Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Sentuhan tangan Radit di pergelangan tangan Kirana malam itu menyalurkan kehangatan yang perlahan meredakan badai kepanikan di dada wanita itu. Kirana tidak lagi memberontak. Dia berdiri mematung, menatap sepasang mata Radit yang memancarkan keseriusan mutlak, sebuah tatapan yang belum pernah dia lihat selama lima tahun menjadi sekretaris pria ini.
"Sekarang, pakai kacamatamu kembali, Kirana," ujar Radit lembut, dia perlahan mengendurkan cengkeramannya lalu mengambil kacamata Kirana yang tergeletak di meja, menyerahkannya dengan penuh hormat. "Wajah menangis tidak cocok dengan reputasi Sekretaris Robot kebanggaan Baskara Group".
Kirana menerima kacamata itu, memakainya kembali dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba memulihkan logikanya yang sempat lumpuh. "Lalu, apa langkah kita sekarang? Jika nomor itu tidak terdaftar, artinya pengirimnya menggunakan burner phone atau kartu sekali pakai yang sulit dilacak lewat provider biasa".
Radit berjalan kembali ke kursinya, namun dia tidak duduk. Dia mengambil ponsel Kirana, lalu mengetikkan nomor asing tersebut ke ponsel pribadinya sendiri.
"Memang sulit jika dilacak lewat jalur sipil," kata Radit, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. "Tapi kamu lupa satu hal, Kirana. Ibuku punya jaringan mantan agen dan informan yang tersebar di seluruh sudut kota ini. Mencari tahu pemilik sinyal dari kartu prabayar ilegal adalah keahlian mendasar bagi orang-orang lamanya".
Kirana tersentak.
"Kamu mau melibatkan Ibu Sofia? Tapi Radit, jika Beliau tahu tentang ayah saya—"
"Ibuku bukan wanita berwawasan sempit yang akan menghakimimu karena kesalahan Hadi Hartono," potong Radit tegas. "Percayalah padaku. Aku akan meminta bantuannya secara senyap tanpa perlu membeberkan seluruh detail masa lalumu jika kamu belum siap. Tapi untuk malam ini, aku tidak akan membiarkanmu pulang ke apartemenmu sendirian".
Kirana mengernyitkan dahi.
"Apa maksudmu? Saya selalu pulang ke apartemen saya sendirian, dan tidak pernah terjadi apa-apa".
"Tidak untuk malam ini," Radit mengambil jas dan kunci mobilnya dari atas sofa. "Seseorang baru saja mengancammu. Kita tidak tahu apakah dia hanya menggertakmu atau sedang mengawasimu juga di luar sana. Malam ini, kamu ikut aku ke rumah. Ibu pasti senang kalau menantu kesayangannya menginap".
Mendengar kata 'menginap' pipi Kirana mendadak bersemu merah. Namun, melihat tatapan protektif Radit yang tidak menerima bantahan, dia akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah.
Keesokan paginya, Rabu pukul sepuluh, atmosfer di Baskara Group kembali berjalan normal di bawah kendali Aturan Baru Pasal 1.
Kirana duduk di ruangannya dengan fokus penuh pada laporan keuangan kuartal, sementara Radit berada di dalam ruangannya bersama seorang kepala divisi hukum. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Ting..
Pintu lift eksekutif terbuka, dan dari dalamnya melangkah keluar seorang pria paruh baya dengan setelan safari abu-abu yang tampak rapi namun sedikit usang. Pria itu memiliki perawakan tegap dengan rambut yang sudah memutih di pelipisnya. Di belakangnya, dua orang petugas keamanan kantor mengikuti dengan wajah tegang.
"Maaf, Pak, Anda tidak bisa masuk ke lantai ini tanpa janji temu sebelumnya" ujar salah satu satpam, mencoba menahan langkah pria tersebut.
Pria bersafari itu menghentikan langkahnya tepat di depan meja Tika. Dia tidak mengamuk, melainkan hanya tersenyum tenang, sebuah senyuman yang entah mengapa membuat bulu kuduk Tika meremang.
"Saya tidak butuh janji temu untuk bertemu dengan keponakan saya sendiri," kata pria itu, suaranya berat dan berwibawa.
Kirana yang mendengar kegaduhan tersebut langsung berdiri dari kursi kerjanya. Begitu matanya menangkap sosok pria paruh baya itu, seluruh tubuh Kirana mendadak kaku. Darahnya serasa berhenti mengalir, dia mengenali wajah itu. Sangat mengenali wajah yang sering muncul di artikel-artikel koran kriminal sepuluh tahun lalu.
Dia adalah Hendrawan Hartono, adik kandung dari Hadi Hartono alias paman kandung Kirana sendiri. Pria yang dulu ikut menikmati aliran dana panas dari Arwana Property namun berhasil lolos dari jerat hukum karena kekurangan bukti fisik.
"Paman Hendra..." desis Kirana hampir tak terdengar.
Hendrawan menoleh ke arah Kirana, senyumannya semakin melebar, penuh dengan kelicikan yang disembunyikan dengan rapi.
"Ah, Kirana. Sudah lama sekali ya? Ternyata keponakanku yang cantik ini sudah tumbuh menjadi sekretaris hebat ya... Bahkan calon menantu dari keluarga Baskara yang terhormat pula".
Tika dan para satpam tertegun mendengar ucapan Hendrawan. Atmosfer di koridor lantai eksekutif itu seketika menjadi sangat mencekam.
Hendrawan melangkah mendekati meja Kirana, mengabaikan para satpam yang masih ragu untuk bertindak kasar karena pria ini mengaku sebagai paman dari calon tunangan CEO mereka. Dia membungkuk sedikit, menopang tangannya di meja Kirana, lalu berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh Kirana.
"Pesan singkat kemarin hanyalah salam pembuka, Kirana sayang. Ibumu di kampung sedangkan ayahmu membusuk di penjara. Sementara disini, kamu menikmati kemewahan di atas panggung bersama pemuda Baskara itu. Tidakkah kamu merasa berutang sesuatu pada Pamanmu yang sedang kesulitan finansial ini?"
Kirana mengepalkan tangannya di balik meja hingga kuku-kukunya memutih.
"Jadi... Paman yang mengirim pesan itu?".
"Tentu saja bukan Paman yang mengetiknya, ada orang lain yang membantuku," Hendrawan terkekeh pelan lalu meluruskan kembali tubuhnya. "Paman hanya butuh sedikit dana segar untuk memulai bisnis baru. Lima miliar, Kirana. Cukup lima miliar, dan rahasia tentang Hadi Hartono serta fakta bahwa pertunangan megah kalian malam itu hanyalah sandiwara kontrak... tidak akan pernah sampai ke telinga rekan media".
Kirana merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya. Hendrawan tidak hanya tahu tentang ayahnya, tapi pria ini juga tahu detail tentang kontrak palsunya dengan Radit. Dari mana pamannya bisa mendapatkan informasi se-spesifik itu? Apakah ada orang dalam Baskara Group yang berkhianat?
Brak!
Pintu ruangan CEO terbuka dengan kasar. Radit melangkah keluar dengan wajah yang menggelap, memancarkan aura permusuhan yang sangat pekat. Dia rupanya telah mendengar keributan di luar melalui interkom.
"Siapa yang mengizinkan orang asing membuat keributan di kantor saya?!" suara Radit menggelegar, membuat Tika dan para staf lain menunduk takut.
Hendrawan berbalik, menatap Radit dengan pandangan menilai.
"Ah... Pak Direktur Utama. Selamat siang. Saya hanya sedang melepas rindu dengan keponakan saya__"
"Keluar dari gedung ini sekarang juga sebelum saya menyuruh petugas keamanan melempar Anda dari lantai ini" potong Radit tanpa basa-basi, dia melangkah maju hingga berhadapan langsung dengan Hendrawan, melindungi posisi Kirana di belakang tubuh tegapnya.
Hendrawan tentu tidak langsung gentar. Dia justru merapikan kerah safarinya dengan santai.
"Baiklah, saya akan pergi. Tapi ingat, waktu terus berjalan, Kirana. Paman tunggu kabarmu sampai besok malam. Jika tidak... mari kita lihat seberapa kuat saham Baskara Group menahan badai".
Dengan tawa kecil yang menyebalkan, Hendrawan membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam lift diikuti oleh petugas keamanan yang mengawalnya dengan ketat.
Begitu pintu lift tertutup, koridor lantai eksekutif kembali sunyi, namun keheningan kali ini terasa jauh lebih berbahaya. Kirana bersandar pada tepi mejanya, wajahnya pucat seputih kertas, sementara Radit mengepalkan tinjunya dengan erat, menyadari bahwa musuh mereka kini telah menampakkan diri di permukaan.