NovelToon NovelToon
Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Dibuang Mertua, Ternyata Pewaris Triliunan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.

Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.

Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.

"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."

Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.

Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.

"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Rochmat Hidup!

Udara bawah tanah dingin, tetapi ruangan itu penuh bau obat, logam, dan kabel panas.

Di tengah ruang bawah tanah sebuah vila tua di pinggiran Kota Biru, seorang pria tua duduk di kursi roda hitam.

Kulitnya pucat, punggungnya sedikit membungkuk. Di samping kursinya, monitor medis menyala pelan.

Rochmat Santoso membuka mata.

Di depannya, layar besar menampilkan wajah Maya Devi.

"Laporan," katanya.

Suaranya serak dan rendah. Orang yang pernah mendengarnya tidak akan berani melupakannya.

Maya menundukkan kepala di layar.

"Tiga titik aktif. Vas, telepon, lampu ruang keluarga. Jessica Mahendra menerima saya sebagai tetangga. Daundra Pratama tidak curiga. Hendry Pratama belum menunjukkan reaksi terbuka."

"Pengawalnya?"

"Bagus Prasetyo merasa ada yang salah."

Sudut bibir Rochmat bergerak sedikit.

"Nama itu."

"Dia hanya punya intuisi. Belum menemukan alat."

"Intuisi adalah pintu pertama sebelum pisau masuk," kata Rochmat pelan. "Jangan remehkan orang yang hidup dekat dengan Hendry Pratama."

Maya menahan napas.

"Baik, Pak Rochmat."

Panggilan terputus.

Layar kembali hitam.

Pantulan wajah Rochmat muncul di permukaan gelap itu. Wajah tua yang seharusnya tidak ada lagi.

Di meja samping, ada satu foto pemakaman.

Peti mati.

Karangan bunga.

Nama besar bertuliskan Rochmat Santoso.

Orang-orang menangis di bawah tenda putih. Beberapa menunduk hormat, beberapa diam-diam lega, menunggu harta keluarga Santoso pecah.

Rochmat tertawa pendek.

Tawa itu membuat monitor di sampingnya seperti bergetar.

"Mereka percaya aku mati."

Seorang pria muda yang berdiri di dekat pintu menundukkan kepala.

Rudi Santoso.

Di depan orang luar, ia pernah menjadi bawahan kecil Vincent Hadiprana. Di dalam darah keluarga Santoso, ia cucu cabang samping yang sejak kecil diajari tersenyum di depan musuh dan menusuk saat pintu tertutup.

"Mereka melihat sertifikat kematian, Kakek," kata Rudi lirih.

"Sertifikat bisa dibeli."

Rochmat mengangkat tangan kanannya.

Jari-jari itu kurus, tapi urat di punggung tangannya menonjol seperti akar tua yang masih mencengkeram tanah.

"Tubuh ini yang sulit dibeli kembali."

Rudi tidak menjawab.

Ia masih ingat malam itu.

Beberapa bulan lalu.

Hujan turun keras di Kota Biru. Rumah utama keluarga Santoso penuh suara panik. Dokter pribadi berlari. Anak-anak keluarga berteriak. Rudi berdiri di ujung koridor, melihat Rochmat terbaring kaku di ranjang dengan wajah abu-abu.

Semua orang mengira itu serangan mendadak.

Semua orang mengira ajal sudah turun.

Hanya satu orang yang tidak panik.

Pria bertopeng hitam yang berdiri di balkon luar.

Ia datang tanpa suara.

Ia membawa kotak kecil dari logam gelap.

Di dalamnya ada satu ampul bening.

"Obat dari Elang Malam," kata pria itu malam itu. "Tiga jam tubuhmu akan terlihat mati. Dua belas jam kemudian, kau bangun di tempat kami."

Rochmat yang saat itu masih sadar setengah, menatap pria bertopeng itu dengan kebencian.

"Kalian ingin apa?"

"Kau tetap hidup. Kami mendapatkan matamu di Kota Biru."

"Aku bukan anjing."

Pria itu tertawa.

"Anjing terlalu setia. Kau lebih cocok jadi orang tua yang takut keluarganya habis."

Malam itu, Rochmat menandatangani perjanjian dengan tangan gemetar.

Rasa takut mati belum mencapai matanya.

Karena Elang Malam membawa daftar rekening, nama cucu, foto rumah aman, dan peta semua aset rahasia keluarga Santoso.

Mereka bukan meminta.

Mereka sudah memegang lehernya.

Tiga jam kemudian, dokter mengumumkan kematian. Dua belas jam kemudian, Rochmat membuka mata di ruangan bawah tanah ini.

Sejak hari itu, dunia mengira keluarga Santoso kehilangan kepala.

Padahal kepala itu masih bernapas.

Rantainya hanya pindah ke tangan yang lebih gelap.

"Kakek."

Suara Rudi menariknya kembali.

Rochmat menoleh.

"Lanjut."

Rudi melangkah maju dan meletakkan map cokelat di atas meja.

"Keluarga Santoso di permukaan terlihat pecah. Anak-anak cabang utama saling rebut warisan kecil. Beberapa aset lokal sudah disita, beberapa dilepas murah. Orang luar percaya kita melemah."

"Dan inti?"

Rudi membuka map.

Di dalamnya ada cetakan transfer, daftar perusahaan cangkang, dan angka-angka yang tidak akan muncul di laporan resmi mana pun.

"Sekitar Rp 80 Triliun masih aman di luar negeri. Singapura, Hong Kong, Cayman, sebagian lewat dana keluarga lama. Pergerakan terakhir tidak terdeteksi oleh auditor lokal."

Mata Rochmat akhirnya menyala.

Sakitnya tubuh tidak menghilang.

Tapi uang sebesar itu cukup untuk membuat orang sakit tetap berbahaya.

"Bagus."

Rudi menelan ludah.

"Namun Budiman Suryadi masih terlalu kuat. Setelah Hadiprana jatuh, orang-orang di Kota Biru mulai menutup pintu untuk nama Santoso."

"Mereka takut pada pemenang," kata Rochmat. "Itu yang membuat mereka berdiri di belakang Budiman."

"Hendry Pratama membuat mereka takut."

Keheningan turun.

Nama itu mengisi ruangan lebih dingin daripada udara bawah tanah.

Hendry Pratama.

Menantu yang dulu bisa ditertawakan di ruang makan.

Pria yang dulu dianggap hidup dari belas kasihan keluarga Mahendra.

Sekarang, setiap kali namanya muncul, laporan keuangan bergerak dan orang-orang besar menahan napas.

Rochmat memejamkan mata.

"Itu yang membuatku benci."

Rudi menunduk lebih dalam.

"Dia tumbuh terlalu cepat."

"Dia selama ini menunduk," kata Rochmat.

Pintu baja di sisi ruangan berbunyi.

Dua pengawal membuka dari luar.

Seorang pria besar masuk dengan langkah berat.

Jasnya mahal, tetapi tidak bisa menutupi bahu lebarnya. Wajahnya keras, rahangnya seperti batu.

Roland Pradana.

Bos PT Raja Agung Group.

Orang yang di permukaan dikenal sebagai pengusaha agresif.

Di bawah meja, ia lebih mirip tukang jagal yang memakai dasi.

"Pak Rochmat," kata Roland sambil tersenyum lebar. "Kota Biru ternyata menyimpan hantu yang mahal."

Rudi langsung menegang.

Rochmat tidak marah.

Ia hanya menatap Roland.

"Hantu biasanya lebih sulit dibunuh daripada manusia."

Roland tertawa.

"Itu sebabnya saya datang."

Ia duduk tanpa menunggu dipersilakan. Kursi berderit di bawah tubuhnya.

"Hadiprana sudah tumbang. Herman masuk pemeriksaan. Vincent jadi sampah di jalan. PT Megah Sentosa jatuh ke tangan PT Surya Abadi. Saya tidak suka arah angin ini."

"Kau takut pada Hendry?"

Senyum Roland membeku sedikit.

"Saya tidak takut pada menantu miskin."

"Kalau begitu kau tidak perlu datang ke ruang bawah tanah orang mati."

Wajah Roland mengeras.

Untuk sesaat, udara menjadi berat.

Rudi sudah siap bergerak.

Namun Roland tiba-tiba tertawa lagi.

"Baik. Saya akui. Dia berbahaya."

Rochmat mengangkat dagu.

"Lanjutkan."

"PT Raja Agung Group punya jalur proyek, bank, media, dan tekanan dagang. Tapi untuk mematahkan Budiman Suryadi, saya butuh pintu kotor yang tidak bisa disentuh perusahaan saya."

"Dan kau pikir Santoso bisa jadi pintu itu."

"Santoso punya orang bawah tanah. Saya punya meriam bisnis. Kita punya musuh sama."

Rochmat diam.

Roland mencondongkan tubuh.

"Saya ingin PT Surya Abadi terbakar dari dalam. Saya ingin Budiman kehilangan muka di depan kamar dagang. Dan saya ingin Hendry Pratama berhenti menjadi legenda baru sebelum dia sempat berdiri di tengah Lima Keluarga Besar."

Mata Rochmat berubah tajam.

Rudi juga mengangkat kepala.

Roland menangkap reaksi itu.

"Ah," katanya pelan. "Jadi kau juga tahu nama itu."

Rochmat menatapnya lama.

"Jangan mengucapkan hal yang tidak mampu kau bayar."

Roland menyeringai.

"Saya membayar dengan perang."

Ia meletakkan satu map hitam di meja.

Logo PT Raja Agung Group tercetak kecil di sudutnya.

"Ini daftar pemasok, bank kecil, dan dua pejabat yang bisa menekan jalur ekspansi PT Timur Jaya. Beri saya jaringan Santoso, saya akan beri kau api di pasar."

Rudi melihat map itu.

Angkanya besar.

Risikonya juga besar.

Di sudut ruangan, layar lain tiba-tiba menyala.

Tidak ada wajah.

Hanya simbol seekor elang hitam dengan mata merah.

Suara dari speaker terdengar pelan, datar, tanpa emosi.

"Rochmat."

Rudi langsung pucat.

Roland berhenti tersenyum.

Bahkan pria sebesar itu tahu kapan harus diam.

Rochmat menatap layar.

"Burung Hantu."

"Waktu berjalan. Budiman Suryadi mulai bergerak terlalu luas. Hendry Pratama memegang lebih banyak pintu daripada perkiraan awal."

"Aku sudah menyiapkan rencana."

"Jangan gagal."

Tiga kata itu jatuh tanpa teriakan.

Tapi wajah Rochmat menjadi lebih keras daripada sebelumnya.

Panggilan terputus.

Roland menyipitkan mata.

"Elang Malam benar-benar memegangmu."

Rudi hampir maju, tapi Rochmat mengangkat satu jari.

"Duduk."

Hanya satu kata.

Rudi langsung berhenti.

Rochmat perlahan mendorong kursi rodanya mendekati meja kayu besar di tengah ruangan.

Meja itu terbuat dari kayu jati tua, tebal dan padat. Hari itu, meja tersebut menjadi tempat amarah mendarat.

Rochmat meletakkan telapak tangan kanannya di sudut meja.

Roland tersenyum sinis.

"Pak tua, jangan memaksa tubuh sendiri."

Rochmat tidak menjawab.

Napasnya pelan.

Monitor medis berbunyi lebih cepat.

Lalu telapak tangannya turun.

Tidak keras.

Tidak seperti pukulan orang muda.

Hanya satu gerakan pendek.

Tak.

Sudut meja jati itu retak.

Retakan menjalar seperti kilat kecil.

Detik berikutnya, potongan kayu sebesar telapak tangan jatuh ke lantai.

Buk.

Roland tidak tertawa lagi.

Rudi menahan napas.

Rochmat mengangkat tangannya. Di kulit keriput itu tidak ada luka.

"Tubuhku sakit," katanya pelan. "Tapi tanganku belum mati."

Roland menatap potongan kayu di lantai.

Keserakahannya masih ada.

Tapi sekarang ada sesuatu yang lain di matanya.

Takut.

Rochmat menikmati rasa takut itu.

"Dengar baik-baik. Mulai malam ini, Rencana Elang berjalan."

Rudi segera membuka tablet.

Roland duduk lebih tegak.

"Langkah pertama," kata Rochmat, "Maya Devi terus mendengar rumah Hendry. Jadwal, kebiasaan, titik lemah keluarga. Jangan sentuh Jessica dan anaknya tanpa izin dariku. Hendry bisa menjadi gila kalau dua orang itu disentuh terlalu cepat."

Rudi mengangguk.

"Langkah kedua, serang pinggir PT Surya Abadi: pemasok, kredit, izin, media, rumor kepemilikan. Buat mereka sibuk menutup kebocoran."

Roland tersenyum lagi, kali ini lebih terkendali.

"Itu wilayah saya."

"Langkah ketiga," lanjut Rochmat, "ketika Hendry keluar dari rumahnya untuk memadamkan api, pisahkan dia dari Budiman Suryadi, dari Rizal Suryadi, dari Bagus Prasetyo."

Ia berhenti.

Ruangan seperti menunggu vonis.

"Lalu habisi."

Rudi merasakan tengkuknya dingin.

Ia membenci Hendry.

Tapi ia juga tahu pria itu bukan Vincent Hadiprana.

Hendry tidak jatuh hanya karena teriakan.

"Kakek," katanya hati-hati, "kalau gagal?"

Rochmat menoleh.

Tatapannya membuat Rudi langsung menyesal sudah bertanya.

"Kalau gagal, Elang Malam akan mengambil semua yang tersisa dari Santoso. Kau. Ayahmu. Riana. Semua."

Rudi menunduk kaku.

Roland mengetuk meja perlahan.

"Saya suka rencana ini. Tapi satu bulan terlalu pendek."

Rochmat menatapnya.

"Hendry Pratama tumbuh setiap hari. Satu bulan lagi, mungkin bukan kita yang memburunya."

Tidak ada yang menjawab.

Di atas meja, peta Kota Biru menyala.

Tiga titik hijau berkedip di Taman Indah Residence.

Satu garis merah ditarik dari rumah Hendry menuju kantor PT Surya Abadi.

Garis lain menuju Puri Nusantara.

Garis ketiga menuju kantor Budiman Suryadi.

Semua garis berakhir di satu lingkaran hitam.

Rochmat menatap lingkaran itu lama.

Di luar sana, Hendry Pratama mungkin sedang duduk bersama istri dan anaknya.

Mungkin sedang minum kopi.

Mungkin belum tahu bahwa orang mati sudah membuka mata.

Bagus.

Lebih baik begitu.

Karena pukulan paling sakit selalu datang dari arah yang dianggap kosong.

Rochmat mengangkat tangan.

Rudi, Roland, dan dua pengawal di pintu menunduk bersamaan.

Suara Rochmat turun menjadi bisikan.

Namun setiap katanya seperti paku menembus lantai.

"Satu bulan."

Matanya menyala dalam cahaya monitor.

"Hendry Pratama harus mati."

Ia menatap peta Kota Biru.

"Budiman Suryadi harus jatuh."

1
Marchel
Seneng banget liat Yanto membeku seperti itu🤣🤣🤣
Marchel
Pasti Yanto punya niat terselubung
Marchel
Bagus Hendri kamu harus tegass
Marchel
Hendri mulut mertuamu lemesss bangetttt pengen aku sumpel pake baju cucian/Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!