Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Musim mulai berganti di Chicago. Udara hangat yang dulu menyambut kepulanganku dari Santorini perlahan berubah menjadi angin dingin yang menusuk kulit. Daun-daun pohon di sepanjang jalan mulai menguning, lalu berguguran satu per satu, sementara kehidupan di rumah besar milik Mason tetap berjalan dengan ritme yang sama. Teratur, tenang, dan terasa terlalu sunyi untuk sebuah rumah pasangan yang baru menikah.
Hari demi hari berlalu tanpa perubahan berarti. Aku masih bangun lebih pagi daripada Mason hampir setiap hari. Menyiapkan sarapan, memastikan kopinya tidak terlalu manis, dan sesekali mengingatkan pelayan tentang jadwalnya yang sering berubah. Sementara Mason tetap seperti biasanya—tidak dingin, tapi juga tidak pernah cukup dekat untuk membuatku merasa benar-benar menjadi bagian dari hidupnya.
Kami hidup berdampingan. Hanya itu.
Kadang kami makan malam bersama, kadang tidak. Kadang ia pulang sebelum tengah malam. Kadang aku tertidur lebih dulu sebelum mendengar suara mobilnya memasuki halaman rumah. Dan anehnya, aku mulai terbiasa dengan semua itu.
Aku mulai terbiasa melihat sisi ranjang yang kosong saat bangun tidur. Terbiasa menerima jawaban pendek Mason ketika aku mencoba membuka percakapan. Bahkan terbiasa melihat nama Jennifer muncul di layar ponselnya lebih sering daripada namaku sendiri.
Awalnya semua itu terasa menyakitkan. Namun semakin lama, rasa sakit itu berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang. Seperti luka yang tidak lagi berdarah, tapi tetap meninggalkan bekas.
Beberapa minggu setelah kami kembali dari Santorini, Sarah beberapa kali datang berkunjung. Ia selalu membawa energi hangat yang membuat rumah itu terasa lebih hidup. Kadang ia mengajakku makan siang. Kadang mengajakku berbelanja. Kadang hanya datang untuk minum teh sambil bercerita tentang masa kecil Mason.
Dan aku selalu tersenyum di depannya. Aku menjadi semakin pandai berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Karena melihat Sarah tersenyum bahagia setiap kali membicarakan pernikahan kami membuatku tidak tega menghancurkan harapannya.
Aku juga tidak pernah benar-benar tahu bagaimana cara menjelaskan hubungan kami kepada orang lain. Karena tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada pengkhianatan yang jelas. Tidak ada bentakan atau kekerasan. Melainkan hanya jarak.
Jarak yang terlalu besar meskipun kami tinggal di rumah yang sama. Dan mungkin justru itu yang paling melelahkan.
Siang itu, ponselku bergetar ketika aku sedang duduk di perpustakaan rumah sambil membaca buku yang bahkan tidak benar-benar kupahami isinya. Dan nama Jake terlihat di layar ponselku. Aku pun langsung mengangkat panggilan telepon darinya.
“Hai, Jake! Ada apa?” tanyaku sambil tersenyum kecil.
“Aku sedang ada di restoran dekat rumahmu,” katanya santai. “Datanglah. Temani aku makan siang.”
Aku tertawa pelan. “Itu bukan pertanyaan.”
“Memang bukan.”
Aku akhirnya menyetujui ajakannya. Satu jam kemudian aku sudah duduk di restoran steak favorit Jake di pusat kota Chicago. Tempat itu cukup ramai, dipenuhi suara obrolan dan dentingan gelas, namun meja kami berada di sudut yang cukup tenang.
Jake duduk di depanku sambil memperhatikanku beberapa detik.
“Apa?” tanyaku geli.
“Sepertinya kau terlihat lebih kurus.”
Aku langsung memutar mata. “Kalimat pertama yang keluar dari mulutmu selalu menyebalkan.”
“Itu karena aku perhatian.”
Aku tertawa kecil pelan. Dan untuk pertama kalinya hari itu, rasanya dadaku sedikit lebih ringan. Jake selalu seperti itu. Berisik, menyebalkan, dan terlalu protektif. Tapi juga selalu berhasil membuatku merasa aman.
“Kau terlihat baik-baik saja,” katanya lagi setelah pelayan pergi membawa pesanan kami.
“Aku memang baik-baik saja.”
Jake menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menyipitkan mata. “Hazel.”
Nada suaranya berubah. Dan entah kenapa, hanya karena itu saja, tiba-tiba tenggorokanku terasa tercekat.
Aku menunduk pelan sambil memainkan ujung serbet di pangkuanku. “Aku mau cerita sesuatu,” kataku akhirnya.
Jake langsung diam.
“Tapi kau harus janji satu hal dulu.”
“Apa?”
“Kau tidak boleh marah.”
Jake mendengus pelan. “Kalau itu tentang Mason, aku tidak bisa janji.”
“Jake.”
“Oke, oke.” Ia mengangkat kedua tangannya menyerah. “Aku akan diam.”
Aku masih menatapnya ragu beberapa detik sebelum kembali bicara. “Dan kau juga tidak boleh melakukan hal aneh atau mendatanginya.”
“Aneh itu definisinya luas.”
Aku menatap tajam ke arahnya. Dan Jake menghela napas panjang. “Baiklah. Aku tidak akan melakukan apa pun. Puas?”
Aku mengangguk pelan. Dan beberapa detik setelahnya, justru aku yang mendadak kehilangan keberanian untuk mulai berbicara. Karena begitu lama aku menyimpan semuanya sendiri hingga rasanya aneh ketika akhirnya harus mengatakannya dengan suara keras.
“Aku…” Aku berhenti sejenak. “Pernikahanku tidak benar-benar berjalan baik.”
Jake tidak menyela. Dan itu membuatku sedikit lega. Aku menarik napas perlahan sebelum akhirnya mulai menceritakan semuanya. Tentang bagaimana Mason masih menjaga jarak dariku bahkan setelah kami menikah. Tentang kamar yang terpisah. Tentang honeymoon yang terasa seperti perjalanan dua orang asing. Tentang bagaimana aku terus mencoba memahami Mason sementara ia tetap sulit disentuh. Aku bahkan menceritakan malam di Santorini itu. Malam ketika keberanianku dihancurkan hanya dalam beberapa kalimat.
Jake diam cukup lama setelah aku selesai bicara. Rahangnya terlihat menegang. Dan itu langsung membuatku panik.
“Kau janji tidak akan marah,” kataku cepat.
“Aku tidak marah.”
“Kau terlihat ingin memukul seseorang.”
“Aku memang ingin melakukannya.”
Aku langsung menghela napas frustrasi. Dan Jake menatapku beberapa saat sebelum akhirnya mengusap wajahnya kasar. “Maaf.”
Aku tersenyum kecil tipis. “Aku tidak ingin kau membencinya,” kataku pelan.
Jake tertawa pendek tanpa humor. “Sulit untuk tidak membenci pria yang membuat adikku menangis.”
Aku menunduk diam.
“Apa kau mencintainya sebesar itu?” tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu membuatku terdiam cukup lama. Karena setelah semua yang terjadi, jawabannya tetap sama.
“Ya,” bisikku akhirnya.
Jake memandangku cukup lama. Lalu perlahan ekspresinya melunak. “Kalau begitu aku akan mencoba mengerti.”
Aku menggigit bibir bawahku pelan, berusaha menahan rasa hangat di mata. “Aku tidak tahu harus bagaimana lagi,” kataku lirih. “Aku merasa seperti terus berjalan sendirian.”
Jake menghela napas panjang sebelum bersandar ke kursinya lagi.
“Dengar.” Suaranya kali ini jauh lebih lembut. “Aku tidak akan menyuruhmu meninggalkannya sekarang.”
Aku menatapnya pelan. “Karena aku tahu kau tidak akan mau melakukannya.”
Dadaku terasa sesak mendengar kalimat itu. Dan Jake mengenalku terlalu baik.
“Tapi Hazel…” Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Jangan kehilangan dirimu sendiri hanya karena terlalu mencintai seseorang.”
Aku diam.
“Hubungan tidak bisa dijalani sendirian. Kau boleh berusaha. Kau boleh sabar. Tapi jangan sampai semua beban hanya ada di pundakmu.”
Aku menunduk pelan sambil menggenggam jemariku sendiri.
“Kadang aku berpikir… mungkin aku memang tidak cukup untuknya.”
Jake langsung menggeleng tegas. “Jangan pernah mengatakan itu lagi.”
Aku terdiam.
“Masalahnya bukan kau tidak cukup.” Tatapannya lurus padaku. “Masalahnya Mason belum tahu bagaimana cara membuka hatinya.”
Aku menggigit bibirku pelan.
“Dan kalau dia sebodoh itu, sampai tidak bisa melihat betapa berharganya kau…” Jake berhenti sejenak. “Itu kesalahannya. Bukan kesalahanmu.”
Untuk beberapa detik aku tidak bisa bicara. Karena kalimat sederhana itu terasa terlalu hangat setelah begitu lama aku terus menyalahkan diriku sendiri.
“Aku hanya lelah,” bisikku akhirnya.
Jake tersenyum kecil tipis. “Aku tahu.”
Tidak lama setelah itu, pelayan datang mengantarkan makanan kami, membuat percakapan berhenti sejenak. Namun suasana di antara kami tidak lagi setegang sebelumnya.
Jake mulai bercerita tentang pekerjaannya. Tentang betapa menyebalkannya salah satu kliennya minggu ini. Dan aku mulai tertawa lagi seperti dulu. Rasanya aneh. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bisa tertawa tanpa harus memikirkan sesuatu.
Lalu, saat makan siang hampir selesai, Jake kembali menatapku serius. “Aku akan menepati janjiku,” katanya. “Aku tidak akan mengatakan apa pun pada siapa pun, termasuk Ayah dan Ibu.”
Aku mengangguk pelan.
“Tapi kau juga harus janji sesuatu padaku.” ucapnya.
“Apa?”
“Kalau suatu hari nanti semuanya menjadi lebih buruk…” Tatapannya berubah sangat serius. “Kau harus cerita padaku.”
Dadaku terasa hangat. Aku tersenyum kecil lalu mengangguk. “Janji.”
Jake akhirnya mengulurkan tangannya ke arahku. Dan seperti anak kecil, aku membalasnya dengan menggenggam tangannya erat.
“Bagaimanapun,” katanya sambil tersenyum tipis, “kau tetap adik kecilku.”
Aku tertawa pelan sambil menggeleng. Namun di balik tawaku, ada sesuatu di dalam dadaku yang perlahan terasa lebih ringan. Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi merasa benar-benar sendirian.
lebih baik di cinta dari pada mencintai mencintai seorang diri tuh cape ya kalau kamu ikhlas di madu ya ga papa sih zel cinta level dewa
kalau bisa jangan kembali ke rumah itu biarkan mereka bahagia cinta level dewa kalau kembali cintamu level kacrut 🤭
betul" nih kamu zel muka tembok hati bebal orang ga cinta kamu paksa
gumussss aku
mungkin suatu saat nanti mason ada hati ke kamu untuk sekarang mundur lah ihhhj ga ada harga diri memaksa