Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 - MATINYA KURA-KURA TUA DAN KERTAS YANG DITULIS DI PUNCAK ES YANG CAIR
Puncak Teratai Emas Huashan, hitam.
Bukan hitam malam, tapi hitam bayangan. Bayangan Qin Ruyan yang menyebar dari telapak tangan kecilnya yang menempel di punggung ayahnya, bayangan awan hitam Qin Ye yang keluar dari 5 jari tulang putih keemasannya yang menancap di titik Ming Men Zhuo Wudi, dan bayangan 9 naga pengemis Hong Wei Jun yang melilit kaki kura-kura tua itu.
Zhuo Wudi yang duduk bersila di tengah batu hangus yang meleleh, 50 tahun tidur di peti es Kamar Es Istana, 15 tahun lalu membuat luka pedang besar di wajah Zhuo Fan dengan satu jari, 3 bulan lalu membekukan Puncak Teratai Emas menjadi gunung es dan mengirim salju biru es 500 li ke Jiangnan, kini... tidak bergerak.
Matanya yang emas, yang tadi membelalak karena kaget ditusuk dari belakang, kini... menjadi hitam, lalu putih, lalu kosong.
Darah emas naga Keluarga Zhuo yang menetes dari garis luka merah di dadanya yang dibuat oleh jurus ketiga Zhuo Fan — Wu Jian Wu Wo — Tanpa Pedang Tanpa Aku — bercampur dengan darah hitam keemasan 9 Yin yang asli yang mengalir dari telapak tangan Qin Ruyan, melalui lengan Qin Ye, melalui 5 jari tulang putih keemasan, masuk ke dalam Gerbang Kehidupan-nya.
Setelah menerima serangan Qin Ye, Zhuo Wudi akhirnya mati.
Bukan mati karena esnya mencair, bukan mati karena naga keruh Zhuo Fan, bukan mati karena 9 naga pengemis Hong Wei Jun.
Tapi mati karena Jiuyin Baigu Zhao.
Jiuyin Baigu Zhao — Cakar Tulang Putih 9 Yin — jurus yang sangat ganas dan mematikan, yang dulu terkenal sadis saat Mei Chaofeng membuatnya terkenal dengan membunuh orang-orang dunia persilatan untuk menyempurnakan ilmunya.
100 tahun lalu, Mei Chaofeng, murid pengkhianat Huang Yaoshi dari Pulau Bunga Persik, mencuri setengah Kitab 9 Yin, tidak mengerti artinya, hanya melihat gambar tengkorak dan tulisan Jiuyin Baigu Zhao, lalu ia pikir harus membunuh orang, mengumpulkan tengkorak, melubangi tengkorak dengan 5 jari, agar 5 jarinya menjadi kuat. Ia membunuh 100 orang Wulin, membuat 100 tengkorak berlubang 5 jari, dan membuat nama Jiuyin Baigu Zhao menjadi nama yang paling ditakuti dan paling dibenci di Wulin.
Padahal, Huang Yaoshi yang menciptakan jurus itu tidak pernah menyuruh membunuh. Baigu — tulang putih — bukan tulang orang lain, tapi tulang diri sendiri. Harus melatih tulang jari sendiri sampai putih, sampai keras, bukan melubangi tulang orang lain.
Mei Chaofeng salah jalan 20 tahun, sampai akhirnya Guo Jing dan Huang Rong memberitahunya arti sebenarnya.
Dan sekarang, 100 tahun kemudian, di Puncak Teratai Emas, Qin Ye menggunakan Jiuyin Baigu Zhao yang asli, yang sempurna, yang tidak perlu membunuh 100 orang, hanya perlu darah 9 Yin yang asli dari putrinya.
5 jari tulang putih keemasan itu, setelah menyerap es biru 50 tahun Zhuo Wudi, setelah dialiri darah hitam keemasan Qin Ruyan, menjadi... 5 jari yang tidak lagi putih, tapi transparan, seperti es hitam yang bening.
Dan 5 jari itu... meremas. Meremas jantung kura-kura tua yang ada di dalam Gerbang Kehidupan.
KRETEK.
Suara kecil. Seperti cangkang kura-kura yang retak.
Zhuo Wudi yang duduk bersila, tubuhnya yang keriput seperti cangkang kura-kura 1.000 tahun, retak. Retak dari titik Ming Men di punggung, menjalar ke dada, ke leher, ke wajah.
Retakan itu mengeluarkan cahaya, bukan darah emas lagi, tapi cahaya putih — cahaya dari 50 tahun tidur, dari mimpi buruk yang ia simpan selama 50 tahun di dalam peti es.
"Ah..."
Zhuo Wudi bersuara, untuk terakhir kalinya. Bukan raungan, bukan tawa, tapi desahan, seperti kakek tua yang akhirnya bisa tidur nyenyak, bukan tidur karena takut mati, tapi tidur karena lelah hidup.
"Ternyata... mati... lebih hangat... daripada tidur 50 tahun..."
Matanya yang kosong menatap ke arah bawah gunung, ke arah di mana Yang Lie menggendong Zhuo Fan yang pingsan turun, ke arah Jiangnan di mana salju biru esnya sudah dimakan Mu Chen, ke arah Danau Dongting di mana 10.000 pengemis sedang menunggu Ketua mereka.
"Zhuo Fan... maafkan... kakek buyut..."
Tubuhnya yang retak seperti cangkang kura-kura, hancur menjadi debu es. Debu es biru yang tertiup angin Huashan yang akhirnya berani bertiup lagi setelah 3 bulan tidak berani, debu es itu terbang, melayang, dan jatuh ke 100 li sekitar Huashan, menjadi hujan es kecil yang tidak dingin, malah hangat.
Monster tua yang tidur 50 tahun, yang membuat 3 Tetua Wulin Putih — Hong Wei Jun, Zhang Lingyun, Jueyuan — harus bergabung dengan 100% tenaga melawan 70% tenaganya di Hutan Belantara Serigala, yang membuat 36 Aliran Hitam bersembunyi di selokan, yang membuat Kaisar Zhuo Tian merasa aman karena punya leluhur...
Mati. Di Puncak Teratai Emas, oleh 5 jari.
Qin Ye menarik 5 jarinya yang transparan itu dari debu es, 5 jari itu kembali menjadi tulang putih kehitaman biasa, kukunya hitam panjang 3 inci masih ada, tapi tidak beracun lagi.
Qin Ruyan yang telapak tangannya masih menempel di punggung ayahnya, pingsan, karena memberikan darah hitam keemasan 9 Yin yang asli terlalu banyak, darah yang bahkan ayahnya sendiri tidak berani meminum banyak.
Qin Ye menggendong putrinya, menatap debu es yang beterbangan.
Hong Wei Jun yang 9 naga pengemisnya masih melilit, kini 9 naga itu hilang karena tidak ada kaki untuk dililit lagi, hanya debu es. Ia menghela napas panjang, mengambil labu arak penyok di pinggang, meminum arak keras-keras, lalu membuang arak itu ke debu es Zhuo Wudi.
"Untukmu, kura-kura tua. 50 tahun tidur, bangun hanya untuk mati lagi. Lain kali, jangan tidur terlalu lama. Dunia sudah beda."
Ia lalu melihat ke bawah puncak, ke arah Jiangnan, ke arah Kedai Arak Tiga Musim di mana muridnya Mu Chen sedang makan bakpao keempat bersama 7 Pendekar Jiangnan dan Shi Potian.
Ia mengambil dari dalam 9 kantung goninya, bukan ayam panggang, tapi... kertas kuning dan kuas kecil yang selalu ia bawa untuk menulis daftar buruan dan utang arak.
Setelah kematian Zhuo Wudi, Hong Wei Jun menulis sebuah kertas yang berisi janji 7 Tahun tetap berlaku.
Ia menulis di atas batu hitam hangus yang tadi menjadi tahta es Zhuo Wudi, dengan tinta arak dan darah emas naga yang masih tersisa di batu.
Tulisannya besar, berantakan seperti tulisan pengemis, tapi setiap goresan kuasnya ada Qi 18 Tapak Penakluk Naga.
Isinya:
PENGUMUMAN DARI KETUA PARTAI PENGEMIS, HONG WEI JUN, DI PUNCAK TERATAI EMAS HUASHAN, TAHUN KE-5 BULAN KE-11:
MONSTER TUA ZHUO WUDI, KURA-KURA TIDUR 50 TAHUN, TELAH MATI HARI INI DI PUNCAK TERATAI EMAS, DIBUNUH OLEH JIUYIN BAIGU ZHAO PAVILIUN AWAN HITAM QIN YE DAN DARAH 9 YIN PUTRINYA QIN RUYAN, DISAKSIKAN OLEH KETUA PENGEMIS HONG WEI JUN.
TUBUHNYA MENJADI DEBU ES, TIDAK PERLU DIKUBUR, KARENA SUDAH MENJADI HUJAN.
TAPI...
JANJI 7 TAHUN TETAP BERLAKU.
1 TAHUN LAGI, DI PUNCAK TERATAI EMAS INI, YANG SUDAH TIDAK BEKU LAGI, 7 PENDUDUK BARU, 7 PENDUDUK JIANGNAN, PAVILIUN AWAN HITAM, ISTANA, 36 ALIRAN HITAM, DAN SIAPA SAJA YANG MERASA DIRINYA MURID, DATANG LAGI.
KARENA ZHUO WUDI MATI, BUKAN BERARTI LANGIT SUDAH DITENTUKAN. ZHUO WUDI HANYA KURA-KURA TUA YANG INGIN MEMAKAN LANGIT SEBELUM LANGIT DITENTUKAN. SEKARANG KURA-KURA SUDAH MATI, LANGIT MASIH KOSONG, MENUNGGU MURID MENENTUKANNYA.
TUJUH TAHUN LAGI, MURID MENENTUKAN LANGIT — KALIMAT EMAS 5 TAHUN LALU MASIH BERLAKU.
— HONG WEI JUN, YANG MASIH BERUTANG 100 AYAM PANGGANG DI KEDAI ARAK TIGA MUSIM.
Ia selesai menulis, menempelkan kertas kuning itu di atas batu hitam hangus yang paling tinggi di Puncak Teratai Emas, batu yang tadi menjadi tahta Zhuo Wudi, dengan tongkat bambu hijau bengkoknya ditancapkan di samping kertas sebagai paku.
Angin Huashan bertiup, kertas kuning itu berkibar, tapi tidak terbang, karena ada Qi naga pengemis yang menahannya.
Mereka lalu meninggalkan Puncak Huashan dan membiarkan tubuh Zhuo Wudi tergeletak.
Tidak ada tubuh, hanya debu es yang sudah menjadi hujan hangat.
Hong Wei Jun melesat turun dari puncak, menuju Jiangnan, menuju Kedai Arak Tiga Musim, untuk memberi tahu Mu Chen, 7 Pendekar Jiangnan, dan Shi Potian bahwa kura-kura tua sudah mati, tapi Janji 7 Tahun tetap berlaku, dan mereka harus tetap berlatih 1 tahun lagi.
Qin Ye menggendong Qin Ruyan yang pingsan, melompat, menghilang ke dalam bayangan batu hitam hangus, menuju ke arah Shaolin, tempat Hui Chen dan Jiang Yu menunggu, tempat Paviliun Awan Hitam bersembunyi 2 tahun.
Dan Yang Lie yang di tengah jalan turun gunung, menggendong Zhuo Fan yang pingsan dengan pedang kayu hitam patah dan topeng naga pecah, melihat dari bawah, melihat kertas kuning yang berkibar di puncak yang sudah tidak beku, dan melihat dua bayangan — satu goni, satu awan hitam — melesat turun dari puncak.
Ia tahu, pertarungan pertama di Puncak Teratai Emas setelah 5 tahun, selesai.
Zhuo Wudi mati.
Tapi langit belum ditentukan.
Dan 1 tahun lagi, di puncak yang sama, yang kini tidak ada es lagi, hanya batu hitam hangus dan kertas kuning pengemis...
Semua murid akan datang.
Untuk menentukan langit.