Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.
Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.kekaisaran
Colosseum Besi Odelia berguncang oleh sorak-sorai yang seolah tidak ada habisnya. Ren melangkah memasuki lorong gelap pemain, meninggalkan arena yang masih menyisakan sisa-sisa angin Aria yang perlahan memudar. Kemenangan dua babak berturut-turut dengan efisiensi yang mengerikan menempatkan namanya di puncak daftar petarung paling ditakuti.
Di ujung lorong yang remang-remang, sesosok siluet ramping bersandar pada dinding logam yang beruap. Lyra menyilangkan tangannya di dada, senyuman sinisnya terlihat jelas di bawah temaram lampu minyak.
"Kau benar-benar tidak tahu cara bersenang-senang, Ren," goda Lyra sambil melemparkan sebuah lencana logam kecil berlambang mawar hitam—tanda pengenal intelijen tingkat tinggi. "Aria adalah aset berharga Levant, dan kau membuatnya terlihat seperti anak kecil yang baru belajar memegang kayu."
Ren berhenti, tidak mengubah *smug* dingin di wajah tampannya. Rambut perak abu-abunya yang berantakan bergerak sedikit saat ia mengembuskan napas pendek. "Dia terlalu mengandalkan prediksi angin. Begitu kecepatanku melampaui frekuensi pengintaiannya, otaknya terlambat memproses."
"Cerdas seperti biasa," Lyra menegakkan tubuhnya, wajahnya berubah serius. "Tapi, bersiaplah. Lawanmu di babak final sudah ditentukan. **Kaelen Vance kedua** telah lahir di faksi seberang."
Ren menyipitkan mata crimson-nya. "Maksudmu?"
"**Leonidas dari Kekaisaran Suci Elisia**," jawab Lyra dingin. "Dia menghancurkan lawannya di semifinal hanya dalam waktu empat detik menggunakan *Holy Mana Breath* tingkat murni. Yang mengerikan... pedangnya memancarkan fluktuasi energi yang sangat mirip dengan pedang suci milik Kaelen Vance yang kau bunuh di perbatasan. Desas-desusnya, dia adalah murid rahasia dari Grandmaster Ordo Perak."
**"Oho? Murid si bajingan perak itu?"** Crimson mendadak terbangun di dalam benak Ren, tato di lengan bawah Ren berdenyut kencang dengan pendaran merah darah yang pekat. **"Menarik! Sangat menarik! Darah Kaelen kemarin agak hambar karena dia sudah tua, tapi anak muda yang penuh dengan Mana suci murni? Itu adalah hidangan penutup yang sempurna untuk turnamen ini, Ren!"**
Ren menarik sudut bilah bibirnya, menampilkan seulas *dangerous smirk* yang begitu intens. Satu mata merahnya berkilat tajam di balik poni rambutnya, memancarkan guratan energi streaks merah yang memotong kegelapan lorong.
"Murid rahasia Ordo Perak..." Ren berbisik, membalikkan badannya untuk berjalan menuju ruang istirahat faksi bawah. "Kalau begitu, aku akan memastikan dia menyusul gurunya ke liang kubur di atas arena baja besok."
### Malam Pembalasan yang Sempurna
Malam itu, kamp faksi bawah Kekaisaran dijaga ketat oleh belasan murid warga biasa yang dipersenjatai dengan metode kompresi Mana tersembunyi milik Ren. Tidak ada satu pun mata-mata faksi bangsawan atau intelijen Veridonia yang bisa menembus perimeter.
Di dalam tenda utamanya, Ren duduk bersila, membiarkan pedang Crimson bermanifestasi sepenuhnya di atas pangkuannya. Bilah pedang terkutuk itu berpendar merah menyala, melepaskan uap darah tipis yang menari-nari di udara seiring dengan teknik *Blood Circulation* yang diaktifkan Ren ke kapasitas penuh.
Setiap denyut jantung Ren kini mengalirkan esensi kehidupan yang telah dikompresi dari sisa-sisa energi di perbatasan barat. Kekuatannya telah matang. Besok, di depan puluhan ribu pasang mata dan para diplomat dunia, Ren tidak hanya akan merebut piala turnamen.
Ia akan mempertontonkan sebuah eksekusi."jangan marah padaku salahkan kalian sendiri berani menantangku,aku akan tunjukan neraka yang sebenarnya pada kalian semua.