Temmy Lynn, seorang dokter cantik super jenius tapi sangat plenger, ceplas ceplos dan omongannya kadang sepedas seblak level 100. dia bisa menyembuhkan segala macam penyakit tanpa terkecuali. Dia hanya peduli dengan uang, baginya itu sangat realistis.
Kailendra Adyaksa, tuan muda dingin yang mengalami kelumpuhan setelah kecelakaan mobil yang dialaminya dua tahun yang lalu. Dia menolak semua pengobatan dan orang-orang yang mencoba mendekat termasuk orang tuanya. Apa yang terjadi jika kedua manusia beda karakter ini bertemu? Yuk kepoin keseruan mereka di sini guys..!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaeyunie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
"Lynn, bahan yang ini cuma dikit lagi tapi kalau udah ada lagi gue anterin ke tempat lu. Shareloc aja"
"Oke ntar gue Shareloc. Gue balik dulu Luc, bayi gede gue takut rewel. Hahaha.."
"Oke, take care Lynn, kalau kata gue mah mendingan Pepet itu si Kai, super ganteng and super tajir, lu gak bakal susah"
"Ah males gue ngurusin romance, mendingan ngurusin duit aja sih gue mah. Dah ah gue balik. Bye.. Wassalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Lynn segara kembali ke kediaman Kai Setelah mendapatkan apa yang dia perlukan. Besok Kai harus mengikuti rapat direksi. Lynn harus memastikan persiapan Kai sebelum masuk ke Medan pertempuran besok. Ia tidak ingin Kai kalah atau terlihat menyedihkan. Setelah hampir satu jam akhirnya Lynn sampai ke rumah. Begitu masuk ke rumah Lynn melihat Kai sedang kesulitan masuk ke kamarnya. Keringat dingin mengucur dari dahi pria itu.
Lynn buru-buru menghampirinya.
"Ada apa?"
"Entah lah, dadaku sesak dan terasa panas, kakiku tidak bisa digerakkan" jawab Kai. Lynn menyadari ada yang tidak beres dengan Kai. Hawanya beda.
"Kau ke lantai atas?" tanya Lynn.
"Aku hanya mengambil dokumen dan baju untuk besok"
"Kenapa kau bandel sekali? Aku sudah bilang jangan dulu ke atas" omel Lynn.
"Aku hanya sebentar itu juga dengan Alan"
Tubuh Kai terlihat bergetar hebat menahan rasa nyeri. Lynn langsung mengambil air putih dan membacakan doa. Ia langsung memberikannya kepada Kai.
"Minum dulu" ucap Lynn seraya memberikan gelas kepada Kai. Namun Kai tidak merespon, ia terlihat masih sangat menahan sakit. Lynn menangkup pipi Kai.
"Hei, look at me, istigfar bisa?" Lynn menatap lurus mata Kai, ia pun mengangguk. Dengan susah payah dia mengucapkan istigfar. Sesudah itu ia langsung meminumnya.
Keadaan Alan juga sama, namun tidak separah Kai. Lynn pun memberikan air putih juga untuk Alan. Sesudah meminum air putih itu, Kai dan juga Alan langsung muntah tapi setelah itu keadaan mereka mulai membaik.
"Lebih baik kalian mandi, sesudah itu langsung wudhu" ucap Lynn. Alan mengangguk dan langsung meninggalkan Lynn dan Kai.
"Mandiin" ucap Kai tersenyum jahil.
"Heh masih aja bisa macem-macem, mandi sendiri sana, gak usah manja"
Kai terkekeh, ia langsung masuk ke kamarnya. Kali ini terasa ringan, tidak seperti sebelumnya. Lynn sendiri langsung menyiapkan obat untuk Kai karena setelah minum obat ia akan kembali melakukan terapi dan melatih Kai berdiri dengan durasi yang lebih lama.
"Minum lah, sesudah ini kita latihan lagi. Sejauh ini perkembanganmu sangat pesat, aku sangat bersyukur" Lynn menyerahkan obat yang telah dia racik kepada Kai.
"Pahit sekali, apa tidak ada yang lebih baik?" Kai menggerutu seperti anak kecil. Lynn terkekeh geli.
"Apa yang kau harapkan dari obat? Manis? Noh minum aja Bodrexin kalau mau manis mah" jawab Lynn.
Hubungan Lynn dan juga Kai sudah seperti teman akrab, tidak kaku seperti saat pertama kali Lynn menginjakan kaki di kediaman Kai. Bahkan sekarang Kai terang-terangan menggoda Lynn.
"Dah yuk kita latihan, kali ini kau harus lebih lama berdiri" Kai hanya menganggukkan kepalanya. Walaupun masih terasa sakit tapi Kai memaksakan diri mengikuti arahan Lynn.
"Langkahkan kakimu sedikit" Kai mencoba menggerakkan kakinya. Tangannya masih bertumpu pada tiang disebelahnya. Rasa sakit menjalar ke seluruh bagian kakinya. Namun ia tetap menahannya dan berusaha melangkah.
Secara perlahan kaki Kai melangkah walaupun hanya 1 langkah. Tubuh Kai linglung, ia kembali jatuh namun Lynn menangkapnya.
"Gak usah ngambil kesempatan peluk-peluk ya" omel Lynn karena Kai memanfaatkan keadaan untuk memeluk Lynn.
"Dikit doang My, pelit amat, anggap hadiah aku dah kesakitan gini"
"Anjay geli banget dengernya, panggil Lynn aja sih"
"Gak ah, biar beda sama yang lain"
"Ya serah lu deh, sekarang lepasin pelukannya, pindah ke kursi"
"Kamu My bukan Lu" protes Kai.
"Kamu gak deg-degan gitu aku peluk?" tanyanya lagi.
"Kalau aku gak deg-degan mati dong, ada-ada aja pertanyaannya. Lagian kamu kenapa sih jadi aneh gini? Mana tuan muda Kailendra yang dulu menyambut dokter cantik serba bisa ini dengan pistol? Untung aku cewek luar biasa ya, kalau kena sama yang lain mah udah jantungan duluan" omel Lynn panjang lebar.
"Makanya aku suka, kamu bisa balas aku pake pisau mungilmu itu, cocok banget kan kita?"
"Ngarep. Dah sana istirahat, siapin diri buat besok, ingat jangan ke lantai atas tanpa sepengetahuanku"
"Kamu gak takut gitu My sama yang 'mereka'?"
"Gak, aku lebih takut saldo tabunganku berkurang"
"Dasar, makanya mendingan sama aku aja, tuh semua kartuku buat kamu"
"Gak makasih, aku gak mau pusing mikirin masalah percintaan, inget kata Patkay 'begitulan cinta, deritanya tiada akhir"
Lynn mendorong kursi roda Kai keluar dari ruangan terapi. Kai menghembuskan nafas panjang, sepertinya untuk mendapatkan Lynn tidak akan mudah tapi dia tidak akan menyerah karena baru Lynn yang menolaknya secara terang-terangan. Ia yakin Lynn bukan cewek yang mudah tergoda seperti mantan-mantan pacar sebelumnya.
Dulu Kai sempat menjalin hubungan dengan beberapa orang wanita. Karena kesibukannya mengurus dan mengembangkan 2 perusahaan sekaligus, ia tidak punya waktu untuk kekasihnya. Bahkan untuk dirinya sendiri pun nyaris tidak ada. Disitulah beberapa kali Elandra menggoda pacar Kai dengan memberikan waktu dan juga kemewahan. Wanita mana yang tidak tergoda, apalagi wajah Elandra tak kalah tampan dengan Kai, walaupun Kai memang lebih tampan darinya. Namun tidak ada yang tahu bahwa Eland melakukan semua itu ada tujuannya, bukan hanya sekedar merebut pacar Kakaknya.
Menurut Elandra, wanita-wanita Seperti itu tidak pantas untuk kakaknya. Mereka hanya wanita matre yang hanya menginginkan uang Kakaknya. Untuk itu lah Eland menjauhkan mereka dari Kai. Biar saja Kai membencinya, suatu saat ia yakin kakaknya itu akan tahu maksud dia sebenarnya.
"Kau ikut aku besok My" ujar Kai tiba-tiba.
"Untuk apa? Aku gak ada urusan di sana"
"Tolonglah, setidaknya kau ikut sebagai dokter pribadiku, kalau aku ada apa-apa di sana, kau juga yang rugi karena tidak akan menerima bayaranmu" Kai mendramatisir situasi dan sepertinya itu berhasil.
"Baiklah aku akan menemanimu sebagai dokter pribadi, aku gak mau ada yang mengusik uangku" Jawab Lynn mantap. Kai dan Alan saling pandang dan keduanya pun tersenyum. Usulan Alan untuk mengungkit masalah uang kepada Lynn ternyata berhasil dan cenderung mudah. Awalnya mereka fikir akan kesulitan membujuk Lynn tapi ternyata uang adalah senjata yang sangat ampuh bagi Lynn.
Selain membawa Lynn, Kai juga menyiapkan beberapa anak buahnya untuk berjaga, ia membawa 5 orang pengawal dari villa untuk mengikutinya secara diam-diam. Siang itu Kai sengaja menghampiri Harun, ia percaya apa yang Lynn katakan kalau mereka orang-orang yang amanah.
"Paman Harun" sapa Kai begitu tiba di mess para bodyguardnya.
"Tuan muda, ada apa gerangan sampai ke sini, mari masuk" Harun kaget namun ia langsung membawa Kai masuk ke dalam mess, di sana beberapa pengawal terlihat sedang berkumpul, sama seperti Harun mereka juga terlihat sangat kaget dan langsung berdiri memberi hormat.
"Tidak usah formal seperti itu, lanjutkan saja kegiatan kalian, aku ada perlu dengan paman Harun" ujar Kai menjelaskan maksud kedatangannya.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk tuan muda?"
"Aku ingin minta tolong paman, besok aku akan ke perusahaan untuk menghadiri rapat direksi. Aku minta 5 orang mengikutiku secara diam-diam untuk berjaga jaga"
"Tentu saja tuan muda, paman sudah mendengarnya dari nona Lynn. bahkan sebelum tuan memintanya, paman sudah menyiapkan mereka untuk mengikuti tuan muda besok. Paman Takut terjadi apa-apa"
Kai tentu saja terkejut mendengar penuturan kepala pengawalnya itu. Ia tidak menyangka pria paruh baya itu sudah mempersiapkan semuanya tanpa dia minta.
"Mereka lah yang besok akan mengikuti tuan muda" ujar Harun menunjuk 5 orang yang sedang berkumpul tadi.
"Tuan pasti sudah tahu Rendra kan?" Kai mengangguk.
"Nah yang lainnya itu Bobby, Leon, Doni dan Rega" kelima orang tersebut pun mengangguk ke arah Kai.
"Terima kasih Paman, Terima kasih semuanya, maaf selama 2 tahun ini saya tidak pernah berinteraksi atau mengenal kalian semua" ucap Kai tulus.
"Tuan muda tidak usah minta maaf, walaupun kami tidak pernah berinteraksi langsung dengan tuan, percayalah kami selalu di pihak tuan muda" ujar Rendra. Kai terharu, ternyata banyak yang berpihak kepadanya. Dulu neneknya melarang Kai berhubungan langsung dengan Harun dan anak buahnya karena menurut neneknya meraka adalah susupan orang yang tidak menyukai Kai. Namun ternyata semua itu tidak benar.
"Paman aku pergi dulu, terima kasih sekali lagi, wassalamualaikum" ucap Kai pamit.
"Waalaikumsalam, Saya antar tuan muda" Rendra langsung memegang kursi roda Kai. Kai pun mengangguk. Hari ini ia akan istirahat, karena besok pasti memerlukan energi yang sangat besar.