Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rumah garendra
Sepanjang perjalanan, jantung Felisyah terus berdebar tak menentu. Pandangannya lurus menatap jalanan, menyaksikan gedung-gedung yang silih berganti di balik kaca mobil. Namun, pemandangan itu sama sekali tidak mampu menenangkan hatinya.
Pikirannya dipenuhi bayangan tentang keluarga Garendra. Entah seperti apa mereka, apakah mereka akan menerima dirinya, atau justru mengusirnya.
"Aku harus kuat. Aku nggak boleh lemah. Ini hanya pernikahan karena sebuah kesepakatan. Kalau mereka tidak menyetujuinya, aku bisa bercerai... dan kembali bebas. Bukankah itu justru lebih baik?" batinnya, mencoba menguatkan diri meski rasa gugup terus menghimpit dadanya.
Di kursi depan, Bayu diam-diam mengamati Felisyah melalui kaca spion. Wajah gadis itu tampak tegang, bahkan sesekali menggenggam kedua tangannya erat seolah sedang menahan kecemasan.
"Nona Felisyah memang berbeda," gumam Bayu dalam hati. "Kalau wanita lain yang dinikahi Bos pasti akan sangat bahagia, apalagi dengan semua harta dan perhatian yang dimilikinya. Tapi Nona Felisyah justru terlihat ketakutan, tertekan... bahkan seolah tidak menginginkan pernikahan ini."
Bayu mengembuskan napas pelan sambil tetap menatap lurus ke arah jalan.
"Semoga kali ini Bos benar-benar mendapatkan cinta yang tulus," gumamnya lirih.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarainya memasuki sebuah halaman rumah yang begitu luas. Deretan taman yang tertata rapi, air mancur yang menjulang di tengah halaman, serta bangunan megah bak istana berdiri kokoh di hadapan mereka.
Mobil pun berhenti.
Bayu segera turun, lalu berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk Felisyah.
Klik...
Pintu mobil terbuka.
"Silakan, Nyonya. Kita sudah sampai," ucap Bayu sopan.
Namun, Felisyah sama sekali tidak bergerak.
Dadanya naik turun menahan gugup. Jantungnya berdetak semakin cepat hingga seolah ingin meloncat keluar. Pandangannya terpaku pada rumah megah di hadapannya. Kemewahan tempat itu justru membuat nyalinya perlahan menghilang.
Tangannya mengepal pelan.
Perlahan ia menundukkan kepala, menatap penampilannya sendiri. Hanya sepasang sandal jepit, celana jins sederhana, dan kaus polos yang melekat di tubuhnya.
Seketika rasa minder kembali menghantamnya.
"Apa aku sanggup menghadapi hinaan lagi? Apa mereka akan menerimaku... atau mengusirku?" batinnya lirih.
Tenggorokannya terasa sesak. Bahkan untuk melangkahkan kaki keluar dari mobil pun ia tak memiliki keberanian.
"Nyonya... silakan," panggil Bayu sekali lagi.
Felisyah tersentak dari lamunannya.
"I-iya..." jawabnya gugup.
Saat hendak turun, matanya refleks mencari sosok Garendra.
Namun pria itu tidak ada.
Hatinya kembali dipenuhi kecemasan "kenapa dia tidak ada di sini? Kenapa justru Bayu yang mengantarku? Apa dia sengaja membiarkanku menghadapi keluarganya sendirian? Kenapa dia tega melakukan ini?" batinnya, menahan perih.
Dengan langkah yang terasa begitu berat, Felisyah akhirnya turun dari mobil. Kepalanya tetap tertunduk. Ia bahkan tak sanggup mengangkat wajahnya sedikit pun, seolah yakin tatapan pertama yang akan diterimanya adalah tatapan penuh hinaan.
Tanpa suara, ia terus melangkah mengikuti Bayu dari belakang.
Tiba-tiba...
"Selamat datang, Nyonya."
Suara serempak itu membuat langkah Felisyah terhenti. Tubuhnya membeku seketika.
Jantungnya kembali berdetak tak beraturan.
"Apa... mereka menyambutku?" batinnya bingung.
Ia masih menundukkan kepala, tak berani memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Bayu menoleh ke arah seorang wanita paruh baya yang berdiri paling depan.
"Mbak Lala, ini adalah Nyonya Felisyah, istri Tuan Garendra sekaligus nyonya rumah ini. Mulai hari ini, semua kebutuhan Nyonya menjadi tanggung jawabmu."
"Baik, Tuan Bayu," jawab wanita itu sopan.
Bayu kembali menoleh ke arah Felisyah. Namun, keningnya langsung berkerut saat melihat gadis itu masih mematung dengan kepala tertunduk.
"Nyonya?" panggilnya pelan.
Felisyah tersentak.
Dengan napas yang terasa berat, ia memberanikan diri mengangkat kepalanya perlahan.
Matanya langsung membulat.
Di hadapannya berdiri belasan pelayan yang berbaris rapi sambil menundukkan kepala dengan penuh hormat. Tidak ada tatapan merendahkan seperti yang ia bayangkan. Tidak ada cibiran ataupun senyum sinis.
Yang ada hanyalah penghormatan.
Felisyah benar-benar tidak mengerti.
"Kenapa mereka memperlakukanku seperti ini? Bukankah aku hanya wanita biasa?" gumamnya dalam hati.
"Nyoya, beliau adalah Mbak Lala, kepala pelayan di rumah ini. Jika Nyonya membutuhkan apa pun, jangan sungkan memberi tahu beliau," jelas Bayu sekali lagi.
Felisyah hanya mampu menganggukkan kepala pelan.
Namun, rasa bingung di dalam hatinya justru semakin besar.
Pandangannya menyapu sekeliling rumah megah itu.
"Di mana orang tua Garendra? Kenapa hanya ada para pelayan? Apa mereka memang tidak ingin menemuiku... atau mereka sedang menungguku di dalam?" batinnya, kembali diliputi kegelisahan.
"Mbak Lala, tolong antar Nyonya ke kamarnya untuk beristirahat," ucap Bayu.
"Baik, Tuan."
Bayu kemudian menatap Felisyah sambil tersenyum tipis.
"Nyonya, maaf saya hanya bisa mengantar sampai di sini. Selanjutnya Mbak Lala yang akan menemani Nyonya. Saya masih ada urusan yang harus diselesaikan."
Setelah memberi hormat singkat, Bayu pun berbalik dan melangkah pergi.
Felisyah hanya bisa menatap punggung pria itu yang semakin menjauh. Entah kenapa, kepergian Bayu membuatnya kembali merasa sendirian di tempat yang sama sekali asing.
"Mari, Nyonya. Saya antarkan ke kamar," ucap Mbak Lala dengan ramah.
Felisyah menoleh ragu. Ia menganggukkan kepala pelan.
"I-iya, Mbak..."
Mbak Lala membalas dengan senyum hangat, lalu berjalan lebih dulu.
Felisyah mengikuti dari belakang. Langkahnya kecil dan terasa berat. Sejak memasuki gerbang rumah ini, jantungnya tak pernah berhenti berdegup kencang. Entah mengapa, ia masih belum merasa aman.
Saat melewati pintu utama, langkahnya kembali terhenti.
Matanya membelalak.
Rumah itu jauh lebih megah daripada yang ia bayangkan. Langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal yang berkilauan. Lantai marmer mengilap memantulkan bayangannya. Perabot-perabot mewah tertata rapi, seolah setiap sudut rumah itu memiliki harga yang tak sanggup ia bayangkan.
Namun, bukan kemewahan itu yang memenuhi pikirannya.
Tatapan Felisyah justru menyapu setiap sudut rumah, mencari sosok yang sejak tadi paling ia takutkan.
Orang tua Garendra.
Namun, rumah sebesar itu terasa begitu sunyi.
Tak ada suara.
Tak ada seorang pun selain para pelayan yang berlalu-lalang.
"Aneh... kenapa rumah sebesar ini begitu sepi? Apa mereka sedang bekerja? Atau... mereka sengaja belum ingin menemuiku?" batinnya gelisah.
Tanpa sadar, jemarinya saling meremas hingga memutih.
"Ya Allah... aku tidak tahu cobaan apa lagi yang menungguku di rumah ini. Tolong kuatkan aku. Jangan biarkan aku menyerah," doanya lirih di dalam hati.
"Mari, Nyonya. Kamar Nyonya berada di lantai dua," ujar Mbak Lala membuyarkan lamunannya.
Felisyah hanya mengangguk pelan.
Rasa canggung membuatnya tak berani mengajukan satu pertanyaan pun. Ia hanya berjalan mengikuti langkah Mbak Lala, merasa dirinya tak lebih dari orang asing yang sedang menumpang di rumah orang lain.
Tak lama kemudian, Mbak Lala berhenti di depan sebuah pintu besar.
Klik...
Pintu itu terbuka.
"Silakan, Nyonya. Ini kamar Nyonya."
Felisyah melangkah masuk dengan ragu.
Sekali lagi ia dibuat terpaku.
Kamar itu begitu luas. Tempat tidurnya berukuran besar dengan seprai berwarna putih bersih. Di sudut ruangan terdapat sofa empuk, meja rias lengkap dengan berbagai perlengkapan, lemari pakaian yang menjulang tinggi, bahkan balkon pribadi yang menghadap taman.
Semuanya terlihat begitu indah.
Begitu sempurna.
Dan terasa begitu asing baginya.
"Semua keperluan Nyonya sudah kami siapkan. Jika Nyonya membutuhkan sesuatu, silakan panggil saya kapan saja. Selamat beristirahat," ucap Mbak Lala sopan sebelum pamit keluar.
Pintu kembali tertutup.
Kini hanya Felisyah seorang diri di dalam kamar itu.
Perlahan ia mengelilingi ruangan, jemarinya menyentuh ujung meja dan sofa dengan hati-hati, seolah takut mengotorinya.
Air matanya hampir menetes.
"Kamarnya... sebesar ini..." bisiknya lirih.
Tatapannya menerawang.
"Bahkan... kamar ini jauh lebih besar daripada rumah yang dulu aku tinggali bersama Ayah."
semangat✍️😉