NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 008

Baju Pinjaman

Ratih tidak langsung menyerang setelah menemukan celah itu.

Itu justru membuat Bunga lebih gelisah. Dua hari setelah lunch, grup WhatsApp tetap ramai seperti biasa. Ratih masih mengirim emoji, masih memuji pilihan bunga untuk charity auction, masih memanggil Bunga dengan nada manis yang sama. Tidak ada tuduhan. Tidak ada pesan menyudutkan.

"Orang yang diam setelah tahu sesuatu biasanya sedang memilih tempat paling sakit untuk menusuk," kata Bunga sambil menyetrika blouse pinjaman rental di kamar kos harian.

"Analisis yang cukup baik," jawab Tuan Misterius.

"Aku belajar dari ular-ular wangi itu."

"Jangan menyebut mereka begitu di luar kepala."

"Aku masih punya otak sendiri, Tuan."

Hari itu Melati mengajak Bunga menghadiri preview kecil untuk charity auction. Tempatnya di galeri seni hotel, lebih terang dan lebih dingin daripada acara sebelumnya. Di dinding tergantung lukisan besar yang menurut Bunga terlihat seperti tumpahan kopi mahal, tetapi Tuan Misterius mengatakan jangan pernah mengucapkan penilaian seni secara jujur di depan kolektor.

"Kalau ditanya, katakan komposisinya berani," katanya.

"Kalau komposisinya jelek?"

"Tetap berani."

Bunga tertawa pelan.

Blouse krem yang ia pakai hari itu bukan miliknya. Ada label kecil rental di bagian dalam dekat pinggang. Ia sudah memastikan label itu tidak terlihat. Namun nasib, seperti biasa, punya selera humor buruk.

Ketika seorang tamu menabraknya dari samping, gelas mocktail jeruk tumpah ke ujung blouse. Bunga refleks mundur. Melati yang berdiri di dekatnya langsung menarik tisu.

"Aduh, maaf, kena banyak?" tanya Melati.

"Sedikit. Tidak apa-apa."

"Ayo ke powder room. Kalau dibiarkan, nodanya makin susah hilang."

Bunga ingin menolak, tetapi noda itu tepat di kain pinjaman. Kalau rusak, ia harus kerja lebih lama di rental. Ia mengikuti Melati ke powder room, melewati cermin besar dan wastafel marmer.

Melati membasahi tisu, lalu membantu menekan noda dengan hati-hati. "Bahan ini sensitif. Jangan digosok."

"Kamu paham sekali."

"Aku sering merusak baju mahal waktu kecil."

Bunga hampir tertawa, tetapi tubuhnya membeku saat Melati mengangkat sedikit ujung blouse untuk melihat jahitan dalam.

Label rental itu terlihat.

Tidak besar. Tidak mencolok. Tetapi cukup jelas.

`Rental - jangan cuci sendiri.`

Melati berhenti.

Di dalam kepala, Tuan Misterius langsung hening.

Bunga menarik ujung kain dari tangan Melati. Gerakannya terlalu cepat, terlalu defensif.

"Saya bisa urus sendiri," katanya.

Melati menatapnya melalui cermin. Wajahnya tidak berubah menjadi sinis. Tidak ada tawa. Tidak ada kemenangan kecil seperti yang mungkin muncul di wajah Ratih.

Hanya ada pemahaman yang membuat Bunga justru lebih malu.

"Bunga," kata Melati pelan.

"Kalau mau bilang ke orang lain, bilang saja." Bunga menelan panas di tenggorokan. "Memang sewaan. Ponsel juga pinjaman. Sepatu kemarin juga. Cerita keluarga saya juga tidak sebagus yang kalian kira."

"Aku tidak mau bilang ke siapa pun."

"Kenapa?"

Melati meletakkan tisu di sisi wastafel. "Karena itu urusanmu."

Bunga menatapnya, tidak percaya.

"Di acara seperti ini, semua orang meminjam sesuatu," lanjut Melati. "Ada yang meminjam nama keluarga. Ada yang meminjam uang orang tua. Ada yang meminjam pengaruh suami. Kamu meminjam baju. Menurutku itu paling tidak berbahaya."

Tuan Misterius berkata sangat pelan, "Dia tidak sedang menyindir."

Bunga tahu. Justru karena itu dadanya terasa sesak.

"Tapi kamu bohong," kata Melati, kali ini lebih hati-hati. "Aku tidak tahu tentang apa saja. Aku juga tidak akan memaksa. Tapi kalau kamu dalam masalah, jangan sendirian terus."

Bunga menunduk. Air dari tisu menetes ke lantai marmer.

Ia tidak terbiasa diberi jalan keluar tanpa ditarik harga. Di jalanan, bantuan selalu punya hitungan. Di dunia orang kaya, bahkan senyum pun sering punya syarat. Melati berdiri di depannya dengan semua kesempatan untuk mempermalukan, tetapi memilih menutup pintu powder room lebih rapat.

"Kamu terlalu baik," gumam Bunga.

"Kata kakakku, itu kelemahanku."

"Kakakmu mungkin kurang makan sambal."

Melati tertawa kecil. Ketegangan di dada Bunga melonggar sedikit.

Mereka membersihkan noda bersama. Noda itu tidak hilang sempurna, tetapi cukup samar. Melati kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan scarf sutra tipis berwarna biru muda.

"Pakai ini. Jatuhkan begini." Ia menyampirkannya di bahu Bunga, menutup bagian yang terkena noda sekaligus label dalam yang sempat terlihat. "Sekarang seperti sengaja."

Bunga menatap pantulan mereka di cermin. Scarf itu langsung mengubah seluruh tampilan blouse murahnya. Ia terlihat lebih rapi, lebih mahal, lebih... diterima.

"Ini juga pinjaman?" tanya Bunga.

"Hadiah sementara."

"Itu istilah orang kaya buat pinjaman?"

"Mungkin."

Bunga tersenyum, tetapi matanya panas. Ia cepat menunduk, pura-pura membetulkan lipatan scarf.

"Jangan menangis," kata Tuan Misterius.

"Aku tidak."

"Matamu berkata lain."

"Diam."

Ketika mereka kembali ke galeri, Ratih sedang berdiri di dekat lukisan besar, berbicara dengan dua tamu. Matanya langsung jatuh pada scarf di bahu Bunga. Sesaat, senyumnya menajam.

Melati melangkah lebih dekat ke Bunga, seolah itu gerakan biasa. "Nanti sore kamu ikut aku pulang, ya."

"Ke rumahmu?"

"Iya. Aku punya beberapa baju yang sudah jarang kupakai. Kalau kamu tidak keberatan, pilih saja. Daripada kamu terus pusing sewa."

Bunga hampir berhenti berjalan. "Melati..."

"Jangan menolak dulu." Melati menatap lurus ke depan, suaranya tetap lembut. "Aku bukan memberi belas kasihan. Aku sedang memastikan temanku tidak kalah hanya karena kain."

Kata `temanku` jatuh lebih berat daripada semua perhiasan di ruangan itu.

Di dalam kepala, Tuan Misterius tidak membuat komentar tajam. Ia hanya berkata, "Terima."

Bunga menggenggam ujung scarf biru itu.

"Baik," katanya pelan. "Tapi aku akan mengembalikan semuanya."

"Kita bicarakan nanti."

Di seberang ruangan, Ratih menatap mereka berdua. Ia mungkin belum tahu semua rahasia Bunga, tetapi ia sudah melihat sesuatu yang tidak bisa ia beli dengan informasi: Melati memilih berdiri di sisi Bunga.

Sore itu, Melati benar-benar membawanya pulang.

Kamar pakaian Melati lebih luas daripada kamar kos Bunga. Ada rak sepatu tersusun berdasarkan warna, gantungan baju dengan jarak rapi, dan laci aksesori yang membuat Bunga takut bernapas terlalu dekat. Melati tidak memamerkan apa pun. Ia hanya membuka satu sisi lemari dan mengeluarkan beberapa potong pakaian: blazer putih tulang, dress biru gelap, rok hitam, dua blouse, dan satu kebaya modern sederhana.

"Ini jarang kupakai. Ukuran kita tidak jauh beda," katanya.

Bunga memegang blazer itu seperti memegang dokumen penting. "Kalau rusak?"

"Kita perbaiki."

"Kalau hilang?"

"Kita cari."

"Kalau aku tidak bisa bayar?"

Melati menutup pintu lemari pelan. "Kalau semua hal harus dibayar dulu sebelum diterima, kamu tidak akan pernah punya teman."

Bunga tidak punya jawaban untuk itu.

Untuk pertama kalinya sejak masuk dunia baru itu, Bunga tidak merasa berdiri sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!