NovelToon NovelToon
LAST TRIP EXPRESS

LAST TRIP EXPRESS

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / TKP
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.

​Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.

​Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Penumpang Armada 000

Hawa dingin yang menusuk tulang bukan lagi sekadar kiasan di dalam interior Bus 000. Bau karat besi, darah kering, dan aroma asam dari rasa keputusasaan membakar tenggorokan Damar.

Setiap kali ia berusaha menarik napas, dadanya berdenyut nyeri, seolah udara di dalam armada raksasa itu menolak untuk dihirup oleh makhluk yang masih bernyawa.

Lantai bus bergetar pelan di bawah pijakan sepatunya. Di luar, kota fana diselimuti kegelapan dini hari, namun di dalam lorong armada ini, atmosfer terasa begitu tebal dan kuat.

"Berdiri tegak, Damar," perintah Madam Helga dari balik syal bulunya. Suaranya pelan namun tajam.

Wanita itu berdiri di panggung depan, tangannya memegang erat kipas sutra yang memancarkan pendar emas samar. Namun, Damar bisa melihat ketegangan di garis rahang atasannya.

"Gunakan mikrofonmu. Jika kamu memperlihatkan rasa takut sedikit saja, mereka akan merobek jiwamu sebelum bus ini sempat meninggalkan pelataran."

Damar menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Jemarinya yang memegang tiang mikrofon gemetaran, namun bayangan sketsa wajahnya di buku catatan tua milik Helga mendadak melintas di pikirannya. Ia bukan lagi sekadar pemuda pengangguran yang ketakutan dikejar tagihan kontrakan. Jika ia memang pernah menjadi pemandu tur di masa lalu, maka ia harus membuktikannya malam ini.

Damar menekan tombol mikrofon. Suara dengung pengeras suara menggema kaku membelah keheningan yang tegang.

"S-Selamat malam, Rekan-Rekan Arwah sekalian," suara Damar bergetar di awal, memantul di antara dinding-dinding bus yang bernoda hitam. "Selamat datang di Last Trip Express, Armada Khusus 000. Saya ... Damar, pemandu tur Anda untuk perjalanan kali ini."

Tak ada tepuk tangan. Tak ada celetukan nyeleneh seperti rombongan Pak Tejo atau rengekan manja seperti Nadia.

Di barisan kursi penumpang, puluhan pasang mata menyalakan pendar merah menyala dan biru kelam. Wujud mereka jauh dari kata utuh.

Di kursi barisan ketiga, seorang pria tinggi dengan pakaian compang-camping menunduk kaku, matanya kosong dengan bekas jeratan tali yang menghitam di lehernya.

Di sebelahnya, seorang wanita muda memangku tangannya sendiri yang terpisah dari pergelangan, menyenandungkan rintihan lirih tanpa nada.

Lebih jauh di barisan belakang, bayangan-bayangan hitam kental berkumpul, jiwa-jiwa korban pembunuhan berantai yang wujudnya hampir kehilangan wujud manusianya akibat kebencian yang meluap.

Gumpalan aura dendam di lorong tengah bus mendadak memadat.

CREAAAK!

Plafon logam bus berderit kencang. Kursi-kursi beludru hitam mulai bergetar liar saat hawa amarah dari para penumpang saling bertabrakan.

Hantu pria berkulit pucat dengan luka tusuk di dadanya berdiri perlahan, melayang beberapa senti di atas lantai. Matanya menyala merah darah, menatap Damar dengan kebencian yang tak terhingga.

"Pemandu tur! Kami tidak butuh tur manis! Kami tidak butuh hiburan konyol! Kami hanya butuh darah orang-orang yang membantai kami di dunia nyata!" Suara hantu itu bergema ganda, seperti dua batu besar yang beradu.

"Benar!" timpal hantu wanita di kursi sebelah kanan, tubuhnya bergetar hebat hingga udara di sekitarnya membeku menjadi kristal es hitam. "Kenapa kami harus naik bus sampah ini? Bawa kami kembali! Bawa kami ke rumah pembunuh itu!"

Raungan dan rintihan histeris seketika meledak di seluruh armada. Suara jeritan berdengung menghantam gendang telinga Damar. Tekanan energi gaib melesat naik hingga jam saku Chrono-Compass di saku celananya bergetar hebat dan memancarkan pendar merah darurat yang membakar pahanya.

"Diam!" bentak Madam Helga seraya mengangkat kipasnya. Sihir keemasan memercik di udara, siap memangkas gejolak para arwah.

Namun, sebelum sihir Helga sempat menyambar, Damar bergerak satu langkah ke depan. Ia menepuk pengeras suara mikrofonnya kencang-kencang!

TAK! TAK! TAK!

Suara benturan mikrofon bergema sangat nyaring, mengejutkan seluruh isi bus selama sepersekian detik.

"Cukup!" teriak Damar. Suaranya tidak lagi menggunakan nada lembut sopan pemandu tur standar. Ada ketegasan yang belum pernah ia keluarkan sebelumnya, sebuah nada bariton yang terdengar dominan dan tak tergoyahkan.

Para hantu tersentak. Madam Helga bahkan menoleh sejenak, melirik Damar dengan mata membelalak tipis.

Damar menurunkan mikrofon dari bibirnya, menatap lurus ke arah hantu pria berkulit pucat yang melayang di lorong tengah.

"Kalian pikir kalian satu-satunya orang yang menderita di dunia ini? Kalian pikir dengan mengamuk dan merusak bus ini, rasa sakit di dada kalian bakal hilang?"

Hantu pria itu menggeram kencang, auranya membesar melingkupi plafon.

"Jangan mengguruiku, Manusia Fana! Kamu tidak tau rasanya dimutilasi dan dibuang seperti sampah!"

"Memang! Aku gak tahu rasanya mati dibunuh!" balas Damar memotong tajam, ia sengaja menurunkan gaya bahasanya agar terasa lebih membumi dan langsung menusuk.

Damar melangkah turun dari panggung depan, berjalan menyusuri lorong tengah bus, berdiri tepat di bawah bayangan hantu pria yang mengerikan itu, tanpa rasa takut sedikit pun.

"Aku gak tahu seberapa sakit luka fisik kalian," lanjut Damar, suaranya melunak perlahan, dipenuhi oleh kepekaan empati yang mendalam. "Tapi aku bisa liat rasa sakit di mata kalian. Aku bisa rasain betapa sesaknya dada kalian karena keadilan yang kalian harapkan gak pernah datang sampai napas terakhir kalian berhenti."

Atmosfer bus yang tadinya bergejolak amarah mendadak mengendur tipis. Rintihan histeris para hantu di barisan belakang perlahan mereda, berganti menjadi keheningan yang berat.

Damar menatap satu per satu wajah para penumpang Armada 000. Ia melihat trauma mendalam di balik wajah-wajah menakutkan itu. Mereka bukan hantu jahat, mereka adalah korban ketidakadilan yang terlalu lama memendam luka tanpa ada seorang pun yang mau mendengarkan.

"Madam Helga punya sihir buat memusnahkan kalian dalam sekali jepretan jari kalau kalian mengamuk," kata Damar jujur, melirik ke arah atasannya yang masih bersedekap di panggung depan. "Dan aku ... aku cuma manusia biasa yang tadinya penakut setengah mati. Tapi aku di sini bukan buat nyuruh kalian lupa sama rasa sakit itu. Aku di sini buat dampingin kalian nuntasin apa yang belum selesai."

Damar mengangkat clipboard-nya yang kini berisi lembaran itinerary berwarna merah gelap.

"Perjalanan Armada 000 ini bukan tur rekreasi biasa," tegas Damar, menatap lurus mata merah para penumpang. "Ini adalah rute penuntasan rasa sakit. Kalau kalian mau keadilan, ikuti aturan main kami! Jangan ada yang saling serang, jangan ada yang menjadi Arwah Anarki, dan dengarkan instruksiku di setiap destinasi. Aku janji ... aku akan bantu kalian menyampaikan kebenaran yang terkubur, walau harus membentur hukum dunia fana sekalipun."

Hantu pria berkulit pucat di hadapan Damar mematung di udara. Pendar merah matanya perlahan menyusut, berganti menjadi warna keperakan yang redup. Ia menatap Damar lama sekali, mencoba mencari kebohongan di mata pemandu muda itu, namun hanya menemukan kejujuran dan keteguhan yang mutlak.

Perlahan-lahan, hantu itu turun kembali ke lantai beludru, lalu duduk di kursinya tanpa bersuara lagi.

Hawa panas membakar di dalam bus surut secara bertahap. Tekanan gaib yang tadinya hendak melubangi plafon menguap, menyisakan keheningan yang jauh lebih terkontrol dan penuh rasa hormat.

Damar menghela napas panjang yang tertahan di dadanya. Punggung kemejanya basah kuyup oleh keringat dingin, namun dadanya terasa begitu lapang. Ia berbalik dan melangkah kembali ke panggung depan.

Madam Helga menatapnya dari samping. Kipas sutranya telah ditutup rapat.

"Metode panduan yang sangat tidak berpendidikan, Damar," cetus Madam Helga pelan, nada suaranya mengkritik namun ada binar pengakuan yang amat tipis di sudut matanya. "Kamu beruntung, mereka tidak mengunyah kepalamu hidup-hidup."

Damar menyengir tipis, mengusap peluh di dahinya.

"Teknik emosional, Madam. Hantu dendam gak bisa dilawan pakai kemarahan lagi. Mereka cuma butuh divalidasi, ditegaskan dan didengar."

Madam Helga tidak membantah. Ia memalingkan wajahnya ke arah kaca depan, mengibaskan syalnya.

"Sopir. Jalankan bus. Destinasi Pertama Rombongan Kedua, ke bekas pabrik tua."

Tiiiiiiiiiinnnnn!

Klakson Bus 000 melengking berat, bergema membelah malam. Roda-roda raksasanya mulai bergulir melintasi jalanan kota yang sepi, menembus kabut tebal yang memisahkan dunia fana dan batas-batas gaib.

Damar merapikan letak mikrofonnya, menggenggam jam saku peraknya yang kini berdetik stabil. Perjalanan paling kelam dalam karirnya baru saja dimulai, namun untuk pertama kalinya, ia tahu pasti apa yang harus ia lakukan.

1
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat berpetualang di rumah orang tanpa undangan ,damar
😂
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kunci nya , di belakang foto keluarga damarr.. ciee 🤣
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
cepet adaptasi nya Damar
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
lets go Damarr
tour kemana kita yakk
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
masih untung damar
ngga ngompol di tempat
😂😂
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kontrak kerja Damar
serreemmm bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!