai mas Nandito dengan nada sinis.
"Mba Aya... Mba Aya" Wibin dari belakang memanggil manggil namaku
Aku memutar kepalaku kesamping ke arah suasa Wibin "Ngapain kamu ikut ikutan? pulang sana sama bapak ibukmu sendiri, nggak usah ikut! Entar dicari ibumu!"
Wibin langsung saja merengek sambil memeluk mba Renata "Mau ikut ke pantai ya mba Ren ya"
Mba renata memeluk Wibin dengan matanya membulat kearahku "Apasih kamu, sukanya cari ribut sama anak kecil"
Ibu mencubit pahaku lalu menengok ke arah Wibin "Wibinkan udah jadi anaknya mamah jadi ya ikut kemana mamah dan papah pergi"
Mamah adalah sebutan Wibin buat Ibu sedangkan Papah sebutan Bapak, enggak tau siapa yang ngasih sebutan, seingatku dari Wibin bayi sudah seperti itu.
"Cowok 2 tadi kakak kelas kamu hebat ya Ya... Mereka nungguin semua adek kelasnya sampai ada yang jemput" sabut Bapak dari depan.
"Aya malah enggak tau mereka nungguin adek kelasnya" aku menjawab Bapak dengan pandangan kosong.
Dalam perjalan kami ramai, membicarakan banyak hal, terutama meledek Wibin. Kami melewati sepanjang perjalanan malam yang terlihat sunyi. Jalan kearah kota Pantai terlihat panjang terbentang disinari lampu lampu jalan menyerupai garis.
Aku memandang dari dalam kaca jendela, malam semakin gelap. Lampu lampu mobil yang mendahului kami bagaikan kunang kunang yang tebang bersinar lalu hilang ditelan malam.
Bapak masih saja merasa kawatir melepaskan mba Renata tinggal di asrama. Sebetulnya Bapak tidak perlu kawatir berlebihan, apa yang harus dikawatirkan... ??? Mba Renata seorang atlet pencak silat, sering kali menjuarai kejuaraan nasional. Bahkan mba Renata mendapatkan beasiswa masuk ke kampus favorit dari banyaknya prestasi yang didadapkan. Pastilah mba Renata pandai menjaga diri sendiri.
Mas Nandito mengemudi dengan sangat hati hati, mengurangi kecepatan disaat kami sudah mulai memasuki kota Pantai yang minim penerangan.
Bapak mulai bercerita tentang kota Pantai yang memiliki banyak keindahan wisata alam :
"Sekitar 15 menit lagi kita masuk dikawasan pusat kota, jalan udah mulai terang banyak lampu. Didepan ada perempatan jalan, kamu harus ingat semua yang Bapak katakan Re, jangan sampai nanti kamu salah jalan! Kalau ke kota belok kanan, ke Villa belok kiri, kalau lurus disana ada dermaga, seharusnya enggak mungkin nyasar karena disini kota kecil"
"Udah hampir jam 8, kita ke kota saja dulu, cari makan! Kasian Wibin pasti udah lapar" Ibu memotong penjelasan Bapak sambil melihat ke arah Wibin dengan rasa kawatir.
Bapak menengok ke belakang ke arah ibu "Kita makan di resto Villa saja bu, kalau mau ke kota besok kita bisa jalan jalan, pemandangan di Villanya bagus banget pas menghadap pantai pasti anak anak suka"
"OK siap, driver mah nurut aja apa kata penumpang" Mas Nandito membelokan kemudi ke kiri menuju ke Villa.
Aku mulai membuka kaca jendela, terdengar disepanjang jalan deburan suara ombak. Walau samar samar terlihat angin menggulung ombak untuk menepi.
"Ren... lihat tuh ke kanan ini kampus kamu, besar kan? nanti kamu kuliahnya disini, diujung kampus ada dermaga, biasanya juga ada perahu disana. Mahasiswanya berenang, menyelam lewat sana juga. Kalau asramanya ada didepan tuh, ada 3 bangunan berjejer disebelah kanan, tembok kampus yang di belakang itu langsung menghadap pantai. Kalau kamu beruntung dapet kamar pas menghadap pantai, setiap hari akan berasa nginep di hotel, kamu pasti bakal betah" Bapak sangat bersemangat sekali menjelaskan semua tentang kampus mba Renata di kota pantai.
"Bapak kok hafal banget situasi kondisi disini, sampai kamar asrama menghadap pantai, dibelakang kampus ada dermaga, kapan bapak kesini?" sahut mba Renata dari belakang
Mas Nandito membelokan kemudi ke kanan di atas gebang terdapat tulisan "Bech Front Villa"
"Bener yang inikan Pak?"
"Iya, cek in dulu mas, Bapak ngeluarin barang barang dibantu Renata" kata Bapak sambil membuka pintu mobil lalu turun keluar.
Kami keluar dari mobil, Bapak menurunkan barang barang perlengkapan yang kami bawa.
"Waktu itu bapak lewat sekitar sini trus penasaran mampir lihat lihat" Bapak menjawab pertanyaan mba Renata sewaktu di mobil.
Mba Renata berjalan kearah Bapak, sambil membantu Bapak menurunkan barang barang mba Renata menjawab Bapak "Ou... Kenapa Bapak enggak ngajak Rena juga?"
Aku yang sudah tidak sabar langsung saja berlari kearah pantai, Wibin mengikuti lari di belakangku "Mba Aya tunggu"
Ibu dari kejauhan berteriak "Aya, jangan nyebur ke pantai!"
Aku menoleh, mengangguk ke arah suara ibu, lalu aku berjalan berdua bersama Wibin dipinggiran pantai "Gara gara kamu nih bocil, gagal nyebur kepantai"
Wibin mendekat kearahku, tangannya yang mungil mengandeng tanganku "Besok aja nyeburnya mba Aya, ini udah gelap"
Suasana pantai sangat tenang, hanya terdengar suara ombak memecah kesunyian. Angin yang bertiup kencang menjadikan udara terasa dingin. Langit terlihat indah bertabur bintang. Sinar bulan terpantul indah menerangi permukaan air. Aroma garam laut yang khas begitu kuat. Aku melepas alas kakiku, merasakan pasir putih yang basah dan dingin.