NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Tujuh hari kemudian, ruang auditorium utama lantai lima puluh lima Ar-Rasyid Tower tampak dipenuhi oleh ratusan orang. Udara di dalam ruangan berkapasitas besar itu terasa dingin oleh pendingin ruangan, namun atmosfernya dipenuhi ketegangan yang begitu pekat. Kursi-kursi beludru merah telah terisi penuh oleh para pemegang saham mayoritas dan minoritas, jajaran direksi, serta para pengamat ekonomi yang datang untuk menyaksikan agenda paling krusial tahun ini: Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Agenda rapat hari itu dijadwalkan secara mendadak atas permintaan kelompok pemegang saham minoritas yang dipimpin oleh faksi lama keluarga Ar-Rasyid—sebuah upaya kudeta terstruktur yang disponsori sepenuhnya oleh Victor Ar-Rasyid untuk menggulingkan posisi Alexander dari kursi CEO.

Di barisan depan meja kehormatan, Alexander Ar-Rasyid duduk dengan postur tegap tanpa cela. Setelan jas hitam bespoke Italia yang dikenakannya tampak sangat kontras dengan ekspresi wajahnya yang dingin, tenang, dan tanpa celah ketakutan sedikit pun. Di samping kanannya, Keisha duduk anggun mengenakan setelan blazer profesional berwarna navy dark dengan aksen perak, memancarkan wibawa tingkat tinggi sebagai salah satu pemegang saham sah dan direktur kreatif yang baru saja sukses membawa Azalea Label menembus pasar internasional.

Beberapa meter dari tempat mereka duduk, di deretan kursi sisi kiri auditorium, Victor Ar-Rasyid duduk dengan senyuman penuh kemenangan di wajah tua yang dipenuhi ambisi. Pria paruh baya berambut ubanan itu mengenakan jas kelabu formal, dikelilingi oleh beberapa sekutunya dari dewan direksi lama yang telah lama mendambakan kejatuhan kepemimpinan Alexander.

Pukul 10.00 pagi tepat, Sekretaris Perusahaan mengetuk mikrofon podium dan membuka jalannya rapat.

"Selamat pagi para pemegang saham yang terhormat. Kita buka Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Ar-Rasyid Group hari ini. Agenda utama kita adalah evaluasi kepemimpinan eksekutif dan mosi tidak percaya yang diajukan oleh sebagian pemegang saham terhadap posisi Chief Executive Officer saat ini," suara sekretaris bergema ke seluruh penjuru ruangan melalui pengeras suara.

Suasana auditorium seketika terhening. Ratusan pasang mata tertuju langsung ke arah meja Alexander.

Victor Ar-Rasyid berdiri dari kursinya. Ia merapikan jasnya sejenak, lalu melangkah maju ke dekat mikrofon bagian tengah ruangan dengan senyuman sinis yang tidak berusaha ia sembunyikan.

"Terima kasih," ucap Victor dengan suara bariton serak yang sarat akan arogansi. "Sebagai salah satu anggota senior keluarga pendiri Ar-Rasyid, saya merasa terpanggil untuk menyelamatkan imperium ini dari keputusan-keputusan strategis yang salah arah di bawah kepemimpinan Alexander. Penanganan krisis yang buruk, konflik kepentingan di sektor ritel fesyen, serta investasi yang tidak transparan telah membahayakan stabilitas finansial perusahaan kita. Oleh karena itu, saya menuntut agar dilakukan pemungutan suara instan untuk melengserkan Alexander Ar-Rasyid dari kursi CEO saat ini juga!"

Ucapan itu langsung memicu riuh rendah bisikan di antara para pemegang saham minoritas. Beberapa orang yang telah disuap oleh jaringan Victor mulai mengangguk setuju dan mengangkat tangan untuk mendukung mosi tersebut.

Di kursi kehormatan, Alexander tetap duduk dengan tenang. Ia bahkan tidak bergeming sedikit pun, seolah-olah tuduhan pedas pamannya hanyalah angin lalu yang tidak memiliki arti penting.

Keisha melirik suaminya sekilas, lalu menangkap senyuman tipis di bibir pria itu. Ia tahu betul bahwa suaminya tidak pernah melangkah ke medan perang tanpa menyiapkan strategi pemungkas yang mematikan.

Victor tersenyum penuh kemenangan melihat ketenangan Alexander. Ia mengira keponakannya itu telah kehabisan akal dan pasrah menghadapi kekalahan mutlak. "Bagaimana, Alexander? Apakah kau ingin menyerahkan jabatan itu secara baik-baik, atau kita harus memaksamu keluar dari gedung ini dengan rasa malu?"

Alexander perlahan berdiri dari kursinya. Gerakannya begitu tenang, namun penuh wibawa mutlak yang langsung membuat seluruh ruangan kembali terdiam seketika. Ia merapikan kancing jasnya, lalu melangkah maju mendekati podium utama dengan tatapan mata kelam yang menatap tajam ke arah pamannya, bagaikan seekor singa yang siap menerkam mangsanya.

"Kau terlalu tergesa-gesa merayakan kemenangan yang belum sepenuhnya menjadi milikmu, Paman," suara bariton Alexander menggelegar ke seluruh penjuru auditorium, dingin, berat, dan menusuk tajam ke dalam tulang.

Victor mengerutkan keningnya. "Jangan coba-coba mengalihkan perhatian! Bukti-bukti kegagalanmu sudah jelas terpampang di hadapan para pemegang saham!"

"Benarkah?" Alex mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat kepada petugas pengendali proyektor di sudut ruangan. "Sebelum kita melakukan pemungutan suara apa pun, ada baiknya jika para pemegang saham yang terhormat di ruangan ini melihat laporan audit tambahan yang baru saja masuk ke meja direksi pagi ini."

Layar raksasa di belakang podium mendadak menyala terang. Alih-alih menampilkan grafik kegagalan, layar tersebut menampilkan rekaman transaksi perbankan rahasia, dokumen transfer dana luar negeri, serta surat perjanjian aliran dana gelap yang menghubungkan langsung rekening pribadi Victor Ar-Rasyid dengan sindikat perusahaan cangkang (shell companies) yang selama ini mencoba merusak stabilitas Ar-Rasyid Group.

Tidak hanya itu, layar tersebut juga menampilkan transkrip rekaman suara percakapan antara Victor dan beberapa anteknya—termasuk rekaman saat Victor memerintahkan sabotase dokumen uji laboratorium terhadap butik Azalea Label beberapa waktu lalu.

Wajah Victor Ar-Rasyid seketika berubah pucat pasi. Senyuman sinis di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh kepanikan luar biasa yang membuat sekujur tubuhnya bergetar hebat. Ia melangkah mundur beberapa langkah, menatap layar proyektor dengan mata membelalak tak percaya.

"B-Bukti apa ini?! Ini palsu! Fitnah!" teriak Victor panik, mencoba memprotes di depan mikrofon.

"Palsu?" suara dingin Alexander memotong protes pamannya bagaikan bilah pisau. "Dokumen transaksi perbankan internasional ini diverifikasi langsung oleh otoritas pengawas keuangan Swiss dan audit independen. Dan rekaman suara itu diambil dari telepon genggam milik kaki tanganmu yang sudah tertangkap dan mendekam di sel isolasi."

Suasana di auditorium langsung meledak dalam riuh rendah keterkejutan. Para pemegang saham mayoritas berbisik-bisik dengan ekspresi marah dan jijik menatap ke arah Victor. Upaya kudeta yang dirancang sedemikian rupa ternyata berbalik menghantam sang dalang utama secara telak.

Belum sempat Victor memulihkan diri dari keterkejutannya, pintu ganda auditorium utama terbuka lebar. Dua orang petugas kepolisian divisi tindak pidana korupsi dan kejahatan ekonomi melangkah masuk dengan tegap, berjalan lurus menuju ke arah tempat Victor berdiri.

"Victor Ar-Rasyid," ucap sang perwira polisi dengan suara tegas, "atas nama hukum, Anda resmi ditangkap atas tuduhan pengkhianatan korporat, pencucian uang, sabotase aset perusahaan, dan konspirasi kejahatan terencana terhadap Ar-Rasyid Group."

Kegaduhan tak terelakkan terjadi di dalam ruangan. Para pengawal Victor tidak berani berkutik saat melihat dokumen resmi penangkapan tersebut. Dalam hitungan detik, kedua tangan Victor diborgol oleh petugas kepolisian di hadapan seluruh jajaran direksi dan pemegang saham yang menyaksikan dengan pandangan penuh rasa jijik.

Saat digiring melewati meja kehormatan, Victor menoleh dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam kepada Alexander dan Keisha. "Kalian... kalian tidak akan pernah menang selamanya!" geramnya penuh amarah sebelum akhirnya digelandang keluar ruangan oleh petugas.

Alexander tidak membalas ucapan itu. Ia hanya menatap kepergian pamannya dengan sorot mata dingin tanpa emosi.

Keisha menarik napas panjang, merasakan beban berat yang selama ini menghimpit pundak mereka akhirnya terangkat sepenuhnya. Ia menoleh ke arah suaminya, dan Alex menyambut tatapannya dengan senyuman paling tulus dan hangat yang pernah ia tunjukkan.

Ketua rapat yang sempat tertegun segera menguasai kembali situasi, mengetuk palu sidang satu kali untuk menenangkan ruangan.

"Berdasarkan bukti-bukti otentik dan hasil evaluasi dewan direksi," suara ketua rapat menggema jelas, "mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan CEO Alexander Ar-Rasyid secara resmi ditolak dan dinyatakan batal demi hukum. Posisi kepemimpinan Alexander Ar-Rasyid dikukuhkan kembali dengan dukungan suara mutlak seratus persen!"

Dentuman tepuk tangan gemuruh langsung meledak di seluruh penjuru auditorium. Para pemegang saham berdiri dari kursi mereka, memberikan penghormatan mutlak kepada sang CEO yang berhasil membuktikan integritas dan kekuatan kepemimpinannya di tengah badai intrik paling kejam dalam sejarah korporasi tersebut.

Di tengah riuhnya tepuk tangan para hadirin, Alexander mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Keisha dengan erat di atas meja kehormatan. Ia menarik istrinya berdiri bersamanya di hadapan ratusan orang yang memberikan penghormatan.

"Kita berhasil, Keisha," bisik Alex lembut di dekat telinga istrinya, manik matanya memancarkan kebanggaan dan cinta yang mendalam.

Keisha membalas genggaman tangan itu dengan erat, senyuman bahagianya merekah sempurna di wajahnya. "Kita baru saja memulainya, Alexander. Kita baru saja memulainya."

Di bawah sorotan lampu terang auditorium dan tepuk tangan meriah yang tak kunjung berhenti, badai masa lalu telah sepenuhnya musnah. Pintu menuju masa depan imperium keluarga Ar-Rasyid terbuka lebar, dan mereka berdiri di puncak kejayaan—bukan lagi sebagai korban dari sebuah kontrak pernikahan di atas kertas, melainkan sebagai raja dan ratu sejati yang menaklukkan dunia bersama-sama.

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!