NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Su Qingxue menghadapi hantaman energi petir yang terus datang silih berganti dengan gaya yang berbeda dibandingkan saat melawan Bai Ruochen kemarin. Jika lawannya adalah air yang tenang dan menghanyutkan, maka Gao Tianpeng adalah api yang membakar segala sesuatu yang dilewatinya. Melawan api hanya dengan kesabaran saja tidak akan cukup.

Maka, Su Qingxue pun berubah menjadi air.

Gerakannya tidak lagi kaku mengikuti pola ajaran semata, melainkan mengalir luwes, terus menyesuaikan diri, dan mencari celah di antara setiap serangan yang meluncur deras. Ia tidak selalu memblokir, melainkan lebih sering membiarkan kekuatan lawan lewat begitu saja, lalu masuk ke ruang kosong yang ditinggalkan lawan setelah menyerang.

Niat Pedang Sejati Sekte Taixuan tidak meledak dengan suara gemuruh, tidak memancarkan cahaya yang menyilaukan. Ia menyebar perlahan, dingin namun terus meresap ke dalam pertarungan, layaknya air yang akhirnya mampu melubangi batu terkeras sekalipun hanya dengan ketekunan dan waktu.

Di tribun sesepuh, Sesepuh Bai dan Sesepuh Duan menyaksikan pertarungan itu dalam diam. Namun, ketegangan yang menyelimuti bahu mereka perlahan menghilang, meski hanya terlihat oleh mereka sendiri.

Sementara itu, di tribun penonton, Lin Hao yang sebelumnya sibuk mengamati sekeliling kini memusatkan seluruh perhatiannya ke tengah arena. Tatapannya menjadi lebih tajam dan serius.

“Jadi benar adanya. Itu adalah Niat Pedang Sejati Sekte Taixuan,” gumamnya dalam hati. “Ternyata sekte itu memang menyimpan warisan yang luar biasa.”

Pertarungan berlangsung sengit selama enam puluh jurus penuh.

Gao Tianpeng yang awalnya meyakini bisa mengakhiri pertarungan dalam dua puluh jurus saja mulai merasakan kekecewaan dan rasa frustasi yang memuncak. Setiap serangan dahsyatnya selalu mengenai ruang kosong. Setiap kombinasi jurusnya selalu terputus di momen paling krusial. Sementara energi petir yang terus ia keluarkan tanpa jeda perlahan menguras tenaganya sendiri, sedangkan Su Qingxue tampak masih setenang air dan tak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sedikit pun.

Di jurus keenam puluh satu, Gao Tianpeng melakukan kesalahan umum yang sering terjadi pada petarung yang mulai kehilangan kendali diri—ia mengerahkan seluruh sisa kekuatannya sekaligus.

Semburan energi petir yang sangat besar meledak dari seluruh tubuhnya, memenuhi separuh luas arena. Suara ledakannya begitu keras hingga membuat banyak penonton berdiri dari tempat duduknya karena terkejut.

Namun, Su Qingxue hanya berdiri diam di tengah badai energi itu.

Pedang giok di tangannya terangkat perlahan.

Niat Pedang Sejati yang selama ini mengalir pelan seperti sungai tiba-tiba berkumpul dan memusat menjadi satu titik. Kekuatannya terasa dingin, sangat tajam, dan dalam, seolah seluruh massa air samudra dipadatkan hingga seujung jarum.

Hanya satu gerakan sederhana yang ia lakukan.

Seluruh energi petir Gao Tianpeng seketika terbelah dua tepat di udara, meluncur melewati sisi kanan dan kiri Su Qingxue tanpa menyentuh sehelai rambut pun, lalu menghantam tembok pembatas arena dan meninggalkan bekas hangus yang dalam.

Di saat yang sama, ujung pedang giok itu berhenti tepat dua jari dari leher Gao Tianpeng.

Suasana arena seketika hening seolah waktu berhenti.

Beberapa detik kemudian, suara sorak sorai penonton meledak, lebih keras dan meriah dibandingkan pertandingan mana pun selama empat hari berlangsungnya turnamen.

 

Di tribun penonton, Lin Hao menepukkan tangannya perlahan sebanyak dua kali. Ekspresinya tetap datar tanpa perubahan. Namun, setelah itu, pandangannya kembali menyapu pintu keluar, koridor samping, hingga kerumunan orang yang mulai bergerak meninggalkan tempat duduk mereka.

Mencari kembali sosok yang dicarinya.

Meskipun ia tidak menggunakan teknik pengamatan tingkat tinggi agar tidak menarik perhatian, indra dan pengalaman seorang pangeran yang terlatih tetap bekerja dengan baik. Di tengah lautan orang yang berjalan keluar lewat pintu timur, matanya menangkap satu sosok yang tampak biasa saja.

Seorang pemuda berpakaian abu-abu sederhana, membawa kantong kain berisi barang belanjaan di satu tangannya, dan berjalan berlawanan arah dengan keramaian—menuju jalan keluar kota, bukan kembali ke pusat keramaian.

Wajahnya tidak menonjol. Tidak ada energi yang terasa memancar dari tubuhnya. Langkahnya pun tidak mencurigakan. Namun, bagi Lin Hao, kebiasaan untuk tetap menjadi orang yang tidak terlihat di tengah keramaian justru sering kali menjadi ciri yang paling mudah dikenali.

Ia menatap sosok itu selama dua detik penuh.

Pemuda itu tidak menoleh ke belakang, lalu menghilang di balik tikungan jalan.

Lin Hao berdiri, merapikan jubahnya yang sebenarnya tidak kusut, lalu melangkah pergi dengan langkah tetap santai. Pengawalnya yang menyamar segera mendekat.

“Tuan, apakah kami perlu mengikuti dan mengawasinya?” tanya salah satu pengawal itu dengan suara sangat lirih.

“Tidak perlu,” jawab Lin Hao dengan nada tenang. “Biarkan saja ia pergi.”

Ia terus melangkah keluar arena sambil terus memikirkan apa yang baru saja dilihatnya.

“Wajah yang mirip dengan deskripsi laporan. Berpakaian seperti pelayan, tanpa tanda-tanda memiliki kekuatan kultivasi apa pun, dan hari ini membawa kantong berisi bahan dapur,” batinnya.

Sebuah senyum tipis perlahan terukir di sudut bibirnya.

“Kau memang sangat berhati-hati, Lin Chen. Namun, berusaha menyembunyikan diri dan benar-benar tidak terdeteksi adalah dua hal yang sangat berbeda.”

 

Sore harinya, rombongan Sekte Taixuan kembali ke penginapan dengan suasana yang paling ringan dan hangat sejak perjalanan mereka dimulai. Sekte Taixuan berhasil melangkah ke babak selanjutnya dengan hasil yang memuaskan.

Su Qingxue masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang sama tegapnya seperti saat berangkat pagi tadi—tidak terlihat lebih lelah, tidak terlihat lebih sakit. Sesepuh Bai yang berjalan di sampingnya tidak bertanya apa pun mengenai pemulihan yang nyaris mustahil itu, namun sesampainya di depan pintu ruangan, tangannya bergerak singkat dan menepuk bahu Su Qingxue dengan sangat lembut. Sebuah isyarat dukungan yang jarang ia tunjukkan.

Su Qingxue tidak bereaksi secara terang-terangan, namun ia juga tidak menghindar dari sentuhan itu.

Di bagian dapur, Lin Chen sudah menyiapkan hidangan makan malam. Sup yang disajikan lebih kental dan hangat dari biasanya, serta lauk-pauknya sedikit lebih beragam—sebuah perayaan sederhana yang tidak perlu diumumkan secara resmi.

Chen Hao yang masuk ke dapur untuk mengambil air langsung menangkap perbedaan itu dari aromanya.

“Sepertinya ada sesuatu yang berbeda malam ini,” ucapnya sambil mencium bau masakan. “Ada potongan daging di dalamnya?”

“Ada,” jawab Lin Chen tanpa menoleh dari pekerjaannya.

Chen Hao melirik ke arah ruang makan, lalu kembali menatap punggung Lin Chen. “Karena kita baru saja menang di pertandingan tadi?”

“Bukan. Hanya kebetulan harga daging di pasar sedang murah hari ini,” jawab Lin Chen datar.

Chen Hao terdiam sebentar, lalu tersenyum lebar—senyum pertama yang terasa tulus dan sampai ke matanya setelah hari-hari penuh ketegangan ini.

“Baiklah, kalau begitu,” ucapnya sambil membawa kendi air keluar dari dapur.

 

Makan malam kali ini berlangsung lebih hidup dibandingkan beberapa hari terakhir. Bukan keramaian yang dipaksakan, melainkan suara obrolan ringan dan tawa kecil yang muncul karena beban di pundak mereka sudah terasa berkurang. Fang Rui dan Zhou Bin kembali bercanda seperti biasa. Chen Hao makan dengan lahapnya kembali, sementara Wei Peng makan dengan kedua tangannya tanpa lagi berusaha menyembunyikan gerakannya.

Bahkan, Sesepuh Bai dan Sesepuh Duan pun malam itu duduk semeja dengan para murid, tidak lagi terpisah di meja khusus seperti kebiasaan sebelumnya. Perubahan kecil yang tak perlu dikomentari, namun terasa menambah kehangatan suasana.

Su Qingxue pun menghabiskan seluruh isian mangkuknya sampai bersih, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak ia tiba di Kota Jiuyang.

Lin Chen mengisi kembali panci sup di tengah meja tanpa diminta. Saat ia meletakkannya kembali, Su Qingxue—tanpa menoleh dan tanpa mengubah raut wajahnya—menggeser mangkuk kosongnya mendekat ke arah tempat Lin Chen berdiri. Sebuah isyarat permintaan tambahan yang sangat halus.

Lin Chen mengisinya kembali tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

 

Setelah makan malam usai dan semua orang kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, Lin Chen membereskan meja makan secara otomatis. Mengumpulkan peralatan, membawanya ke dapur, lalu mulai mencucinya satu per satu.

Namun, pikirannya tidak tertuju pada piring kotor yang sedang dicucinya.

“Lin Hao benar-benar turun sendiri hari ini. Ia menyaksikan seluruh pertarungan Su Qingxue dan mengamati keramaian sepanjang waktu—jelas sedang mencari seseorang, atau sesuatu,” analisisnya dalam hati dengan sangat tenang. “Aku sempat melihatnya dari kejauhan. Ia tidak menunjukkan reaksi apa pun saat melihatku, namun apakah itu berarti ia benar-benar tidak tahu?”

Lin Chen meletakkan piring yang sudah bersih ke rak pengering.

“Tidak menunjukkan dan benar-benar tidak tahu adalah dua hal yang berbeda.”

Ia melanjutkan pekerjaannya dengan gerakan tetap teratur.

“Babak berikutnya masih dijadwalkan dua hari lagi. Artinya Lin Hao masih punya waktu dua hari untuk menyusun rencananya. Dan aku pun punya waktu dua hari untuk memastikan bahwa apa pun yang sedang ia rencanakan tidak akan berjalan sesuai harapannya.”

“Dari balik dapur ini sekalipun, aku harus tetap waspada.”

Lin Chen menatap air yang mengalir sebentar, lalu melanjutkan pekerjaannya.

“Semua persiapan ini semoga saja cukup untuk menghadapi apa pun yang akan datang.”

 

Di tempat lain, pada malam yang sama, di sebuah gang sempit dua blok dari lokasi penginapan mereka, Lin Hao berdiri sendirian. Ia menyuruh kedua pengawalnya menunggu di ujung jalan agar tidak mengganggu.

Tangannya mengeluarkan sebuah kristal komunikasi kecil yang mulai memancarkan cahaya samar saat diaktifkan.

“Kirim orang untuk memeriksa seluruh catatan pendaftaran tamu di penginapan-penginapan Kota Jiuyang,” ucapnya lirih ke dalam kristal itu. “Carilah nama Lin Chen, atau nama lain apa pun yang kemungkinan ia gunakan untuk mendaftar.”

Kristal itu berdenyut sebentar sebagai tanda perintah diterima.

Lin Hao menyimpannya kembali ke dalam lengan bajunya, lalu menatap arah jalan yang menuju ke distrik pusat kota—tempat penginapan rombongan Taixuan berada, meskipun tidak terlihat dari tempatnya berdiri.

“Kau pasti tidak menggunakan nama aslimu untuk mendaftar, aku sudah menduganya sejak awal,” gumamnya pelan sendirian.

“Namun, ingatlah satu hal: nama bukanlah satu-satunya cara untuk menemukan seseorang yang sedang bersembunyi.”

Ia berbalik arah dan melangkah keluar dari gang itu untuk bergabung kembali dengan pengawalnya. Senyum di wajahnya masih terukir sama seperti sore tadi, seolah ia baru saja menemukan petunjuk yang selama ini dicarinya.

 

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!