“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Cassian sudah berdiri di halaman utama ketika Elowen melangkah keluar.
Di sampingnya, dua ekor kuda hitam yang telah dipasangi pelana tampak gelisah, sesekali menghentakkan kaki mereka ke tanah.
Tak jauh dari sana, sebuah kereta elegan dengan lambang Clyvedon terparkir tak jauh dari sana, siap membawa mereka menuju Ravenhearst.
Cassian yang sibuk merapikan sarung tangan kulitnya berhenti sesaat ketika mendengar suara langkah mendekat. Pria itu menoleh.
Pandangannya terangkat, dan untuk sepersekian detik. Cassian terdiam melihat Elowen yang berjalan ke arahnya.
Cassian benar-benar membeku menatap Elowen. Dia cantik sekali.
Riding habit itu… sangat cocok dipakai Elowen.
Jaket gelap yang membungkus tubuh wanita itu terlihat begitu sempurna. Perpaduan rok panjangnya yang bergerak ringan mengikuti langkahnya benar-benar menambah kecantikan Elowen.
Topi kecil yang bertengger di kepalanya menambah kesan anggun yang sulit untuk Cassian abaikan.
“Apa dia selalu cantik seperti ini?” batin Cassian, kemudian menarik napas pendek.
Namun, sedetik kemudian Cassian tersadar. Ia menarik napas pendek, mengeraskan rahangnya sebelum memalingkan wajahnya ke arah lain.
Elowen sudah berdiri di dekatnya.
“Kau terlambat,” ujar Cassian dengan nada ketus dan tajam.
Elowen berhenti beberapa langkah dari Cassian. Jarinya tanpa sadar menggenggam ujung sarung tangannya sendiri. Tatapannya terangkat, mencoba melihat ekspresi pria di hadapannya.
Dingin, tanpa emosi seperti biasa. Entahlah, padahal beberapa menit yang lalu Elowen sempat melihat tatapan dalam yang hangat dari Cassian. Apa mungkin dia salah menafsirkan?
Elowen menunduk sedih, seolah meminta maaf.
Saat melihat Elowen menunduk, sesuatu di dalam diri Cassian terasa tidak nyaman. Dia merasa bersalah.
Pria itu melirik ke sekilas ke arah Elowen. Kemudian berbalik ke arah kereta, tanpa menunggu Elowen dia berjalan menuju kereta kuda.
“Hari ini bukan sekedar berkuda bersama Marquess Lucien,” ucap Cassian membuka pintu kereta. “Ada hal lain yang harus kulakukan bersamamu di pertemuan ini.”
Suara Cassian tegas.
Elowen paham dia sedang diperingatkan agar tidak membuat sang duke malu di depan Marquess Lucien. Namun, entah kenapa hatinya terasa sesak tiba-tiba.
Elowen mengangguk pelan, meski Cassian tidak melihatnya.
Ketika langkahnya mulai mendekati kereta kuda. Elowen berhenti di dekat Cassian, dan untuk sesaat dia merasa ragu.
Cassian yang sudah lebih dulu berdiri di samping pintu seketika menoleh ke arah Elowen. Pria itu menghela napas pendek saat Elowen belum juga naik.
Lalu, tanpa banyak kata, Cassian mengulurkan tangannya.
Elowen menatap tangan itu selama sepersekian detik. Besar, kokoh, dan entah kenapa… membuat jantung Elowen berdegup kencang.
Perlahan, Elowen meletakkan tangannya di atas telapak tangan Cassian.
Sentuhan singkat itu, cukup membuat Elowen menahan napasnya.
Cassian menggenggamnya dengan kuat, Duke of Clyvedon itu benar-benar membuat hati Elowen tak karuan.
Begitu Elowen sudah berada di dalam kereta, Cassian menyusul masuk ke dalam. Dia duduk tepat di sebelah Elowen.
Lalu, seorang pelayan menutup pintu kereta cepat.
Di dalam kereta yang sempit itu Elowen bersama Cassian. Ini bukan pertama kalinya mereka berada di dalam satu kereta.
Pertama kali Elowen berada di dalam kereta bersama Cassian adalah ketika hari pernikahan mereka.
Tapi kenapa Elowen merasa lebih gugup sekarang daripada saat itu.
“Berangkat sekarang!” perintah Cassian kepada kusir.
Suara beratnya bahkan terdengar begitu menggoda bagi Elowen. Dan, entah kenapa membuat Elowen semakin sulit menenangkan dirinya.
***
Kereta kuda Clyvedon berhenti di depan kediaman Ravenhearst. Begitu pintu dibuka, udara pagi menyambut wajah Elowen.
Cassian lebih dulu keluar.
Elowen menyusul beberapa detik kemudian. Mereka berjalan menuju halaman utama Ravenhearst, sampai langkah Cassian terhenti begitu saja.
Tatapan pria itu lurus, rahangnya mengeras. Elowen mengikuti arah tatapan suaminya. Detik itu juga jantungnya seolah berhenti.
Di tangga utama kediaman Ravenhearst, dua sosok yang seharusnya tidak berada di sana berdiri dengan anggun.
Lady Valerie, dan di sampingnya… Putri Lidya.
Kenapa mereka ada di sini? Batin Elowen.
Senyum tipis terukir di bibir Lady Valerie saat melihat Elowen. Bukan senyum hangat, namun sebuah senyuman merendahkan.
“Tetap di sampingku,” suara rendah Cassian mengalihkan pandangan Elowen.
Kemudian, pria itu mengangkat lengannya. Elown menoleh sesaat ke wajah pria di sampingnya. Lalu melingkarkan tangannya ke lengan Cassian.
Keduanya berjalan bersama menghampiri Lady Valerie dan Putri Lidya.
“Ibu,” sapa Cassian. “Putri Lidya.”
Elowen menunduk hormat dengan tangan yang masih melingkar di lengan suaminya. Seolah sedang memperlihatkan bahwa mereka datang sebagai pasangan suami istri yang harmonis dan bahagia.
Lady Valerie menerima penghormatan itu dengan wajah datar. Sementara Putri Lidya tersenyum tipis, “Selamat pagi Duke Cassian, Duchess Elowen. Hari yang cerah untuk berkuda bukan?” ucapnya.
Selang beberapa waktu, seorang pelayan Ravenhearst datang menyambut mereka.
“Marquess Lucien sudah menunggu anda sekalian. Silahkan, saya akan antarkan,” ujar sang pelayan.
Mereka dibawa ke halaman belakang kediaman Ravenhearst.
Kediaman Ravenhearst terlihat begitu mengesankan. Semua kilau perak dan emas yang terpajang di sana sungguh membuat Elowen terkesan.
Sesampainya di halaman belakang, mata Elowen kembali dikejutkan dengan hamparan hijau yang luas. Semua ini hampir mirip seperti lukisan yang indah.
Semua tertata dengan begitu sempurna. Baru kali ini Elowen mendapat perjamuan semewah ini.
Ketika masih bersama keluarga Whitmore, dia hanya beberapa kali diajak untuk menghadiri perjamuan bangsawan. Itupun saat Cleona tidak bisa mengikuti undangan karena jadwal belajarnya dengan para governess yang ditugaskan untuk mengajar etika dan politik kerajaan.
Cleona selalu dipersiapkan untuk menjadi pendamping bangsawan. Sedangkan, Elowen hanya seorang pengganti jika Cleona berhalangan.
Kali ini, dia menghadiri undangan untuk dirinya sendiri sebagai seorang Duchess of Clyvedon. Perjamuan mewah ini untuk dirinya, dan bukan sebagai pengganti.
Saat Elowen masih mengagumi pemandangan yang indah ini. Seorang pria dengan jaket gelap berekor panjang datang membawa tali kekang kudanya.
“Duke of Clyvedon,” sapanya dari kejauhan mendekat ke arah Cassian. “Anda sudah datang?”
“Marquess Lucien,” balas Cassian menyambut Lucien. “Terima kasih undangannya.”
“Saya kira anda tidak akan datang,” ujarnya, kemudian mata Lucien beralih ke arah wanita di samping Cassian. “Anda…?” suaranya menggantung.
Elowen mengangguk tanpa bersuara.
“Duchess of Clyvedon, dia istriku,” jawab Cassian menggantikan Elowen.
Namun, tatapan Lucien bukan karena dia tidak tahu siapa Elowen. Dia sudah tahu kalau Cassian akan membawa istrinya, tapi Lucien tidak menyangka kalau wanita itu adalah Elowen dari keluarga Whitmore.
“Senang bertemu anda kembali,” ujar Lucien.
Sontak saja Elowen mengangkat kepala. Bertemu kembali? Apa mereka pernah bertemu sebelumnya?
***
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer