Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Dian duduk dengan tenang disebelah Joshua. Dari saat Joshua naik, sampai mobilnya jalan perhatiannya hanya ke sisi kiri jendela, melihat suasana di luar. Dian berusaha menerima udara segar, karena ia merasa sangat sesak bersama Joshua.
"Ada apa Dian?"
Dian masih terdiam membisu. Joshua sedikit kesal, karena wanita itu mengabaikannya.
"Bukankah kau bilang ingin menikah denganku?"
Dian tiba-tiba bersuara, setelah keheningan yang dibuatnya sendiri.
"Apa?"
"Kau ingin menikah dengan ku bukan? Kenapa harus lama-lama seperti ini. Aku sudah siap."
Dian mengatakan nya dengan serius, sambil menatap Joshua.
"Benarkah? Kau mau? Tapi kenapa aku merasa, dari suaramu ada sedikit keraguan."
"Aku tidak ragu. Aku benar-benar siap." Kali ini Dian terlihat lebih meyakinkan.
Joshua menarik Dian agar jaraknya mendekat padanya. Gadis itu sontak kaget. Bahkan wajah mereka sangatlah dekat. Dian bisa merasakan hembusan napas Joshua di wajahnya.
"Apa kau sudah mulai menyukaiku?"
Dian mendorong tubuh Joshua menjauh.
"Apa itu perlu? Bukankah kau hanya ingin menikah denganku?"
"Aku perlu. Aku tidak ingin terlihat menjadi pria yang menikahi wanita hanya karena terpaksa."
"Lalu apa maumu sekarang?"
"Dalam sebulan ini, aku akan membuat mu menyukaiku."
"Apa kau yakin bisa menaklukkan ku?"
"Bisa. Aku sangat yakin."
Dian melihat Joshua saat pria itu mengatakan kalimat 'akan membuatnya jatuh cinta' Keyakinan itu sangat tergambar jelas di wajah Joshua.
"Terserah apa maumu. Toh, mau aku jatuh cinta ataupun tidak, aku juga tetap akan dijodohkan dan dinikahkan dengan mu."
Dian kembali menatap keluar jendela, mencari udara segar yang dirasanya sesak beberapa saat yang lalu.
Mereka tiba di kantor setelah 1 jam perjalanan.
Dian mengikuti Joshua dari belakang seperti ekor yang tak ingin kehilangan tuannya. Ia juga punya peranan penting hari ini, setelah pak Arya mengirim semua jadwal padanya. Menemani meeting di berbagai kesempatan, dan melakukan apapun yang diminta Joshua.
Dian mengikuti arahan langsung dari pak Arya perlahan-lahan. Karena meskipun ia pernah mengurus perusahaan, ia belum pernah mendapat jabatan sebagai asisten, yang harus melakukan semua tanggung jawab mengenai bosnya.
Pak Arya sudah seperti kaki tangan langsung Arya. Meskipun jabatannya diganti, ia masih mengikuti Joshua, sepertinya untuk menyelesaikan masalah yang lebih rahasia.
"Maaf Pak, hari ini jadwal pertemuan bersama pak Hery, di restoran Killal Son."
"Jam berapa?"
"Di jadwal sekitar jam 6 sore. Kira-kira satu stengah jam lagi."
"Baiklah, mari berangkat!"
...........
Selama perjalanan, Dian sibuk mencatat jadwal yang akan dilaksanakan besok, sebagian sudah dikoreksi pak Arya dengan baik.
"Apakah pertemuan di luar hanya bersama pak Hery?"
"Tidak. Ada lagi nanti, sekitar jam 7 teken kontrak bersama pak Bimo."
"Baiklah. Kulihat, kau sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan mu sebagai asisten."
"Belum sepenuhnya. Aku masih dibantu oleh pak Arya."
"Tapi kayaknya kamu cepat tanggap."
"Ya, baguslah jika demikian. Semoga semua berjalan lancar selama sebulan ini."
"Iya, dan semoga usahaku juga bisa mendapatkan hasil."
Mata keduanya saling bertemu. Dian yang awalnya merasa risih, mulai terbiasa dengan gombalan Joshua. Bukan karena ia mulai tertarik. Tapi ia merasa bahwa semua yang dikatakan Joshua adalah hal yang basi, dan tidak akan menggetarkan hati maupun perasaannya.
Restoran Killal Son, restoran bagi kalangan elit. Mereka tiba di sana setelah 30 menit perjalanan. Sungguh hari yang melelahkan bagi Dian, setelah lama menemani Joshua di kantor dengan jadwal meeting serta pemeriksaan berkas, akhirnya ia bisa menikmati udara bebas di luar.
"Sudah sampai pak."
Dian dan Joshua keluar dari dalam mobil, dan berjalan masuk menuju ke dalam restoran. Sedangkan pak Arya mencari tempat parkiran yang tepat.
Mereka tiba di meja yang sudah di booking sebelumnya.
"Apa saya perlu duduk di sini pak?"
Dian merasa tidak enak, bila harus duduk bersama Joshua, disamping nya, sementara mereka akan bertemu dengan klien penting.
"Apakah ada masalah? Kamu kan asisten saya."
"Tapi, saya cuman asisten sementara saja pak. Dan itupun hanya sebulan. Bagaimana bisa saya harus benar-benar terlibat ke dalam perusahaan."
"Tidak apa-apa. Karena sekarang kamu asisten ku, kamu juga harus tahu."
Seorang pria dengan penampilan yang rapi, serta rupawan, datang menghampiri Joshua dan Dian. Dari wajahnya, Dian bisa menebak kalau usianya sekitar 20-an lebih.
Pria itu menatap dengan penasaran pada Dian, karena baru pertama kali ia melihatnya. Senyuman manis menyapa mereka. Dian bangun, ia memberikan rasa hormat nya sebagai bentuk penyambutan akan kedatangan pak Hery.
"Selamat datang pak Hery."
Hery dan Joshua saling berjabatan tangan.
"Apakah pak Joshua sudah lama menunggu."
"Tidak. Kami juga baru sampai."
"Di mana pak Arya. Tumben dia tidak ikut?"
"Dia menunggu di mobil. Jadi tidak ikut kemari.
Perkenalkan ini asisten baru saya, namanya Dian."
"Salam kenal nona Dian."
Pak Hery menyodorkan tangannya, sebagai bentuk sambutan hangat pada Dian.
"Salam kenal juga, pak Hery."
"Wah, saya tidak menyangka, anda begitu tiba-tiba mengambil keputusan untuk mengganti pak Arya. Padahal setahu saya, dia adalah orang kepercayaan anda langsung."
"Sebenarnya ini juga cuman sementara. Hanya ada sedikit masalah saja, saya perlu pak Arya dalam tugas lain, jadi harus ada pengganti nya. Dan kebetulan, pak Arya hari ini tidak ada kerjaan, jadi dia bantu mengantar kami kemari."
Penjelasan yang sebenarnya tidak perlu dijelaskan menurut Dian. Kesannya terdengar dia hanya seorang pengganti untuk sementara waktu.
"Oh, berarti nona Dian hanya sementara bekerja bersama anda?" Dari raut wajah pak Hery tergambar jelas, kalau ia sangat bingung sekaligus penasaran.
"Iya, soalnya setelah kami menikah, mungkin dia tidak akan bekerja di kantor lagi."
"Uhumm, uhumm" Dian batuk karena terkejut setelah mendengar ucapan Joshua yang blak-blakan.
Pria ini sudah gila. Aduh malunya. Kenapa harus bicara di depan kliennya sih. Dan ini urusan pribadi kami berdua, untuk apa harus dia perjelas sama klien yang baru di temui.
"Wow, jadi ini calon istri mu? Bhahaha, tidak menyangka joshua. Ternyata kamu mau menikah."
Suara yang awalnya formal, kini terdengar lebih akrab.
"Iya, dia calon istriku. Sekaligus asisten ku untuk sementara waktu."
"Pantasan pak Arya harus mengalah, karena Joshua kali ini ingin selalu dekat dengan calon istrinya."
Wajah Dian terlihat sangatlah bingung, keduanya terlihat membahas dirinya dengan suasana santai, tidak sekaku sebelumnya.
Mereka ini, sepertinya bukan rekan bisnis biasa. Tapi kenapa awal bertemu harus formal seperti tadi? Apa mereka sengaja melakukannya? Atau mungkin ini kebiasaan mereka. Tapi kenapa sekarang jadi bahas aku sih. Kan tujuan pertemuan ini tentang pekerjaan.
"Ternyata candaan kita, ditanggapi serius olehnya."
"Iya.Lucu kan?"
"Kenapa kau mengajakku bertemu?"
"Aku cuman ingin memperkenalkan dia saja. Dia, anak dari Edo Abimanyu."
"Edo Abimanyu?"