NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. MENGUBAH JADWAL

BAB 21. Mengubah Jadwal

Langit Jakarta mulai berubah jingga ketika taksi yang ditumpangi Hagia memasuki kawasan apartemen. Ia membayar ongkos perjalanan, lalu turun sambil membawa tas kerja di bahu kiri dan kantong belanja kecil di tangan kanan. Langkahnya tetap tenang. Sesekali ia melirik jam pada layar ponsel. Masih lebih cepat daripada kebanyakan hari. Kalau mengingat kebiasaan Kalandra, pria itu kemungkinan besar masih berada di ruang CEO menyelesaikan pekerjaan yang seolah tidak pernah habis.

Lift pribadi membawanya naik hingga ke lantai penthouse. Pintu lift terbuka perlahan. Koridor tampak lengang seperti biasanya. Hagia mengeluarkan kartu akses, lalu menempelkannya pada panel di samping pintu. Bunyi pengunci elektronik terdengar pelan.

Ia mendorong daun pintu. Ruangan di baliknya tampak tenang. Baru beberapa langkah masuk, lampu otomatis menyala satu per satu. Dan saat itulah tubuh Hagia seketika membeku. Di ruang tengah, Kalandra telah berdiri beberapa meter di depannya. Kemeja putih yang dikenakannya masih sama seperti pagi tadi. Dasi yang biasa melingkar di leher sudah tidak terlihat, sementara kedua tangannya tersimpan rapi di dalam saku celana. Tatapannya tenang, tetapi tidak pernah lepas sejak Hagia membuka pintu. Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum. Keheningan justru terasa semakin menekan.

"Kenapa tidak bilang kalau mau keluar?"

Suara Kalandra terdengar datar.

Bukan nada marah. Namun cukup membuat Hagia kehilangan jawaban yang sudah disusunnya di sepanjang perjalanan pulang.

"Saya..."

Kalimat itu menggantung.

Refleks, ia menyembunyikan kantong belanja kecil ke belakang tubuh. Gerakan sederhana itu langsung tertangkap oleh mata Kalandra. Pria itu melangkah mendekat. Tanpa banyak bicara, ia mengulurkan tangan, lalu mengambil kantong belanja tersebut dengan pelan. Hagia terlambat mencegah. Tatapan Kalandra jatuh ke dalam isi kantong.

Sesaat. Hanya sesaat. Namun, itu sudah cukup membuatnya salah tingkah.

Ia segera mengembalikan kantong itu ke tangan Hagia. Lalu memalingkan wajah. Jemari kanannya naik menggaruk tengkuk dengan spontan, sesuatu yang hampir tidak pernah Hagia lihat selama mengenalnya. Ruangan kembali sunyi. Pipi Hagia perlahan memanas. Ia berharap lampu tiba-tiba mati supaya gelap bisa menelannya dari rasa canggung.

Beberapa detik kemudian, Kalandra berdeham pelan.

"Kamu belum makan?"

Pertanyaan itu muncul begitu saja, seolah apa yang baru terjadi tidak pernah ada.

Hagia mengangkat kepala perlahan.

"B-belum."

"Kebetulan." Kalandra berbalik menuju dapur. "Makanannya masih ada."

Hagia mengembuskan napas lega tanpa disadari. Ia mengikuti langkah pria itu menuju meja makan. Beberapa wadah makanan yang dimasak Kalandra siang tadi masih tersusun rapi. Kalandra mengambil dua wadah, menghangatkannya sebentar, lalu menyajikannya di atas meja tanpa banyak bicara. Mereka makan dalam suasana yang jauh lebih tenang. Sesekali hanya terdengar suara sendok yang beradu pelan dengan piring.

Setelah beberapa suap, Hagia akhirnya memberanikan diri membuka percakapan.

"Saya kira Tuan masih di kantor."

Kalandra meletakkan sendoknya.

"Beberapa pekerjaan selesai lebih cepat."

Jawaban itu singkat. Tidak ada penjelasan tambahan. Hagia hanya mengangguk pelan. Ia tidak menyadari bahwa sejak siang hampir seluruh agenda Kalandra memang dipadatkan ke hari itu. Percakapan kembali terhenti. Hingga tanpa sengaja pandangan Kalandra kembali jatuh pada kantong belanja yang kini berada di samping kursi Hagia.

"Kalau kebutuhanmu habis, bilang."

Singkat. Tidak menghakimi. Lebih terdengar sebagai keputusan daripada pertanyaan.

"Besok kita ke swalayan."

Hagia spontan menggeleng.

"Tidak perlu, Tuan. Saya masih bisa membelinya sendiri."

Kalandra tidak menanggapi penolakan itu. Ia berdiri, mengambil dompet yang terletak di atas nakas dekat ruang keluarga, lalu kembali dengan sebuah kartu berwarna hitam di tangannya. Kartu itu diletakkannya di atas meja, tepat di depan Hagia.

"Seharusnya saya memberikan ini sejak hari pertama."

Hagia menatap kartu tersebut beberapa saat. "Saya masih punya uang."

"Saya tahu." Nada bicara Kalandra tetap tenang. "Tapi, sejak kita menikah, kebutuhanmu menjadi tanggung jawab saya."

Hagia masih belum menyentuh kartu itu.

"Kontrak kita hanya mengatur utang studio dan pekerjaan saya di Arshaka."

"Itu menurutmu." Kalandra menatap Hagia dengan tenang. "Di luar itu, masih ada kewajiban saya sebagai seorang suami."

Kalimat itu membuat Hagia terdiam. Tidak ada kata-kata romantis. Tidak ada janji yang terdengar berlebihan. Namun, justru karena diucapkan sesederhana itu, kalimat tersebut terasa jauh lebih sulit untuk diabaikan.

Perlahan, Hagia mengambil kartu yang masih tergeletak di atas meja.

Entah mengapa, benda tipis di tangannya terasa jauh lebih berat daripada yang seharusnya.

Hagia menyimpan kartu itu perlahan ke dalam dompetnya. Tidak ada lagi penolakan. Ia menyadari, jika terus membahasnya, Kalandra pun tidak akan mengubah keputusannya.

Makan malam kembali berlangsung dalam keheningan yang nyaman. Di luar jendela, cahaya matahari benar-benar menghilang, berganti gemerlap lampu kota yang mulai memenuhi langit Jakarta. Setelah beberapa saat, Kalandra meletakkan sendoknya, mengambil segelas air, lalu meminumnya perlahan sebelum kembali menatap Hagia.

"Mulai besok, jadwal kita sedikit berubah."

Hagia mengangkat kepala.

"Berubah bagaimana, Tuan?"

"Kalau tidak ada pekerjaan yang benar-benar mendesak, kita pulang jam empat."

Hagia sempat terdiam. Selama menjadi asisten pribadi Kalandra, ia belum pernah sekalipun meninggalkan kantor sebelum matahari terbenam. Hampir setiap hari mereka baru kembali ketika sebagian besar lampu gedung di sekitar kawasan bisnis sudah menyala.

"Apa semua pekerjaan bisa selesai secepat itu?"

"Harus bisa." Jawaban Kalandra terdengar mantap. "Saya sudah mulai mengatur ulang seluruh agenda."

Hagia mengangguk pelan. Ia tahu pria di hadapannya bukan orang yang gemar membuat keputusan spontan. Jika perubahan itu sudah diucapkan, berarti seluruh pertimbangannya telah selesai dipikirkan.

"Kenapa tiba-tiba mengubah jadwal kerja?"

Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Kalandra tidak langsung menjawab. Pandangannya sempat beralih ke arah jendela sebelum akhirnya kembali kepada Hagia.

"Kakek." Satu kata itu membuat Hagia langsung memahami arah pembicaraan. "Beliau selalu menanyakanmu setiap saya datang."

Hagia menundukkan pandangan sejenak.

"Beliau juga beberapa kali menyuruh kita pulang lebih cepat." Kalandra berhenti sesaat sebelum melanjutkan. "Selama ini hidup kita terlalu banyak dihabiskan di kantor."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup membuat Hagia terdiam. Ia teringat bagaimana hampir setiap hari mereka berangkat bersama sejak pagi, menghabiskan waktu di ruang CEO hingga malam, lalu kembali ke penthouse hanya untuk beristirahat sebelum rutinitas yang sama kembali dimulai keesokan harinya.

"Mulai besok, setelah pulang kita ke rumah sakit."

Hagia mengangguk tanpa ragu.

"Baik, Tuan."

"Bukan hanya karena Kakek."

Kalandra kembali mengambil gelasnya. "Sesekali kita juga perlu mengingat kalau hidup bukan cuma soal pekerjaan."

Hagia memandang pria di depannya beberapa detik. Selama ini ia selalu mengenal Kalandra sebagai orang yang paling tenggelam dalam pekerjaan. Mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya terasa hampir mustahil. Namun, justru karena diucapkan oleh Kalandra, kalimat tersebut terdengar begitu tulus.

Tanpa disadari, senyum tipis kembali menghiasi wajah Hagia.

Ia tidak mengetahui bahwa keputusan itu diambil Kalandra setelah memikirkan ucapan sang kakek berulang kali. Bagi pria itu, pekerjaan memang penting. Namun, jika semua tanggung jawab dapat diselesaikan tanpa harus mengorbankan kehidupan di luar kantor, tidak ada alasan untuk terus memaksakan diri.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Hagia mulai membayangkan hari-hari yang tidak lagi sepenuhnya dihabiskan di balik meja kerja. Dan tanpa ia sadari pula, perubahan kecil yang diputuskan Kalandra akan memberi ruang bagi kehidupannya yang lain. Kehidupan yang selama ini masih tersembunyi di balik nama Xavier.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!