Demi takhta tertinggi Klan Zhou, Zhou Yu dijebak oleh konspirasi kejam. Menggunakan ramalan palsu, para tetua mengasingkannya ke Pulau Sunyi—tempat para biksu tanpa kekuatan kultivasi, tempat di mana masa depannya sengaja dikubur hidup-hidup.
Enggan membiarkan takdirnya mati dalam kesunyian, Zhou Yu nekat melarikan diri ke Hutan Keramat yang tabu. Di sana, di balik kabut abadi, dia menemukan kerangka naga raksasa yang terantai.
Siapa sangka, setetes darah Zhou Yu justru menghancurkan segel kuno dan membangkitkan takdir yang sebenarnya: Garis Keturunan Iblis Kuno yang ditakuti langit dan bumi! Dengan tulang naga iblis di tubuhnya dan dendam yang membara di hatinya, Zhou Yu berjalan keluar dari pulau pengasingan.
"Kalian membuangku karena takut aku merebut takhta? Bersiaplah, karena sekarang aku kembali untuk meratakan seluruh klan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berburu Ular di Malam Sunyi
Ketegangan ekstrem yang membekukan Perjamuan Teh Para Genius akhirnya bubar seiring dengan berlalunya tengah malam.
Satu per satu penerus klan besar meninggalkan Istana Musim Panas dengan benak yang dipenuhi oleh bayangan sosok Zhou Yu. Pria berjubah hitam itu telah menanamkan benih ketakutan terdalam di hati para pemuda Ibu Kota.
Zhou Yu melangkah keluar dari gerbang istana sendirian. Angin malam yang sedingin es menerpa wajah tegasnya.
Sebelum ia melangkah lebih jauh, kereta kuda mewah milik Kamar Dagang Mu Rong berhenti di sampingnya. Mu Rong Xue menyembulkan kepalanya dari balik tirai sutra, matanya berkilat penuh kekhawatiran yang tulus.
"Tuan Muda Zhou Yu, Pangeran Ketiga bukanlah orang yang sudi menerima penghinaan. Sifatnya picik dan kejam," bisik Mu Rong Xue, tangannya meremas saputangan sutra. "Paviliun kami memiliki beberapa tetua ranah Pendirian Fondasi tingkat tinggi yang bisa mengawal Anda kembali ke kastil."
Zhou Yu bahkan tidak menghentikan langkah kakinya. "Tidak perlu. Tikus yang kelaparan tidak akan keluar dari sarangnya jika mangsanya membawa terlalu banyak pemburu."
Mu Rong Xue tertegun, menatap punggung tegap yang kian menjauh itu dengan desah napas berat. Dia tahu Zhou Yu sengaja menjadikan dirinya sebagai umpan.
Satu jam kemudian.
Langkah kaki Zhou Yu membawanya ke sebuah jalanan sunyi yang membelah hutan bambu di pinggiran Ibu Kota. Suara jangkrik malam mendadak senyap secara tidak wajar.
Udara di sekelilingnya berdesir aneh, dan dalam hitungan detik, tirai cahaya berwarna ungu gelap naik dari empat penjuru, membentuk formasi penghalang gaib yang mengisolasi ruang tersebut dari dunia luar.
Wusss!
Kabut hitam yang pekat dan berbau busuk mulai merembes dari balik pohon-pohon bambu. Dari dalam kegelapan kabut tersebut, dua puluh sosok berpakaian ketat dengan topeng kain hitam muncul tanpa suara. Di dada zirah mereka, terdapat sulaman perak berbentuk paviliun yang diselimuti kabut.
Mereka adalah pembunuh elit dari Paviliun Bayangan Hitam, organisasi pembunuh nomor satu di Ibu Kota yang bergerak di bawah perintah rahasia Pangeran Ketiga. Mengetuai rombongan itu adalah seorang pria tua bermata cekung dengan aura ranah Pendirian Fondasi Tingkat 8 yang sangat pekat.
"Zhou Yu, Pemimpin Klan Zhou yang baru," suara tetua Paviliun Bayangan Hitam itu mendesis bagai ular. "Pangeran Ketiga menitipkan salam untukmu. Sayang sekali, bakat jeniusmu harus berakhir di malam yang sunyi ini."
Namun, tanpa diketahui oleh para pembunuh tersebut, di luar pembatas formasi gaib, sesosok gadis berjubah putih baru saja tiba dengan napas terengah-engah.
Lin Xinyue.
Sejak keluar dari istana, dia diam-diam membuntuti Zhou Yu dari kejauhan karena firasat buruknya terhadap Pangeran Ketiga. Melihat Zhou Yu terperangkap di dalam formasi pembantaian Paviliun Bayangan Hitam, wajah Lin Xinyue instan pucat pasi.
"T-tidak! Zhou Yu!" teriaknya panik.
Tangan indahnya langsung mencabut pedang pusaka Sekte Pedang Suci, bersiap menghantamkan seluruh energi spiritualnya untuk menghancurkan formasi dari luar demi menyelamatkan pria yang ia kejar.
Akan tetapi, di dalam penghalang gaib, Zhou Yu justru melepaskan tawa rendah yang sangat kejam.
"Dua puluh pembunuh elit... dan satu ranah tingkat delapan. Pangeran Ketiga benar-benar sangat menghargai nyawaku," ucap Zhou Yu datar.
Di bawah tatapan bingung sang tetua pembunuh, Zhou Yu menghentakkan kaki kanannya. Kali ini, tidak ada lagi penahanan diri. Abyssal Qi murni yang hitam pekat dan sarat akan hawa kematian meledak keluar dari tubuhnya bagaikan gunung berapi kegelapan.
Auuuuum!
Raungan naga iblis yang pekat bergaung di dalam ruang isolasi tersebut. Tangan kanan Zhou Yu sesaat bermanifestasi menjadi bentuk Cakar Naga Iblis yang diselimuti sisik hitam legam dan memancarkan api kegelapan.
Sret! Krak!
Sebelum para pembunuh itu sempat bereaksi terhadap perubahan aura yang mengerikan itu, Zhou Yu telah menghilang dari tempatnya. Pergerakan Zhou Yu melampaui batas kecepatan ranah Pendirian Fondasi biasa.
Sebuah kilatan hitam melintas di tengah kabut, dan dalam tiga kedipan mata, sepuluh kepala pembunuh elit melayang ke udara, dengan leher yang hancur terbakar oleh api hitam.
"Apa?! Formasi! Cepat ubah formasi!" sang tetua berteriak histeris, matanya melotot ngeri melihat anak buahnya dibantai bagaikan memotong rumput.
Namun, Paviliun Bayangan Hitam malam ini telah salah memilih mangsa. Zhou Yu bergerak bagaikan malaikat maut di dalam kegelapan. Cakar naga iblisnya merobek zirah, mematahkan pedang, dan meremukkan kepala para pembunuh tanpa hambatan sedikit pun.
Dalam waktu kurang dari satu menit, sembilan belas pembunuh elit telah berubah menjadi tumpukan mayat yang membeku hitam di atas tanah.
BUM!
Zhou Yu muncul tepat di depan sang tetua tingkat delapan. Sebelum pria tua itu sempat mengayunkan belatinya, tangan kiri Zhou Yu telah mencengkeram wajahnya, lalu menghempaskannya ke tanah dengan kekuatan absolut.
KRAK! KRAK!
Zhou Yu menginjak kedua lutut sang tetua hingga hancur total, mengunci pergerakannya.
"Katakan," suara Zhou Yu terdengar sedingin neraka sembari mencengkeram rambut pria tua itu, membawa wajahnya mendekat. "Siapa yang menandatangani perintah eksekusi ayahku beberapa tahun lalu?"
"P-Paviliun... Paviliun Bayangan Hitam hanya menerima perintah..." sang tetua batuk darah, tubuhnya gemetar hebat karena hawa dingin Abyssal Qi mulai membekukan meridiannya. "Pangeran... Pangeran Ketiga... Dia yang memegang segel perintahnya... Tolong, ampuni—"
KRETEK!
Zhou Yu memutar leher sang tetua hingga putus tanpa belas kasihan sedikit pun. Dia memotong kepala tetua tersebut dan memegangnya pada rambutnya yang berlumuran darah.
PRANGGG!
Dengan satu pukulan tangan kiri yang dilapisi energi naga iblis, Zhou Yu menghancurkan formasi penghalang gaib dari dalam hingga pecah berkeping-keping menjadi serpihan cahaya spiritual.
Saat kabut hitam mulai menipis ditiup angin malam, Lin Xinyue yang baru saja bersiap menghantam formasi dari luar langsung terpaku di tempatnya. Pedang di tangannya baru tergenggam setengah jalan.
Di hadapannya, hamparan hutan bambu itu kini telah berubah menjadi ladang pembantaian yang mengerikan. Dua puluh mayat berpakaian hitam terkapar dengan tubuh yang membeku pekat.
Di tengah-tengah genangan darah tersebut, Zhou Yu berdiri tegak dengan jubah hitam yang bersih tanpa noda darah sedikit pun. Tangan kanannya memegang kepala sang tetua Paviliun Bayangan Hitam yang masih meneteskan darah segar ke atas tanah.
Zhou Yu perlahan membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Lin Xinyue yang berdiri gemetar di luar batas hutan. Mata merah darahnya berkilat mengerikan di bawah kegelapan malam, memancarkan hawa membunuh yang belum sepenuhnya padam.
"Sudah kukatakan padamu," Zhou Yu berbisik dengan nada yang sangat dingin, memotong kesunyian malam, "berhenti membuntutiku, Peri Lin. Atau di perjamuan berikutnya, lehermu yang akan berada di dalam genggamanku."
Drap.
Kepala sang tetua dilemparkan begitu saja ke dekat kaki Lin Xinyue.
Zhou Yu kemudian berbalik dan melangkah pergi menembus kegelapan malam, meninggalkan Lin Xinyue yang jatuh terduduk di atas tanah dengan tubuh yang gemetar hebat.
Antara rasa takut yang mencekam jiwa dan rasa cinta yang tragis akibat penyesalan, dewi pedang itu kini sepenuhnya hancur di dalam kegelapan hutan bambu.