NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengawal Aneh

Dua hari pasca-pembedahan emergency di Rumah Sakit Medika, bau karbol yang tajam dan denting teratur dari monitor jantung masih mendominasi ruangan VIP itu. Sinar matahari pagi yang menembus tirai tipis jatuh di atas ranjang tempat Aran terbaring. Wajahnya yang biasa kencang dan dipenuhi kewaspadaan kaku kini tampak agak pucat, tertutup sebagian oleh selang oksigen tipis di bawah hidungnya.

Shanum duduk di kursi kayu tepat di samping ranjang. Kedua matanya yang menyipit dipenuhi lingkaran hitam—tanda bahwa wanita itu hampir tidak menyentuh tempat tidur sepanjang malam. Di pangkuannya, sebuah laptop perak menyala menampilkan draf revisi akhir analisis biaya untuk tender Senayan yang tenggat waktunya makin menghimpit.

Namun, jemari Shanum yang berada di atas papan ketik mendadak berhenti. Napasnya membendung, mendadak terasa pendek dan berat.

Bayangan malam di gedung basement yang gelap, aroma mesiu yang pekat, serta tubuh Aran yang terkulai dengan dada bersimbah darah tiba-tiba berputar cepat di kepala Shanum seperti pita kaset yang rusak. Dada Shanum bergemuruh hebat. Jemari tangannya mulai bergetar kencang, membuat pena di atas meja kecil di sampingnya jatuh meluncur ke lantai.

Anxiety attack itu datang tanpa permisi. Shanum memegangi dadanya, mencoba menghirup udara, namun parunya seolah menolak oksigen.

"Mbak... Shanum..."

Sebuah suara pelan, berat, dan sedikit serak memutus gelombang kepanikan itu.

Aran yang baru terbangun perlahan menggerakkan jemarinya. Meskipun perban tebal melilit dada dan rusuknya yang retak, pria itu secara refleks memiringkan kepala. Matanya yang kelam menatap Shanum dengan ketenangan yang luar biasa murni.

"Atur... napas Anda," tutur Aran sangat lambat, suaranya seperti bisikan di tengah heningnya ruangan. "Tarik napas empat detik... tahan... lalu hembuskan. Tidak ada musuh di ruangan ini, Mbak Shanum. Anda aman."

Shanum menatap mata Aran. Di dalam mata yang biasanya penuh kalkulasi taktis militer itu, kini tidak ada lagi kekejaman atau kekosongan hampa. Yang ada hanyalah jangkar—sebuah kedamaian kokoh tempat Shanum bisa menambatkan rasa takutnya.

Shanum mengikuti bimbingan sederhana itu. Ia menarik napas dalam-dalam, menahannya, lalu menghembuskannya perlahan. Getaran di tangannya berangsur surut, meninggalkan rasa hangat yang melapangi dadanya.

"Kamu ini..." suara Shanum terdengar parau, bercampur antara rasa lega dan jengkel yang membuncah. "Baru sadar dari operasi besar, tapi masih sempat-sempatnya memberi instruksi taktis padaku?"

Aran mencoba menyunggingkan senyum tipis di balik selang oksigennya. "Poin Pertama... memastikan pimpinan dalam kondisi stabil."

Shanum menghembuskan napas panjang, melipat laptopnya keras-keras, lalu memajukan kursinya. Jarak di antara mereka meluruh. Tidak ada lagi aturan kaku dua meter, tidak ada lagi batasan hirarki bos dan bawahan. Shanum menatap Aran lurus-lurus, matanya berkaca-kaca oleh emosi yang tidak bisa lagi ditahannya.

"Dengar baik-baik, Ardebaran," ujar Shanum dengan nada tegas yang bergetar. "Mulai hari ini, saya patahkan cara pandangmu yang konyol itu."

Aran mengedipkan matanya pelan, sedikit bingung. "Maksud Anda, Mbak Shanum?"

"Kamu selalu bertindak seolah-olah tubuhmu ini terbuat dari besi dan nyawamu tidak punya harga," potong Shanum, menyapu sudut matanya yang basah. "Kamu melempar diri ke depan peluru, menahan serangan pisau, dan mengabaikan rasa sakitmu sendiri seolah-olah kamu ini cuma tameng hidup bernyawa yang disewa untuk mati demi saya!"

Aran terdiam. Ia hendak memotong dengan alasan tugas pengawalan, namun Shanum dengan cepat mengangkat tangannya.

"Jangan gunakan alasan taktis!" sembur Shanum kaku namun sarat akan rasa kepedulian yang mendalam. "Saya tidak butuh tameng mati! Saya butuh kamu hidup. Saya ingin kamu mulai memperlakukan dirimu sendiri lebih manusiawi, Aran. Kalau kamu merasa sakit, bilang sakit! Kalau kamu terdesak, ajak saya lari bersama! Jangan lagi menanggung semuanya sendiri seolah nyawamu itu murah!"

Ruangan VIP itu mendadak hening. Hanya bunyi monitor detak jantung yang berdetik teratur.

Aran menatap Shanum tanpa berkedip. Sepanjang hidupnya—sejak ia diculik dari trauma masa kecilnya, ditempa di pelatihan tak berperikemanusiaan organisasi Viper, hingga menjadi mesin pembunuh bernama Viper-1—tidak pernah ada satu orang pun yang menyuruhnya untuk menjaga nyawanya sendiri. Bagi organisasi, ia adalah senjata. Bagi para penyewa, ia adalah alat pelindung.

Namun bagi wanita di hadapannya ini, ia adalah seorang manusia yang berharga.

Perlahan, rasa hangat yang belum pernah Aran rasakan sebelumnya menjalar dari dadanya, meluluhkan sisa-sisa es yang membeku di dalam jiwanya selama bertahun-tahun. Aran menghembuskan napas pelan, menatap Shanum dengan pandangan yang teramat tulus dan seraya mengangguk pelan.

"Saya... mengerti, Mbak Shanum," bisik Aran, nada bicaranya kini benar-benar mencair, lepas dari formalitas kaku militer. "Saya minta maaf sudah membuat Anda cemas."

Shanum mengusap wajahnya, mencoba tersenyum di balik sisa air matanya. "Bagus kalau kamu paham. Karena kalau kamu nekat mati konyol, tidak ada lagi yang mengajari saya membedakan mana ancaman taktis dan mana teko teh yang terlalu panas."

Aran terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang membuat dadanya agak nyeri, namun hatinya terasa begitu ringan. "Dan tidak ada lagi yang meracik teh pahit suhu dua puluh dua derajat Celsius untuk Anda."

"Tentu saja!" balas Shanum seraya terkekeh tipis.

Shanum lalu menggeser meja kecil di dekat ranjang, membuka kembali draf berkas presentasi tender Senayan yang tersisa. Wajahnya yang tadi diliputi kecemasan kini berubah menjadi raut penuh tekad dan keberanian baru.

"Surya Wijaya berpikir dia bisa meruntuhkan Al-Maktoum Group dengan mengirim pembunuh bayaran dan merusak fokus kita," ujar Shanum dengan mata yang memancarkan kilatan ketegasan seorang pimpinan Al-Maktoum. "Dia salah besar. Kamu sudah mempertaruhkan darah dan nyawamu untuk mempertahankan ruang bergerak saya di luar sana. Sekarang, giliran saya yang akan membalasnya di meja presentasi."

Aran melirik ke arah draf angka-angka di layar laptop Shanum. "Analisis risiko pada kolom biaya konstruksi tahap tiga... masih terlalu tinggi dua persen, Mbak Shanum. Surya Wijaya pasti akan menyerang di titik itu untuk menjatuhkan kredibilitas efisiensi kita."

Shanum terbelalak pelan, lalu menatap Aran dengan pandangan takjub. "Kamu... membaca berkas analisis keuangan ini juga saat berjaga?"

"Saya membaca semua berkas yang ada di meja kerja Anda saat Anda rapat," sahut Aran santai dengan raut muka tanpa dosa. "Secara taktis, memahami isi pikiran pimpinan memudahkan saya memprediksi rute pergerakan Anda."

"Dasar pengawal aneh!" ledek Shanum menggeleng-gelengkan kepala, namun tangannya dengan cepat menuruti saran Aran untuk merubah variabel angka di laptopnya.

Siang itu, di dalam kamar perawatan rumah sakit yang tenang, sekat-sekat formalitas di antara mereka runtuh sepenuhnya. Tidak ada lagi benteng gengsi dari seorang CEO muda, dan tidak ada lagi dinding dingin dari seorang mantan pembunuh bayaran.

Di antara tumpukan berkas tender dan aroma obat-obatan, Shanum dan Aran menemukan sebuah pijakan baru dalam hubungan mereka: sebuah persahabatan sejati yang saling melengkapi, tempat dua jiwa yang terluka saling menjaga, saling menghargai keberadaan, dan siap menghadapi badai apa pun yang menunggu mereka di luar sana.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!