Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.
Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.
Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Romansa Hangat
Jingyuan kembali ke kamar, ia menemukan Wanqing yang sudah tertidur lelap dengan novel di atas dadanya. Jingyuan perlahan menarik novel itu, tanpa sengaja ia mengenai dada Wanqing yang lembut dan padat.
Malu atas perbuatannya, Jingyuan dengan cepat menyingkirkan novel itu dan membawa cangkir teh Wanqing yang sudah kosong menuju pintu ke luar kamar.
Baru saja pintu itu dibuka, terdengar panggilan lembut namanya dari bibir manis sang istri. "Ayuan.."
Jingyuan yang tak sanggup menahan atau tidak menanggapi panggilan istrinya itu menoleh, "Qing'er." Senyumnya merekah.
Ia meletakkan cangkir teh itu di depan kamar dan menutup pintunya, menguncinya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Jingyuan dengan cepat melompat ke atas kasur itu, ia langsung memeluk sang istri dengan erat, mengendus setiap inci tubuh istrinya termasuk lehernya yang sangat wangi aroma khas tubuhnya.
Wanqing tertawa kecil, "Kenapa baru kembali? Pembahasannya rumit sampai larut malam begini?"
Jingyuan menggeleng, "Tidak rumit, hanya membingungkan saja."
Wanqing mengangguk. Ia mencoba duduk dari posisinya. "Lapar tidak?" Tanyanya. Jingyuan mengangguk cepat, mereka memang belum makan malam dan terakhir makan hanya siang tadi. Wanqing memutuskan untuk bangun dari kasur, tubuhnya sudah segar dan bagian di antara kakinya sudah tidak begitu sakit untuk dipakai berjalan.
"Biar kubuatkan makanan malam yang simple dan hangat ya?" Ujarnya sembari memakai jaket hangat yang diambil dari dalam lemari. Jingyuan masih merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Baiklah.."
Wanqing turun perlahan sembari mencari-cari apakah masih ada orang di bawah. Karena di rasa sudah kosong dan tidak ada orang, Wanqing perlahan membuka lemari-lemari penyimpanan makanan dan mulai memasak sup dengan bahan seadanya. Ia juga memasak nasi dan mempersiapkan tumisan sederhana berisi daging sapi dan kacang panjang.
Wanqing perlahan memasukkan daging yang sudah ia iris ke atas pan yang telah berisikan bumbu tumis dan kacang panjang yang telah layu, ia terus mengaduk tumisan itu sambil sesekali mengaduk sup yang ia proses.
"Masak apa Nak?"
DEG
Tubuh Wanqing langsung membeku, ia berhenti mengaduk masakannya dan spontan berbalik. Sang Ibu terlihat seperti baru bangun tidur dan memegang satu gelas kosong.
"Sup." Wanqing jawab singkat sambil terus memperhatikan Ibunya yang mulai berjalan mendekatinya dan menuangkan air di dalam teko ke gelasnya.
Ia menyesap air dalam gelasnya perlahan dan menarik kursi makan. "Su Gongqi pasti telah memperlakukanmu dengan sangat kasar sampai Kamu trauma dan jadi bereaksi seperti tadi ya?" Ujarnya menatap dalam-dalam Wanqing, mencoba mencari reaksi yang akan dilontarkannya.
Wanqing mengangguk lemah. Ia mengingat salah satu buku medis tentang perilaku dan pola pikir manusia yang diperoleh dari Dokter Wen beberapa hari lalu, di sana tertulis untuk tidak menutupi atau takut terhadap kebenaran, menyatakannya atau menceritakannya adalah salah satu obat penenang terbaik.
Wanqing menarik kursi di hadapan sang Ibu, perlahan ia menceritakan semua yang ia rasakan selama sang Ibu pergi meninggalkannya.
"Aku terus penasaran, dimana Ibu? Bagaimana kondisi Ibu? Apakah Aku sudah boleh mengunjungi Ibu sekarang? Apakah Aku kurang bersikap baik selama ini sampai dihukum tidak bisa bertemu dengan Ibu? Apakah Aku sekotor itu sampai Aku tidak boleh makan bersama di atas meja makan bersama Ayahku sendiri? Apakah Aku seburuk itu sampai Aku diberikan kamar di paling belakang, gudang dingin tanpa pemanas di musim dingin, dan tanpa pendingin di musim panas, tanpa matras sehelai pun, tanpa baju-baju yang layak. Aku terus bertanya kenapa Aku diperlakukan seolah sebagai orang jahat di rumahku sendiri, dan kenapa setiap ulang tahunku Aku harus disiksa habis-habisan oleh ayahku sendiri?"
*PRANG*
Wanqing dan Sang Ibu menoleh ke arah tangga. Disana ternyata ada Jingyuan dengan cangkir teh yang sempat ia letakkan di depan kamar telah bersemayam hancur di lantai. Tangannya mencengkram sisa-sisa remahan cangkir dan meneteskan darah banyak. Dua ajudannya yang mendengar kericuhan itu langsung bangun dan mendekati Jingyuan.
"Jenderal, ada apa?"
Jingyuan berjalan mendekati Wanqing dengan tangan yang masih mengeluarkan darah. "Ketika Kita kembali nanti, Aku yakinkan Kau untuk membunuh seluruh keluarga Su tanpa tersisa."
Ibu Yunting yang mendengar itu langsung berdiri, "Jingyuan, anakku, jangan gegabah, Kita masih membutuhkannya untuk melindungi Wanqing sementara, walau memang tidak akan terlalu efektif lagi, tapi bisa lebih buruk lagi kalau sampai Dia tidak ada. Tenanglah, Kita akan balas dengan cara yang jauh lebih elegan."
Jingyuan tidak menghiraukan ibu mertuanya, ia hanya terus menatap Wanqing dan menunggu responnya. Wanqing meraih lengan Jingyuan, membukanya dan mengajaknya duduk di sofa.
Ia meminta Ajudan Han mengambilkan perban dan obat merah lalu mulai mengobati lukanya, beruntung tidak ada luka yang robek. Wanqing dengan teliti merawat luka itu sembari Ibu Yunting meneruskan masakan Wanqing yang hampir gosong. Ia juga menyajikannya di hadapan Wanqing dan Jingyuan lalu duduk di atas sofa bersama dua ajudan Jenderal Lu Jingyuan.
"Apa yang Su Gongqi lakukan memang buruk kepadaku, tapi setidaknya Ibu benar, jika apa yang Ibu ucapkan seluruhnya benar, Aku bahkan tidak akan bertahan sehari tanpa lindungan Su Gongqi. Perlakuannya terhadapku memang tidak bisa dibenarkan, tapi Kita juga tidak akan jauh lebih baik jika membunuhnya begitu saja, setidaknya, buatlah dia menderita dulu." Ujar Wanqing setelah selesai membalut luka Jingyuan.
Jingyuan mengangguk perlahan. Ibu Yunting lalu menanggapi, "Maafkan Ibu terpaksa meninggalkanmu Wanqing, beberapa hal memang pasti sulit Kamu terima dan cerna, tapi memang realita tidak sesimple itu. Nanti Kita lanjutkan pembasahannya lagi di pagi hari, istirahatlah kalian berdua setelah makan."
Ibu Yunting bangkit dan menarik kedua ajudan itu untuk mengikutinya, "Ayo kalian berdua, pergi ke kamar masing-masing."
Wanqing menatap Jingyuan yang terlihat masih bergumul dengan pikirannya. Perlahan ia menyentuh kedua pipi Jingyuan dengan kedua tangannya. Ia pun mengecup hangat bibir tebal sang Jenderal. "Jangan khawatir, ayo makan."
Wanqing mulai menyantap makanannya, diikuti Jingyuan yang perlahan mulai membaik. Wanqing dan Jingyuan kembali ke kamar begitu jam pas berdenting ke angka dua, sudah pukul dua pagi. Wanqing membuka jaketnya perlahan, tiba-tiba dari balik tubuh dan pinggang rampingnya, lengan Jingyuan melingkari pinggangnya. Dagu Jingyuan terpangku di atas bahu Wanqing, tubuh mereka sangat dekat dan menempel hangat.
Wanqing yang merasakan kehangatan itu tersenyum. "Aku sudah berjanji padamu untuk membalaskan semua yang merugikanmu dan melindungimu sepenuh hati dengan seluruh jiwaku, jadi, tenanglah dan temanilah Aku selama hidupku."
Wanqing terkekeh kecil, "Baiklah pria kuat yang posesif."
Jingyuan yang digoda seperti itu langsung menggendong Wanqing ke atas ranjang. Ia menjatuhkan tubuh mungil Wanqing dengan lembut ke atas kasur dan mengunci tubuhnya dengan kedua tangan kekarnya yang mengangkat kedua tangan Wanqing serta kedua kakinya yang berada di tengah kedua paha Wanqing, kedua kakinya ia gunakan untuk melebarkan kedua paha Wanqing.
Ia langsung menciumi setiap jengkal wajah, leher, dan ketika Wanqing dengan penuh cinta. Perlahan-lahan pandangannya teralihkan pada jendolan di buah dada Wanqing. Dengan ganas ia mengigit dan mengulumnya tanpa ampun. Malam itu, ia tidak berniat untuk berhenti bahkan jika matahari terbit.
Ia ingin merasakan setiap inci tubuh istrinya dan memilikinya sepenuhnya. Teriakan dan erangan terdengar bersahutan antara Wanqing dan Jingyuan. Jingyuan berkata lembut sambil terus bergerak lincah maju mundur, "Akan kutanamkan benih cintaku sehingga semua manusia di daratan Tiongkok tahu bahwa Kau hanyalah milikku seorang."
Ia mengerang panjang sambil melepaskan cairan cintanya yang kini bersemayam hangat dalam perut Wanqing. Mereka pun tertidur pulas ketika matahari telah terbit.
*BERSAMBUNG*
Jingyuan suka lebay yeh kalau masalah Wanqing, gelas kek, teko kek, dipecahin aja semua ama dia, udah kayak murah aja bang :')