Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15
Menyesuaikan Diri
Senja datang ke butik pukul enam lewat lima belas.
Dia sudah mengirim pesan lebih dulu kepada Serena bahwa latihan selesai terlambat karena Ko Jefri mengulang koreografi bagian akhir. Namun begitu Senja masuk ke butik di Plaza Indonesia itu, Serena menatap jam tangan seolah Senja terlambat satu jam penuh.
"Nyonya Wijaya membuat orang menunggu," katanya.
Di dalam boutique lounge, dua perempuan dari arisan kemarin duduk sambil minum sparkling water. Seorang stylist berdiri dengan beberapa gaun di gantungan. Aroma parfum kain, kulit tas mahal, dan pendingin ruangan bercampur menjadi udara yang membuat Senja langsung ingin membuka jendela.
"Maaf," kata Senja. "Latihan baru selesai."
Serena tersenyum tipis. "Kita semua tahu kamu penari. Tidak perlu selalu diumumkan."
Salah satu perempuan menutup senyum dengan gelas.
Pak Hadi menunggu di luar area fitting, sesuai aturan butik. Senja sempat melihatnya berdiri di dekat pintu masuk, tidak terlalu dekat tetapi cukup terlihat jika dia membutuhkan bantuan. Kehadirannya membuat Senja sedikit tenang.
"Charity luncheon minggu depan dihadiri banyak istri pengusaha," kata Serena sambil memilih gaun dari gantungan. "Kamu harus terlihat pantas. Jangan terlalu sederhana seperti biasanya. Nanti orang berpikir Rayhan tidak mampu membelikan pakaian."
"Aku bisa memilih sendiri."
"Bisa?" Serena menoleh. "Senja, ini bukan kostum sanggar."
Stylist yang profesional segera mengambil alih sebelum suasana makin tajam. "Nyonya Wijaya, mungkin mulai dari gaun ini? Warna champagne, potongannya elegan."
Senja menerima gaun itu dan masuk ke ruang fitting.
Di dalam, dia menarik napas panjang. Punggungnya pegal setelah latihan, dan tubuhnya masih belum sepenuhnya kuat. Gaun pertama terlalu ketat di dada. Gaun kedua terlalu terbuka di punggung. Gaun ketiga indah, warna hijau lembut, tetapi ritsleting belakangnya macet saat hampir tertutup.
"Perlu bantuan, Nyonya?" tanya stylist dari luar.
"Sebentar."
Senja berusaha menarik pelan. Tidak bergerak.
Dia membuka pintu sedikit. Stylist masuk, membantu dari belakang. Saat rambut Senja diangkat ke depan agar ritsleting bisa dilihat, tengkuknya terbuka.
Stylist berhenti sepersekian detik. "Nyonya punya tanda lahir yang cantik."
Senja membeku.
Di belakang lehernya, sedikit ke kanan, ada tanda lahir kecil berbentuk kelopak tidak sempurna. Sejak kecil, Mama Liem sering menyuruhnya menutupinya. Katanya, tanda itu membuat kulitnya terlihat cacat. Senja lama-lama terbiasa menyembunyikannya dengan rambut atau selendang.
"Tolong lanjutkan," katanya pelan.
"Maaf, Nyonya."
Ritsleting akhirnya naik. Senja menurunkan rambut, keluar dari ruang fitting dengan tubuh lebih tegang daripada sebelumnya.
Serena melihat gaun itu dan langsung menggeleng. "Terlalu lembut. Kamu akan tenggelam."
Perempuan di sofa berkata, "Tapi warnanya cocok dengan kulitnya."
Serena melirik perempuan itu, lalu tersenyum. "Tentu cocok. Orang seperti Senja memang terlihat paling aman kalau tidak mencoba bersinar."
Senja menatap dirinya di cermin besar. Gaun hijau itu sebenarnya sederhana, jatuhnya halus, membuat bahunya terlihat lebih anggun. Untuk pertama kalinya sejak masuk butik, dia merasa pakaian itu tidak sedang meminjam tubuh orang lain.
"Aku suka yang ini," katanya.
Serena mengangkat alis. "Kamu yakin?"
"Iya."
"Rayhan mungkin tidak suka."
"Dia tidak ada di sini."
Kalimat itu membuat lounge hening.
Senja sendiri hampir tidak percaya dia mengucapkannya. Tapi begitu kata-kata itu keluar, dia tidak ingin menariknya kembali.
Serena menatapnya lama, lalu tertawa pelan. "Baik. Jangan salahkan aku kalau nanti orang bilang seleramu kampungan."
"Aku tidak akan menyalahkanmu."
Stylist cepat mencatat ukuran sebelum perang dingin itu berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk.
Setelah fitting selesai, Senja kembali ke ruang ganti untuk memakai pakaian semula. Karena lelah, dia tidak menyadari selendang kecilnya tertinggal di kursi lounge. Ketika keluar, rambutnya diikat asal, tengkuknya terbuka beberapa detik.
Pak Hadi, yang baru dipanggil untuk menyelesaikan pembayaran dan memastikan gaun dikirim ke Wijaya Mansion, berdiri di dekat cermin luar. Tatapannya tidak sengaja menangkap pantulan belakang leher Senja.
Tanda lahir itu terlihat jelas.
Pak Hadi langsung menunduk, sopan, tetapi matanya berubah.
Dia pernah melihat gambar tanda seperti itu.
Tidak persis, tidak lengkap, hanya sekilas bertahun-tahun lalu dalam percakapan antara keluarga-keluarga besar. Seorang bayi perempuan yang hilang. Keluarga Hartono di Surabaya. Tanda lahir di belakang leher sebagai salah satu ciri.
Namun pikiran itu terlalu berbahaya untuk diucapkan.
Pak Hadi bukan orang yang mudah percaya pada kebetulan. Selama puluhan tahun bekerja untuk keluarga Wijaya, dia pernah melihat terlalu banyak rahasia keluarga besar disembunyikan di balik pesta amal dan senyum sopan. Hartono bukan keluarga asing bagi lingkaran itu. Bertahun-tahun lalu, sebelum nama Senja Liem pernah terdengar di rumah ini, ada kabar pelan tentang putri keluarga Hartono yang hilang dan seorang ibu yang tidak pernah benar-benar pulih.
Tanda lahir saja tidak membuktikan apa pun.
Tetapi tanda lahir itu membuat Pak Hadi memutuskan untuk mengingat.
"Pak Hadi?" panggil Senja.
Pria itu cepat mengangkat wajah, kembali tenang. "Iya, Nyonya. Pembayaran sudah selesai. Gaun akan dikirim besok."
"Terima kasih."
Serena keluar dari lounge sambil menerima telepon. Suaranya berubah manis.
"Iya, aku nanti ketemu kalian di tempat biasa. Santai saja, aku bisa nyetir."
Senja menoleh. "Kamu mau menyetir sendiri?"
Serena menutup telepon, lalu memasukkan ponsel ke tas. "Kenapa? Kamu mau melaporkan ke Rayhan juga?"
"Aku hanya bertanya."
"Urus saja gaunmu, Nyonya Wijaya."
Serena berjalan keluar dengan langkah cepat, meninggalkan aroma parfum dan suara hak tinggi yang tajam di lantai butik.
Pak Hadi memandang arah kepergiannya, lalu berkata pelan, "Nyonya, sebaiknya kita pulang."
Di mobil, Senja terlalu lelah untuk bicara. Dia menyandarkan kepala ke jendela, melihat lampu Jakarta berubah menjadi garis-garis panjang. Pak Hadi beberapa kali tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya diam.
Malam itu, Rayhan masih di Singapura. Senja mengirim pesan singkat sesuai aturan.
Senja: Fitting selesai. Aku sudah pulang.
Balasan datang sepuluh menit kemudian.
Rayhan: Makan sebelum tidur.
Senja menatap layar, lalu mengetik.
Senja: Baik.
Dia hampir menambahkan, gaun hijau itu pilihanku sendiri. Entah kenapa, dia ingin Rayhan tahu. Tetapi akhirnya kalimat itu dihapus.
Belum waktunya.
Pukul sebelas lewat, ketika Senja baru selesai minum ramuan Tante Lian, ponsel Pak Hadi berdering di ruang bawah. Suaranya biasanya tenang, tetapi kali ini terdengar tegang.
"Apa? Di mana?"
Senja turun beberapa anak tangga.
Pak Hadi berdiri di foyer, wajahnya serius. Setelah menutup telepon, dia melihat Senja dan ragu sejenak.
"Ada apa, Pak?"
Pak Hadi menunduk. "Berita dari lingkaran sosial, Nyonya. Mobil Nona Serena hampir menabrak pembatas jalan di Senopati. Katanya ada dugaan drunk driving."
Tangan Senja mencengkeram pegangan tangga.
Di luar, hujan kembali turun pelan, seolah Jakarta sedang menyimpan rahasia yang sebentar lagi akan pecah ke mana-mana.