NovelToon NovelToon
Affair With Hot Secretary

Affair With Hot Secretary

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Selingkuh / Kehidupan di Kantor
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10 - Semakin Tergoda

Nayla akhirnya menyerah pada noda kopi yang semakin terlihat di bagian depan kemejanya. Dia tidak mungkin mengikuti pertemuan dengan investor asing nanti malam dalam kondisi seperti itu. Setelah meminta izin kepada salah seorang staf, Nayla segera menuju toilet untuk membersihkan pakaiannya.

Dia berdiri di depan wastafel, lalu membasahi bagian kemeja yang terkena kopi. Awalnya dia berharap noda tersebut akan memudar. Namun setelah beberapa kali dibilas, kain kemejanya justru menyerap semakin banyak air.

Nayla menatap pantulan dirinya di cermin. "Ya ampun..."

Bagian depan kemejanya kini malah terlihat lebih basah. Dia mencoba mengeringkannya menggunakan tisu, tetapi hasilnya tidak banyak membantu.

"Kenapa hari pertamaku seperti ini?"

Nayla mengembuskan napas panjang. Dia tidak ingin mengeluh, tetapi hari pertamanya benar-benar penuh kejadian memalukan. Mulai dari merasa gugup, menjatuhkan kopi, sampai sekarang harus berhadapan dengan pakaian basah.

Untungnya, jas milik Tristan masih berada di pundaknya. Nayla kembali mengenakannya untuk menutupi bagian depan kemeja.

"Setidaknya sampai kering."

Setelah memastikan penampilannya masih cukup pantas, Nayla kembali ke meja kerja.

Sementara itu, di dalam ruangannya, Tristan sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.

Sebuah laporan sudah terbuka di layar komputernya sejak beberapa menit lalu, tetapi tidak banyak yang berhasil dia baca. Pikirannya terus kembali kepada kejadian beberapa waktu lalu.

Kopi yang tumpah. Nayla yang panik dan pakaian gadis itu yang basah. Pikiran liarnya mulai mengganggu.

Tristan langsung menggeleng keras. "Berhenti memikirkannya."

Dia mencoba membaca laporan lagi. Namun baru beberapa baris, perhatiannya kembali teralihkan.

Tristan menghela napas. Dia bukan orang yang mudah kehilangan konsentrasi. Selama bertahun-tahun memimpin Nebula, berbagai masalah besar sudah biasa dia hadapi. Namun entah mengapa, kejadian kecil dengan sekretaris barunya justru membuat pikirannya berantakan.

"Ini cuma masalah pakaian."

Tristan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Kemudian dia teringat jadwal malam ini. Ada pertemuan dengan investor asing yang mengharuskan Nayla ikut mendampinginya sebagai sekretaris.

Tristan mengerutkan kening. Dengan kondisi pakaian seperti itu, tentu Nayla tidak mungkin ikut dalam pertemuan penting. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu karyawan dari bagian pemasaran.

"Datang ke ruanganku!"

Beberapa menit kemudian, seorang perempuan bernama Mira mengetuk pintu.

Mira masuk sambil membawa tablet. "Bapak memanggil saya?"

"Ya."

Tristan berdiri dari kursinya. "Aku membutuhkan beberapa setelan pakaian kerja untuk sekretaris baru."

Mira tampak sedikit terkejut. "Untuk Nona Nayla?"

"Ya."

"Ukuran?"

Tristan terdiam sesaat. Dia sama sekali tidak mengetahui ukuran pakaian Nayla.

"Perkirakan saja."

Mira menahan senyum. "Baik, Pak."

"Jangan hanya satu set. Bawakan beberapa pilihan yang cocok untuk lingkungan kantor."

"Baik."

"Pastikan modelnya profesional. Jangan terlalu mencolok."

"Siap!"

Mira segera keluar dari ruangan. Tristan kembali duduk. Namun setelah beberapa saat, dia merasa sedikit heran pada dirinya sendiri.

Kenapa dia sampai repot-repot mengurus pakaian sekretarisnya?

Bukankah dia bisa saja menyuruh HR menangani masalah tersebut? Tristan mengusap kening. "Sudahlah. Ini demi pekerjaan."

Dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa tindakannya murni karena kebutuhan profesional.

Sekitar empat puluh menit kemudian, Mira kembali dengan beberapa kantong pakaian dari divisi pemasaran. Beberapa setelan sudah dipilih berdasarkan standar busana kerja Nebula.

"Pak, semuanya sudah saya bawa."

Tristan melihat beberapa pilihan tersebut. Dia kemudian menunjuk ke arah pintu.

"Panggil Nayla!"

Mira mengangguk dan keluar. Tidak lama kemudian, Nayla mengetuk pintu.

Tok! Tok!

"Masuk!"

Nayla membuka pintu. Jas Tristan masih menutupi bagian depan pakaiannya.

"Ada apa, Pak?"

Tristan menunjuk beberapa kantong yang ada di sofa.

"Ganti pakaianmu!"

Nayla tampak bingung. "Maaf?"

"Pakaianmu masih basah."

Nayla menunduk melihat kemejanya. "Oh..."

"Aku sudah meminta bagian pemasaran menyiapkan beberapa setelan."

Nayla mendekati sofa dan melihat beberapa pakaian yang tersusun rapi. Matanya langsung membesar.

"Ini semuanya?"

"Ya."

"Untuk saya?"

Tristan mengangguk.

Nayla menyentuh salah satu setelan dengan hati-hati. Bahannya terasa jauh lebih bagus daripada pakaian yang biasa dia kenakan.

"Pak, ini sepertinya mahal."

"Jangan pikirkan harganya."

"Tapi—"

"Anggap saja perlengkapan kerja."

Nayla mengerjap pelan. "Baiklah. Terus saya harus ganti pakaian dimana?"

Suasana di dalam ruangan kembali hening seketika. Nayla berdiri diam, masih memegang ujung salah satu gantungan pakaian, menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan sedikit kebingungan. Lalu pandangannya kembali beralih ke ruangan luas itu, tidak ada ruang ganti khusus, dan lorong kantor sedang sibuk dengan aktivitas karyawan.

Tristan berdiri tegak di dekat meja kerjanya, lalu menunjuk ke arah sudut yang agak terlindungi namun tetap di dalam batas pandangan ruangan. “Ganti saja di sini. Sudah cukup terlindungi!"

Nayla tertegun sejenak, pipinya merona samar. “Di sini… Pak?”

“Ini ruanganku. Tidak akan ada yang masuk tanpa izin,” ujar Tristan dengan nada tenang namun tegas. Tanpa menunggu keberatan lebih lanjut, dia berbalik perlahan dan memposisikan dirinya membelakangi Nayla, berdiri menghadap ke arah jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit‑langit di sisi seberang. “Lakukan saja. Aku tidak akan menoleh.”

Nayla menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Dia tahu tidak ada pilihan lain, waktu semakin mendekati pertemuan malam ini dan kondisinya benar‑benar tidak pantas untuk terlihat di depan orang luar. Dengan keraguan yang perlahan memudar karena rasa percaya pada sikap pria itu, dia mengangguk pelan meski tidak terlihat olehnya. “Baik, Terima kasih, Pak.”

Dia mulai melepaskan jas besar milik Tristan dari pundaknya dan melipatnya dengan hati‑hati di atas ujung sofa empuk itu. Jari‑jarinya bergerak agak terburu‑buru namun tetap rapi membuka kancing kemeja lama yang masih terasa lembap dan berat di kulitnya. Udara sejuk ruangan menyentuh kulit bahu dan punggungnya saat dia melepaskan kain itu perlahan, lalu mulai mengenakan kemeja baru dari setelan yang disiapkan, bahannya halus, dingin, dan pas sekali dengan bentuk tubuhnya, diikuti dengan celana yang rapi dan pas di bagian pinggang.

Namun di saat yang sama, di ujung lain ruangan, mata Tristan yang tadinya berniat menatap ke luar jendela secara tidak sengaja tertuju pada pantulan bening dan jelas di permukaan kaca besar itu. Dia sama sekali tidak berniat mengintip, namun pantulan cahaya siang yang terang membuat setiap gerakan dan bentuk tubuh gadis itu terlihat begitu jelas di sana, seolah dunia di sekelilingnya menghilang seketika.

Napas Tristan terhenti sejenak. Di pantulan itu, dia melihat lekuk bahu Nayla yang halus dan lembut, garis punggung yang ramping namun penuh keanggunan, serta lengkungan pinggang dan pinggul yang mengalir begitu indah dan sempurna di bawah sentuhan cahaya ruangan. Gerakan Nayla yang sederhana namun luwes saat merapikan kain kemeja itu terlihat begitu memikat, begitu hidup dan nyata, jauh dari bayangan sekadar rekan kerja atau bawahan.

Pikirannya yang biasanya penuh dengan rencana bisnis, angka‑angka laporan, dan urusan perusahaan tiba‑tiba menjadi kosong melompong. Tidak ada nama klien yang terlintas, tidak ada jadwal pertemuan yang terngiang, bahkan tidak ada suara napasnya sendiri yang terdengar oleh telinganya. Untuk pertama kalinya selama bertahun‑tahun memimpin dan menjaga jarak dengan orang lain, dia tidak sanggup mengalihkan pandangannya, dia terpaku sepenuhnya pada pemandangan di hadapannya itu, terperangkap dalam keindahan yang begitu polos namun membakar kesadarannya.

Tristan menyadari bahwa dirinya sedang melanggar batas, namun matanya menolak berpaling. Lekuk tubuh itu berbicara tentang kelembutan dan kekuatan sekaligus, sesuatu yang selama ini tersembunyi rapat di balik pakaian kerja yang kaku dan sikap malu‑malunya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, pukulan yang terasa berat dan hangat di rongga dadanya, membuat telinganya berdenging pelan. Waktu seolah melambat hingga menjadi satu detik yang panjang tanpa ujung, di mana dia hanya tahu bahwa ada seseorang yang berdiri di ruangan itu, seseorang yang membuat segala aturan dan ketenangan dirinya runtuh tanpa perlawanan.

Saat Nayla hampir selesai dan tangannya menyentuh kerah untuk merapikan posisi kancing paling atas, dia tidak pernah menyadari bahwa sosok di belakangnya itu telah berubah, bahwa ketegasan dan sikap dingin yang menjadi ciri khas Tristan kini tergoyahkan sampai ke akar‑akarnya oleh satu pemandangan sederhana namun tak terlupakan itu.

Tristan tetap diam, menahan napas sekuat tenaga agar tidak terdengar atau terlihat kegelisahannya. Di dalam pantulan kaca itu, dia baru saja menemukan sesuatu yang tidak pernah dia cari, namun kini sudah mustahil untuk dia abaikan begitu saja. Segala alasan “hanya demi pekerjaan” yang dia ucapkan sendiri beberapa saat yang lalu lenyap terbawa bayang lekuk tubuh gadis itu.

1
Mita Paramita
mungkin Denis bukan anak kandung Tristan... hasil perselingkuhan Olivia & zay😈😈😈 lanjutin Tristan sampe puas bikin Nayla tepar 🤣🤣🤣🫡
Mita Paramita
gass terus Nayla bikin Tristan lupain Olivia 🤣🤣🤣 rebut sekalian
Mita Paramita
bos dan sekretaris jadi lupa batasan malah curcol masalah rumah tangga 🫡🫡🫡 kasian ternyata Tristan Pria kesepian
Mita Paramita
Nayla takut gelap 😭😭😭 tapi kalo sekarang lebih takut kehilangan Tristan 🤣🤣🤣
Rommy Wasini Khumaidi
monggo dilanjutkan saja mas Tris
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
jangan-jangan Denis bukan anak Tristan sama Olivia lagi, Olivia kan suka di celup-celup😂
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
langsung jadian deh Tristan sama Nayla menjadi pacar selundupaan 🤭
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
kalau udah mabuk pasti lupa sama janji ya Tristan 😂
Dinda Putri
Kenapa ga nikah siri aja sih biar greget gitu
Rommy Wasini Khumaidi
gimana rasanya mas Tris?
Ass Yfa
yg katanya tdk akan terulang lagi mlh berkelanjutankan...
tattoo
lagi 🌚🌚🌚
Rommy Wasini Khumaidi
lanjutkan Nay,aku mendukungmu
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
itu beda ya nay karena itu cuma reflek aja 😂
Mita Paramita
SituationShip 🫡🫡🫡
Mita Paramita
zay cocok banget jadi selingkuhan Olivia sama sama manusia redflag 🤣🤣🤣 semoga perselingkuhan mereka cepet terbongkar nih
Mita Paramita
Nayla udah terang terangan mau jadi gundik Tristan 🤣🤣🤣
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirmanW⃠✰͜͡v᭄🦈
astaga kasihan kau Tristan lagi tanggung-tanggung nya eh di stop😂😂😂
tattoo
belum pernah dengar😭
Ass Yfa
😄😄😄Tristan dibuat kentang sama Nayla rasain...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!