NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028: Pulang ke Jawa Tengah

Jessica membalas rencana mendadak itu dengan voice note berdurasi hampir satu menit.

"Mei, kamu pergi ke Jawa Tengah ketemu mama pacar dan baru bilang sekarang? Kamu sadar ini level hubungan sudah naik tanpa rapat pemegang saham? Bawa buah. Bawa kue. Jangan bawa muka panik. Dan kabari aku kalau ada apa-apa."

Meilin memutar voice note itu dua kali.

Kevin, yang sedang memeriksa tiket kereta di laptop, mengangkat mata. "Jessica selalu bicara seperti sedang memimpin rapat darurat?"

"Kalau menyangkut aku, iya."

"Dia benar soal buah."

"Kamu juga setuju soal muka panik?"

"Itu sulit dibantah."

Meilin melempar bantal kecil ke arahnya. Kevin menangkapnya tanpa melihat, lalu menaruhnya kembali di sofa.

Jumat malam, mereka menyiapkan barang seperti sedang pergi jauh padahal hanya dua hari. Kevin memasukkan obat lambung Meilin ke kantong kecil transparan. Meilin memasukkan kemeja Kevin yang sudah disetrika, lalu diam-diam menambahkan salep untuk bekas luka di telinganya.

Kevin melihatnya.

"Itu perlu?"

"Kalau kamu pulang dan lupa merawat diri, aku akan terlihat gagal sebagai partner."

"Partner perusahaan atau partner hidup?"

Meilin berhenti melipat baju.

Kevin juga berhenti, seolah baru sadar kalimatnya sendiri terlalu dekat dengan sesuatu yang belum mereka sebut.

Meilin menunduk cepat. "Dua-duanya kalau perlu."

Kevin tidak menjawab. Tapi saat dia mengambil tas dari tangan Meilin, ujung jarinya menyentuh punggung tangan Meilin sedikit lebih lama.

Sabtu subuh, mereka berangkat dari Kemang saat langit Jakarta masih biru gelap.

Stasiun sudah ramai dengan keluarga yang membawa koper, pekerja yang mengejar jadwal, dan anak kecil yang mengantuk di bahu ibunya. Kevin berjalan di sisi luar, tas di satu tangan, tangan lain menggenggam Meilin.

"Aku tidak akan hilang," kata Meilin.

"Aku tahu."

"Tanganmu berkata sebaliknya."

Kevin melonggarkan genggamannya sedikit, tapi tidak melepas.

Di kereta, Meilin duduk dekat jendela. Jakarta perlahan berubah menjadi atap rumah, sawah terputus-putus, pabrik, lalu kota-kota yang lebih rendah suaranya. Kevin membuka tablet untuk membaca dokumen YunMei, tapi setelah sepuluh menit layar itu masih di halaman yang sama.

"Kamu gugup," kata Meilin.

"Tidak."

"Ko."

Kevin mematikan tablet.

Beberapa detik mereka hanya mendengar bunyi roda kereta.

"Aku terakhir pulang hampir setahun lalu," katanya. "Telepon terakhir dengan Mama juga tidak panjang. Aku bilang sibuk. Dia bilang makan yang benar. Lalu kami sama-sama diam."

"Dia tahu tentang aku?"

"Belum."

Meilin langsung duduk lebih tegak. "Belum?"

"Aku tidak mau cerita lewat telepon."

"Jadi aku akan muncul begitu saja di depan rumahnya?"

"Aku akan jelaskan."

"Kamu yakin Mama Zhu tidak akan kaget?"

Kevin menoleh ke luar jendela. "Dia pasti kaget."

"Ko."

"Tapi Mama tidak seperti keluarga Halim." Suaranya turun. "Kalau dia tidak tahu harus berkata apa, dia akan memasak."

Jawaban itu anehnya membuat Meilin lebih tenang.

Di kota tujuan, mereka melanjutkan perjalanan dengan mobil sewaan. Jalan besar berubah menjadi jalan yang lebih sempit, lalu gang kecil dengan rumah-rumah berpagar rendah. Udara tidak sedingin pegunungan, tapi lebih ringan daripada Jakarta. Di beberapa halaman, pakaian dijemur. Di warung kecil, orang-orang duduk sambil minum teh.

Meilin memegang kotak buah dan kue lapis legit di pangkuannya.

"Ini cukup?" tanyanya untuk ketiga kalinya.

"Cukup."

"Kalau kurang sopan?"

"Mama akan lebih khawatir kalau kamu membawa terlalu banyak."

"Kalau dia tidak suka aku?"

Kevin menatapnya.

"Tidak semua orang yang menyayangiku harus mengujimu dulu."

Kalimat itu membuat Meilin diam.

Dia ingin percaya. Tapi setelah Opa, kartu hitam, dokumen notaris, dan nama Halim Chengyu, bagian dirinya yang sudah membaca terlalu banyak tragedi dalam novel ini tetap bersiap menerima luka.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar besi hijau tua.

Rumah itu tidak besar. Dindingnya dicat putih gading, sedikit kusam di dekat bawah. Ada pot tanaman di kanan kiri teras, sandal rumah tertata di dekat pintu, dan jemuran handuk kecil di samping. Dari jendela yang terbuka, Meilin mencium bau bawang putih ditumis dan kuah kaldu.

Kevin tidak langsung turun.

Tangannya berada di atas gagang pintu mobil, tapi tidak menekan.

Meilin tidak mendesaknya. Dia hanya meletakkan kotak buah di kursi, lalu menyentuh lengan Kevin.

"Kalau kamu perlu satu menit, ambil satu menit."

Kevin menutup mata.

Ketika membukanya, wajahnya sudah tenang lagi. Tapi Meilin yang duduk dekat dengannya melihat ada sesuatu yang basah dan cepat disembunyikan di matanya.

Mereka turun.

Pagar tidak terkunci. Kevin mendorongnya pelan. Engselnya berbunyi kecil, bunyi yang sangat biasa, tapi membuat bahu Kevin menegang.

Sebelum mereka sempat mengetuk, pintu rumah terbuka dari dalam.

Seorang perempuan berdiri di ambang pintu dengan mangkuk sayur di tangan. Rambutnya diikat rendah, wajahnya tidak muda lagi, tapi matanya jernih dan hangat. Celemek sederhana melekat di tubuhnya. Uap dari dapur mengikuti langkahnya sampai teras.

Dia melihat Kevin.

Mangkuk di tangannya hampir miring.

"Kevin?"

Suara itu tidak keras. Justru terlalu pelan untuk menampung rindu yang sudah lama ditahan.

Kevin berdiri kaku di depan pagar.

"Mama."

Mata perempuan itu memerah dalam sekejap.

Meilin menahan napas, tidak tahu harus mundur atau maju.

Mama Zhu menatap Kevin lama, lalu tatapannya beralih ke Meilin, ke kotak buah, ke tas kecil di tangan mereka. Banyak pertanyaan lewat di wajahnya, tapi tidak satu pun yang keluar lebih dulu.

Dia hanya mengusap cepat sudut matanya dengan punggung tangan.

"Masuk dulu," katanya, suaranya bergetar tapi lembut. "Perjalanan jauh. Kalian pasti belum makan."

Kevin menunduk.

Dan Meilin akhirnya mengerti.

Di rumah ini, pintu pertama selalu dibuka dengan makanan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!