Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberuntungan Alfa
Hari-hari berlalu cepat, melipat ruang dan waktu dalam kesibukan yang seolah tak pernah usai. Kehidupan di rumah megah itu tetap berjalan dalam ritme yang sama, dingin, formal, dan rapi tanpa celah.
Namun di balik dinding-dinding kaca Arghantara Group, sebuah panggung baru tengah disiapkan untuk Senja.
Pagi itu, ballroom utama di lantai tertinggi Arghantara Group dipenuhi oleh puluhan petinggi perusahaan, investor asing, serta jajaran direksi dari berbagai konglomerat mitra.
Hari ini adalah rapat pleno penyampaian strategi ekspansi proyek Smart City bernilai puluhan triliun rupiah, sebuah megaproyek yang menjadi taruhan besar bagi masa depan Arghantara Group.
Alfa duduk di jajaran kursi eksekutif paling depan. Sebagai Chief Operating Officer, beban di pundaknya sangat berat. Jas hitam terstruktur yang membalut tubuh tegapnya mencerminkan ketegangan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Namun, tatapannya mendadak terkunci pada sosok yang baru saja melangkah memasuki ballroom.
Seisi ruangan yang tadinya bising oleh kasak-kusuk diskusi mendadak hening untuk beberapa detik. Senja melangkah anggun menyusuri lorong tengah.
Pagi ini, ia tampil begitu menakjubkan, sebuah perpaduan sempurna antara keindahan visual dan aura kepemimpinan yang berkelas.
Ia mengenakan blazer dress berwarna burgundy kustom dengan potongan tegas di bagian bahu, menonjolkan postur tubuhnya yang jenjang dan proporsional.
Pinggangnya yang ramping ditegaskan oleh sabuk kulit tipis beraksen emas. Rambut hitam pekatnya disanggul modern dengan gaya sleek chignon, memperlihatkan leher jenjangnya serta paras cantiknya yang dipoles riasan flawless. Kacamata berbingkai tipis yang sesekali ia kenakan justru menambah kesan kecerdasan yang memikat.
Tidak ada keraguan dalam setiap jejak langkahnya. Senja memancarkan kehangatan melalui senyum ramah yang ia bagikan pada beberapa kolega yang menyapanya, namun di saat yang sama, matanya memancarkan ketegasan seorang eksekutif tingkat atas.
Alfa terpaku di tempat duduknya. Dadanya bergemuruh aneh. Pria itu menatap Senja tanpa berkedip, seolah baru pertama kali melihat wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut.
Saat sesi presentasi utama dimulai, Senja melangkah naik ke atas panggung. Tanpa membawa tumpukan kertas memo atau membaca teks secara kaku, Senja berdiri di samping layar proyektor raksasa dengan kepercayaan diri yang mutlak.
Begitu ia mulai berbicara, suara altonya yang jernih dan tenang membius seluruh isi ruangan.
"Selamat pagi, Dewan Direksi dan para mitra terhormat" Buka Senja dengan bahasa Inggris yang begitu fasih dan beraksen sempurna.
Selama satu jam penuh, Senja menguasai panggung presentation itu sepenuhnya. Ia membedah analisis risiko, proyeksi finansial, hingga strategi mitigasi pasar dengan ketajaman otak yang luar biasa.
Angka-angka rumit dan grafik kompleks ia jelaskan dengan gaya penyampaian yang begitu mudah dipahami, lugas, namun tetap sarat akan data ilmiah yang solid.
Tak hanya mengandalkan logika dan angka, Senja juga menunjukkan talenta komunikasinya yang multitalenta.
Saat mendapatkan sanggahan bertubi-tubi dari salah satu investor asing yang terkenal arogan, Senja tidak sedikit pun terlihat gentar atau emosional.
Dengan senyuman ramah yang menenangkan, ia menjawab seluruh argumentasi tersebut menggunakan analogi bisnis yang cerdas, dipadukan dengan penguasaan bahasa Mandarin yang begitu lancar ketika merespons pertanyaan khusus dari perwakilan investor Shanghai.
Di jajaran kursi depan, Alfa benar-benar terkagum-kagum. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap Senja dengan binar mata takjub yang tak mampu ia sembunyikan.
Alfa tahu Senja adalah lulusan terbaik dari universitas ternama dunia, namun melihat wanita itu secara langsung menguasai panggung pertempuran bisnis yang sekeras ini adalah sebuah pengalaman yang berbeda sama sekali.
Senja bukan sekadar wanita pajangan yang dijadikan aliansi politik, ia adalah sebuah permata berharga yang memiliki kecerdasan dan pesona tiada tanding.
Ketika Senja menutup presentasinya dengan sebuah kalimat kunci yang memukau, ruangan rapat yang mulanya tegang mendadak pecah oleh tepuk tangan riuh.
Seluruh petinggi dan investor berdiri, memberikan penghormatan atas kejeniusan dan kepemimpinan sang Vice President baru.
Usai rapat pleno dinyatakan selesai, acara dilanjutkan dengan sesi cocktail networking di area foyer yang luas. Senja langsung dikerumuni oleh para kolega dan mitra bisnis yang ingin berkenalan serta menyampaikan apresiasi secara langsung.
Sementara itu, Alfa yang baru saja menyelesaikan diskusi singkat dengan sekretarisnya, mendadak dihampiri oleh beberapa petinggi konglomerat dan rekan bisnis senior.
"Luar biasa, Alfa! Sungguh presentasi yang sangat spektakuler!" Puji Pak Kuntoro, seorang komisaris senior, sembari menepuk bahu Alfa hangat.
"Kami sangat terkesan dengan analisis yang dibawakan oleh Istrimu."
"Terima kasih banyak, Pak Kuntoro." Sahut Alfa santun, mengulas senyum formal.
"Kamu benar-benar pria paling beruntung di kota ini, Alfa" Timpal Direktur Utama sebuah bank swasta yang berdiri di sampingnya.
Matanya melirik kagum ke arah Senja yang sedang tertawa anggun bersama para investor asing.
"Senja itu wanita yang benar-benar sempurna di mata pria mana pun. Parasnya sangat cantik, bagaikan model, otak dan kecerdasannya tiada tanding, tapi caranya bersikap tetap sangat ramah dan merakyat. Dia multitalenta!"
"Benar sekali!" Tambah rekan bisnis lainnya dengan nada mengagumi yang blak-blakan.
"Mendapatkan wanita sekelas Senja adalah pencapaian tertinggi bagi seorang pria. Selamat untukmu, Alfa! Pernikahan kalian benar-benar kombinasi yang tak tertandingi."
Pujian dan ucapan selamat bertubi-tubi terus mengalir menghujani Alfa dari berbagai sudut. Semua pria di ruangan itu memandangnya dengan rasa iri dan hormat, menganggap Alfa telah memenangkan lotere kehidupan karena berhasil mempersunting wanita sesempurna Senja.
Alfa hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk.
"Terima kasih atas ucapan selamat dan pujian dari Bapak-bapak sekalian. Saya sangat mengapresiasinya" Ujar Alfa dengan suara rendah yang terdengar agak berat.
Di balik jawaban formalnya, ada rasa kenyataan yang pahit dan hampa yang menyelusup di dada Alfa. Mereka semua memuji keberuntungannya, tanpa tahu bahwa di balik pintu rumah mereka yang megah, ia bahkan tidak pernah benar-benar memiliki hati wanita sempurna itu.
Senja adalah milik publik dalam keagungannya, namun di dalam kehidupan pribadinya, Senja adalah sosok asing yang tak tersentuh.
Sembari mendengarkan percakapan para kolega di sekitarnya, pandangan mata Alfa menerobos kerumunan orang, menatap ke arah Senja dari kejauhan.
Senja yang sedang berdiri di dekat jendela kaca raksasa tampak sedang berbincang hangat dengan dua rekan bisnis internasional. Keanggunan gerak-gerik wanita itu seolah menciptakan gravitasinya sendiri di dalam ruangan tersebut.
Tiba-tiba, seperti menyadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya, Senja menghentikan ucapannya sejenak. Wanita itu memutar kepalanya perlahan, mengarahkan pandangannya menembus hiruk-pikuk foyer.
Tatapan mata mereka bertemu di udara.
Di antara riuhnya suara denting gelas kristal dan gelak tawa para pengusaha papan atas, waktu seolah berhenti berputar bagi Alfa dan Senja. Alfa menatap dalam ke dalam manik mata Senja, menyalurkan rasa takjub, rasa bersalah, sekaligus kebingungan emosi yang kian hari kian menggerogoti hatinya.
Senja, yang menangkap tatapan intens dari suaminya, tidak menghindar. Wajah cantiknya yang diterpa cahaya matahari pagi mengulas sebuah senyum tipis, sebuah senyuman yang begitu tenang, anggun, dan menyimpan rahasia kedalaman batinnya.
Alfa menyambut senyuman itu. Perlahan, bibirnya ikut melengkungkan senyum tipis yang tak kalah samar. Sebuah isyarat tanpa kata di antara dua manusia yang terikat dalam satu takdir yang rumit.
Senja memberikan anggukan kecil yang sangat halus pada Alfa sebagai bentuk penghormatan profesional sekaligus penanda kehadiran, sebelum akhirnya wanita itu kembali memalingkan wajahnya dan melanjutkan obrolan hangat bersama para rekan bisnis di sekelilingnya.
Alfa menghela napas panjang, kembali menyesap minumannya dalam diam. Tatapannya tak lepas memandangi bayangan Senja yang begitu bersinar di tengah ruangan. Pria itu sadar, benteng ketenangan yang dibangun Senja kini perlahan-lahan mulai mengetuk pertahanan hatinya sendiri.
Kalo sudah tak ada baru terasa
Kehadiranmu sungguh berharga
Sungguh berat hidupku tanpa dia
🎶 🎶 💃 💃