Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Dia segera membuka baju sang anak dengan sangat hati-hati dan segera menjinakkan bom yang dipasang oleh ayahnya itu tapi ternyata tidak bisa dia sudah tidak punya waktu lagi.
Dia mempercepat gerakannya walau penuh kehati-hatian karena waktu bom itu sudah semakin cepat.
Waktu yang tersisa hanya 10 detik, dia segera melempar bom itu, menarik dan memeluk anaknya menjauh dengan meloncat menerobos jendela tanpa pikir panjang.
Brak..
Ledakan besar dan kobaran api langsung menjalar memenuhi rumah itu.
"Komandan". Teriak semua orang dari luar.
Biah dan kedua anaknya langsung terjun kedalam sungai yang berada dibelakang rumah tua itu yang ternyata kedalamannya sangat lumayan dengan arus yang lumayan deras, dia berusaha berenang mencari sang anak dengan tangis yang pecah.
"Uwais, Ubay". Teriaknya berenang untuk mencari mereka.
Dia berenang kesana kemari dengan seluruh kekuatannya tanpa takut apapun ,dia hanya ingin menemukan sang anak
"Bunda". Uwais menggerakkan tangannya untuk membuat sang bunda melihatnya karena dia terbawa oleh arus.
Begitu juga dengan Ubay yang mengikuti sang sepupu .
"Pegangan, kalian cari kayu atau apapun agar kalian tidak terlalu terbawa arus, bunda akan selamatkan kalian". Teriak Biah dengan suara besar menggema.
Kedua anak itu berusaha dengan susah payah untuk menggapai sebuah batang pohon, mereka memang bisa berenang sejak masih berusia 3 tahun walau seperti itu mereka tidak sanggup menghadapi aliran deras sungai itu, Ubay akhirnya bisa menggapainya sedangkan Uwais masih hanyut terbawa arus.
"Bunda, Uwais". Teriak Ubay sambil menangis melihat sepupunya dibawah arus.
Dia menunjuk kearah sang kakak sepupu dengan perasaan takut.
"Kamu berpegangan dan teriak sekencang mungkin, pastikan kamu tidak terbawa arus".
Biah merapatkan batang pohon itu kesebuah dahan dan langsung berenang mencari sang anak satunya lagi..
Para tentara itu segera menyusul melihat kebelakang mencari keberadaan mereka.
"Komandan". Teriak mereka sambil berpencar.
"Tolong". Teriak Ubay dari bawah.
"Ya tuhan, itu anak komandan cepat tolong dia". Ucap salah satu dari mereka.
Mereka bergegas menolongnya dan mencari keberadaan komandan mereka bersama sang anak.
"Telusuri arus ini dan cari komandan kita dan anaknya, laksanakan sekarang". Perintah salah satu anak buah Biah itu.
Mereka semua kembali berpencar untuk mencari keberadaannya tapi tak menemukannya sehingga mereka segera membawa Ubay untuk mendapatkan pengobatan
"Uwais". Teriak Biah berusaha mencari sang anak dengan berenang dengan cepat tapi tetap mengontrol tatapannya mencari keberadaan sang anak.
Uwais hanya melambaikan tangan berusaha terlihat tapi derasnya arus membuatnya kesulitan
Biah mengunci gerakan itu dan langsung berenang dengan kekuatan penuh sambil memanfaatkan derasnya arus sungai itu.
Dia langsung menangkap sang anak dan menaruhnya dibelakang pundaknya.
"Pegangan yang erat nak, pastikan kamu bisa bernafas". Ucapnya ketakutan.
Dia bergegas mencari cara untuk berenang mencari tempat untuk bisa menepi dari derasnya air.
"Bunda, sakit". Cicitnya pelan.
Biah yang mendengar itu semakin mempercepat langkahnya dalam air sehingga dia bisa menepi.
Dia segera mencari apa yang membuat sang anak seperti itu.
Dia membuka baju sang anak ternyata ada serpihan kaca yang menancap disebelah kiri sang anak
Dengan gerakan perlahan dia merobek jilbabnya untuk membalut darah sang anak.
"bertahanlah nak, bunda akan menggendong mu, kita akan cari bantuan segera".
Dia kembali menggendong sang anak dipundaknya dan berlari secepat yang dia bisa, bahkan dia menghalangi sebuah mobil yang tengah melaju kencang dan hampir menabrak mereka.
Ckit..
"Hay, kalau mau mati jangan disini". Bentak pemilik mobil karena terkejut saat Biah tiba-tiba menghadang mobilnya.
"Tolong, demi tuhan tolong antar saya kerumah sakit, putra saya sedang kritis". Jawabnya terbata-bata karena kelelahan dan nafasnya memburu.
Melihat keadaan keduanya yang basah dan kacau serta tangan yang dibalut itu membuat amarahnya tadi berangsur hilang.
Lelaki itu hanya mengangguk segera mempersilahkan perempuan itu masuk.
"Kalian kok bisa seperti ini?". Tanyanya penasaran".
Dia melirik kebelakang melihat bagaimana perempuan itu telaten mengurus luka sang anak secara darurat.
"Bisakah saya meminta tolong, didepan ada rumah sakit, tolong bawah putra saya kesana, saya akan menyusul karena saya harus mencari keberadaan putra saya yang satu lagi, saya takut dia hanyut disungai". Ucapnya dengan tangis semakin deras.
Lelaki itu tertegun sejenak melihat betapa kacaunya ibu muda itu, dia hanya mengangguk menghentikan laju mobilnya dan mempersilahkan Biah keluar.
"Tenang saja, saya akan membawanya dan menunggumu untuk datang, uruslah putramu yang satu lagi".
"Terima kasih, aku pasti akan membalas kebaikanmu walau dengan semua yang aku punya, sekali lagi terima kasih".
"Sama-sama, cepatlah!!".
"Nama anak saya Uwais al-Qarni dan nama saya Siti Nurbiah Adam, saya akan menyusul secepatnya".
Biah mengelus kepala Uwais dan segera berlari keluar untuk mencari keberadaan Ubay.
Dia berlari sekencang mungkin untuk mencari keberadaan anaknya tapi sampai disana dia bisa melihat sang anak tengah digendong oleh para prajurit .
"Komandan baik-baik saja?". Tanya mereka dengan khawatir.
Biah hanya mengangguk sambil menangis, dia berjalan menuju kearah putranya tanpa memperdulikan siapapun kemudian memeluknya dengan tubuh bergetar hebat.
"Anakku". Cicitnya sambil mencium kepala Ubay dengan penuh kasih.
Tangisnya pecah melihat luka-luka di sekujur tubuh sang anak ,tangannya mengepal erat penuh kebencian.
Mereka langsung mengalihkan pandangannya melihat betapa rapuhnya sang komandan yang biasanya bertindak tegas itu, tubuh tingginya kini sangat berantakan dan beberapa lengannya robek karena serpihan kaca itu.
"Cari bajingan itu sampai dapat, pastikan dia membayar mahal semua ini, aku tidak akan pernah membiarkannya lolos sekalipun dia ayahku". Ucapnya dengan dingin
"Komandan yakin?". Cicit mereka pelan.
Mereka tahu siapa yang mereka hadapi, mantan Jendral bintang 5 yang terkenal dikalangan petinggi hukum itu kini menjadi buronan mereka dan ayah dari komandan mereka sendiri.
"Aku sendiri yang akan memastikan dia mendapatkan ganjaran yang dia buat setelah ini, dia tidak akan kubiarkan lolos sekalipun dia adalah ayahku, dia sudah berbuat terlalu banyak kejahatan".
Mereka mengangguk segera bergerak untuk melakukan apa yang dikatakan sang komandan.
Berita Adam yang berhasil lolos berkat anak buahnya kini menjadi buronan, semua orang yang menyaksikan itu langsung berbondong-bondong mencarinya, berita Adam itu langsung membuat negara gempar.
Para masyarakat akhirnya tahu siapa Adam karena wajah Adam terlihat nyata sedangkan Biah masih memakai maskernya menghadapi kerumunan wartawan sedangkan Ubay yang berada dibelakang sang bunda menunduk dan menyembunyikan wajahnya agar tidak tersorot.
"Komandan tolong jelaskan pada kami apa sebenarnya terjadi, bukankah dia ayah anda?". Tanya mereka langsung tanpa basa-basi.
"Kalian akan tahu nanti, aku akan membongkar semuanya sampai tuntas dan aku pastikan orang-orang yang terlibat bersamanya ikut juga".
"Tolong media mengawal semua ini karena saya yakin akan banyak pihak yang berusaha menutupi kasus ini karena ini melibatkan aparat penegak hukum".