Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ainun: Aku Hanya Istri Sementara
Drrrtt... Drrrtt...
Suara alarm dari ponsel memecah keheningan pagi.
Perlahan, kelopak mata Ainun terbuka. Pandangannya menatap langit-langit kamar beberapa saat sebelum beralih ke ponsel yang tergeletak di samping bantal.
Jemarinya meraih benda itu, lalu mematikan alarm yang masih berdering.
Ainun mengembuskan napas pelan. Ia melirik layar ponselnya.
“Jam setengah enam.”
Perlahan, ia bangkit dari ranjang. Tubuhnya masih terasa lelah, tetapi pagi itu ada perasaan ringan yang memenuhi dadanya.
Ia mengambil handuk yang tergantung di balik pintu, lalu melangkah keluar kamar menuju kamar mandi.
Saat melewati dapur, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Di balik cahaya lampu yang masih temaram, tampak Bibi Ani sedang sibuk menyiapkan bahan masakan.
“Bibi...?” panggil Ainun pelan.
Wanita paruh baya itu menghentikan kegiatannya. Ia menoleh, lalu tersenyum ketika melihat Ainun.
“Mbak Ainun? Kok sudah bangun?”
Ainun tersenyum tipis. Ia menghampiri Bibi Ani, lalu memeluk wanita itu dari belakang.
“Bibi,” ucapnya pelan, “hari ini sepertinya aku senang sekali.”
Bibi Ani terkekeh kecil sambil menepuk lembut tangan Ainun yang melingkar di pinggangnya.
“Senang kenapa, Mbak Ainun?” tanyanya penasaran.
Senyum Ainun semakin lebar.
“Sebentar lagi... Mbak Liona akan kembali.”
Ucapan itu membuat Bibi Ani terdiam.
Perlahan, wanita itu membalikkan tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Ainun. Tatapannya dipenuhi rasa tidak percaya.
“Wanita itu?” tanyanya memastikan.
Ainun mengangguk pelan.
“Iya. Katanya minggu ini.” Senyumnya masih tersungging. “Makanya semalam aku langsung beres-beres barang.”
Sesaat, Bibi Ani hanya menatap wajah Ainun.
“Mbak Ainun...” panggilnya lirih. “Kenapa Mbak nggak pernah berusaha mengambil hati Pak Sagara? Siapa tahu lama-lama hati beliau luluh.”
Ainun terdiam.
‘Mengambil hati Mas Sagara...?’
Ia menundukkan kepala sesaat, lalu menggeleng pelan.
“Sejak awal,” ucapnya lirih, “Mas Sagara memang milik Mbak Liona, Bi.”
Tatapannya perlahan menerawang.
“Aku hanya menggantikan posisi Mbak Liona untuk sementara.”
Senyum tipis kembali menghiasi bibirnya, meski terasa begitu hambar.
“Kalau Mbak Liona pulang nanti...” lanjutnya pelan, “aku nggak perlu hidup dalam tekanan, ketakutan, ataupun paksaan lagi.”
Tanpa sadar, telapak tangannya menyentuh perutnya dengan lembut.
‘Setelah itu... aku dan anakku bisa memulai hidup yang baru.’
Ainun kembali menatap Bibi Ani.
“Ya sudah, Bi.” Ia tersenyum tipis. “Aku mau mandi dulu, lalu salat. Setelah itu aku berangkat kerja sebelum Mas Sagara bangun.”
Bibi Ani mengangguk pelan.
“Iya, Mbak. Hati-hati.”
“Terima kasih, Bi.”
Ainun mengulas senyum kecil, lalu berbalik meninggalkan dapur.
Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju kamar mandi, sementara harapan tentang kebebasan yang sudah lama dinantikannya terus memenuhi pikirannya.
. . .
Usai mandi, Ainun mengenakan seragam guru taman kanak-kanak berwarna krem, lalu merapikan jilbab yang membingkai wajahnya.
Ia berdiri sejenak di depan cermin.
Tatapannya menelusuri pantulan dirinya yang tampak lebih segar dibandingkan semalam, meski lingkaran samar di bawah matanya belum sepenuhnya hilang.
Perlahan, pandangannya beralih ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
“Baru lewat jam enam.”
Ainun mengangguk pelan.
Ia meraih tasnya, menyampirkannya di bahu, lalu melangkah keluar dari kamar.
Saat melewati ruang makan, langkahnya mendadak terhenti.
“Kamu sengaja menghindari saya?”
Suara datar itu membuat Ainun menoleh.
Sagara duduk tenang di salah satu kursi meja makan. Secangkir kopi masih mengepulkan uap tipis di depannya, sementara sorot matanya yang tajam tertuju lurus kepada Ainun.
‘Tumben Mas Sagara bangun sepagi ini.’
Ainun menarik napas pelan.
“Jadi benar?” ulang Sagara. “Kamu ingin menghindari saya?”
“A-aku....”
“Hari ini kamu libur,” potong Sagara tanpa memberinya kesempatan menjelaskan. “Temani saya.”
Ainun menggeleng pelan.
“Maaf, Mas. Aku nggak bisa. Aku harus mengajar.”
Ia kembali melangkah hendak meninggalkan ruang makan.
“Kalau begitu,” ujar Sagara tenang, “saya tinggal menghubungi kepala sekolah agar pria bernama Faizan dipecat secara tidak hormat.”
Langkah Ainun langsung terhenti. Ia menoleh cepat dengan mata membelalak.
“Apa?”
Sagara menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kenapa diam?” tanyanya datar. “Cepat pergi kalau memang itu maumu.”
Tatapan Ainun masih dipenuhi rasa tidak percaya.
“Saya juga donatur di sekolah itu,” lanjut Sagara tanpa beban. “Bukan hal sulit meminta mereka memecat seseorang.”
Jemari Ainun perlahan mengepal.
‘Mas Sagara... kenapa harus membawa Pak Faizan ke dalam masalah ini?’
“Aku harus ke mana?” tanyanya lirih setelah beberapa saat.
Sudut bibir Sagara terangkat tipis.
“Duduk dulu.”
Tatapannya beralih ke meja makan.
“Sarapan bersama saya.”
Ainun mengembuskan napas panjang. Dengan langkah pelan, ia menghampiri meja makan, lalu memilih duduk di kursi yang berjarak cukup jauh dari Sagara.
Ia mengambil nasi secukupnya, sedikit kangkung, dan sambal.
Belum sempat mulai makan, suara Sagara kembali terdengar.
“Kenapa cuma mengambil kangkung dan sambal?” tanyanya. “Masih banyak lauk.”
Ainun tidak mengangkat wajah.
“Aku harus tahu diri di rumah ini,” jawabnya pelan.
Kalimat itu membuat suasana kembali hening.
Ainun menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Namun, baru beberapa kali mengunyah, perutnya mendadak bergejolak.
Refleks, ia menutup mulut dengan telapak tangan.
“Uhuk...”
Ainun buru-buru berdiri, lalu berlari menuju wastafel.
“Huek...”
Tubuhnya membungkuk.
Yang keluar hanya cairan bening disertai rasa mual yang menusuk tenggorokannya.
Kepalanya terasa berputar. Tangannya gemetar saat mencengkeram bibir wastafel.
‘Jangan sekarang, Nak... Jangan sampai Ayahmu tahu keberadaanmu.’
‘Kalau Mas Sagara tahu... aku takut dia akan mengambilmu dariku.’
Ainun menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan rasa mual yang kembali datang.
“Menyusahkan saja.”
Suara dingin itu terdengar tepat di belakangnya. Tubuh Ainun langsung menegang. Perlahan, ia menoleh.
Sagara sudah berdiri di belakangnya dengan wajah tanpa ekspresi. Tatapannya terasa sedingin biasanya.
Ainun mengusap bibirnya, lalu menegakkan tubuh.
“Aku nggak mau berdebat lagi sama Mas Sagara,” ucapnya lirih.
“Saya juga berubah pikiran,” balas Sagara datar. “Saya tidak jadi mengajakmu. Akan merepotkan kalau kamu pingsan di depan saya.”
Kalimat itu membuat dada Ainun membuang pandangan sejenak sebelum kembali menatap wajah pria itu.
“Aku nggak akan pernah merepotkan Mas Sagara,” ucapnya pelan.
Senyum tipis yang pahit terukir di bibirnya.
“Toh... aku hanya istri sementara.”
Tatapannya mulai meredup.
“Kalau Mbak Liona kembali nanti, Mas Sagara akhirnya bisa hidup bahagia bersama wanita yang benar-benar Mas cintai.”
Tanpa menunggu jawaban, Ainun meraih tasnya. Ia berbalik, lalu melangkah meninggalkan ruang makan.
Kali ini, ia tidak menoleh lagi. Ia terus berjalan menuju pintu depan, meninggalkan Sagara yang masih berdiri di dekat wastafel.
Rahang Sagara mengeras.
Brak!
Ujung sepatunya menghantam kaki meja makan hingga bergeser beberapa senti.
Napasnya memburu.
Ucapan Ainun sebelum pergi terus terngiang di kepalanya.
“Cih.”
Sagara melonggarkan dasi yang terasa menyesakkan, lalu merapikan kembali jasnya.
Tanpa membuang waktu, ia melangkah keluar rumah menuju mobil yang telah terparkir di halaman.
Beberapa saat kemudian, ia sudah berada di balik kemudi. Tanpa sepatah kata pun, Sagara menyalakan mesin mobil.
Deru mesin memecah keheningan pagi.
Mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah.
Di tepi jalan, Ainun tampak berdiri. Bahkan Wanita itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Tatapannya justru sengaja diarahkan ke sisi jalan yang lain.
Rahang Sagara kembali mengeras.
“Lihat saja nanti, jalang,” gumamnya pelan.
Kakinya menginjak pedal gas lebih dalam.
Mobil melesat membelah jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan.
. . .
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil Sagara memasuki pelataran Dirgantara Group.
Ia mematikan mesin, lalu turun dan berjalan memasuki gedung perusahaan.
Begitu tiba di lobi, langkahnya mendadak terhenti. Tatapannya menyapu ruangan yang masih lengang.
“Pak Sagara?” sapa Liam yang baru datang. Wajahnya tampak terkejut. “Tumben Bapak datang sepagi ini.”
Sagara langsung menoleh.
“Hari ini rapat.”
Liam mengedip bingung.
“A-apa, Pak?” tanyanya gugup. “Biasanya karyawan baru mulai masuk sekitar jam setengah delapan.”
Tatapan Sagara berubah tajam.
“Saya bosnya atau mereka?”
“Bapak, Pak.”
“Lima belas menit.”
Nada suaranya terdengar tegas tanpa bisa dibantah.
“Kalau dalam lima belas menit mereka belum berkumpul, potong insentif keterlambatan sesuai kebijakan perusahaan.”
“Baik, Pak.”
Sagara kembali melangkah menuju lift.
Diikuti Lima di belakangnya.
Tak lama pintu lift terbuka. Keduanya masuk.
Begitu pintu kembali tertutup, Sagara membuka suara.
“Bagaimana hasil penyelidikanmu?”
Liam segera mengangguk. “Sudah, Pak.”
“Apa?”
“Nona Liona memutuskan pulang karena gagal lolos seleksi model internasional.”
Wajah Sagara tetap datar.
“Lalu?”
“Beliau dijadwalkan kembali ke Indonesia minggu ini. Kemungkinan penerbangannya malam nanti, lalu tiba besok atau lusa.”
Sagara mengangguk tipis. “Siapkan hadiah untuk Liona.”
“Baik, Pak.”
Liam mencatat cepat di ponselnya.
“Pilih yang paling mahal.”
“Siap, Pak.”
Beberapa detik suasana kembali hening.
Lalu Liam memberanikan diri bertanya.
“Kalau begitu... bagaimana dengan Bu Ainun?”
Tatapan Sagara tetap lurus ke depan.
“Maksudmu?”
“Apakah Bapak akan mengakhiri pernikahan dengannya setelah Nona Liona kembali?”
Sagara terdiam sejenak.
“Ainun hanya pengganti sementara,” ujarnya datar. “Sejak awal memang seperti itu.”
Lift terus bergerak naik.
Ding.
Pintu lift terbuka. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Sagara melangkah keluar.
Liam segera mengikuti di belakangnya menuju ruang kerja.
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪