NovelToon NovelToon
Gadis Desa Hamil Anak CEO

Gadis Desa Hamil Anak CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tianse Prln

Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.

Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.

Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.

Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertengkar

Mobil melaju membelah keramaian ibu kota, namun pikiran Aga sama sekali tidak beranjak dari tulisan di selembar kertas kecil yang kini tergenggam erat di tangannya. Begitu kendaraan berhenti di halaman rumah mewah keluarga Santoso, ia turun dengan langkah yang berat namun tegas, seolah setiap tapak kakinya menuntut jawaban yang tak bisa lagi ditunda.

Pintu utama terbuka, dan seperti biasa, Nyonya Ardila sudah menunggu di ruang tengah, duduk tenang di sofa kulit berwarna cokelat tua, secangkir teh hangat di tangannya. Penampilannya sempurna, senyumnya sopan dan terkendali, seolah tak ada satu pun badai yang mampu menggoyahkan ketenangannya.

“Sudah pulang, Aga?” sapanya lembut, menatap putranya yang berdiri tegak di ambang pintu dengan aura yang berbeda dari biasanya—dingin, tegang, dan penuh pertanyaan yang tak terucap. “Hari ini jadwalmu sangat padat, aku dengar kabar pertunanganmu sudah menyebar luas. Semua berjalan sesuai rencana, bukan?”

Aga tak menjawab, tak juga mendekat untuk sekadar memberi salam seperti kebiasaan. Ia berdiri diam sejenak, lalu perlahan melangkah maju, sorot matanya tajam menembus topeng tenang ibunya.

“Ada satu hal yang tidak berjalan sesuai rencana, Ma,” suaranya rendah namun berat, bergema di ruangan yang tiba‑tiba terasa hening. “Dan aku ingin mendengar kebenarannya langsung dari mulut Mama.”

Nyonya Ardila meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja, jari‑jarinya yang berhias cincin berkilau tak sedikit pun bergetar. “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, Aga.”

“Tentang Nadia.”

Nama itu meluncur begitu saja, membuat ekspresi Nyonya Ardila sedikit berubah—tak terkejut, tapi lebih seperti kenyataan yang tak bisa lagi ditutupi. Ia mengangkat bahu santai, seolah nama itu hanyalah hal sepele.

“Ah… gadis itu. Staf keuanganmu yang sudah mengundurkan diri, kan? Apa ada yang perlu dibahas lagi?”

“Jangan berpura‑pura tidak tahu, Ma,” potong Aga cepat, langkahnya makin mendekat. “Aku tahu Mario membawanya ke lantai VVIP. Aku tahu Mama menemuinya sehari sebelum dia mengundurkan diri. Aku tahu kalian bicara sesuatu di dalam sana. Jadi… apa yang Mama katakan padanya? Apa yang Mama lakukan sampai dia merasa satu‑satunya jalan adalah pergi tanpa pesan, tanpa alamat, tanpa berani menunggu aku pulang?”

Keheningan menyelimuti ruangan. Nyonya Ardila menatap putranya lama, lalu perlahan tersenyum tipis—senyum yang dingin dan penuh keyakinan diri.

“Jadi kamu sudah tahu. Baiklah, kalau begitu tak perlu disembunyikan lagi,” jawabnya tenang, nada bicaranya seolah sedang menjelaskan hal yang paling masuk akal. “Benar aku menemuinya. Aku bicara baik‑baik padanya, Aga. Aku tidak menyuruhnya berhenti bekerja. Aku hanya memberi waktu dan kesempatan padanya untuk sadar diri, untuk menjauh dari lingkaran kita. Aku bilang padanya, jika dia pintar, dia akan tahu batas tempatnya berdiri dan tidak akan menimbulkan masalah. Tapi ternyata dia memilih jalan sendiri—mengundurkan diri, pergi entah ke mana. Katakanlah saja itu keberuntungan. Justru bagus, kan? Dia yang memutuskan pergi, bukan aku yang mengusirnya.”

“Bagus?” Aga tertawa pendek, getir dan tajam. “Mama bilang itu bagus? Mama panggil dia, tekan dia, buat dia merasa tidak punya tempat untuk bernapas di sini, lalu bilang dia yang memilih pergi? Mama sama sekali tidak memberinya pilihan, Ma. Mama hanya menuntut kepatuhan.”

Suara Aga meninggi, tangannya terkepal kuat di sisi tubuh, urat di lehernya tampak menegang. Rasa amarah yang selama ini dikurung akhirnya meledak tanpa kendali.

“Kalau begitu, dengarkan aku baik‑baik sekarang,” ucap Aga tegas, matanya berkaca namun penuh ketegasan yang tak tergoyahkan. “Mama dan Mario boleh saja mengatur jadwalku, menyembunyikan kebenaran, bahkan mengusir orang yang aku sayang. Tapi kalian tidak bisa mengatur hatiku selamanya. Mulai detik ini, aku tidak peduli lagi dengan semua aturan itu, dengan nama besar Santoso, dengan kekayaan dan jabatan yang kalian banggakan.”

Ia menarik napas panjang, lalu melontarkan kalimat yang seketika membuat wajah Nyonya Ardila pucat pasi.

“Aku akan melepaskan semuanya. Aset, saham, jabatan, hak waris… semuanya akan aku kembalikan. Aku tidak butuh beban ini kalau aku harus membayarnya dengan kehilangan kebebasan dan orang yang aku cintai. Dan aku akan pergi—mencari Nadia, sampai aku menemukannya.”

“Cukup!”

Suara berat dan parau tiba‑tiba memecah ketegangan. Dari arah ruang kerja dalam, Pak Haris—ayah Aga—muncul dengan wajah yang sudah memerah menahan marah. Ia berjalan mendekat dengan langkah tegas, aura kekuasaannya seketika menguasai seluruh ruangan. Mendengar kalimat putranya barusan, ia merasa ini adalah pembangkangan paling besar yang pernah terjadi di rumahnya.

“Kamu bicara apa barusan, hah?!” bentak Pak Haris, jarinya menunjuk tepat ke arah wajah putranya. “Kamu pikir nama Santoso mainan? Kekayaan dan jabatan ini dibangun dengan keringat dan pengorbanan bertahun‑tahun, bukan sekadar diberi begitu saja! Dan kamu mau buang semuanya demi satu wanita yang bahkan tidak pantas disebut?”

“Tidak pantas?” balas Aga tanpa mundur selangkah pun, menatap balik tajam ke mata ayahnya. “Bagi kalian, mungkin hanya soal kasta, nama, dan kesepakatan bisnis. Tapi bagi aku, Nadia adalah satu‑satunya hal yang membuatku merasa menjadi manusia seutuhnya, bukan sekadar boneka pewaris yang harus patuh pada semua kemauan kalian!”

“Kurang ajar!”

Plak!

Bunyi tamparan keras menggema tajam di ruangan itu. Tangan kekar Pak Haris mendarat tepat di pipi kanan Aga, membuat kepala pemuda itu sedikit terayun ke samping. Rasa perih menjalar seketika, namun Aga sama sekali tidak menunduk, tidak juga menampakkan rasa takut sedikit pun. Ia hanya mengusap pelan pipinya yang terasa panas, lalu kembali menatap ayahnya dengan sorot mata yang justru makin berapi‑api.

“Pukul saja kalau itu bisa membuatmu merasa puas, Pa,” katanya pelan namun menantang. “Tapi itu tidak akan mengubah apa pun. Bertahun‑tahun aku hidup di sini, berjalan sesuai garis yang kalian buat, bekerja sampai larut malam, bertemu siapa yang kalian inginkan, bahkan akan menikah dengan wanita yang kalian pilihkan. Kapan aku pernah ditanya apa maumu, Aga? Kapan aku boleh memilih apa yang membuatku bahagia? Dunia ini terasa begitu sempit dan sesak, seolah aku tidak punya hak atas diriku sendiri. Sampai akhirnya aku bertemu Nadia, sejak kecil kami sudah tumbuh bersama di desa… dan sekarang kalian berani merampasnya.”

“Kamu… kamu benar‑benar sudah tidak tahu diri!” Pak Haris maju selangkah lagi, tangannya terangkat seolah ingin memukul sekali lagi, napasnya memburu karena emosi yang meluap. “Kamu kira siapa kamu tanpa nama keluarga ini? Kamu pikir kamu bisa hidup sembarangan begitu?”

“Lebih baik hidup sederhana tapi bebas, daripada kaya raya tapi dipenjara dengan aturan sendiri!” seru Aga tak kalah keras.

Pertengkaran itu memuncak, udara di ruangan terasa seolah terbakar, dua pria itu saling berhadapan dengan kemarahan yang tak lagi bisa dibendung. Namun tepat saat Pak Haris hendak melontarkan kalimat tajam lainnya, suara tubuh jatuh terdengar pelan namun nyata di samping mereka.

Nyonya Ardila yang sejak tadi diam menyaksikan dengan wajah pucat dan napas yang makin tersengal, tiba‑tiba kehilangan keseimbangan. Tubuhnya yang tegap seketika lemas, melorot turun dari sandaran sofa hingga jatuh ke lantai.

“Ma!”

“Ardila!”

Seruan khawatir langsung meledak bersamaan. Segera pertengkaran ayah dan anak itu terputus seketika, digantikan kepanikan yang mendesak. Pak Haris dan Aga bergegas berlutut di sisi wanita itu, wajah mereka yang sedetik sebelumnya penuh kemarahan kini berubah menjadi ketakutan yang nyata. Aga langsung meraba pergelangan tangan ibunya, sementara Pak Haris mengangkat bahu istri dengan tangan gemetar.

“Ma… Mama, bangun!” panggil Aga, suaranya bergetar, pipinya yang masih terasa panas tak lagi dipedulikannya. “Buka mata, Ma!”

“Ardila, dengarkan aku!” Pak Haris memanggil berulang kali, wajahnya pucat tanpa darah. “Aga. Cepat… panggil dokter sekarang juga!”

1
sutiasih kasih
jgn smpe km brjumpa dgn mereka nad.....
demi hrga dirimu...
sutiasih kasih
dri prnikahan aga & jenna slm 8 th... apakah mereka sdh punya keturunan thor??
sutiasih kasih
kakek santoso kn msih ada anak n menantu jga cucu.... msa iya g ada yg sering mngunjungi beliau di desa..🤔🤔
sutiasih kasih
harusnya jgn km ambil uang itu nad....😔😔
sutiasih kasih
mario mario.... km jga cm kacung keluarga santoso..... tpi sikapmu dlm merendhkn org lain.... seolah km orang paling kaya tiada tandingan🙄🙄
Rdznr
Semoga raka jadi anak yg hebat. buktiin ke kluarg santoso kamu bs sukses tanpa mereka💪
Rdznr
lanjuuuut😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!