Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18 - Naik Peringkat
Kelvin tidak tiba-tiba menjadi rajin.
Setidaknya, itu yang dia katakan pada siapa pun yang bertanya.
Ketika Fajar melihatnya mengerjakan latihan saat istirahat dan berteriak, "Bang Kel kesambet roh SNBT!" Kelvin hanya mengangkat buku seolah ingin melempar. Ketika Bagas menemukan tiga lembar soal di tas Kelvin dan memegangnya seperti bukti kriminal, Kelvin berkata, "Itu punya Nona Guru." Ketika Dimas melihat langkah perhitungan Kelvin sudah lebih rapi, dia hanya berkata, "Lumayan," dan Kelvin menjawab, "Jangan terdengar bangga."
Tetapi Keiko tahu.
Kelvin berubah.
Tidak besar, tidak dramatis, tetapi nyata.
Dia mulai menulis langkah, meski masih suka mengeluh. Dia mulai bertanya sebelum menyerah. Dia masih cepat bosan, tetapi kini jika Keiko mengetuk bagian soal yang kosong, dia akan menarik napas, memaki pelan, lalu mencoba lagi.
Yang paling penting, dia tidak lagi meninggalkan lembar jawaban kosong hanya karena soal terlihat panjang.
Tryout kecil berikutnya diadakan tiga minggu setelah Bagas dan Dimas bergabung dengan kelompok belajar. Kali ini, suasana kelas tidak sepanik sebelumnya. Mungkin karena semua orang sudah pernah hancur sekali dan menyadari dunia tetap berputar.
Bagas tetap panik.
"Dim, kalau nilai gue naik lima poin aja, gue traktir cilok."
Dimas tidak mengangkat wajah dari buku. "Uangnya dari mana?"
"Lu pinjemin."
"Berarti aku yang traktir."
"Kita jangan terpaku pada teknis."
Keiko menutup tawa dengan buku. Di sebelahnya, Kelvin menatap lembar kisi-kisi. Tidak kosong. Ada coretan kecil di beberapa nomor, tanda yang Keiko ajarkan untuk membagi soal sulit.
"Kamu tegang?" tanya Keiko pelan.
"Nggak."
"Bohong?"
Kelvin meliriknya. "Sedikit."
Itu sudah kemajuan juga.
Saat hasil keluar, Pak Arif sengaja tidak langsung membacakan nama. Beliau menempelkan daftar ranking kelas di papan pengumuman depan kelas, lalu mundur.
Kelas menyerbu seperti melihat pengumuman kelulusan.
Keiko tidak ikut maju. Tubuhnya masih lelah setelah sesi kemoterapi beberapa hari lalu, dan berdiri di antara kerumunan terlalu lama membuat kepalanya mudah pening. Dia menunggu di bangku, membuka botol air hangat.
Fajar menjadi orang pertama yang berteriak.
"Gue naik! Gue naik tiga peringkat! Cilok nyaris jadi nyata!"
Putri menyingkirkan lengannya. "Kelvin di mana?"
Sunyi kecil jatuh di antara kerumunan.
Lalu Bagas berteriak lebih keras.
"Bang Kel! Lu masuk empat puluh sembilan!"
Keiko menoleh.
Kelvin yang sejak tadi duduk malas di kursi belakang tampak berhenti bernapas setengah detik. Lalu dia berdiri dan berjalan ke papan pengumuman dengan langkah yang dibuat santai.
Terlalu santai.
Bagas menepuk bahunya keras. "Top lima puluh, bro! Dari dasar sumur naik ke permukaan!"
"Tangan lu berat."
"Ini ekspresi cinta persahabatan."
Dimas berdiri di belakang Bagas, menatap daftar itu. "Benar. Ranking empat puluh sembilan."
Kelvin menatap namanya sendiri.
Keiko tidak bisa melihat wajahnya dari tempat duduk, hanya punggungnya. Namun dia melihat bahu Kelvin yang biasanya kaku sedikit turun, seperti seseorang yang diam-diam melepaskan napas setelah terlalu lama menahan.
Pak Arif tersenyum tipis. "Kelvin."
Kelvin menoleh.
"Bagus. Pertahankan."
Hanya dua kata pujian.
Tetapi kelas mendadak lebih sunyi daripada saat Bagas berteriak. Mungkin karena tidak banyak orang pernah mendengar guru memuji Kelvin dengan suara seperti itu.
Kelvin memasukkan tangan ke saku. "Iya, Pak."
Keiko menunduk, tersenyum ke botol air hangatnya.
Dia tahu ranking empat puluh sembilan bukan angka yang akan membuat sekolah menempelkan foto Kelvin di papan prestasi. Tidak ada guru kelas unggulan yang datang merekrutnya. Tidak ada tepuk tangan panjang seperti saat nilai Keiko diumumkan. Bagi murid lain, itu mungkin hanya kemajuan kecil dari anak bermasalah yang kebetulan sedang rajin.
Tetapi Keiko melihat lembar kosong yang dulu tidak dia isi.
Melihat soal yang dulu dia tinggalkan karena terlalu panjang.
Melihat malam-malam ketika Kelvin mengerutkan kening, mengulang langkah yang sama tiga kali, lalu pura-pura tidak senang saat jawabannya benar.
Empat puluh sembilan bukan akhir.
Untuk Kelvin, itu bukti pertama bahwa dia tidak harus tinggal di tempat orang lain menaruhnya.
Keiko menggenggam botolnya lebih erat, diam-diam lega sekali.
Sore itu, kelompok belajar berjalan lebih ramai dari biasanya. Bagas menuntut perayaan berupa gorengan, Dimas menuntut Bagas menyelesaikan dua soal dulu, dan Kelvin menolak disebut anak top lima puluh dengan wajah yang jelas tidak benar-benar membenci sebutan itu.
Keiko memberi Kelvin satu set latihan baru.
"Ini lebih sulit dari sebelumnya."
Kelvin membuka halaman pertama. "Nona Guru langsung naik level?"
"Kamu sudah naik peringkat."
"Aku baru empat puluh sembilan."
"Berarti bukan paling bawah lagi."
Kelvin menatapnya.
Keiko tidak tahu apakah dia salah bicara. Tetapi setelah beberapa detik, Kelvin menurunkan pandangan ke kertas.
"Iya," katanya pelan. "Bukan paling bawah lagi."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Kelvin menelepon lewat video call bukan untuk Yuan Yuan.
Keiko sudah bersiap tidur. Obat malam baru saja ditelan, rasa pahitnya masih tinggal di lidah. Ketika ponselnya berdering, dia hampir tidak mengangkat karena takut wajahnya terlalu pucat.
Namun nama di layar membuat jarinya berhenti.
Kelvin.
Dia menyalakan lampu meja sedikit lebih redup, lalu menerima panggilan.
Wajah Kelvin muncul di layar. Rambutnya masih sedikit basah, mungkin baru mandi. Di belakangnya, Yuan Yuan tidur melingkar di atas jaket hitam. Di meja depan Kelvin, buku latihan terbuka.
"Nona Guru," katanya.
"Kenapa belum tidur?"
"Soal nomor tujuh."
Keiko menghela napas, tetapi sudut bibirnya naik. "Tunjukkan."
Kelvin mengarahkan kamera ke buku. Tulisan tangannya masih miring, tetapi langkah-langkahnya semakin jelas. Keiko memperhatikan, lalu menunjuk layar meski tahu Kelvin tidak bisa melihat jarinya.
"Baris kedua benar. Baris ketiga, kamu lupa membagi semua suku."
"Semua?"
"Semua."
"Menyebalkan."
"Aturan matematika memang begitu."
"Aturan hidup juga."
Keiko terdiam.
Kelvin seolah sadar kalimatnya terdengar terlalu berat. Dia cepat-cepat menunduk lagi. "Aku kerjakan ulang."
Keiko tidak memaksa bertanya.
Dia hanya meletakkan ponsel bersandar pada kotak tisu, lalu duduk di tepi ranjang, menonton Kelvin menulis. Kadang Yuan Yuan bergerak dalam tidurnya. Kadang Kelvin mengusap kepala kucing itu dengan ujung jari tanpa melihat.
Rasanya aneh.
Mereka berada di tempat berbeda. Keiko di kamar yang penuh obat. Kelvin di kontrakan yang dulu terlalu sunyi. Namun lewat layar kecil, satu meja belajar seolah terbentang di antara mereka.
Setelah hampir empat puluh menit, Kelvin mengangkat buku ke kamera.
"Sudah selesai, Nona Guru."
Keiko memeriksa cepat. Benar.
"Bagus. Sekarang tidur."
Kelvin tidak langsung mematikan panggilan.
"Sebentar."
"Apa lagi yang belum paham?"
Kelvin menatap layar. Cahaya lampu meja membuat matanya terlihat lebih lembut dari biasanya.
"Aku mau lihat Nona Guru dulu."