NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 015: Detak yang Terlalu Keras

Meilin terbangun karena suara perawat mengganti botol infus.

Hal pertama yang dia sadari bukan lampu kamar, bukan nyeri samar di perut, melainkan tangan Kevin yang masih menggenggam tangannya.

Tidak erat.

Tapi tidak lepas.

Kevin tertidur di kursi dengan posisi yang pasti membuat punggungnya sakit. Kepala sedikit menunduk, rambut jatuh ke dahi, dan satu tangannya tetap berada di tepi ranjang, menutup telapak tangan Meilin seolah itu tugas terakhir yang tidak boleh dia tinggalkan.

Perawat tersenyum kecil saat melihat mereka.

"Pacarnya capek sekali, ya?"

Meilin langsung panas sampai telinga. "Bukan..."

Kevin membuka mata.

Perawat sudah selesai mengganti infus dan tidak menunggu penjelasan. "Nanti dokter visit sekitar jam sembilan. Kalau sudah tidak mual dan bisa makan, kemungkinan boleh pulang sore."

"Terima kasih," jawab Kevin, suaranya masih serak karena baru bangun.

Begitu pintu tertutup, Meilin menarik tangannya pelan.

Kevin juga melepaskan.

Mereka sama-sama melihat ke arah lain.

"Punggungmu sakit?" tanya Meilin akhirnya.

"Tidak."

"Bohong."

"Sedikit."

"Aku sudah bilang kursinya sempit."

"Aku juga sudah bilang pernah tidur di tempat lebih buruk."

Meilin menatapnya. "Itu bukan hal yang perlu kamu banggakan."

Kevin diam.

Pagi itu dokter memeriksa Meilin lagi. Nyeri tekan sudah berkurang, mual membaik, dan tekanan darahnya lebih stabil. Dokter memperbolehkan makanan lunak, lalu mengatakan jika beberapa jam ke depan tidak ada keluhan, Meilin boleh pulang sore dengan obat lambung dan aturan makan teratur.

Kevin mendengarkan semua instruksi seperti sedang menerima kontrak penting.

"Tidak boleh kopi dulu," kata dokter.

"Dia tidak minum kopi," jawab Kevin.

"Makan sedikit tapi sering."

"Saya catat."

"Hindari pedas dan asam."

Kevin menoleh ke Meilin. "Dengar?"

Meilin yang sedang pura-pura tidak merasa disidang mengangguk kecil.

Setelah dokter pergi, sarapan rumah sakit datang: bubur polos, sup bening, dan teh hangat. Kevin membuka tutup makanan, meniup sendok pertama, lalu menyodorkannya.

Meilin menatap sendok itu.

"Aku bisa makan sendiri."

"Tanganmu masih infus."

"Tangan satunya bisa."

Kevin menatap gelang pasien di pergelangan tangannya, lalu infus, lalu wajah Meilin.

"Tiga suap."

Meilin hampir tertawa. "Kamu balas dendam?"

"Aku belajar dari perawat galak."

Dia kalah.

Meilin menerima tiga suap pertama dari tangan Kevin. Buburnya hambar, tapi anehnya tenggorokannya terasa penuh. Setiap kali Kevin mengangkat sendok, gerakannya hati-hati. Tidak ada kata manis. Tidak ada panggilan sayang. Tapi semua yang dia lakukan seperti berkata, aku melihatmu, aku menjagamu, aku tidak pergi.

Pada suapan keempat, Meilin mengambil mangkuk sendiri.

"Aku lanjut."

Kevin tidak memaksa. Dia hanya memastikan mangkuk tidak terlalu dekat dengan selang infus.

Siang itu berjalan lambat.

Kevin mengurus pembayaran sementara, mengambil obat di farmasi rumah sakit, mengecek pesan dari kantor, lalu kembali ke kursi di samping ranjang. Meilin beberapa kali menyuruhnya pulang mandi dan istirahat. Kevin selalu menjawab nanti.

Nanti itu tidak pernah datang.

Menjelang sore, infus Meilin dilepas. Bekas plester di tangannya terasa sedikit perih. Perawat menjelaskan obat dan jadwal kontrol jika keluhan berulang. Kevin menyimpan semuanya di satu map bening.

Meilin melihat map itu.

"Kamu benar-benar seperti manajer pasien."

"Kalau pasiennya patuh, kerjaku lebih mudah."

"Aku patuh."

Kevin menatapnya.

Meilin menunduk. "Mulai sekarang."

Ada jeda pendek.

"Jangan janji kalau cuma untuk menenangkanku," kata Kevin.

Meilin mengangkat wajah.

Nada Kevin tidak keras. Justru karena tidak keras, kalimat itu masuk lebih dalam. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya sangat sadar. Tidak seperti saat demam. Tidak seperti saat panik di IGD. Ini Kevin yang sepenuhnya melihatnya.

"Aku tidak cuma menenangkanmu."

"Kamu sering bilang nanti. Makan nanti. Tidur nanti. Sakit nanti. Sampai tubuhmu menyerah."

"Aku tahu."

"Tidak. Kamu belum tahu." Kevin menaruh map obat di meja kecil. "Aku pulang dan lihat kamu hampir pingsan. Kamu pikir aku marah karena uang? Karena kerjaanmu telat?"

Meilin menggenggam ujung selimut.

"Aku tidak tahu harus pikir apa."

"Aku takut."

Kata itu keluar pelan, tapi menghentikan semua suara di kepala Meilin.

Kevin menatapnya tanpa berpaling.

"Aku takut kamu kenapa-kenapa saat aku tidak ada."

Meilin merasa dadanya seperti dipukul dari dalam.

Dia pernah membaca Kevin sebagai karakter. Dia tahu kelak pria ini bisa sangat kuat, sangat kaya, sangat dingin pada musuh-musuhnya. Tapi tidak ada satu paragraf pun di novel yang menyiapkannya untuk Kevin yang duduk di kursi rumah sakit, mengaku takut dengan suara serendah itu.

"Ko..."

"Jangan panggil begitu kalau kamu mau mengalihkan pembicaraan."

Meilin menutup mulutnya.

Kevin menarik napas, lalu membuangnya perlahan. "Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu beberapa hari ini. Aku tidak tahu kenapa kamu berubah. Aku juga belum tahu apakah aku bisa percaya semuanya."

Meilin menunduk.

"Tapi aku tahu satu hal," lanjutnya. "Aku tidak mau melihatmu jatuh di lantai seperti kemarin."

Mata Meilin panas.

"Aku tidak akan seperti itu lagi."

"Kamu tidak bisa janji sendirian."

"Lalu bagaimana?"

Kevin menatapnya lama.

Pertanyaan itu menggantung di kamar rumah sakit yang sudah hampir siap ditinggalkan. Di luar, suara roda troli lewat. Di dalam, jarak antara ranjang dan kursi terasa lebih sempit daripada semalam.

"Kalau sakit, bilang," kata Kevin. "Kalau lapar, makan. Kalau capek, berhenti. Kalau uang kurang, kita pikirkan bersama. Jangan putuskan sendiri sampai tubuhmu yang bicara."

Kita.

Kata itu muncul lagi.

Dulu, ketika Meilin mengucapkannya, Kevin mempertanyakan. Sekarang Kevin yang mengatakannya tanpa sadar.

Meilin menatapnya. "Kita?"

Kevin seperti baru menyadari pilihan katanya. Wajahnya tetap tenang, tapi telinganya sedikit memerah.

"Kamu tahu maksudku."

"Aku mau dengar lagi."

"Meilin."

"Aku pasien. Jangan galak."

Kevin menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Lelah, tak berdaya, dan ada sesuatu yang jauh lebih lembut dari semua itu.

"Kita," ulangnya akhirnya, hampir berbisik.

Satu kata itu membuat jantung Meilin berdetak begitu keras sampai dia takut Kevin bisa mendengarnya.

Seperti drum.

Tidak. Lebih kacau dari drum. Seperti seluruh kamar rumah sakit tiba-tiba mengecil, menyisakan hanya wajah Kevin, suara napasnya, dan jarak yang semakin tidak aman di antara mereka.

Meilin tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu.

Kevin bangkit dari kursi, mungkin ingin mengambil map obat. Meilin juga bergerak, mungkin ingin menahan selimut agar tidak jatuh. Tangan mereka bertemu di tepi ranjang. Bukan pertama kali mereka bersentuhan, tapi kali ini keduanya sadar penuh.

Kevin menunduk menatap tangan itu.

Meilin tidak menariknya.

Dia hanya mengangkat wajah.

Tatapan Kevin naik ke matanya.

"Kalau kamu menatapku seperti itu," suara Kevin rendah, "aku bisa salah paham."

Napas Meilin tersangkut.

"Salah paham apa?"

Kevin tidak langsung menjawab. Pandangannya turun sebentar ke bibir Meilin, lalu kembali ke matanya, seolah memberi kesempatan terakhir untuk mundur.

Meilin seharusnya menunduk. Seharusnya tertawa canggung. Seharusnya mengatakan dia masih pasien dan ini rumah sakit.

Tapi tubuhnya tidak bergerak.

Jantungnya terlalu keras.

"Meilin," panggil Kevin pelan.

"Hmm?"

"Boleh?"

Satu kata itu membuat semua ketakutan di dada Meilin pecah menjadi sesuatu yang hangat.

Dia mengangguk sangat kecil.

Kevin masih tidak langsung mendekat. Dia menatap wajah Meilin seperti sedang memastikan anggukan itu bukan karena sakit, bukan karena lelah, bukan karena dia terjebak dalam suasana rumah sakit yang membuat orang mudah merasa rapuh.

Meilin mengerti keraguan itu.

Maka dia menggenggam ujung kemejanya sedikit lebih jelas.

"Aku sadar," bisiknya.

Napas Kevin berubah.

"Aku tahu."

"Dan aku tidak mundur."

Baru setelah itu jarak di antara mereka benar-benar hilang.

Kevin mendekat perlahan.

Ciuman pertama mereka tidak seperti adegan dramatis di novel yang penuh hujan atau musik. Tidak ada apa-apa selain bau antiseptik, bunyi pendingin ruangan, map obat di meja, dan selimut rumah sakit yang kusut di pangkuan Meilin.

Bibir Kevin menyentuh bibirnya dengan sangat ringan.

Hanya sebentar.

Terlalu hati-hati, seolah dia takut Meilin akan sakit hanya karena disentuh.

Namun bagi Meilin, dunia berhenti.

Seluruh tubuhnya seperti mendengar bunyi jantungnya sendiri. Keras. Cepat. Tidak tahu malu.

Kevin menjauh sedikit, cukup untuk melihat wajahnya.

"Sakit?"

Pertanyaan itu begitu Kevin sampai Meilin hampir tertawa dan menangis bersamaan.

Dia menggeleng.

Kevin menatapnya beberapa detik lagi.

Lalu Meilin, dengan keberanian yang entah datang dari mana, menggenggam ujung kemeja Kevin.

"Tidak sakit," bisiknya.

Mata Kevin menggelap.

Ciuman kedua masih lembut, tapi tidak lagi seringan yang pertama. Kevin menahan diri, Meilin bisa merasakannya dari cara tangannya bertumpu di sisi ranjang, bukan di tubuhnya. Justru itu yang membuat dada Meilin semakin penuh.

Dia tidak sedang diambil.

Dia sedang dipilih dengan hati-hati.

Saat Kevin akhirnya menjauh, dahi mereka hampir bersentuhan. Napas Meilin tidak teratur. Kevin juga tidak setenang yang dia pura-purakan.

Di luar kamar, seseorang mendorong troli lewat.

Meilin menunduk, wajahnya panas.

Kevin mengambil map obat dengan gerakan yang sedikit terlalu kaku.

"Kita pulang kalau administrasi selesai," katanya.

Suaranya rendah.

Meilin menggigit bibir, menahan senyum yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya.

"Iya, Ko."

Kevin berhenti di depan pintu.

Tanpa menoleh, dia berkata, "Jangan gigit bibir."

Wajah Meilin langsung terbakar.

Pintu terbuka, lalu tertutup pelan.

Meilin menekan telapak tangan ke dadanya.

Jantungnya masih berbunyi seperti drum.

Dan kali ini, dia tahu dengan sangat jelas, rasa yang tumbuh di dalam dirinya bukan lagi sekadar belas kasihan pada tokoh utama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!