NovelToon NovelToon
SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

SISTEM PEWARIS TABIB SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Sebuah batang dupa berwarna merah darah tiba-tiba muncul tergenggam erat di tangan Genta.

Tetua Kematian mengerutkan keningnya, merasa heran Genta belum tumbang ke lantai akibat racunnya.

"Kenapa kau masih bisa berdiri tegak bocah?! Kabutku seharusnya sudah menghancurkan tulangmu menjadi debu!"

Genta menjentikkan jarinya, menciptakan percikan api kecil dari gesekan tenaga dalamnya yang murni.

Tring!

Ujung dupa merah itu langsung menyala, mengeluarkan asap putih tipis yang beraroma sangat suci dan menyegarkan jiwa.

"Karena racun murahanmu itu bahkan tidak pantas disebut sebagai kotoran di mataku," jawab Genta dengan suara sangat dingin.

Asap putih dari Dupa Pemanggil Jiwa Surgawi langsung menyebar memenuhi seluruh penjuru ruangan.

Seketika, kabut ungu beracun milik Tetua Kematian luruh dan hancur lenyap seperti es yang disiram air mendidih.

"Mustahil! Barang ajaib apa itu?!" jerit Tetua Kematian mundur ketakutan melihat racun kebanggaannya musnah total.

Genta meletakkan dupa yang menyala terang itu di meja nakas tepat di samping ranjang Kiara.

Asap putih itu seakan memiliki nyawa sendiri, bergerak menyelimuti tubuh Kiara dengan sangat lembut.

Warna kebiruan di ujung jari Kiara perlahan memudar, digantikan kembali oleh rona merah yang hangat.

Hanya dalam waktu sepuluh detik berlalu, Kiara mengambil napas dalam-dalam secara tiba-tiba.

"Hah!"

Kiara membuka matanya lebar-lebar, dadanya naik turun dengan sangat cepat mencari pasokan oksigen.

Genta langsung duduk di tepi ranjang dan menggenggam erat tangan istrinya yang mulai menghangat.

"Aku di sini Kiara, kau sudah aman sekarang," ucap Genta menenangkan kepanikan istrinya.

Kiara menatap Genta dengan pandangan bingung dan rasa ketakutan yang masih tersisa di benaknya.

"Genta... aku bermimpi berada di tempat yang sangat gelap dan dingin, ada tangan yang menarik kakiku..." isak Kiara memeluk suaminya dengan erat.

Genta membalas pelukan itu dengan satu tangan, sementara matanya menatap tajam ke arah Tetua Kematian.

"Mimpimu sudah berakhir Nona CEO, sekarang giliranku yang mengirim monster jelek itu ke mimpi buruk abadinya."

Tetua Kematian menggertakkan giginya, raut wajahnya berubah menjadi sangat buas dan penuh amarah.

"Kau telah menghancurkan karya terbesarku! Aku akan membunuh kalian berdua dengan tanganku sendiri!"

Pria tua itu membuang tongkatnya dan mengeluarkan dua bilah belati berkarat yang berbau sangat busuk dari jubahnya.

Dia menerjang maju ke arah ranjang dengan kecepatan yang luar biasa di luar batas usianya yang tua.

Namun pergerakan Genta jauh lebih cepat dari kilatan cahaya manapun.

Dia melepaskan pelukan Kiara dan melesat menyongsong serangan musuhnya dalam sekejap.

"Kau terlalu lambat orang tua," bisik Genta tepat di dekat telinga Tetua Kematian.

Bugh!

Tinju Genta menghantam perut pria tua itu dengan tenaga penuh tanpa menahan diri.

"Ukhh!"

Tetua Kematian memuntahkan seteguk darah hitam, tubuhnya terpental mundur menabrak dinding kamar hingga retak.

Brakkk!

Belum sempat Tetua Kematian melorot jatuh ke lantai, Genta sudah berada berdiri lagi di depannya.

Genta mencengkeram leher jubah pria tua itu dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi ke udara.

"Kau tahu, ancaman terbesarku di dunia ini bukanlah harta, tahta, atau kekuasaan," ucap Genta menatap mata hijau musuhnya itu.

"Tapi saat kau berani menyentuh wanita yang menjadi tanggung jawabku, nyawamu sudah tidak berharga lagi."

Krek!

Genta memelintir lengan kanan pria tua itu hingga tulang sikunya mencuat keluar menembus kulit.

"Arrrggghhh!"

jerit Tetua Kematian melolong kesakitan yang memekakkan telinga.

"Itu untuk istriku yang ketakutan," ucap Genta datar tanpa belas kasihan.

Krek!

Genta mematahkan lutut kiri musuhnya dengan satu tendangan cepat yang brutal.

"Dan ini untuk para pelayanku yang kau racuni saat mereka sedang bekerja di lantai bawah."

Tetua Kematian kini menangis memohon ampun, seluruh kesombongannya sebagai kultivator telah hancur lebur.

"Ampun! Kumohon lepaskan aku! Sekte Ular Hitam tidak akan pernah melepaskanmu jika kau berani membunuhku!" rintih pria tua itu.

Genta tertawa dingin, sebuah tawa yang terdengar jauh lebih mengerikan dari iblis manapun di neraka.

"Justru itu yang aku harapkan orang tua."

"Sampaikan salamku pada ketua sektemu di neraka nanti."

Genta mengayunkan telapak tangannya dan memukul tepat di tengah ubun-ubun Tetua Kematian.

Bugh!

Energi meridian perusak langsung menghancurkan seluruh saraf otak pria tua itu dalam seketika.

Tubuh Tetua Kematian langsung kaku, matanya mendelik ke atas, dan napasnya berhenti detik itu juga.

Genta menjatuhkan mayat itu ke lantai begitu saja seolah membuang tumpukan sampah basah.

Dia mengambil sebuah lap dari meja rias dan membersihkan tangannya dengan sangat santai.

"Kau mengotori lantai kamarku yang baru saja dipel bersih pagi ini," gumam Genta menghela napas panjang.

Kiara yang menonton pertarungan itu dari atas ranjang masih menutup mulutnya karena terkejut luar biasa.

Namun dia tidak merasa takut sama sekali melihat kekejaman Genta, dia justru merasa sangat terlindungi di rumahnya sendiri.

Genta berjalan kembali ke arah ranjang dan duduk kembali di samping Kiara.

"Maafkan aku Nona CEO, karena urusan bisnisku, kamarmu jadi berantakan seperti ini," sesal Genta mengusap rambut Kiara dengan lembut.

Kiara menggeleng cepat, air mata haru kembali menetes deras di pipinya yang mulus.

"Asal kau ada di sini dan tidak terluka, aku tidak peduli meski rumah ini hancur rata dengan tanah," ucap Kiara sangat tulus.

Kiara menyandarkan kepalanya di dada bidang Genta, menghirup aroma tubuh suaminya yang sangat menenangkan pikirannya.

Malam ini, sekte pembunuh itu telah melakukan kesalahan fatal dengan membangunkan naga yang tertidur pulas.

[Ding!]

[Misi melindungi pasangan berhasil diselesaikan dengan hasil sempurna.]

[Sekte Ular Hitam kini menetapkan Master sebagai musuh absolut nomor satu.]

[Poin Reputasi Master bertambah 10.000 Poin.]

Genta memeluk erat pundak istrinya, menatap tajam menembus jendela kamar yang hancur oleh pertarungannya.

"Tunggu saja Sekte Ular Hitam, aku sendiri yang akan mendatangi markas kalian besok pagi," batin Genta membulatkan tekad.

1
yani
💕💞💕
pricilia
🥰🥰
Anton barly
🥰🥰🥳🥳
fitri
/Gift//Gift//Gift//Gift//Gift/
Antoni gergio
💞💞💞💞💞
Angel
🌹🌹🌹🥰🥰🥰
Shinta geol
❤❤❤❤
clara
andai di dunia nyata ada🥹
Jamrud Khatulistiwa
sistem sangat pelit, setiap misi tdk sda hadiah
Jamrud Khatulistiwa
sistim tdk pernah memberi tahu hadiah yg diberikan
Jamrud Khatulistiwa
murid orang sakti mendapat sistem
Gege
katanya diawal sudah belajar banyak di gunung Rinjani.. nyatanya masih bergantung sama sistem...tapi gpp biar lebih op laah MC nyaaaah .pesen 10 hareem yaa Thor...jangan lembek..🤭
Cherlly: iya kaka,judul nya aja sistem kaka,next crita ya kaka saya lagi mikir lgi biar menarik 😊😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!