NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

"Atau dia sendiri Dr. Mira."

Kalimat itu belum keluar dari kepala Kevin ketika tiga hari kemudian Hartono Estate kembali terang seperti istana.

Lampu kristal di aula besar menyala sejak sore. Meja panjang dari kayu gelap dipoles sampai memantulkan cahaya. Di atasnya tersusun hidangan keluarga Tionghoa-Indonesia yang sengaja dibuat mewah: ayam kodok, ikan malas tim kukus, bakmi ulang tahun, sup asparagus kepiting, sampai rendang wagyu yang disiapkan khusus untuk tamu bisnis dari luar keluarga.

Malam itu adalah makan malam keluarga besar Hartono yang diadakan dua kali setahun.

Biasanya, acara seperti ini hanya berisi senyum palsu, anggur mahal, dan orang-orang yang memanggil satu sama lain "keluarga" sambil menghitung berapa persen saham yang bisa direbut.

Kevin membenci semuanya.

Tapi malam ini ia berdiri di depan tangga utama lebih lama dari biasa.

Feng menunduk di sampingnya. "Boss, semua tamu inti sudah hadir. Om Hendry dan Om Albert ada di aula. Professor Liu juga sudah datang."

"Engkong?"

"Sudah di kursi utama. Dokter menyarankan tidak terlalu lama, tapi Engkong menolak kembali ke kamar."

Kevin tidak terkejut. Setelah hampir mati dan diselamatkan dalam lima belas menit, Engkong Hartono justru terlihat lebih bersemangat mengatur hidup cucunya.

"Darren?"

Feng ragu sesaat. "Tuan Muda Darren ada di ruang anak bersama Nona Tiffany."

Kevin menoleh. "Tiffany?"

"Putri Nona Keira. Katanya... dia mengikuti Ci Naomi."

Kevin menutup mata sebentar.

Jika Naomi sudah ikut campur, berarti malam ini tidak akan berjalan tenang.

Di sisi lain rumah, Naomi Hartono sedang berjongkok di depan Tiffany dengan mata berbinar.

"Kamu anaknya Ci Keira?"

Tiffany mengangguk manis. Gaun kecil warna biru pucatnya mengembang saat ia memeluk boneka kelinci. "Iya. Tante cantik siapa?"

Naomi langsung memegang dada. "Aduh. Panggil aku Ci Naomi saja. Tante membuatku merasa tua."

"Ci Naomi."

"Pintar sekali."

Di belakang mereka, seorang bocah laki-laki berdiri dengan setelan kecil hitam. Rambutnya disisir rapi seperti Darren, wajahnya pun sama persis. Naomi tidak curiga sedikit pun.

"Ren, malam ini kamu mau duduk di dekat Mommy barumu?" goda Naomi.

Ethan, yang sedang memakai ekspresi paling kalem milik Darren, mengangguk pendek.

Tiffany menunduk untuk menyembunyikan senyum.

Darren asli berada di ruang anak sebelah, duduk dengan Pak Hadi dan menonton layar kecil dari jam tangan Ethan. Ia tidak suka keramaian, apalagi sejak peristiwa penculikan. Tetapi ketika Ethan menawarkan bertukar tempat untuk membantu Mommy melihat keluarga Daddy dari dekat, Darren hanya bertanya satu hal.

"Kalau Daddy marah?"

Ethan menjawab dengan tenang, "Aku akan bilang aku rindu Mommy."

Darren menerima alasan itu.

Pintu utama aula besar terbuka tepat pukul tujuh.

Suara percakapan menurun setengah nada ketika Keira masuk.

Ia mengenakan gaun putih sederhana dengan potongan bahu bersih, tidak berlebihan, tetapi justru karena itu auranya terlihat mahal. Rambutnya disanggul rendah, seuntai anting mutiara jatuh di sisi leher. Tidak ada berlian besar, tidak ada warna mencolok, tetapi setiap langkahnya membuat aula yang penuh orang kaya itu tampak seperti latar belakang.

Hendry Hartono, yang sedang berbicara dengan Professor Liu, berhenti di tengah kalimat.

Albert Hartono mengangkat alis.

Wilson, putra Hendry, menatap terlalu lama sampai ibunya menyikut pelan.

Keira melihat semua itu, tetapi wajahnya tetap tenang. Tatapannya menemukan Kevin di dekat tangga.

Kevin berjalan mendekat.

Tanpa bertanya, ia mengambil selendang tipis dari tangan pelayan dan menyampirkannya di lengan Keira, seolah tugas itu memang miliknya.

"Kau datang."

"Bukankah kau yang mengundang?"

"Aku mengundang. Tapi aku tahu kau pintar menolak."

Keira menatap aula. "Aku datang untuk Engkong dan Darren."

"Aku tidak keberatan menjadi alasan ketiga."

Keira hampir tersenyum, tetapi menahannya. "Jangan terlalu percaya diri, Pak Kevin."

"Terlambat."

Naomi muncul dengan langkah ringan sambil menggandeng Tiffany dan "Darren".

"Ci Keira!" serunya, cukup keras untuk membuat beberapa kerabat menoleh. "Akhirnya aku bertemu langsung. Aku Naomi, adik Ko Kevin yang paling cantik dan paling menderita karena punya kakak kaku seperti lemari besi."

Kevin meliriknya dingin. "Naomi."

"Lihat? Baru satu kata saja sudah seperti ancaman rapat direksi."

Keira tidak bisa menahan tawa kecil.

Naomi langsung puas. Ia menggenggam tangan Keira seolah sudah kenal lama. "Ci, jangan takut. Kalau Ko Kevin mengganggu, lapor aku. Aku punya banyak foto jelek dia waktu kecil."

"Naomi," suara Kevin makin rendah.

"Aku diam."

Tiffany menarik ujung gaun Naomi. "Ci Naomi, boleh Tiff duduk dekat Mommy?"

"Boleh, sayang. Malam ini kita duduk di barisan pemenang."

Kevin menatap bocah laki-laki di samping Naomi. "Darren."

Ethan mengangkat wajah. Ia sudah berlatih menahan ekspresi, tetapi melihat Kevin dari jarak dekat tetap membuat dadanya berdebar.

"Daddy."

Kevin menyipit sebentar. Sapaan itu benar. Wajah itu benar. Tapi mata anak itu malam ini terlalu terang.

Sebelum Kevin bisa bertanya, Engkong Hartono mengetuk tongkatnya dari kursi utama.

"Keira, duduk di sini."

Seluruh aula kembali hening.

Kursi yang ditunjuk Engkong berada di sisi kanan Kevin, posisi yang biasanya hanya diberikan kepada orang keluarga inti. Bahkan beberapa sepupu Hartono tidak pernah duduk sedekat itu dengan meja utama.

Hendry tersenyum tipis.

"Papa," katanya dengan suara cukup keras, "apa tidak terlalu cepat memberi tempat keluarga kepada tamu?"

Engkong memandangnya. "Dia menyelamatkan nyawaku. Kalau kau bisa melakukan hal yang sama, kau juga boleh duduk di sebelahku."

Beberapa orang menunduk menahan tawa.

Hendry tidak berubah wajah, tetapi jari-jarinya di gelas anggur menegang.

Keira duduk dengan tenang. Tiffany duduk di sisi Naomi. Ethan, sebagai "Darren", duduk tidak jauh dari Kevin.

Makan malam dimulai dengan doa singkat, lalu percakapan bisnis mengalir seperti air yang sengaja dibuat hangat di permukaan.

Hendry adalah orang pertama yang menaruh duri.

"Aku dengar belakangan ini Kevin dekat dengan seorang wanita dari keluarga Mulyono," katanya sambil memotong ikan. "Yang dulu sempat... keluar dari rumah, ya?"

Pisau Keira berhenti hanya sepersekian detik.

Wilson tertawa kecil. "Keluarga Mulyono sedang ramai dibicarakan setelah skandal pernikahan itu. Hartono sepertinya jadi sangat murah hati."

Naomi menurunkan garpunya. "Ko Wilson, mulutmu memang jarang dipakai untuk hal berguna?"

"Naomi, aku hanya bicara fakta."

Hendry tersenyum seolah menenangkan. "Jangan salah paham. Aku hanya khawatir. Hartono bukan keluarga biasa. Pintu rumah ini tidak bisa dimasuki siapa saja, apalagi oleh perempuan yang masa lalunya penuh masalah."

Beberapa tamu saling melirik.

Inilah arena asli keluarga Hartono.

Tidak ada tamparan. Tidak ada teriakan. Hanya kata-kata halus yang dibuat untuk menguliti martabat seseorang di depan lima puluh pasang mata.

Keira mengangkat gelas airnya.

Sebelum ia sempat bicara, Kevin meletakkan garpu.

Bunyinya kecil, tetapi cukup membuat seluruh meja utama diam.

"Aku yang mengundang Keira."

Hendry menatapnya. "Aku tahu, Kevin. Tapi sebagai paman, aku hanya mengingatkan."

"Tidak perlu."

"Kau terlalu muda untuk memahami bahwa nama Hartono harus dijaga."

Kevin menatapnya tanpa berkedip. "Justru karena aku menjaga nama Hartono, aku tidak membiarkan orang yang menyelamatkan Engkong dihina di meja ini."

Wajah Hendry menegang.

Kevin melanjutkan, suaranya dingin dan jelas.

"Aku bilang dia boleh masuk, berarti dia boleh masuk."

Keheningan turun.

Kalimat itu seperti palu yang tidak keras, tetapi menghancurkan semua senyum pura-pura.

Keira menatap sisi wajah Kevin. Ia sudah pernah melihat pria itu memerintah, mengancam, menyelidik. Tapi ini berbeda. Ia tidak sedang menunjukkan kuasa untuk menekan Keira. Ia menaruh kuasa itu di depan Keira, seperti dinding.

Engkong Hartono terkekeh puas. "Nah. Baru seperti cucuku."

Naomi mengangkat gelas jusnya sedikit ke arah Keira. "Aku bilang juga, barisan pemenang."

Tiffany berbisik, "Daddy keren."

Ethan hampir mengangguk terlalu antusias, lalu ingat ia sedang menjadi Darren. Ia hanya mengambil sup dengan gerakan pelan.

Kevin memperhatikan lagi.

Darren biasanya tidak mengambil sup sendiri sebelum Pak Hadi membantu.

Malam ini, anak itu terlalu mandiri.

Namun Hendry tidak memberi waktu bagi Kevin untuk mengejar keanehan itu. Ia mengubah arah pembicaraan dengan licin.

"Baiklah, kalau Papa sudah memberi tempat untuk penyelamat keluarga, aku tentu tidak berhak menolak." Hendry meletakkan serbet. "Kebetulan malam ini aku juga membawa seseorang yang mungkin bisa menyelamatkan Hartono Group dari masalah lebih besar."

Ia mengangkat tangan.

Seorang pria paruh baya berjas abu-abu berdiri. Rambutnya disisir rapi, kacamatanya tipis, dan senyumnya penuh keyakinan orang yang terbiasa dibayar mahal sebelum hasilnya terlihat.

"Perkenalkan, Professor Liu," kata Hendry. "Pakar internasional di bidang arsitektur chip. Aku mengundang beliau untuk mempelajari kasus pencurian data inti Hartono Group."

Bisik-bisik langsung menyebar.

Chip inti Hartono Group memang luka yang belum sembuh. Dua tahun lalu, data riset paling penting hilang dari server pusat. Kevin berhasil menahan kerusakan, tetapi pelaku belum pernah diumumkan. Di mata keluarga besar, itu tetap celah yang bisa dipakai untuk mempertanyakan kepemimpinannya.

Professor Liu membungkuk tipis. "Saya sudah membaca ringkasan kasus. Menurut saya, pencurian ini bukan hanya serangan luar. Ada kelemahan fatal dalam desain keamanan internal."

Beberapa orang menoleh ke Kevin.

Hendry pura-pura menghela napas. "Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun. Tapi perusahaan sebesar Hartono Group butuh solusi, bukan hanya sikap dingin."

Kevin tidak bereaksi.

Keira menatap Professor Liu.

Satu kalimat pertama pria itu sudah salah arah.

Ia mengambil air minum perlahan, menyembunyikan sorot matanya.

Albert, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara. "Kalau Professor Liu bisa menyelesaikan masalah ini, tentu jasanya besar. Tapi siapa yang akan menentukan hak pengelolaan setelah kasus selesai?"

Engkong Hartono meletakkan sumpit.

Semua orang menunggu.

Lelaki tua itu tampak lebih lemah daripada sebelum sakit, tetapi suaranya masih membawa bobot pendiri kerajaan bisnis.

"Aku sudah membuat keputusan."

Hendry dan Albert saling pandang cepat.

Kevin menatap Engkong.

Engkong berkata pelan, "Siapa pun yang benar-benar menyelesaikan kasus pencurian chip inti, menemukan pelakunya, dan mengembalikan keamanan sistem Hartono Group, akan mendapat hak kendali akhir atas grup."

Aula itu meledak dalam bisik tertahan.

Wilson hampir berdiri. "Engkong, maksudnya termasuk di luar CEO sekarang?"

"Termasuk siapa pun dari keluarga Hartono yang punya kemampuan."

Hendry menunduk, tetapi senyumnya muncul.

Inilah yang ia tunggu.

Dengan Professor Liu di sisinya, ia bisa merebut hak bicara dari Kevin tanpa terlihat memberontak.

Naomi memandang Kevin cemas. "Ko..."

Kevin hanya mengangkat gelas. Wajahnya tetap tenang, tetapi Keira melihat urat halus di punggung tangannya mengeras.

Professor Liu tersenyum lebih lebar. "Kalau begitu, saya bisa mempresentasikan kerangka solusi awal malam ini."

Pelayan segera menurunkan layar tipis dari sisi aula. Proyektor menyala. Diagram chip kompleks muncul, penuh garis warna dan istilah teknis.

Tamu-tamu tampak kagum bahkan sebelum memahami apa pun.

Hendry bersandar dengan percaya diri.

Keira menatap layar.

Tiga detik pertama, ia menemukan satu kesalahan.

Detik kelima, kesalahan kedua.

Saat Professor Liu menyentuh slide ketiga, sudut bibir Keira terangkat sangat tipis.

Setidaknya ada tujuh kesalahan fatal.

Dan yang paling menarik, semuanya sengaja diarahkan untuk membuat Kevin terlihat seperti orang yang salah sejak awal.

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!