Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Anak Haram
Adrian sempat terkejut mendengar pengakuan itu, namun sedetik kemudian ia menatap Aluna dengan tegas. "Aku tidak peduli."
Ketegangan di antara keduanya ternyata disaksikan oleh Sisi, yang sejak tadi diam-diam membuntuti dari kejauhan.
"Aluna, kamu benar-benar perempuan sialan. Aku harus melaporkan hal ini kepada Tuan Muda," desis Sisi dalam hati.
Sisi berbalik, lalu meminjam ponsel milik orang asing yang lewat untuk menghubungi Gavin secara anonim. Ia membeberkan informasi mengenai dugaan perselingkuhan Aluna. Saat panggilan itu masuk, Gavin sedang memimpin rapat besar, mendengarkan kepala departemen keuangan memaparkan laporan keuangan tahunan perusahaan. Begitu mendengar informasi tersebut, Gavin langsung bangkit berdiri dan meninggalkan ruang rapat begitu saja.
Ketika Aluna sampai di mansion, ia segera menyelesaikan makan malam dan mandi, lalu berbaring di kamar tidur sambil menyalakan televisi.
Mendengar suara pintu terbuka, ia menoleh dan menyapa Gavin dengan nada manis yang sengaja dibuat-buat, "Kamu sudah pulang."
Wajah yang tampak lembut serta suara yang terdengar halus itu seketika menampilkan kesan ketenangan di dalam kamar.
Kemarahan yang semula menggebu di antara kedua alis Gavin perlahan surut. Ia melangkah maju dengan agak ragu, lalu bertanya, "Ke mana saja kamu setelah jam kerja selesai sore tadi?"
"Perasaanku sedang agak jenuh, jadi aku berjalan-jalan sebentar di sekitar gedung sebelum akhirnya naik taksi untuk pulang. Kamu sendiri baru sampai, apa sudah makan malam?"
"Belum."
"Kalau begitu, aku akan turun ke dapur dan meminta pelayan untuk menyiapkan makanan untukmu."
"Baiklah."
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Gavin memanggil Sisi ke ruang kerja. Tanpa basa-basi, ia langsung menanyai pelayan itu,
"Kamu yang melakukan panggilan telepon anonim tadi sore, kan?"
Sisi cukup cerdas untuk tidak berpura-pura bodoh di hadapan Gavin. Ia menjawab dengan jujur, "Benar, Tuan Muda. Anda tidak tahu apa yang dilakukan Nona Aluna di tempat kursus hari ini..."
Setelah Sisi memperkeruh suasana dengan ceritanya, ekspresi Gavin perlahan-lahan berubah menjadi sangat gelap. Ia berkata dengan dingin, "Besok aku akan mendaftarkanmu di tempat kursus itu. Kamu akan masuk ke kelas yang sama dengannya. Tugasmu adalah mengawasinya secara ketat dan segera melapor kepadaku jika terjadi sesuatu."
"Baik, Tuan Muda," jawab Sisi dengan penuh sukacita. Ia langsung menyetujui perintah tersebut karena merasa mendapat peluang besar.
Keesokan paginya.
Dengan suara decitan rem yang halus, mobil Maybach milik Gavin berhenti dengan mulus di depan gedung pusat seni. Seperti biasa, Gavin dengan telaten membantu Aluna turun dari mobil. Sementara itu, Sisi, yang kini menyembunyikan identitasnya sebagai mata-mata, turun dari mobil pelayan yang melaju di belakang mereka.
Perbedaan perlakuan yang sangat mencolok itu kembali memantik rasa benci yang mendalam di hati Sisi terhadap Aluna.
Sisi mengertakkan giginya rapat-rapat. Kesepuluh kuku jarinya menancap dalam ke telapak tangannya sendiri saat ia bergumam di dalam hati, "Aluna, Tuan Gavin adalah milikku. Sekarang aku ada di sini, cepat atau lambat aku akan memergoki perselingkuhanmu dengan mantan kekasihmu itu."
"Dengan begitu, aku yang akan menjadi Nyonya Ramadhan."
Tenggelam dalam fantasinya sendiri, Sisi tiba-tiba terkekeh dengan pelan. Kepala pelayan yang berdiri tidak jauh di sampingnya memperhatikan Sisi yang sengaja meniru model pakaian Aluna. Pria paruh baya itu menatapnya dengan ekspresi mengejek.
"Kamu berani bermimpi untuk naik ke ranjang Tuan Muda? Jangan berkhayal terlalu tinggi."
Kekuasaan dan uang bisa mengatur segalanya. Melalui manipulasi dari pihak Gavin, Sisi yang sama sekali tidak memiliki latar belakang atau kemampuan tentang musik kini berhasil masuk ke dalam kelas tingkat menengah yang diajar oleh Aluna.
Perlu diketahui bahwa instrumen piano memiliki tingkatan kualitas dan pemahaman yang jelas. Sisi tidak memiliki bakat, apalagi pelatihan piano yang sistematis sejak kecil.
Memaksakan diri untuk langsung mempelajari karya piano tingkat menengah justru membuat permainannya terdengar jauh lebih buruk daripada kebisingan biasa.
Di dalam kelas, Aluna bersikap profesional dengan memperlakukan semua murid secara setara. Ia menggunakan keahliannya untuk menunjukkan standar pengajaran yang luar biasa. Lima siswa lainnya di dalam kelas mampu mengikuti ritme pelajaran dengan baik, sehingga skeptisisme awal mereka terhadap guru muda itu akhirnya berubah menjadi rasa kagum.
Sebaliknya, Sisi bahkan kesulitan untuk menemukan letak kunci C mayor yang paling mendasar.
Ketika bel berbunyi, waktu belajar mengajar pun resmi berakhir. Lima siswa lainnya memilih untuk mengabaikan Sisi, namun mereka sengaja melontarkan sindiran tajam saat merapikan barang-barang.
"Seperti kata pepatah, manusia itu butuh harga diri, pohon butuh kulit luar. Tapi sepertinya ada orang di sini yang bahkan lebih buruk daripada pohon."
"Benar sekali. Apa mereka tidak tahu batas kemampuan diri sendiri? Jika memang tidak tahu apa-apa, sehaursnya tahu malu dan mendaftar di kelas pemula dari awal. Jangan malah membuang-buang waktu kita di kelas ini."
"Orang tidak tahu diri hanya bisa menimbulkan masalah!"
Suara-suara ejekan itu terdengar jelas di telinga Sisi, membuatnya meledak dalam kemarahan. Namun, ia terpaksa memendam amarahnya karena tahu bahwa para siswa yang mengejeknya berasal dari kalangan keluarga kaya dan berpengaruh. Ia hanyalah seorang pekerja, dan tidak mungkin mencari perkara dengan mereka.
Karena tidak mampu melampiaskan kekesalannya pada para murid, Sisi mengalihkan seluruh kemarahannya kepada Aluna.
Saat Aluna bersiap untuk melangkah meninggalkan ruang kelas, Sisi menyusun sebuah niat busuk. Ia dengan cepat berdiri dan berpura-pura secara tidak sengaja menjulurkan kaki kanannya ke jalur jalan Aluna.
Dalam hatinya, Sisi berpikir, "Jika anak di dalam kandungan Aluna mengalami cedera serius atau keguguran, itu akan jauh lebih baik."
Namun, Aluna sudah waspada sejak awal. Ia menghentikan langkah kakinya tepat waktu sebelum tersandung, lalu menatap tajam ke arah Sisi yang sengaja meniru penampilannya.
Aluna menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Seberapa keras pun kamu mencoba meniru penampilanku, kamu tetap bukan aku. Dan Gavin tidak akan pernah sedikit pun tertarik kepadamu."
Kalimat itu langsung memprovokasi harga diri Sisi. Melihat situasi sekitar yang sudah sepi dari murid lain, Sisi langsung kehilangan kendali emosinya dan mendesis sinis, "Heh, Nona Aluna, kamu pikir dirimu begitu mulia?"
"Jauh di lubuk hatimu, kamu itu murahan. Kamu akan menerima pria mana saja yang datang mendekat."
Sisi kemudian mengubah arah pembicaraannya, menunjuk langsung ke arah perut Aluna yang masih rata. "Jangan-jangan, gumpalan daging di dalam perutmu itu juga anak haram dari pria lain?"
Entah mengapa, Aluna yang awalnya sama sekali tidak mengharapkan kehadiran janin di perutnya dan bahkan sempat merasa tertekan dengan kehamilannya mendadak merasakan naluri untuk melindungi janin di dalam perutnya dari hinaan Sisi.
Ia membalas dengan tatapan tajam dan suara yang menuntut, "Tutup mulutmu yang kotor itu, dan jangan pernah berani menghina anakku."
Sisi mendengus meremehkan, "Hanya anak haram, apa yang perlu dibanggakan? Aku hanya penasaran, di mana ayah dari anak itu sekarang?"