NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Malam Bayi Ditukar

Terlahir Kembali Malam Bayi Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Putri asli/palsu
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Buana

Nara Ayuningtyas pernah mati setelah kehilangan segalanya.
Suaminya meninggal. Kedua putranya menyusul. Dan putri yang ia besarkan dengan segenap cinta justru mengaku bahwa semua itu berawal dari satu kejahatan: pertukaran bayi pada malam persalinan.
Ketika Nara membuka mata, ia kembali ke tahun 2006—tepat saat air ketubannya pecah di sebuah klinik bersalin yang gelap karena mati listrik. Di balik pintu, bidan yang ia percaya sedang menyiapkan dua gelang bayi yang sama.
Kali ini, Nara tidak akan terlambat.
Dengan bantuan seorang perawat yang ketakutan, ia berhasil memastikan Kirana, putri kandungnya, kembali ke pelukannya. Namun Siska, adik iparnya, tetap percaya pertukaran itu berhasil. Ia menunggu hari ketika “putrinya” tumbuh besar, kaya, dan bisa direbut kembali.
Sementara Nara membangun Cahaya Nara dari sudut dapur rumah cicilan hingga menembus panggung elite Jakarta, Raka Wiratama—suaminya yang dingin dan taat aturan—memilih berdiri di sisinya, lagi dan lagi. Bukan dengan menyalahgunakan seragamnya, melainkan dengan membuat kebenaran mendapat jalan.
Delapan belas tahun kemudian, Siska datang ke sebuah gala di Menteng membawa gelang lama dan hasil DNA.
Di depan kamera, ia menunjuk Kirana dan berteriak, “Dia putriku!”
Namun sebelum Nara menjawab, Maya—gadis yang selama ini dibesarkan Siska—melangkah ke atas panggung sambil membawa rekaman yang dapat menghancurkan kebohongan seluruh keluarga.
Malam itu, siapa yang sebenarnya akan kehilangan anaknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Dua Gelang Bayi

Gelap menelan wajah Bu Rini, tetapi Nara sudah melihat cukup banyak.

Dua gelang bayi.

Dua lembar kertas tahan air dengan ukuran, warna, dan tali pengikat yang sama. Bu Rini telah menyiapkannya sebelum satu pun bayi lahir.

“Nyalakan lampunya,” kata Nara.

Suara hujan menutup kalimatnya. Bu Rini tetap berdiri di dekat meja, hanya bentuk tubuhnya yang terlihat dari kilat di balik jendela.

“Listrik mati. Jangan panik.”

“Ibu yang mematikan lampu darurat.”

Hening jatuh selama satu detik.

Kemudian korek api berbunyi. Nyala kecil muncul di tangan Bu Rini. Ia menyalakan lampu minyak dari rak bawah, lalu meletakkannya di meja persalinan.

Cahaya api bergoyang di dinding. Kedua gelang tadi sudah tidak ada di telapak tangannya.

“Kamu kesakitan sampai salah lihat,” ucapnya.

Nara mencoba mengangkat tubuh, tetapi kontraksi membuat panggulnya seperti diremukkan dari dalam. Ia jatuh kembali ke bantal dengan napas terputus.

“Vania!”

“Jangan berteriak. Tenagamu akan habis.”

“Vania!”

Pintu terbuka. Perawat muda itu berlari masuk sambil membawa beberapa lembar kain.

“Mbak Nara?”

Nara menunjuk meja dengan tangan gemetar. “Bu Rini membawa dua gelang bayi.”

Vania memandang bidan seniornya.

Bu Rini mendengus. “Kotak gelang ada di sana. Tentu saya menyiapkan lebih dari satu.”

“Bukan dari kotak.” Nara menahan tatapan Vania. “Dari saku.”

Vania tidak menjawab. Matanya turun sekilas ke saku seragam Bu Rini, lalu kembali ke wajah Nara.

“Periksa dia,” perintah Bu Rini. “Kontraksinya makin rapat.”

Kali ini Vania bergerak tanpa membantah. Ia memeriksa denyut bayi, membantu Nara mengubah posisi, lalu melihat jam dinding.

“Sudah hampir tengah malam.”

Dari ruang sebelah terdengar erangan perempuan.

Nara mengenali suara itu.

Siska.

Dalam kehidupan pertama, semua orang mengatakan persalinan mereka terjadi nyaris bersamaan. Keluarga menyebutnya kebetulan yang indah. Dua bayi perempuan lahir pada malam yang sama dari dua perempuan yang terhubung melalui keluarga Wiratama.

Tidak ada yang bertanya mengapa Siska, yang perkiraan persalinannya masih beberapa hari lagi, tiba-tiba mengalami kontraksi hebat tepat saat Nara melahirkan.

Tidak ada yang bertanya mengapa ibu Siska sendiri berada di klinik dan mengendalikan kedua ruang bersalin.

“Kenapa Mbak Siska juga melahirkan malam ini?” tanya Nara.

Tangan Bu Rini yang sedang menyusun kasa berhenti.

“Memangnya bayi meminta izin sebelum lahir?”

“Tadi sore dia belum mengeluh apa-apa.”

“Kamu bertemu dia?”

Nara tidak menjawab.

Ia memang tidak bertemu Siska hari ini dalam kehidupan sekarang. Namun ingatan lamanya menyimpan percakapan keluarga setelah persalinan. Siska datang ke klinik hanya untuk pemeriksaan, lalu mendadak masuk ruang bersalin setelah ditangani Bu Rini.

Bu Rini mendekati ranjang. “Kamu terlalu memikirkan orang lain. Urus bayimu sendiri.”

Itulah yang ingin dilakukan Nara.

Kontraksi berikutnya datang lebih keras. Vania memeriksa dan segera memanggil Bu Rini.

“Sudah waktunya.”

Ruangan mendadak dipenuhi gerakan. Kain dibentangkan. Baki logam digeser. Lampu minyak dipindahkan lebih dekat. Bu Rini memasang sarung tangan, sementara Vania berdiri di sisi Nara dan mengarahkannya bernapas.

“Mbak Nara, dengarkan saya. Saat kontraksi datang, dorong. Di antaranya, ambil napas.”

Nara mengangguk.

Ia pernah melalui persalinan ini, tetapi tubuh tidak menyimpan keberanian dari kehidupan lama. Rasa sakit tetap baru. Ketakutan tetap nyata.

Yang berbeda hanya satu.

Kali ini ia tahu seseorang sedang menunggu kesempatan untuk mengambil putrinya.

“Gelangnya,” kata Nara.

Bu Rini menatap tajam. “Sekarang bukan waktunya.”

“Vania sudah berjanji.”

Vania menelan ludah. “Saya akan menulis dan memasangnya begitu bayi lahir.”

“Di depan saya.”

“Ya.”

Bu Rini membuka mulut, tetapi jeritan dari ruang sebelah memotongnya. Suara benda jatuh terdengar di lorong. Seseorang memanggil Bidan Rini.

“Siska juga sudah masuk tahap akhir,” kata Bu Rini.

“Saya tidak bisa menangani dua persalinan sekaligus,” ujar Vania.

“Selesaikan yang ini dulu.”

Nada Bu Rini datar, seolah dua bayi yang datang hampir bersamaan bukan masalah. Seolah ia sudah menghitung setiap menitnya.

Nara menatap jam di dinding. Jarum panjang bergerak melewati angka dua belas.

Tanggal telah berganti.

19 Januari 2006.

“Sekarang, Mbak!” seru Vania.

Nara mengejan.

Sakit merobeknya. Ia berteriak, kehilangan napas, lalu mendengar Vania menyuruhnya berhenti sejenak. Bu Rini mengucapkan sesuatu yang tidak tertangkap. Hujan, erangan dari ruang sebelah, dan detak darah di telinga bercampur menjadi satu.

Kontraksi lain datang.

Nara mendorong lagi.

Di tengah nyeri yang membuat pandangannya memutih, ia mengingat putrinya dalam kehidupan pertama. Bukan sebagai bayi, melainkan sebagai seorang gadis yang berdiri jauh darinya, dibesarkan dengan kata-kata yang membuatnya percaya bahwa keberadaannya adalah kesalahan.

Maafkan Ibu.

Tidak. Bukan maaf.

Kali ini Nara akan memberinya hidup yang berbeda.

Tangisan bayi pecah di ruangan.

Kecil. Serak. Namun hidup.

Seluruh tubuh Nara melemas. Air mata mengalir ke pelipis tanpa bisa ia tahan.

“Perempuan,” kata Vania, napasnya ikut gemetar. “Bayi perempuan.”

“Kirana,” bisik Nara.

Vania membawa bayi itu ke bawah cahaya lampu minyak, mengeringkan tubuhnya, lalu melakukan pemeriksaan awal. Bu Rini bergerak hendak mengambil alih.

“Biar saya,” katanya.

“Tidak.” Suara Nara nyaris hilang, tetapi Vania mendengarnya. “Vania.”

Perawat muda itu berhenti. Ia menatap Nara, kemudian mengambil satu gelang kosong dari kotak resmi di atas meja.

“Nama ibu?”

“Nara Ayuningtyas.”

Vania menulisnya.

“Waktu lahir?”

Ia melihat jam. “Pukul nol nol sepuluh.”

“Tulis sebelum dipasang.”

Bu Rini menarik napas kasar. “Dia tahu pekerjaannya.”

Vania menuliskan waktu, jenis kelamin, dan nomor catatan sementara. Ia mengangkat gelang itu agar Nara dapat melihat tulisan di permukaannya.

“Saya pasang sekarang.”

Gelang melingkar di pergelangan kaki kecil Kirana.

“Bawa dia ke sini,” pinta Nara.

“Pemeriksaannya belum selesai.”

“Saya mau melihat ketiak kanannya.”

Vania tampak bingung, tetapi ia membuka kain lebih lebar. Dengan hati-hati, ia mengangkat lengan kanan bayi.

Di bawah ketiak Kirana, sedikit ke arah dada, ada tanda kecokelatan kecil.

Melengkung.

Seperti bulan sabit.

Nara terisak.

Itu dia.

Putrinya.

Bukan laporan laboratorium. Bukan dokumen resmi. Bukan bukti yang bisa menyeret siapa pun ke pengadilan. Namun bagi Nara, tanda itu adalah tali yang menghubungkan dua kehidupan.

“Foto,” katanya.

Vania mengerutkan kening. “Apa?”

“Tolong foto gelang dan tanda lahirnya. Dalam satu gambar kalau bisa.”

“Untuk apa?”

“Untuk catatan saya.”

Bu Rini melangkah mendekat. “Tidak perlu. Catatan klinik cukup.”

Nara menatap Vania. “Saya ibunya. Saya minta foto pertama anak saya.”

Permintaan itu terdengar wajar. Seorang ibu ingin menyimpan foto pertama bayi perempuannya.

Vania merogoh saku dan mengeluarkan ponsel berkamera sederhana. Ia memosisikan Kirana di bawah lampu minyak, memastikan tulisan gelang terlihat, lalu mengambil dua gambar. Kilatan kecil memenuhi ruangan.

“Satu lagi dari tanda lahirnya,” kata Nara.

Vania menurut.

Bu Rini menatap ponsel itu terlalu lama.

“Berikan ponselnya,” kata Bu Rini.

Vania menahannya di depan dada. “Untuk apa?”

“Saya mau memastikan tidak ada bagian tubuh pasien yang terlihat. Klinik bisa mendapat masalah.”

“Yang terlihat hanya gelang dan lengan bayi.”

Bu Rini mengulurkan tangan. “Biar saya periksa.”

Nara segera berkata, “Tunjukkan dari tempatmu. Jangan serahkan.”

Vania ragu, lalu memutar layar ke arah Bu Rini tanpa melepas ponsel. Foto itu memang hanya menampilkan kain, gelang, dan kulit kecil di bawah ketiak.

“Hapus setelah dikirim kepada saya,” kata Nara.

“Tidak perlu dikirim malam ini,” sahut Bu Rini.

“Itu foto anak saya.”

Tatapan kedua perempuan itu bertemu. Bu Rini akhirnya menurunkan tangannya, tetapi urat di pelipisnya menegang.

Vania menyimpan kembali ponsel tersebut. Kali ini ia memasukkannya ke saku bagian dalam, bukan saku dada yang terbuka.

Dari sebelah, jeritan Siska berubah menjadi tangis yang pecah. Seorang petugas memanggil lagi.

“Bidan Rini!”

Bu Rini menoleh cepat. “Vania, ikut saya.”

“Saya sedang mengawasi Mbak Nara.”

“Bayinya sudah lahir. Saya butuh bantuan di sebelah.”

Nara berusaha meraih Kirana, tetapi tubuhnya belum selesai melalui persalinan. Kakinya gemetar dan kepalanya berputar.

“Letakkan dia di dada saya.”

Vania menoleh pada Bu Rini.

“Bayi ini lahir sedikit lebih awal,” kata Bu Rini. “Bawa ke meja penghangat dulu. Setelah itu kita kembalikan.”

“Jangan dibawa keluar,” kata Nara.

“Mejanya di ujung ruangan.”

Bu Rini mengambil Kirana dari tangan Vania sebelum perawat itu sempat menjawab. Bayi kecil itu menangis, lengannya bergerak lemah di luar kain.

Nara mencoba bangun.

Rasa hangat tiba-tiba mengalir di antara pahanya. Vania melihatnya dan langsung kembali ke sisi ranjang.

“Bidan Rini, perdarahannya bertambah.”

“Tangani. Saya bawa bayi ke penghangat.”

“Jangan!” Nara mengulurkan tangan, tetapi hanya menyentuh udara.

Bu Rini berbalik. Dalam cahaya lampu minyak, punggungnya menutup pandangan Nara pada Kirana.

Lalu lampu itu padam.

Kegelapan datang sekali lagi.

Nara mendengar pintu dibuka.

Tangisan Kirana menjauh ke lorong.

“Vania, anak saya dibawa!”

“Mbak, jangan bergerak. Saya harus menghentikan perdarahannya.”

“Kejar dia!”

“Saya tidak bisa meninggalkan Mbak sekarang.”

Tubuh Nara menggigil. Ia terjebak di atas ranjang, sementara Vania menekan kain dan memeriksa kondisinya. Dari ruang sebelah terdengar tangisan bayi kedua.

Maya telah lahir.

Beberapa menit terasa seperti satu kehidupan penuh.

Ketika lampu darurat akhirnya menyala kembali, Bu Rini masuk sambil menggendong bayi terbungkus kain. Sebuah gelang bertuliskan nama Nara melingkar di kaki kecilnya.

“Nih,” katanya. “Anakmu sudah aman.”

Ia meletakkan bayi itu di sisi Nara.

Dengan tangan lemah, Nara membuka kain di bahu kanan bayi tersebut. Jemarinya bergerak ke bawah ketiak.

Kulit itu bersih.

Tidak ada bulan sabit.

1
lin sya
kpn siska dpt karma, greget, udh irian, keras sm anak, klo suatu saat dia tahu maya bneran anak kndungnya ttp brskp kasar gk ya, sbesar apapun lo mau hncurin nara gk akan bsa walaupun lwt anak kcil
lin sya
knp dri bayi smpai remaja maya diskitin mulu sm siska, trllu ambisi smpai kebenciannya nyktin darah dging sndiri, dan jgn smpai jg siska ngeracunin pikiran maya smpai anggap nara ibu kndungnya pdhl nara lbih cerdas dan pnya bkti kuat jika suatu saat siska ktrlaluan
aku
🤣🤣🤣 cuaca panas ya bim, lgsg ingat es 🤣🤣
aku
senangnya laris manis jahitannya ya na 😁
aku
ngimpi kau dasar bidan brengshake!! titelmu ternodai sm hitamnya hatimu!! aih! baper aq 😭😭
aku
kenapa lagi ini 😭😭
aku
hiiii astaga tegang amat baca pagi2 pula 😭😭 untung dh ditukar lg
aku
baru mulai udh tegang bgt. pengen bgt kutimpuk baki muka bidan rini nya 😭😭
lin sya
bu rini lari dari tanggung jawab, msih ada siska , smga kbnaran trungkap
Wayan Sucani
Tegang...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!