Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Kepulangan Cakra
Malam itu Diyah—wanita perawan yang tahun ini berusia 30 tahun, nampak tak bisa tidur. Sedari tadi dia terus berguling ke sana kemari di atas ranjang dengan senyum khasnya yang dihiasi lesung kecil di ujung bibir.
Esok kekasihnya akan tiba di kampung setelah merantau selama dua tahun, ini adalah kepulangan kedua. Diyah sudah tidak sabar untuk bertemu, melepas rindunya yang sudah membumbung tinggi di langit.
"Tidurlah, Diyah, besok kamu harus menjemputnya," gumam wanita kepala tiga itu masih dengan senyum yang sama. Dia menarik selimut, memejamkan mata berusaha untuk tidur. Hingga tak ada 30 menit berlalu Diyah benar-benar sudah masuk ke alam mimpi.
Keesokannya Diyah bersiap untuk pergi ke terminal yang jaraknya lumayan dekat dari rumah, hanya sekitar 30 menit, dia berdandan sedikit supaya bisa menyenangkan hati sang kekasih di awal pertemuan mereka.
Hari ini terminal kecil itu tampak lebih ramai dari biasanya. Deru mesin bus bercampur dengan suara para pedagang asongan yang menawarkan dagangan mereka. Diyah berdiri di dekat pintu kedatangan sambil menggenggam kantong berisi bekal kesukaan Cakra.
Sejak subuh Diyah sudah sibuk memasak ayam ungkep dan sambal terasi yang dulu selalu dipuji pria itu.
"Kalau nanti sudah sukses, aku langsung datang melamar kamu yah."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Janji yang membuatnya bertahan melewati rindu selama berbulan-bulan dan tetap menjaga kesetiaan.
Mata Diyah senantiasa mengedar pada tiap bus yang baru saja tiba, hingga bus antarkota berhenti, para penumpang mulai turun satu per satu, dan kali ini Diyah benar-benar mengenali—pria dengan kulit sawo matang itu turun, Diyah segera bergegas. Membawa langkah kecilnya dengan penuh semangat.
"Mas," panggilnya dengan sedikit memekik girang. Tangan Diyah juga melambai, membuat Cakra yang saat itu turun dengan seseorang, tak kesulitan untuk menemukan sumber suara.
Namun, reaksi pria itu justru berbeda, seolah tak senang dengan penyambutan Diyah.
"Akhirnya kamu sampe dengan selamat, Mas," ucap Diyah dengan wajah sumringah.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Aku kan sudah bilang nggak usah jemput," tanyanya datar.
Diyah sedikit tertegun. Kenapa tiba-tiba sikap Cakra berubah drastis seperti ini, padahal kepulangan sebelumnya Cakra langsung memeluknya untuk menguapkan rindu.
"Ya aku jemput kamulah, Mas. Bukannya kamu bilang pulang hari ini?"
Cakra menghela napas panjang, seolah keberadaan Diyah adalah sesuatu yang merepotkan.
"Siapa yang suruh sih?" Suaranya makin terdengar frustasi, hingga membuat dada Diyah terasa sesak.
"Aku cuma pengen jadi orang pertama yang nyambut kepulanganmu," jawab Diyah dengan polos.
Namun, tatapan Cakra justru beralih ke kanan dan kiri, seperti takut dilihat seseorang.
"Lain kali nggak usah."
"Lho kenapa?"
Diyah makin dibuat penasaran, apa yang membuat kekasihnya jadi seperti ini.
"Nggak enak."
"Nggak enak sama siapa?"
Pertanyaan itu membuat Cakra terdiam beberapa saat. Kemudian terdengar suara seorang perempuan dari belakang. Tadi turun dari bus, dia langsung membeli minuman.
"Mas Cakra," panggilnya mendayu.
Seorang gadis berpenampilan modis berjalan mendekat. Rambutnya tergerai rapi, tas bermerek menggantung di bahunya, khas orang kota.
"Ini siapa, Mas?" tanyanya sambil menatap Diyah dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Begitu juga yang dilakukan oleh Diyah, dia menatap wanita itu dan Cakra secara bergantian. Jantungnya mulai berdetak tidak karuan.
Sedangkan Cakra mengusap tengkuknya dengan gelisah.
"Oh, ini—"
Belum selesai dia bicara, wanita itu sudah lebih dulu meraih lengan Cakra untuk dipeluknya, benar-benar tak ada rasa sungkan dengan Diyah yang terus mematung. Diyah tak dianggap.
"Aku capek banget di perjalanan. Kita langsung pulang ke rumah ya?"
Rumah?
Diyah merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Mas, dia siapa?" tanya Diyah dengan sorot mata yang menuntut jawaban.
Cakra mengembuskan napas berat. Akhirnya dia tidak bisa bohong lagi, karena mereka sudah terlanjur bertatap muka.
"Namanya Rani."
"Lalu?"
"Pacarku."
Seakan petir menyambar di siang bolong. Kantong makanan di tangan Diyah hampir terlepas.
"Pacar, Mas?" tanya Diyah dengan terbata, menahan tangis yang tiba-tiba sudah ada di ujung mata.
"Aku sama Rani sudah jalan beberapa bulan," jawab Cakra dengan jujur.
Mendengar itu, bibir Diyah makin bergetar. Bahkan kakinya terasa tak menampak di bumi.
"Lalu, aku?"
Wanita itu mempertanyakan statusnya, tapi Cakra menatapnya tanpa rasa bersalah.
"Kita putus."
Hanya dua kata.
Namun, cukup untuk menghancurkan semua mimpi yang Diyah rajut setiap malam. Tentang indahnya mahligai rumah tangga bersama orang yang dicintainya.
"Putus?" Suaranya lirih, dengan air mata yang meleleh begitu saja.
"Iya," jawab Cakra dengan mantap, karena dia telah mendapatkan pilihan hatinya, yakni Rani—gadis kota, anak pemilik kosan yang ditempatinya.
"Tapi kenapa? Apa yang salah dariku, Mas?" tanya Diyah, ingin mengungkapkan segala rentetan tanya yang memenuhi kepalanya.
Cakra menghela napas.
"Kamu sama Rani itu beda, bagaikan langit dan bumi, dan sekarang aku lebih nyaman sama dia, dia yang ngerti kehidupan kota!" jawab Cakra dengan menggebu, membuat wanita di sampingnya tersenyum puas.
Sedangkan Diyah semakin merana.
"Jadi karena aku cuma gadis desa?"
Diyah kembali melontarkan pertanyaan, dia benar-benar tak peduli dengan sekelilingnya yang mulai menjadikan mereka sebagai objek utama.
Cakra mengusap wajahnya, semakin muak menghadapi Diyah.
"Ternyata orang bisa berubah dengan mudah yah. Oh bukan berubah, tapi lupa!"
Pria itu memilih diam, hingga ruang mereka menjadi lebih sunyi. Dan kesunyian itu sudah menjadi jawaban untuk Diyah bahwa dia telah kehilangan Cakra.
Rani memeluk lengan Cakra semakin erat, hingga dada Diyah makin meluap-luap.
"Lagi pula ibu juga udah mulai gratisin kosan buat Mas Cakra, katanya buat calon mantu," ujar Rani sambil terkekeh.
Baru saat itulah Diyah memahami semuanya. Diyah mengusap air matanya dengan kasar.
"Jadi selama ini setiap kali kamu bilang lembur, sibuk kerja, capek dan yang lainnya hanyalah alasan klasik, karena sebenarnya waktumu habis untuk gadis kota ini!"
"Aku memang sibuk!" Cakra membantah dengan suara keras.
"Tapi juga sibuk jatuh cinta dengan gadis lain!" Diyah tak kalah memekik.
Tak ada bantahan.
Tak ada penjelasan.
Hanya diam. Diam yang jauh lebih menyakitkan dari pada kebohongan.
Diyah mengangkat kantong makanan yang sejak tadi dibawanya, dia menyerahkannya pada Cakra.
"Ayam kesukaanmu."
Dia tersenyum, meski matanya kembali basah.
"Aku bangun jam empat pagi buat masak itu semua. Masakan yang selalu kamu puji-puji, dan yang selalu buat kamu pengen nambah."
Cakra menatap kantong itu sekilas.
"Anggap saja ini ucapan selamat. Karena akhirnya kamu mendapatkan apa yang kamu mau. Gadis yang selevel denganmu, karena pengkhianat memang cocok dengan seorang penggoda!"
Diyah berbalik.
Dia melangkah perlahan meninggalkan terminal. Setiap langkah terasa semakin berat. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya luruh tanpa bisa dicegah.
Di belakangnya Cakra tak berusaha mengejar. Tak memanggil namanya atau pun mengucapkan kata maaf.
Pria yang dulu berjanji akan pulang membawa cincin itu kini pergi bersama wanita lain. Wanita yang baru dia kenal beberapa tahun belakangan.
Sementara Diyah hanya membawa pulang hatinya yang telah remuk. Dia tidak pernah menyangka nasib percintaannya akan berakhir seperti ini, apalagi di usianya yang semakin matang sebagai seorang wanita.
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.
Mantap Biyahta,,,jangan ter goda sama perempuan lain,,,jaga selalu diyah dari orang2 sikir dan jahat....sarah,sarah katanya pramugari kok semangaat banget mau jadi pelakor....haduh