NovelToon NovelToon
Runtuhnya Hati Seorang Daren(Penyesalan Terdalam Dan Ketulusan Cinta Nadia)

Runtuhnya Hati Seorang Daren(Penyesalan Terdalam Dan Ketulusan Cinta Nadia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Isshabell

"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.


"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.


"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.6 Perjamuan kuliner dan jebakan Elsa

Nadia bersiap-siap di kediaman Nenek Lusi. Sesuai dengan taktik Elsa dari ide sabotase sebelumnya, Elsa sengaja mengirim pesan bahwa acaranya bertema "Casual Warmth" santai dan hangat.

​Nadia akhirnya memilih gaun terusan sederhana berwarna pastel yang rapi namun tidak glamor. Nenek Lusi memuji keanggunan Nadia yang alami, lalu melepasnya pergi dengan sopir keluarga, karena Daren menolak menjemput Nadia dengan alasan sibuk menyambut tamu VIP di lokasi bersama Elsa.

"Kamu kelihatan cantik Nadia, gaun ini pas buat kamu," ucap Nenek Lusi sambil memperhatikan Nadia dengan kagum.

"Nenek terlalu memuji," ucap Nadia tersenyum simpul.

"Kamu tunggu sebentar ya, Nenek akan telpon Daren biar dia jemput kamu," ucap Nenek Lusi pada Nadia, Nadia mengangguk pelan menurut.

Kemudian Nenek Lusi meraih handphonenya yang dia letakkan di atas meja " Daren, Kamu jemput Lusi sekarang, dia sudah siap berangkat ke acara pameran kuliner itu."

"Aku gak bisa Nek, Aku sibuk. Di sini banyak para tamu kalangan elit bisnis yang harus aku temui, suruh sopir keluarga aja yang mengantarkan dia," ucap Daren dengan ketusnya yang saat itu sedang berada di lokasi acara pameran kuliner milik usaha keluarga Elsa itu.

"Dasar anak tidak tahu diri," umpat Nenek Lusi sambil memperhatikan handphonenya.

Nadia sudah mengira kalau Daren tidak akan mau menjemputnya dan akhirnya Nadia berkata pada Nenek Lusi "Nek, tidak apa-apa kalau tuan Daren tidak bisa menjemput aku lebih baik aku tidak usah datang saja Nek, biar tidak merepotkan tuan Daren."

"Tidak bisa, Kamu harus tetap datang di acara pameran kuliner itu, biar sopir saja yang antar kamu ke sana," ucap Nenek Lusi.

"Iya Nek," jawab Nadia pasrah.

"Mari non Nadia," tiba-tiba sopir keluarga sudah datang menjemput Nadia.

"Nek, aku pergi dulu," pamit Nadia sambil mencium tangan Nenek Lusi dengan takzim.

Nenek Lusi tersenyum menganggukkan kepalanya, Kemudian Nadia pun pergi meninggalkan ruangan itu dan si sopir itupun berjalan mengikuti Nadia di belakangnya.

"Silahkan non Nadia," ucap sopir itu sambil membukakan pintu mobil untuk Nadia.

"Terimakasih pak," Nadia kemudian masuk ke dalam mobil dan tak lama mobil itupun melaju pergi meninggalkan kediaman Nenek Lusi menuju ke tempat pameran kuliner.

Dan tak butuh waktu lama akhirnya Nadia sampai juga di lokasi acara pameran kuliner yang di adakan oleh keluarga Elsa.

Begitu kaki Nadia melangkah keluar dari mobil, kemegahan aula hotel bintang lima itu langsung menyambutnya. Kilauan lampu sorot dan karpet merah membentang panjang menuju pintu utama. Namun, senyum di wajah Nadia perlahan memudar ketika matanya menangkap pemandangan di sekelilingnya.

​Semua wanita yang hadir mengenakan gaun malam high-fashion yang glamor dengan perhiasan berlian yang berkilau, sementara para pria tampak gagah dengan tuksedo hitam formal. Nadia terpaku di tempatnya. Gaun terusan pastel sederhananya yang semula terlihat rapi, kini tampak sangat mencolok karena terlalu kasual. Di tengah lautan manusia yang glamor, Nadia merasa seperti selembar kain polos di antara sutra mahal.

"Wah, lihat siapa yang datang," sebuah suara yang sarat akan nada mengejek memecah keheningan batin Nadia.

​Elsa berjalan mendekat dengan langkah anggun yang dibuat-buat, jemarinya menggandeng lengan Daren dengan sangat erat. Elsa mengenakan gaun merah menyala yang sangat mewah, sementara Daren berdiri tegak di sampingnya dengan ekspresi sedingin es.

​"Ya ampun, Nadia!" Elsa menutup mulutnya, berpura-pura terkejut dengan suara yang cukup keras hingga memancing perhatian beberapa tamu elite di sekitar mereka. "Maaf banget ya, aku lupa kasih tahu kalau tema Casual Warmth itu mendadak diganti jadi Formal Glamour sore tadi. Duh, kamu jadi kelihatan... maaf, seperti salah satu staf katering kami."

Bisikan-bisikan miring langsung terdengar dari arah para tamu wanita yang mulai menatap Nadia dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil berbisik mencemooh. Bu Siska, mama Daren, yang kebetulan lewat langsung membuang muka dengan mendengus kencang, merasa reputasi keluarganya jatuh seketika melihat calon menantu pilihan Nenek Lusi berpenampilan seadanya.

​Daren menatap Nadia dengan pandangan merendahkan yang teramat sangat. "Sudah kubilang, dia hanya akan mempermalukan kita," desis Daren tajam, tepat di hadapan wajah Nadia yang kini mulai memucat.

Nadia menarik napas dalam-dalam. Alih-alih menunduk malu atau menangis, dia menegakkan pundaknya. Keanggunan alaminya tidak luntur hanya karena gaun yang salah. "Tema acara bisa berubah, Tuan Daren, tetapi kesopanan seseorang seharusnya tidak ikut berubah," jawab Nadia tenang, menatap lurus ke mata Daren.

​Daren sedikit tersentak, sementara Elsa beralih menahan geram karena Nadia tidak terlihat hancur seperti harapannya.

​"Baiklah, mari kita lihat seberapa bertahan ketenanganmu itu," batin Elsa licik.

Beberapa saat kemudian, acara inti dimulai. Elsa naik ke atas panggung utama bersama beberapa investor asing untuk mempresentasikan menu sup premium terbaru yang akan menjadi menu andalan di jaringan kedai kuliner Sanjaya Group. Di tengah presentasinya, Elsa tersenyum manis ke arah mikrofon.

​"Malam ini sangat spesial, karena di tengah-tengah kita telah hadir calon tunangan dari Daren Wijaya. Mari kita sambut, Nadia! Aku ingin meminta Nadia naik ke panggung untuk mencicipi hidangan premium kami dan memberikan opini kulinernya," ucap Elsa dengan nada ramah yang manipulatif.

Elsa tahu dari informasi Bu Siska bahwa Nadia berasal dari latar belakang biasa. Dia sengaja melakukan ini agar Nadia terlihat bodoh di depan para investor karena tidak paham seluk-beluk kuliner kelas atas, apalagi presentasi ini menggunakan bahasa Inggris formal.

​Daren hanya melipat kedua tangannya di bawah panggung, menunggu dengan sinis momen di mana Nadia akan mempermalukan dirinya sendiri.

​Namun, kejutan besar terjadi. Nadia melangkah naik ke panggung dengan pembawaan yang sangat tenang, seolah gaun pastelnya yang sederhana adalah gaun paling mahal malam itu. Dia menerima mangkuk sup kecil yang disodorkan pelayan, mencicipinya dengan gerakan yang sangat anggun dan berkelas.

Nadia kemudian memegang mikrofon. Bukannya gugup, dia justru berbicara dengan bahasa Inggris yang sangat fasih, artikulasi yang jelas, dan intonasi yang memukau semua orang di ruangan.

​"This premium soup has a rich and complex broth, utilizing high-quality saffron and slow-braised herbs. However, the hints of white pepper are slightly overpowering the delicate taste of the seafood truffle. Overall, it's a bold and promising dish for Sanjaya Group," ucap Nadia dengan senyuman anggun.

Aula sesaat menjadi hening sebelum akhirnya para investor asing itu bertepuk tangan dengan sangat meriah, mengagumi ulasan Nadia yang sangat cerdas, jujur, dan berkelas. Elsa berdiri mematung dengan wajah yang memerah padam karena menahan malu—rencananya untuk membuat Nadia terlihat bodoh justru berbalik menjadi panggung pujian bagi gadis itu. Bahkan Daren sempat terpaku, tidak menyangka bahwa gadis yang selalu disebutnya "kampungan" itu memiliki kapasitas intelektual yang begitu tinggi.

​Kemarahan Elsa sudah mencapai ubun-ubun. Saat Nadia memberikan kembali mikrofon dan berbalik untuk turun dari panggung, Elsa memberikan kode mata yang sangat tajam kepada salah satu pelayan katering suruhannya yang berdiri di dekat tangga panggung.

Pelayan pria yang membawa nampan besar berisi sup yang masih mengepul panas dan beberapa gelas anggur merah itu langsung bergerak cepat. Tepat saat Nadia menginjakkan kakinya di anak tangga pertama, pelayan itu dengan sengaja menabrak tubuh Nadia dengan keras.

​PRRAAAKKK!

​Mangkuk-mangkuk sup panas dan gelas anggur merah itu tumpah sepenuhnya, mengguyur tubuh Nadia. Gaun pastelnya yang bersih seketika basah kuyup dan ternoda merah pekat. Kulit lengan dan bahu Nadia yang terkena sup panas langsung berubah memerah, menimbulkan rasa perih yang teramat sangat hingga Nadia memejamkan matanya kuat-kuat, menahan jeritan sakit.

Suasana aula langsung riuh rendah oleh pekikan kaget para tamu.

​"Ya ampun! Maafkan saya, Non! Saya tidak sengaja!" seru pelayan itu dengan akting ketakutan yang berlebihan.

​Elsa buru-buru menghampiri dengan wajah yang dibuat panik. "Astaga, Nadia! Kamu tidak apa-apa? Pelayan bodoh, bagaimana bisa kamu seceroboh ini?!" bentak Elsa secara drama, padahal dalam hatinya dia sedang tertawa puas melihat Nadia yang kini berdiri gemetar di tengah sorotan lampu dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

​Nadia memegang lengannya yang melepuh, matanya yang berkaca-kaca mencari sosok Daren di antara kerumunan. Dia berharap, setidaknya sebagai seorang pria, Daren memiliki sedikit rasa kemanusiaan untuk menolongnya dari situasi yang memalukan ini.

Namun, harapan Nadia pupus. Daren melangkah mendekat, tetapi bukannya menghampiri Nadia, pria itu justru langsung meraih pundak Elsa yang berpura-pura syok. Daren menatap Nadia dengan pandangan dingin yang menusuk hati, seolah-olah Nadia adalah pembawa sial yang mengacaukan acara malam itu.

​"Ayo pergi, Elsa. Tempat ini sudah kacau," ucap Daren dengan suara yang keras dan dingin. Tanpa menoleh sedikit pun pada Nadia yang sedang menahan perih di lengannya, Daren membalikkan badannya dan menuntun Elsa pergi meninggalkan aula pesta, membiarkan Nadia berdiri sendirian di bawah bisikan dan tatapan menghina dari ratusan pasang mata.

1
partini
bikin mereka ga bisa berpisah nek ,ayo lah nek be smart
partini
lagian ada" saja mau di Pepet terus juga percuma lah wong ga ada rasa di hati buat kamu loh ren
partini
pastinya ga perduli Nadia kan ga ada rasa sama kau Darren
partini
rasain loh 🤭🤭🤭
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
partini
aku kira lagi Ina inu thor
Isshabell: ah kakak..🤭
total 1 replies
partini
rutuh yah aduhh
partini
gampang banget masuk rumah CEO behhh ga ada pengaman ga ada cctv juga wow
partini
ga cuma pengemis Maaaf tapi cinta juga loh ,,dari sinopsisnya seperti itu ya Thor di tunggu part di mana babang bego mengemis cintahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
partini
mantap Nadia bikin suami mu ga bisa tenang CEO bego mau aja di kadalin
partini
iya juga ngapain juga mikirin mereka berdua,,bisa agak bar bar ga Thor Nadia nya
Isshabell: gitu ya kak🤭
total 1 replies
partini
nice
Isshabell: terimakasih kak .....
total 1 replies
partini
minum aja yg banyak habis itu Ina inu aihhhhh CEO 1/2 ons ,,aku benci Ama si nenek Thor bikin sengsara orang aja
partini
nek kamu malah bikin seorang perempuan di hina di rendah kan dan di sakiti kaya bintang cuma mau bikin cucumu sadar tega kamu nek
partini
mau di apain cucumu nek ,lagi tergila gila ma pacarannya mau dengar kalau iya cuma masuk telinga kiri keluar telinga kanan susah cucumu CEO 1/2 ons
partini
ikuti aja alur nya Nadia nanti juga jatuh cinta kalau sudah tau betapa beratnya sang kekasih untuk sekarang masih cinta buta mau ini itu ga bakal mempan adanya kamu yg sakit hati
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang
Isshabell: hai kak maksih ya sdh mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!