NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:160
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

"Valeska!" sorak Anaya, dia berlari kecil menghampiri Valeska di parkiran SMA Mandala Kencana.

"Mau minum nggak?" tanya Anaya, sembari mengangkat sedikit botol minum yang dia beli di kantin.

Valeska menatap botol itu, kemudian tersenyum manis, "Masih pagi udah nawarin air dingin, tapi makasihya,"

"Eh, jangan diminum! Itu ada racunnya!" timpal Prisha, yang baru saja datang.

"Racun apa? Racun kalajengking?" tanya Laksha, tertawa puas.

"Anaya sayang, ini masih pagi, bisa nggak jangan ngasih air minum dari kulkas? Takutnya anak orang langsung flu," Prisha berkata, lalu mengambil botolnya dari tangan Anaya.

"Mending buat gue, soalnya aus." Lanjutnya.

"Makasih lho, ya. Semoga amal ibadah lo, di terima sama Tuhan Yang Maha Esa," Prisha tersenyum simpul setelah meneguk air minum dari dalam botol.

"Prisha!" panggil Anaya kepada gadis di sampingnya.

"Apa?"

"Ish, dasar nggak tahu diri. Udah ah, gue ngambek. Mau masuk kelas aja." Anaya berjalan cepat menuju kelasnya, disusul oleh Prisha, Valeska, dan Laksha.

Setelah sampai di dalam kelas, kening Laksha berkerut saat Valeska mengeluarkan kotak bekal berwarna biru. Laksha merasa ada yang aneh, karena ini kali pertamanya dia membawa bekal ke sekolah.

"Bawa bekal?" tanya Laksha.

Valeska mengangguk, lalu menjawab, "Abang dan teman-temannya yang nyiapin ini semua, sekarang pola makan gue dijaga banget."

"Kenapa? Apa ada yang salah dengan diri, lo?" tanya Laksha, penasaran.

"Lebih ke menjaga aja, abang mau gue sehat, nggak sering masuk rumah sakit. Lo, mau?"

"Nggak, makan sampe kenyang ya, jangan sampai sakit lagi." Lanjut Laksha.

Sebetulnya, dia juga tidak tega jika harus melihat Valeska masuk rumah sakit, dia tidak ingin Valeska sakit, apalagi sampai tidak sekolah berhari-hari. Anaya menggeser kursinya agar lebih dekat dengan kedua temannya.

"Setelah ujian tengah semester satu, ada libur satu minggu. Mau ada rencana nggak?"

"Liburan ke kampung halaman nenek gue yuk, di pedesaan gitu. Udaranya sejuk, pemandangannya indah, dekat gunung juga, kayaknya seru," sahut Prisha yang baru saja bergabung.

"Gue setuju banget, dari kemarin gue pengen ke pedesaan. Kalian berdua gimana?" tanya Valeska pada Anaya dan Laksha.

"Ayok aja, mau nginep berapa hari?" tanya Anaya.

"Sekitar tiga hari, gimana?"

"Boleh, besok mulai libur. Apa kita berangkatnya besok aja ya? Kalian bisa nggak?" usul Prisha.

"Bisa kok bisa." Jawabnya kompak.

"Wiih, circle no wacana emang paling the best. Jadinya besok ya? Nginep tiga hari, berangkatnya pake mobil gue aja, nanti kita dianterin sama sopir." Lanjut Anaya, penuh semangat.

Setelah Valeska membuka kotak bekal, aroma semerbak nasi goreng memenuhi ruang kelas. Dia tidak sabar untuk menyantap hidangan tersebut, cacing di perutnya semakin berdemo memaksa untuk segera diisi. Setelah sekian lama, akhirnya Valeska bisa menikmati hidangan yang dibuat oleh abangnya.

"Masakan abang itu sebelas dua belas sama masakan yang sering dibuat Mama, enak banget. Kok bisa ya?Padahal abang'kan cowok, jarang masak juga. Belajar dari mana dia?" tanyanya dalam hati.

***

Kaivandra beserta ketiga temannya, sedang berada di kantin fakultas teknik. Mereka ingin segera keluar dari kantin karena tidak nyaman setelah mendengar beberapa ucapan dari mahasiswa lain.

"Ribet banget ya, masalah daun bawang kebanyakan protes, masalah sawi pahit protes, bahkan nyampe bakso bentuknya nggak bulat sempurna diprotes," gerutu Satya.

"Ada lagi, itu masalah kuahnya kebanyakan juga diprotes, anjir. Kata gue mah mending dia aja yang jualan," timpal Vikara.

"Bentar lagi, dia bakal protes terkait gambar di mangkuk yang seharusnya gambar ayam jadi gambar buaya, ribet banget sumpah." Lanjut Kaivandra.

Arjuna menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi, kemudian memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba,rasa dingin mulai terasa.

"Angin dari mana ini? Kok dingin?"

"Atas lo, kipas angin ege!" sahut Vikara, kesal.

Sontak, Arjuna langsung membuka matanya dan benar apa kata Vikara barusan. Dia baru sadar kalau dia duduk di bawah kipas angin.

"Hari ini, Valeska bawa bekal, kira-kira bakal abis nggak ya?" gumamnya.

Kaivandra tersenyum tipis, lalu menjawab, "Abis, itu nasi goreng kesukaan dia soalnya,"

"Kai," panggil Arjuna.

"Hm."

"Gue perhatiin, lo, dan Valeska belum pernah ketemu lagi sama orang tua kalian. Kenapa?"

"Mereka sibuk, nggak ada waktu buat gue dan Valeska,"

"Kalau mereka sibuk, kenapa nggak lo, aja yang nyamperin?" tanya Vikara, penasaran.

Kaivandra menghela napas panjang, "Nyamperin buat apa? Toh, kalau gue ada di antara keduanya, pasti bakal didiemin, kan gue bilang, mereka itu sibuk."

***

Sore ini, Kaivandra hanya diam sembari mendengarkan ocehan panjang lebar yang keluar dari mulut Satya, Vikara, dan juga Arjuna. Kaivandra tidak paham betul apa yang mereka bicarakan, berawal dari Vikara yang mengatai Arjuna si paling bucin, berakhir di Vikara yang dikatai oleh Satya dengan sebutan cowok body triplek.

"Arjuna si bucin yang paling membandel, halo sayang, kamu di mana sayang, ih maaf ya aku ketiduran tadi, sayang marah? Bla, bla, bla,"

"Ih apaan sih. Nggak gitu juga kali, dasar anak kuyang. Iri, bilang bos!" jawab Arjuna, kesal.

"Lho, ngapain bos iri pada bawahan? Yang ada, bawahan iri sama atasan. Dasar mas bucin!"

"Kalian bisa diem nggak sih? Itu makanannya abisin, udah tahu badan lo tipis kayak triplek, tiap beli makan nggak diabisin, pusing gue lihatnya." Seru Satya, sudah sangat kesal.

"Enak aja, lo ngatain gue triplek. Ini tuh body Korea, Bambang. Gitu aja kagak tahu, dasar Satya!"

"Aelah! Berisik banget sih, gue pengen istirahat, bisa nggak kalian tutup mulut dulu? Sehari aja, nggak debat, kayaknya nggak bisa. Lemes bener tuh mulut." Finish Kaivandra, terlalu jengah jika terus dibiarkan.

"Marah-marah mulu, sini lihat dulu waktu Karin Aespa dance lagu UP, lentur banget badannya." Dengan semangat 45, Vikara memperlihatkan secara terang-terangan bagaimana seorang Karin Aespa sedang melakukan dance. Dan siapa sangka, Arjuna malah menepis dan tidak mau kalah, dia justru memperlihatkan beberapa foto selfie pacarnya kepada Kaivandra. Di situ, dia mengusap wajahnya kasar, karena sudah terlalu capek menghadapi tingkah temannya yang membuat Kaivandra pusing setengah mampus.

"Dahlah, gue mau jemput adik gue dulu di sekolah. Puas-puasin berantemnya." Dan akhirnya, Kaivandra beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju parkiran. Kaivandra berjalan seorang diri, melewati koridor fakultas, entah kebetulan atau apa, tiba-tiba ada pesan masuk dari Valeska. Kaivandra berhenti sejenak, dan merogoh handphonenya dari dalam saku celana.

"Abang, adek udah kelar. Ditunggu ya, jangan lama-lama, badan adek capek, pengen cepet istirahat."

Kaivandra tersenyum simpul, lalu mengetik beberapa kata kemudian dikirim, "Oke, sekarang abang ke sana.Tunggu ya jangan kemana-mana cantiknya abang."

Sudah sekitar 10 menit, Valeska menunggu di lobi sekolah, sembari melihat beberapa siswa yang masih lalu lalang di depannya. Entah kenapa, sepertinya penyakit ini sangat tidak tahu tempat, mengapa tiba-tiba kepalanya sakit seperti ditarik ke satu arah? Dengan cepat, dia merogoh obat dari dalam tas dan mengeluarkan 2 butir pil pereda nyeri. Hingga akhirnya, seseorang datang dengan wajah penuh khawatiran yang langsung membawa tubuhnya ke dalam dekapan.

"D-dek, adek? Hei, kamu kenapa cantik?" tanya Kaivandra, sembari menepuk-nepuk pipi sang adik.

Valeska meremas jaket abangnya, berharap rasa nyeri di kepala berkurang. "Abang, kepala adek sakit banget, ini kenapa?" tanya Valeska, setengah lirih.

"Kepala adek sakit? Abang harus apa? Abang bingung, Dek."

"Peluk, bang. Tolong peluk badan adek, biarkan adek menikmati rasa nyeri ini, abang nggak perlu khawatir."

Kaivandra melakukan apa yang Valeska minta. "Maafin abang ya, ini pasti gara-gara abang telat jemput adek,"

"Bukan, ini bukan karena abang. Tapi karena, penyakit adek aja." Finish Valeska, dia berhenti berbicara, tapi masih dalam keadaan sadar.

Hanya nunggu 30 menit, rasa sakitnya pun perlahan menghilang, dan Kaivandra mengajak Valeska untuk segera pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!