NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:815
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan Ritme

Pagi hari di penthouse Menara Alfarezel selalu dimulai dengan keteraturan yang kaku. Jam menunjukkan pukul enam pagi saat Anya melangkah ke dapur dengan rambut yang sudah tersisir rapi. Setelah kejadian dramatis di ruang kerja Devan semalam, Anya tidak bisa tidur lagi. Pikirannya terus berputar memikirkan sisi rapuh sang CEO yang tidak sengaja ia saksikan.

Anya memutuskan untuk menyibukkan diri dengan membuat sarapan. Ia memasak nasi goreng mentega sederhana dengan telur mata sapi setengah matang di atasnya, ditambah dua cangkir kopi arabika hitam tanpa gula yang ia seduh manual persis seperti selera Devan.

Tepat saat ia meletakkan cangkir kedua di atas meja makan marmer, langkah kaki terdengar mendekat.

Anya menoleh, mendadak merasa gugup. Devan berjalan memasuki ruang makan. Pria itu sudah rapi dengan setelan jas tiga potong berwarna biru tua yang elegan. Wajahnya kembali bersih, rambutnya tertata sempurna, dan ekspresinya sedingin es seolah-olah kerapuhan, keringat dingin, dan napas tersengal-sengal di pukul dua dini hari tadi hanyalah halusinasinya belaka.

"Selamat pagi," sapa Anya formal, meremas jemarinya sendiri di balik celemek.

Devan menghentikan langkahnya di dekat meja, melirik piring nasi goreng dan cangkir kopi yang masih mengepulkan uap hangat. Ia tidak langsung menjawab. Sepasang mata elangnya menatap Anya lekat-lekat selama beberapa detik yang terasa amat panjang dan menyiksa bagi jantung Anya.

"Pagi," jawab Devan pendek, suara baritonnya kembali terdengar berat dan berkuasa.

Pria itu menarik kursi, duduk dengan anggun, lalu mulai mencicipi sarapan buatan Anya. Tidak ada keluhan, tidak ada bentakan kasar seperti hari pertama. Devan menikmati makanannya dalam keheningan yang intens.

Anya yang merasa canggung berniat memutar tubuh untuk kembali ke dapur, namun suara Devan menghentikannya.

"Anya."

Anya berbalik lambat. "Ya, Pak... maksud saya, Devan?"

Devan meletakkan sendoknya, mendongak menatap Anya dengan kilat mata yang sulit diartikan. "Mulai hari ini, jadwalku setelah jam tujuh malam dikosongkan. Aku tidak menerima pertemuan bisnis di luar jam kantor."

Anya mengernyitkan dahi, bingung. "Tapi, ada beberapa makan malam dengan investor minggu ini yang..."

"Batalkan atau jadwalkan ulang ke jam makan siang," potong Devan mutlak, namun nadanya tidak sekeras biasanya. Pria itu bangkit berdiri, merapikan kancing jasnya, lalu melangkah mendekati Anya hingga jarak mereka tersisa dua jengkal.

Anya refleks menahan napas saat Devan mengulurkan tangan kekarnya. Namun, alih-alih melakukan gerakan intimidasi, jemari Devan yang hangat bergerak perlahan menyelipkan sehelai rambut Anya yang lolos ke belakang telinganya. Sentuhan singkat itu mengirimkan sengatan listrik yang membuat bulu kuduk Anya meremang.

"Mulai malam ini, aku akan pulang tepat waktu," bisik Devan dengan suara rendah yang serak, matanya mengunci pandangan Anya yang mulai goyah. "Sandiwara kita di depan publik sudah sukses. Sekarang, saatnya kita fokus memperkuat kedekatan di dalam rumah ini agar tidak ada celah bagi Karina untuk menjatuhkan kita."

Devan menarik kembali tangannya, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan pesona tersembunyi sebelum berjalan pergi meninggalkan ruang makan menuju lift eksekutif.

Anya terpaku di tempatnya berdiri, memegangi dadanya yang kembali berdegup gila-gilaan.

Ia menatap punggung tegap Devan yang menghilang di balik pintu lift. Ia tahu utang finansialnya telah lunas, namun kini, di bawah atap yang sama dengan pria manipulatif yang perlahan mulai mengikis pertahanan hatinya, Anya sadar bahwa bahaya yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!