Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Bara, Bagas, Audrey, dan Zoya berpikir keras bagaimana caranya mengambil kunci ruang seni. Bahkan setelah bel pulang sekolah berbunyi, guru-guru masih berada di ruang guru, sibuk mengobrol satu sama lain.
“Gimana caranya kita ngambil kunci?” bisik Audrey, gelisah.
“Apa kita bilang aja kalau mereka kekunci di dalam?” usul Zoya pelan.
“Ya kalau kita bilang mereka ada di dalam,” Bagas menggeleng cepat, “ntar guru-guru malah curiga. Sejak kapan mereka di sana? Ngapain?”
“Terus gimana dong?” Audrey mulai panik. “Kita mau nunggu sampai kapan?”
“Kita tunggu sampai semua guru keluar,” kata Bara tegas.
“Kabarin Jeremy dulu,” sambung Zoya. “Bilang kita bakal lama. Guru-guru lagi ngumpul.”
Bagas mengangguk cepat dan langsung mengirim pesan pada Jeremy.
Di dalam ruang seni, Jeremy membaca pesan itu. Ia menghela napas panjang lalu menggaruk kepalanya dengan kasar.
“Ya ampun…” gumamnya pelan.
Sementara itu, Bagas, Bara, Audrey, dan Zoya kembali ke kelas mereka. Mendengar suara langkah kaki mendekat, mereka refleks bersembunyi di balik bangku.
Guru-guru lewat di koridor sambil berbincang, suara mereka makin lama makin menjauh.
Keempatnya mengintip perlahan.
“Kayaknya udah aman,” bisik Bara.
“Seriusan?” Audrey masih ragu.
“Ada lagi nggak guru di dalem?” tanya Zoya cemas.
“Nggak tahu… tapi kayaknya sih udah keluar semua,” jawab Bagas.
Mereka akhirnya keluar dari kelas, tetap waspada, melangkah pelan menyusuri koridor yang kini tampak sunyi. Jantung mereka berdetak cepat saat tiba di depan ruang guru.
“Dikunci, guys…” ucap Audrey lemah.
“Gimana dong?” Zoya menelan ludah.
“Lewat jendela,” Bara menunjuk.
Dengan hati-hati, mereka membuka jendela ruang guru. Bara masuk lebih dulu, bergerak cepat namun senyap. Matanya langsung tertuju pada meja Bu Dewi.
“Ketemu,” bisiknya lega.
Bara mengambil kunci ruang seni dan menggenggamnya erat, seolah itu harta paling berharga saat ini.
Namun, saat Bara hendak keluar lewat jendela, ketiga temannya yang berjaga di luar mendadak menegang.
Langkah kaki terdengar mendekat.
“Itu… itu Pak Surya,” bisik Audrey panik.
“Mampus… Pak Surya…” Bagas menelan ludah.
“Sembunyi, sembunyi!” Zoya refleks menarik lengan Audrey.
“Bara gimana?” suara Audrey nyaris bergetar.
“Aduh ayo cepat lariiii!” seru Bagas pelan tapi panik.
Ketiganya langsung berlari menjauh dari ruang guru, bersembunyi di balik dinding koridor.
Di dalam ruang guru, Bara yang sudah bersiap keluar lewat jendela membeku di tempat ketika mendengar suara knop pintu diputar.
Mampus… siapa itu??
Jantungnya berdetak kencang. Dengan cepat ia bersembunyi di balik lemari arsip, menutup mulutnya rapat-rapat, bahkan nyaris lupa bernapas.
Pintu terbuka.
“Haduh… kok bisa ketinggalan sih…” gumam Pak Surya.
Bara memejamkan mata, tubuhnya menegang.
Pak Surya berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil map biru yang tergeletak di atas meja.
Di sisi lain, Audrey, Bagas, dan Zoya berjongkok di ujung koridor, wajah mereka pucat.
“Kira-kira Bara ketahuan nggak ya…?” bisik Audrey cemas.
“Nggak bakal. Dia pasti langsung sembunyi,” jawab Zoya, meski suaranya sendiri gemetar.
“Gue takut ketahuan, njir…” Bagas mengusap wajahnya. “Mana lama banget lagi Pak Surya di dalem. Ngapain sih dia?”
“Entah… kayaknya ada barang yang ketinggalan,” sahut Audrey pelan.
Tak lama kemudian, Pak Surya keluar dari ruang guru sambil menenteng map biru. Ia mengunci pintu kembali, lalu melangkah pergi.
Audrey mengintip dari balik dinding, memastikan.
“Dia udah turun,” ucapnya lega. “Ayo kita lihat Bara.”
Mereka segera kembali ke ruang guru.
“Bara… Bara?” bisik Bagas.
“Pak Surya udah pergi, cepetan keluar.”
Bara muncul dari balik lemari dengan napas masih tersengal.
“Gila… nyaris,” gumamnya.
“Oh iya, sekalian bawa alat sama bahan buat bikin patung,” kata Zoya cepat.
“Iya, udah gue pegang,” jawab Bara.
Ia melemparkan kunci, yang langsung ditangkap Zoya dengan sigap. Bara lalu mengeluarkan kardus berisi alat dan bahan membuat patung, Bagas membantu menurunkannya lewat jendela.
Setelah itu, Bara ikut keluar, melompat turun dengan cepat.
Tanpa buang waktu, mereka berempat segera berlari menuju ruang seni.
***
Di ruang seni, Jolina yang sejak tadi tertidur akhirnya terbangun. Kelopak matanya bergerak pelan, lalu ia melirik ke samping.
Dan membeku.
Ia menyadari kepalanya bersandar di bahu Jeremy.
“Oh my God…” Jolina langsung tersentak. “Kaget, tau!”
Jeremy melirik malas. “Apa sih, Lo?”
“Sejak kapan gue tidur?” Jolina refleks duduk tegak.
“Mana gue tau. Tiba-tiba udah ngorok aja.”
“Eh, gue nggak ngorok ya kalau tidur. Jangan fitnah!”
Jeremy tersenyum miring. “Yaudah sih kalau nggak percaya. Lo kan tidur, mana tau apa yang Lo perbuat.”
“What? What do you mean?” Jolina menyipitkan mata.
“Ya gitu deh…”
“Apa sih, Jere???”
“Ya apa?”
“Lo tuh ngomong itu maksudnya apa sih?”
Jeremy mengangkat bahu santai. “Lo pura-pura bego atau gimana? Udah lah, lupain aja. Namanya juga nggak sadar.”
Jolina langsung menegang. “Gue habis ngapain?? Kasih tau, nggak??”
“Lupain aja, ntar kalau gue bilang. Yang ada Lo malu.”
“Lo pasti bohong, kan?” Jolina mendengus. “Lo sengaja ngomong kayak gitu buat ngisengin gue.”
“Iya, terserah Lo aja.”
Jeremy memalingkan wajahnya, seolah tak peduli. Tapi justru itu yang bikin Jolina makin kesal.
Tanpa berpikir panjang, Jeremy yang masih duduk selonjor itu tiba-tiba tersentak ketika Jolina duduk di atas pahanya, mencengkeram kerah bajunya.
“Lo jelasin sekarang, maksud Lo itu apa?” desak Jolina.
Jeremy mendongak, kaget setengah mati. “Yang mana?”
“Lo punya Alzheimer? Belum ada sejam masa Lo udah lupa? Gue tau Lo lagi ngerjain gue, kan?”
“Yaudah kalau Lo mikirnya gitu,” Jeremy tersenyum tipis, “itu hak Lo.”
“Jeremyyyy!!”
“Saya, Jolina?”
“Lo bener-bener yaa…”
Jeremy terkekeh kecil, lalu dengan santai berkata, “Lo tadi nyium gue.”
“APAAAA???”
Detik itu juga—
Klik.
Pintu ruang seni terbuka.
Empat pasang mata membelalak.
Bagas, Bara, Audrey, dan Zoya berdiri terpaku, menatap Jolina yang masih di atas paha Jeremy.
Lalu, hampir bersamaan, Jeremy dan Jolina menoleh ke arah mereka.
Suasana hening beberapa detik.
“…Apa kita ganggu?” celetuk Audrey pelan.
Jolina tersadar sepenuhnya. Wajahnya memerah seketika. Ia langsung berdiri dan merapikan rambutnya dengan gugup.
Jeremy bangkit, pura-pura santai, lalu menghampiri Bagas dan Bara, mengambil kardus dari tangan Bagas seolah tak terjadi apa-apa.
Jolina menunduk, malu setengah mati.
Zoya dan Audrey menghampirinya.
“Lo habis ngapain?” bisik Zoya.
“Harusnya bilang dong kalau belum selesai,” tambah Audrey dengan senyum menggoda.
“Kalian gila ya…” Jolina mendengus pelan. “Itu nggak kayak yang kalian pikirin, kok.”
Namun jantungnya masih berdetak cepat. Dan Jeremy tersenyum kecil di balik punggung mereka.
“Bilang dong kalau kita harusnya agak lamaan.”
Jeremy sama sekali tak menanggapi ledekan Bagas. Ia langsung mengambil kardus, lalu duduk di lantai ruang seni dengan ekspresi fokus.
“Kalian ke sini mau bantuin nggak?” tanyanya datar.
Bagas dan Bara langsung cengengesan, lalu ikut duduk di lantai di samping Jeremy.
Melihat ketiganya mulai menyiapkan bahan—menuang adonan, mencampur, dan menata alat—Jolina, Audrey, serta Zoya ikut mendekat.
Jeremy mulai membagi tugas dengan tenang. Siapa yang mengaduk adonan, siapa yang menyiapkan rangka, siapa yang membersihkan sisa-sisa patung lama. Instruksinya jelas, teratur, dan tanpa ragu.
Audrey dan Zoya langsung menurut.
Namun tidak dengan Jolina.
Ia berdiri agak kaku, menatap Jeremy dengan sorot mata penuh curiga.
“Lo kenapa diam aja?” tanya Jeremy tanpa menoleh.
Jolina menyilangkan tangan. “Emang Lo beneran bisa buatnya?”
Jeremy berhenti sebentar, lalu menatapnya. “Lo ragu?”
“Ya…” Jolina mendengus. “Buat patung itu kan nggak mudah. Lo tau dari mana? Hidup Lo kan isinya cuma musik.”
Jeremy mengangkat alis, lalu tersenyum tipis.
“Terus kalau gue suka musik, gue nggak bakal belajar hal lain?” katanya santai. “Apa sih yang gue nggak bisa?”
Bagas dan Bara langsung bersorak berlebihan.
“Wuih pede amat!” “Emang nyawa band, nyawa seni juga!”
Jolina makin kesal mendengarnya.
“Kalau sampai hasilnya jelek,” katanya ketus, “gue bakal sorakin Lo paling kenceng.”
Jeremy hanya mengangkat bahu. “Silakan.”
Kepercayaan diri Jeremy justru membuat Jolina makin sebal. Ia mengerjakan bagiannya dengan wajah cemberut, gerakan tangannya kasar dan cepat.
Sementara itu Jeremy tampak menikmati pekerjaannya. Ia membentuk pondasi patung dengan rapi, sesekali bercanda dengan Bagas dan Bara, tertawa kecil, sesekali serius ketika mengoreksi bentuk.
Tanpa sadar, Jolina memperhatikannya.
Cara Jeremy fokus.
Nada suaranya saat menjelaskan.
Dan wajahnya yang terlihat… berbeda dari biasanya.
Tiba-tiba, kalimat itu kembali terlintas di kepalanya.
“Lo tadi nyium gue.”
Jolina refleks menepuk pipinya sendiri.
Plak.
“Lo kenapa, Jo?” tanya Audrey heran.
Jolina tersentak. “Ah… gapapa.”
Tapi jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya… Jolina mulai ragu pada kebenciannya sendiri.