Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : PESAN YANG MENGHENTIKAN WAKTU
...BAB 15...
...PESAN YANG MENGHENTIKAN WAKTU...
Tinggal tepat dua puluh empat jam lagi. Hari esok bukan cuma hari akad Alina dan Farhan, tapi juga hari sidang besar di kantor, hari yang seharusnya menutup semua keraguan dan membuka lembar bahagia baru. Sejak subuh rumah Bu Kirana riuh rendah, kerabat silih berganti datang bawa makanan, merangkai melati, merapikan hantaran.
“Lihat deh, bahagia sekali keluarga ini,” ucap seorang Bibi sambil tersenyum. “Padahal Alina cuma anak tiri yang diangkat Bu Kirana masih remaja, tapi kasih sayangnya sama persis sama Dimas, anak kandungnya sendiri.”
“Memang begitu kenyataannya,” jawab Bu Kirana bangga sambil menoleh ke arah Arka yang sedang sibuk memindahkan kursi dan merapikan lampu hias. “Ngomong‑ngomong, kalau saja Dimas belum pulang dari Madinah pagi tadi, aku sudah minta Arka yang dampingi Alina sampai pelaminan. Baik sekali anak ini, selalu ada kalau butuh bantuan. Seperti dikirim Tuhan aja buat bantu‑bantu kami.”
Arka tersenyum teduh sambil mengangguk sopan. “Itu sudah kewajiban saya, Bu. Anggap saja saya bagian dari keluarga ini juga.”
Tak satu pun yang tahu, di balik senyum itu dia sudah menanam bukti palsu rapi di sistem kantor, membayar lunas lima saksi bayangan, dan sengaja menanam keraguan halus di hati Bu Kirana soal status Alina sebagai anak tiri. Dia tahu persis, agama dan kehormatan adalah nyawa wanita itu, dan di sanalah dia akan memukul paling keras.
Siang harinya Farhan datang. Wajahnya pucat sekali, mata cekung lelah. Dia menarik Alina menyendiri sebentar di teras belakang, memegang tangannya yang berbalut gamis lengan panjang erat.
“Kamu kelihatan capek banget, Han,” kata Alina pelan cemas.
Farhan menghela napas panjang, suaranya parau. “Dari pagi aku telusuri lagi semua akses sistem, catatan perubahan data, tanya satu per satu rekan kerja. Lin… lagi‑lagi buntu total. Jejak yang hampir ketemu, tiba‑tiba hilang seolah tidak pernah ada. Orang yang tadinya mau bicara, tiba‑tiba diam seribu bahasa. Aku yakin sekali semua ini ulah Arka. Dia licik sekali, dia malah pakai status kamu sebagai anak tiri buat tanam keraguan pelan‑pelan ke hati Ibu. Tapi sampai detik ini… aku nggak pegang satu bukti kuat pun buat ditunjukkan ke orang.”
Dia mengelus puncak kepala Alina pelan, matanya berkaca‑kaca. “Tapi kamu tenang saja. Apa pun yang terjadi besok, aku janji. Aku akan melindungi kamu sampai titik darah penghabisan.”
Alina cuma mengangguk lemah. Dia tidak berani bilang, sejak bangun tidur tadi rasa dingin tidak pernah lepas dari tulang punggungnya. Setiap kali Arka lewat atau bicara lembut pada Bu Kirana, bulu kuduknya selalu meremang hebat. Sudah berkali‑kali dia shalat istikharah, perpanjang sujud di sepertiga malam, tapi yang datang malah kegelisahan makin pekat.
Sore harinya mobil berhenti di halaman. Dimas pulang, tiga bulan lebih awal dari rencana belajarnya di Madinah. Dia langsung memeluk erat ibunya, lalu berbalik memeluk Alina hangat sekali.
“Kak, Dimas kangen sekali,” ucapnya lembut.
“Kita juga kangen, Nak,” jawab Bu Kirana terharu.
Saat Arka melangkah mendekat menyapa dengan senyum lebar, “Selamat datang, Dimas.”
Dimas membalas sapaan itu sopan, tapi sorot matanya tajam mengamati dari ujung kepala sampai ujung kaki. Alisnya sedikit berkerut membentuk garis tegas di dahi. Arka hanya tersenyum makin lebar, tapi dalam hati dia bergumam dingin. Percuma saja kamu pulang cepat. Benih keraguan soal status anak tiri sudah terlalu dalam tertanam di hati ibumu sendiri.
Belum sempat mereka bicara panjang lebar soal firasat aneh yang sama‑sama dirasakan, tamu kembali berdatangan dan waktu terus berjalan larut.
Tepat pukul 23.47 malam. Rumah sudah hening sepi. Bu Kirana tidur lelap karena kelelahan, bersama suaminya Aditya. Dimas baru selesai membereskan barang di kamar sebelah, Farhan sudah pulang sore tadi untuk menyiapkan berkas sidang. Alina sendirian di kamar, baru bangkit dari sujud panjang. Air matanya masih membasahi pipi, dadanya sesak sekali. Gaun pengantin putihnya tergantung anggun di lemari kaca, berkilau remang terkena cahaya lampu tidur.
Dia berjalan mendekati jendela memandang langit mendung gelap, berusaha meyakinkan diri sendiri. Cuma gugup biasa. Semua firasat buruk ini cuma karena aku terlalu lelah. Besok semuanya akan baik‑baik saja.
—GETAR.
Ponsel di atas meja bergetar pelan satu kali saja. Bukan telepon, cuma satu pesan singkat dari nomor tak dikenal, tanpa nama, tanpa foto.
Jantung Alina berdegup kencang sekali sampai terdengar jelas di telinga. Tangannya gemetar hebat saat meraihnya. Layarnya menyala terang menembus kegelapan, hanya tertulis satu kalimat pendek tegas:
PERNIKAHANMU TIDAK AKAN PERNAH TERJADI.
Hanya itu. Hanya lima kata. Tanpa penjelasan, tanpa alasan, tanpa tanda tangan.
Napas Alina seolah ditarik paksa keluar. Kakinya lemas seketika sampai nyaris jatuh terduduk di lantai. Dia menekan tombol panggil balik berulang kali.
Tut… tut… tut… Nomor yang Anda hubungi tidak aktif.
Dia buka tutup pesan itu berkali‑kali, berharap matanya salah baca. Tapi tulisan itu tetap ada diam di sana. Semuanya tiba‑tiba tersambung jelas di kepalanya. Senyum Arka yang terlalu sempurna, jejak Farhan yang selalu buntu sempurna, bisikan‑bisikan aneh di kantor, keraguan kecil yang kadang muncul soal apakah dia cukup berharga di hati ibu tirinya meski bukan darah daging, tatapan waspada Dimas sore tadi.
Bukan iseng. Bukan cuma orang iri. Ini pernyataan. Seseorang sudah menyiapkan segalanya, dan memastikan kebahagiaannya akan hancur sebelum benar‑benar dimulai.
Di sebuah kamar penginapan tak jauh dari sana, remang dan tertutup rapat. Arka baru saja melemparkan ponsel murah bekas kirim pesan tadi ke ember berisi air, lalu membuangnya ke tempat sampah besar di belakang bangunan. Musnah tanpa jejak.
Dia berdiri memandang ke arah rumah Bu Kirana yang redup dari kejauhan. Bibirnya menyunggingkan senyum dingin penuh kemenangan, tapi matanya anehnya berkaca‑kaca.
“Selesai sudah Bagian Dua, Jebakan yang Dirajut Rapi,” bisiknya pelan pada diri sendiri. “Semua simpul terkunci rapat. Keraguan soal dia anak tiri sudah ada di hati Bu Kirana, bukti dan saksi sudah siap menyerang iman serta kehormatan yang dia jaga mati‑matian itu. Besok pagi ketika matahari terbit… aku tarik satu benang saja, dan seluruh duniamu runtuh seketika, Alina.”
Dia memeluk dirinya sendiri sebentar, suaranya berubah sangat lembut, hampir lirih, memunculkan sisi lain yang tidak pernah dilihat siapa pun.
“Aku lakukan semua ini… supaya saat semua orang pergi menjauh… akulah satu‑satunya yang masih tersisa buat kamu. Hanya aku.”
Kembali di kamarnya, Alina masih duduk meringkuk di sudut tempat tidur, ponsel masih tergenggam erat. Dia tidak menangis. Terlalu kaget, terlalu dingin untuk mengeluarkan air mata. Dia sadar sekarang, kegelisahan berbulan‑bulan ini bukan khayalan. Musuh sudah berdiri sangat dekat, memegang kendali penuh, dan baru saja memberitahunya dengan tenang, permainan baru saja dimulai, dan dia sudah kalah sebelum sempat berjuang.
Hitungan mundur dua puluh empat jam itu bukan lagi hitungan menuju kebahagiaan. Itu hitungan mundur menuju saat semua kebohongan dan jebakan rapi berbulan‑bulan lamanya, akhirnya ditarik terbuka lebar.
Bersambung…
Readers jangan lupa selalu beri dukungan like dan komentarnya.. Terimakasih yang mau mampir 🙏😇
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏