NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2

****

Kokok ayam jantan bersahutan memecah kabut tipis yang menyelimuti perbukitan. Di atas ranjang jati yang luas, mata Larasati seketika terbuka. Jantungnya berdegup kencang diburu rasa panik yang mendadak. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, lalu menoleh ke samping. Sisi ranjang di balik guling pembatas sudah kosong dan rapi, hanya menyisakan semburat aroma kayu cendana yang samar.

Larasati tersentak. Sebagai anak perempuan desa, bangun setelah matahari terbit adalah pantangan besar, terlebih kini ia berada di rumah seorang juragan terpandang.

Dengan tergesa-gesa, Larasati menyingkirkan kain jarik tebal yang menyelimutinya. Rasa nyeri dan pegal di leher akibat sanggul berat semalam masih tersisa, namun ketakutan akan dicap sebagai istri yang malas jauh lebih besar. Ia bergegas mengganti pakaian pengantinnya yang berantakan dengan kain jarik harian dan kebaya katun lurik sederhana yang ia bawa dari rumah. Tanpa sempat menyisir rambut panjangnya dengan rapi, ia segera membuka pintu kamar perlahan, membiarkan tubuhnya menyelinap keluar ke arah dapur.

Suasana bagian belakang rumah joglo itu sudah sangat sibuk. Asap mengepul dari celah genting dapur ladang, membawa aroma gurih parutan kelapa dan nasi yang baru matang. Larasati melangkah ragu-ragu melewati selasar, mencoba menekan suara langkah kakinya.

Begitu ia menginjakkan kaki di ambang pintu dapur yang beralas tanah liat keras, tiga orang wanita paruh baya yang sedang menumbuk bumbu seketika menghentikan kegiatan mereka. Seorang wanita tua dengan rambut disanggul rapi—Mbok Sum—langsung menjatuhkan ulekan batunya.

"Gusti Nyai!" seru Mbok Sum dengan wajah panik. Ia buru-buru menjatuhkan diri, berlutut dengan posisi laku dodok di atas tanah, diikuti oleh dua pelayan muda di belakangnya. "Nyuwun pangapunten, Gusti. Kenapa Gusti Nyai sudah bangun dan repot-repot ke dapur? Apakah pelayanan kami semalam ada yang kurang merendahkan hati?"

Larasati tertegun, tubuhnya menegang melihat wanita yang usianya jauh di atas ibunya itu bersujud di kakinya. Jiwa muda sembilan belas tahunnya memberontak melihat pemandangan ini. Ia merasa sangat canggung dan bersalah.

"Mbok, jangan begitu. Berdirilah, tolong," ucap Larasati panik, tangannya terulur ingin membantu Mbok Sum berdiri, namun wanita tua itu justru semakin menunduk, takut menyentuh tangan sang majikan baru.

"Tidak berani, Gusti Nyai. Sudah tugas hamba dan yang lain untuk menyiapkan segala keperluan. Jika Raden Mas Baskoro melihat Gusti Nyai berada di dapur kotor ini, habislah nasib kami," bisik Mbok Sum dengan suara gemetar.

Larasati menarik kembali tangannya, merasa ada sekat tebal tak kasat mata yang tiba-tiba mengurungnya dari dunia luar. "Aku... aku hanya ingin membantu, Mbok. Di rumah, aku terbiasa menanak nasi dan menyapu pelataran sebelum fajar."

Mbok Sum perlahan mengangkat wajahnya, menatap Larasati dengan pandangan iba namun penuh hormat. "Sekarang tidak lagi, Gusti. Anda adalah permaisuri di rumah joglo ini. Tugas Anda adalah melayani Raden Mas Baskoro di meja makan, bukan berkutat dengan asap dapur. Mari, biar hamba antarkan air hangat untuk membasuh muka, setelah itu wedang dan sarapan Raden Mas sudah siap di meja depan."

Larasati hanya bisa mengembuskan napas pasrah. Kepolosan mudanya dipaksa tunduk pada aturan kaku sebuah kasta.

Matahari mulai meninggi ketika Larasati berdiri di samping meja makan panjang berbahan kayu jati utuh. Di atas meja, telah tersaji nasi putih mengepul, sayur lodeh, sambal terasi, dan sepotong ayam goreng beraroma rempah. Di hadapannya, duduk Raden Mas Baskoro. Pria itu sudah rapi mengenakan kemeja lurik berkancing tinggi dengan kain jarik cokelat gelap, penampilannya begitu gagah dan berwibawa.

"Nasi, Larasati," ucap Baskoro singkat tanpa menoleh, matanya masih membaca selembar kertas pembukuan tanah desa.

Tangan Larasati mulai bergetar. Ia meraih centong kayu, mencoba mengambil nasi dari bakul. Namun, ketakutannya membuat sendok itu beradu dengan pinggiran bakul, menimbulkan suara klotak yang cukup keras di keheningan ruang makan. Larasati berjengit, buru-buru menyendokkan nasi ke piring Baskoro.

"Nyuwun sewu, Mas..." bisik Larasati, suaranya parau.

Baskoro meletakkan kertasnya perlahan. Ia beralih menatap tangan Larasati yang masih memegang centong dengan gemetar hebat. Sorot mata pria tiga puluh lima tahun itu tampak tajam, mengintimidasi siapa saja yang belum mengenalnya.

"Tuangkan wedang jahenya," perintah Baskoro lagi, suaranya rendah dan dalam.

Larasati meletakkan centong, lalu meraih teko kuningan yang berisi air jahe hangat. Saat moncong teko berada di atas cangkir, tangannya semakin tak terkendali. Air jahe itu bergoyang, dan beberapa tetes air panas terpercik mengenai ibu jari Baskoro yang berada di dekat cangkir.

"Ah!" Larasati memekik kecil karena terkejut. Ia langsung meletakkan teko dengan terburu-buru hingga airnya sedikit mendesis di atas meja. Dengan refleks seorang gadis desa, ia berlutut di lantai, memegang jemari Baskoro dan mencoba menyekanya dengan ujung kebayanya sendiri. "Nyuwun pangapunten, Mas! Kulo mboten sengaja... kulo serakah dan teledor. Tolong jangan hukum Mbok Sum atau yang lain..."

Baskoro tertegun. Ia menatap kepala Larasati yang menunduk di dekat lututnya, jemari kecil gadis itu terasa dingin dan basah di atas kulitnya. Baskoro menarik napas panjang. Ego kelakiannya terusik melihat ketakutan yang begitu besar dari istri mudanya. Ia tidak suka dianggap sebagai monster yang kejam oleh wanita yang seharusnya ia lindungi.

Baskoro menarik tangannya perlahan dari genggaman Larasati, lalu memegang bahu gadis itu, memaksanya untuk berdiri dan kembali duduk di kursi di sebelahnya.

"Duduklah," kata Baskoro, nadanya melembut meski wajahnya tetap kaku tanpa senyum. "Siapa yang bilang aku akan menghukummu atau orang dapur? Aku hanya meminta wedang, bukan meminta nyawamu."

Larasati duduk dengan canggung di tepi kursi, meremas jariknya sendiri, tidak berani membalas tatapan Baskoro.

"Apakah ranjang semalam kurang nyaman?" tanya Baskoro tiba-tiba, memecah kecanggungan.

"M-mboten, Raden Mas. Ranjangnya sangat empuk," jawab Larasati gugup.

"Lalu kenapa tanganmu gemetar seperti orang kelaparan? Makanlah. Setelah ini aku harus pergi ke balai desa sampai sore. Jaga dirimu di rumah," ucap Baskoro seraya menyendok nasinya sendiri, seolah kejadian tumpahnya wedang tadi tidak pernah terjadi.

Larasati hanya mengangguk pelan, menyadari bahwa di balik sikap dingin dan kaku suaminya, ada sebuah pengertian yang aneh yang belum bisa ia pahami sepenuhnya.

Selepas siang, suasana rumah joglo terasa begitu sepi dan mencekam bagi Larasati. Baskoro telah pergi bersama beberapa pengawalnya, sementara para abdi dalem sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing di bagian belakang. Larasati yang tidak diperbolehkan menyentuh pekerjaan dapur atau sapu, merasa seperti burung yang dikurung di dalam sangkar emas yang megah namun mati.

Ia berjalan ke arah selasar samping, membuka jendela kayu jati yang besar. Angin bukit berembus segar, menerpa wajahnya. Dari titik tinggi rumah joglo itu, pandangan Larasati langsung tertuju pada jalan setapak di bawah bukit yang menuju ke arah sungai desa.

Di sana, samar-samar terdengar suara tawa melengking yang sangat ia kenali. Sri dan kawan-kawan sebayanya sedang berjalan beriringan. Mereka membawa bakul bambu berisi cucian di atas pinggang, berjalan tanpa alas kaki sambil bercanda ria, sesekali saling mencipratkan air dari kendi yang mereka bawa.

Jantung Larasati berdesir hebat. Jiwa mudanya berontak. Itu duniaku, batinnya perih. Baru dua hari lalu ia berada di sana, tertawa lepas tanpa beban, merendam kaki di air sungai yang dingin. Keinginan untuk merasakan kebebasan itu begitu kuat menenggelamkan semua nasihat ibunya tentang arti menjadi seorang istri juragan.

Tanpa pikir panjang, Larasati berbalik. Ia mengintip ke selasar, memastikan Mbok Sum tidak melihatnya. Dengan langkah seribu, ia menyelinap keluar melalui pintu belakang, berlari menuruni bukit berbatu dengan kain jarik yang ia angkat sedikit tinggi agar tidak membuatnya tersandung.

"Sri! Mirah!" panggil Larasati dengan napas terengah-engah saat ia berhasil menyusul kerumunan gadis-gadis itu di dekat pohon talok pinggir sungai.

Mendengar suara itu, gelak tawa kelompok gadis desa itu seketika terhenti. Sri dan Mirah berbalik. Namun, alih-alih menyambut Larasati dengan pelukan atau candaan seperti biasa, wajah mereka langsung memucat.

Sri buru-buru menjatuhkan bakul cuciannya ke tanah, lalu bersama gadis-gadis lainnya, mereka serentak membungkuk dalam-dalam dengan tangan tertangkup di depan dada.

"S-sembah nuwun, Gusti Nyai Baskoro..." ucap Sri dengan suara terbata-bata, matanya menatap tanah, tidak berani menatap langsung wajah Larasati.

Larasati menghentikan langkahnya, senyum di wajahnya memudar seketika. "Sri, ini aku, Laras. Kenapa kamu memanggilku begitu? Panggil saja Laras seperti biasa. Ayo, aku mau ikut mencuci di sungai."

Mirah menyenggol lengan Sri, tampak ketakutan. "Nyuwun sewu, Gusti Nyai. Kami tidak berani. Status Anda sekarang sudah berbeda. Anda adalah istri dari Raden Mas Baskoro, junjungan kami semua di desa ini. Sungguh tidak pantas bagi seorang Nyai Juragan berada di sungai kotor ini bersama kami."

"Tapi aku tidak peduli dengan status itu, Mirah! Aku masih Laras yang kemarin!" seru Larasati, matanya mulai berkaca-kaca karena rasa asing yang teramat sangat dari sahabat-sahabatnya sendiri.

"Gusti Nyai mungkin tidak peduli, tapi Raden Mas Baskoro pasti peduli," potong Sri dengan suara pelan namun tegas. "Jika ada mata-mata juragan yang melihat kami memperlakukan istri beliau dengan sembarangan, keluarga kami bisa diusir dari tanah garapan. Tolong, Gusti Nyai... kembalilah ke joglo demi keselamatan kami."

Kata-kata Sri menghantam dada Larasati dengan telak. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh. Ia menatap tangannya sendiri yang kini berhias cincin emas pemberian Baskoro—cincin yang ternyata menjadi pembatas abadi antara dirinya dan masa lalunya. Dunia lamanya telah menutup pintu rapat-rapat bagi dirinya. Dengan hati yang hancur dan langkah yang gontai, Larasati berbalik, berjalan lunglai kembali menaiki bukit menuju rumah joglo yang kini terasa seperti penjara bawah tanah.

Begitu kaki Larasati melangkah masuk ke halaman depan pendopo joglo, langkahnya mendadak terkunci.

Di atas pendopo, berdiri sesosok pria dengan tubuh tegap yang memancarkan aura kegelapan yang pekat. Baskoro sudah kembali. Pria itu berdiri diam dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Wajahnya yang kaku kini dipenuhi oleh gurat kemarahan yang amat nyata, matanya yang tajam menatap lurus ke arah Larasati yang datang dengan pakaian sedikit kotor dan wajah sembap habis menangis. Di samping pendopo, Mbok Sum dan beberapa pengawal tampak bersujud ketakutan dengan tubuh gemetar.

Baskoro melangkah turun dari undakan pendopo, setiap langkah kakinya seperti detak lonceng kematian bagi Larasati. Ia berhenti tepat di depan istri mudanya.

"Dari mana kamu, Larasati?" tanya Baskoro. Suaranya tidak keras, namun begitu dingin dan menusuk hingga membuat hawa sekitar terasa membeku.

Larasati menunduk, air matanya menetes ke atas tanah kering. "K-kulo... kulo dari sungai, Raden Mas..."

"Siapa yang mengizinkanmu keluar dari rumah ini tanpa pengawalan? Terlebih ke sungai desa?!" suara Baskoro meninggi satu nada, membuat Mbok Sum di kejauhan semakin merapatkan tubuhnya ke lantai.

"Kulo hanya ingin bertemu teman-teman, Raden Mas... kulo kesepian di dalam rumah ini," jawab Larasati jujur dengan isak tangis yang mulai pecah.

Baskoro mencengkeram rahang bawah Larasati perlahan namun tegas, memaksa wajah gadis sembilan belas tahun itu mendongak untuk menatap matanya yang membara oleh amarah dan harga diri yang terusik.

"Dengarkan aku baik-baik, Larasati," ucap Baskoro dengan penekanan di setiap kata. "Kamu bukan lagi gadis desa yang bebas berkeliaran dan bermain air di sungai. Kamu adalah istriku, Nyai di rumah joglo ini! Setiap langkahmu membawa nama baik trah keluargaku. Jika kamu keluar tanpa pengawal dan bertingkah seperti anak kecil, kamu bukan hanya merendahkan dirimu sendiri, tapi kamu sedang menginjak-injak kehormatanku sebagai suamimu!"

Larasati menatap mata Baskoro yang sedingin es, namun di balik kemarahan besar itu, ia bisa melihat secercah kekhawatiran yang tersembunyi. Baskoro melepas cengkeramannya, lalu berbalik memunggungi Larasati.

"Masuk ke kamar. Jangan keluar sebelum kamu bisa bersikap layaknya seorang istri juragan," perintah Baskoro dingin, meninggalkan Larasati yang terpaku di tengah halaman pendopo yang mulai diguyur keheningan malam.

Bersambung

1
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
falea sezi
biar keguguran aja lah😒 biar gendeng😒 ini aki2 cemburuan amat
partini
judul nya di ganti ya Thor
partini
Kya Majapahit ini cerita
falea sezi
senengnya moga aja anak kembar
sunshine wings
Kagum ceritanya..
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alissia
bagus thor ceritanya🤭🤭
New Riska
gemes
lanjut tor semangat
imel
waah ceritanya settingan bangsawan Jawa. jadi ngerti dikit². semangat buat otornya💪💪
Dewi Habibah
lanjut
New Riska
semagat tor, tak tunggu bab selanjutya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!