NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21.Pengumuman yang mengejutkan.

Langkah kaki Ivy terus melaju masuk ke tengah ruangan, dan seketika itu juga seluruh percakapan yang tersisa di antara para tamu seolah terhenti sepenuhnya. Ratusan pasang mata tertuju padanya, menjadikan gadis itu sebagai pusat perhatian terakhir yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Cahya malam ini. Cahaya lampu gantung yang gemerlap memantul sempurna pada gaun birunya, membuatnya terlihat seperti bintang yang turun ke bumi, memancarkan keanggunan yang alami dan menenangkan.

Begitu melihat putrinya, Nyonya Lusi segera melangkah cepat menghampiri dengan senyum yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya. Ia meremas lembut tangan Ivy seolah ingin memastikan bahwa ini bukan sekadar mimpi, lalu berbisik pelan di telinga putrinya.

“Tenang saja, Nak. Berperilaku lah seperti biasanya. Segalanya akan baik-baik saja,” ucapnya menenangkan.

Setelah itu, Nyonya Lusi membimbing Ivy melintasi kerumunan tamu menuju tempat duduk kehormatan, tepat di hadapan Kakek Candra dan Rama Cahya. Semua pandangan mengikuti pergerakan mereka, penuh rasa penasaran akan gadis yang disebut-sebut sebagai pilihan hati Rama itu.

Sesampainya di depan Kakek Candra, Ivy segera menundukkan kepalanya dengan sopan, menampilkan rasa hormat yang layak. “Selamat malam, Kakek Candra. Saya Ivy Dermawan, mohon maaf atas keterlambatan kedatangan saya malam ini,” ucapnya dengan suara lembut namun jelas terdengar, penuh ketenangan tanpa sedikit pun rasa gugup.

Namun, begitu mata Kakek Candra menatap wajah Ivy, raut wajahnya berubah dari sekadar ramah menjadi penuh rasa terkejut dan takjub. Ia menatap lekat-lekat wajah gadis itu seolah sedang menggali memori yang lama tersimpan di dalam benaknya. Jari-jarinya perlahan menyentuh gagang tongkat kayunya, sementara pandangannya tidak beranjak sedikit pun dari wajah Ivy.

Dalam sekejap, ingatan itu muncul kembali dengan jelas. Beberapa minggu yang lalu, saat ia berjalan sendirian menyeberang jalan dekat pusat kota, tiba-tiba seorang pengendara motor yang melaju kencang kehilangan kendali dan hampir menabraknya. Dia ingat kalau Ivy adalah gadis yang membantunya itu. Sebelum ia sempat mengucapkan terima kasih, gadis itu sudah berlalu pergi begitu saja. Kini, berdiri tepat di hadapannya adalah wajah yang sama—wajah penyelamatnya.

“Jadi… kaulah gadis itu,” gumam Kakek Candra pelan, namun cukup terdengar oleh orang-orang terdekatnya.

Ivy mengerutkan dahi sedikit bingung, tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh lelaki tua itu. Namun, ia hanya tetap tersenyum sopan dan tidak bertanya lebih lanjut. Saat itu juga, matanya tanpa sengaja melayang ke arah Rama yang berdiri di samping Kakek Candra.

Namun, tatapan yang dilontarkan Ivy bukanlah tatapan kagum atau ramah seperti yang diharapkan banyak orang. Sebaliknya, matanya menatap Rama dengan sorot yang dingin, datar, dan jelas menyimpan rasa kesal serta ketidakpercayaan. Ia masih ingat betul ucapan menghina dan tatapan meragukan pria itu siang tadi, yang menyebutnya mungkin perlu diperiksa ke dokter jiwa.

Rama yang biasanya terbiasa menerima tatapan penuh kekaguman atau rasa hormat dari siapa pun yang melihatnya, tiba-tiba merasa terganggu. Di dalam benaknya, ia bertanya-tanya mengapa gadis itu justru menatapnya seolah ia adalah musuh terbesar dalam hidupnya. Rasa penasaran sekaligus rasa tidak nyaman itu muncul untuk pertama kalinya dalam hidupnya, membuatnya tidak bisa lagi bersikap acuh tak acuh seperti biasanya.

Kakek Candra pun berdiri perlahan, dibantu oleh tongkatnya. Wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tulus, sesuatu yang jarang terlihat oleh tamu-tamu yang hadir. Ia menatap Ivy dengan pandangan yang sangat menyukai, lalu mengangkat suaranya agar terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan.

“Baiklah, dengarkan semua orang yang hadir malam ini! Jika ini adalah gadis yang dipilih oleh Rama, maka dengan senang hati aku menyetujuinya. Ivy Dermawan adalah gadis yang baik, berani, dan memiliki hati yang mulia. Aku menerima dia sepenuhnya untuk masuk ke dalam keluarga Cahya kita!”

Kalimat itu diucapkan dengan nada tegas dan penuh kepastian, seolah menjadi pengumuman resmi yang tidak bisa diganggu gugat. Seluruh ruangan kembali berbisik-bisik, terkejut melihat keputusan yang begitu cepat dan tegas itu.

Ivy sendiri tertegun di tempat, matanya terbelalak kaget. Kepalanya sedikit mendongak, tatapannya penuh kebingungan. “Maaf, Kakek… saya tidak mengerti maksud ucapan tadi. Apa artinya diterima masuk ke dalam keluarga ini?” tanyanya dengan jujur, tidak mengerti arah pembicaraan itu.

Kakek Candra tertawa kecil melihat kebingungan itu, lalu menjelaskan dengan nada yang gembira. “Maksudku, Nak. Putraku ini, Rama Cahya, baru saja mengumumkan bahwa engkau adalah gadis yang dipilihnya untuk dijadikan pendamping hidup. Ia ingin menikahimu, dan aku setuju sepenuhnya.”

Seolah ada petir yang menyambar tepat di dekat telinganya, tubuh Ivy terasa kaku seketika. Jantungnya berdegup kencang bukan karena senang, melainkan karena terkejut luar biasa. Matanya segera beralih menatap Rama dengan pandangan yang penuh tanya dan ketidakpercayaan. Menikah? Dengan dia? pikirnya dalam hati.

Namun, sebelum Ivy sempat membuka mulut untuk menyanggah atau meminta penjelasan, Rama sudah melangkah mendekat. Dengan gerakan yang sangat alami dan tidak terduga, ia mengangkat tangannya dan merangkul pundak Ivy dengan lembut namun tegas, seolah mereka sudah menjalin hubungan yang sangat dekat dan akrab sejak lama.

Tindakan itu membuat seluruh orang yang melihatnya tertegun, sedangkan wajah Ivy memerah karena terkejut dan sedikit kesal. Belum sempat ia melepaskan diri, Rama sudah membuka mulutnya dengan nada lembut namun terdengar meyakinkan.

“Terima kasih, Ayah. Aku tahu engkau akan menyukainya,” ucap Rama sambil tersenyum tipis, lalu menunduk sedikit ke arah Ivy dan berbisik pelan hanya untuk didengar oleh gadis itu, “Ikuti saja ucapanku, ini demi kebaikanmu juga.”

Setelah itu, dengan suara yang cukup keras didengar orang sekitar, ia melanjutkan, “Ivy, ucapkan terima kasih kepada Ayah, ya. Beliau baru saja merestui hubungan kita.”

Di dalam hati Ivy, ia hanya bisa berteriak kesal. Pria ini benar-benar gila! jerit batinnya. Siang tadi di pusat perbelanjaan dia menghinaku, meragukan kewarasanku, dan sekarang belum genap sehari dia sudah berdiri di depan semua orang mengumumkan akan menikahiku? Apa sebenarnya rencana aneh yang ada di kepalanya?

Namun, di luar sana, ia tetap berusaha menjaga sikap agar tidak menimbulkan keributan di depan banyak orang. Ia menundukkan kepalanya lagi, menyembunyikan tatapan matanya yang menyimpan berbagai pertanyaan dan rasa kesal, sementara angka “47 Hari” yang melayang di atas kepalanya seolah berkedip perlahan, mengingatkannya bahwa takdirnya kini terikat pada pria dingin yang baru saja mengumumkan ikatan itu.

Di sisi lain, Oliv yang menyaksikan semua kejadian itu dari kejauhan hanya bisa mengepalkan tangannya hingga kuku menancap ke telapak tangan. Rasa cemburu dan amarah meluap di dadanya, menyimpan rencana balas dendam yang semakin gelap, sedangkan takdir mulai mengubah jalan hidup Ivy secara drastis, membuka kesempatan baru sekaligus harus menghadapi rasa iri dari adik angkatnya itu.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!