NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Mulai lagi Lemesnya

...

Suasana di dalam kamar rawat VIP nomor 402 berangsur-angsur sedikit lebih tenang setelah melewati ketegangan subuh tadi. Atas bujukan lembut dari Pamela, Papa Zidan akhirnya bersedia membiarkan perawat memasang kembali selang infus dan bersedia menelan beberapa sendok bubur halus beserta obat-obatan penunjang jantungnya. Setelah tenaganya pulih pasca-kritis, pria tua itu kembali tertidur lelap, menyisakan dengus napas yang teratur di bawah kawalan mesin pendeteksi yang berbunyi ritmis.

Waktu merambat lambat hingga matahari kini telah tegak lurus di atas langit pusat kota, memancarkan hawa terik siang hari yang menyengat menembus sela-sela gorden kaca jendela kamar sakit.

Pamela masih duduk setia di kursi kayu samping ranjang, kedua tangannya tidak pernah lepas dari genggaman jemari kecil Ryan dan Riana yang ikut tertidur lelap dengan posisi meringkuk di sofa panjang dekat ranjang kakek mereka. Wajah manis Pamela tampak sangat kuyu. Dia belum sempat menyentuh air minum sejak turun dari mobil sport Zidan tadi pagi, ditambah lagi tenaganya terkuras habis untuk menenangkan anak-anak yang histeris.

Kruuuk...

Sebuah bunyi halus dari perut mungil Riana memecah kesunyian kamar. Anak perempuan itu menggeliat pelan, membuka sepasang matanya yang masih sembap dan kemerahan. Dia mendongak, menatap Pamela dengan pandangan mata yang sayu dan manja.

"Mama... Riana lapar," cicit Riana sambil mengucek matanya, meremas pelan ujung sweter krem yang dikenakan Pamela. "Dari kemarin sore Riana belum makan nasi, cuma makan roti. Perut Riana sakit, Ma..."

Mendengar keluhan anaknya, hati Pamela seketika terenyuh. Rasa bersalah sebagai seorang ibu mencuat di dadanya. Dia mengusap rambut panjang Riana dengan penuh kelembutan. "Iya, Sayang. Sebentar ya, Mama carikan makanan untuk Riana dan Abang Ryan."

Tepat saat Pamela hendak bangkit berdiri, pintu kamar rawat VIP terbuka lebar. Seorang petugas katering rumah sakit bintang lima masuk dengan mendorong sebuah troli besi beroda yang membawa aroma harum makanan mewah. Di belakangnya, Keysha melangkah masuk dengan gaya angkuh, memegang dua kantong plastik tambahan berisi minuman boba mahal dan camilan dari kafe ternama di lobi bawah.

"Nah, makanannya sudah datang, Ma!" seru Keysha dengan suara yang sengaja dikeraskan, mengabaikan fakta bahwa ayahnya baru saja tertidur.

Mama yang sejak tadi duduk bersandar di sofa sudut ruangan langsung menegakkan tubuhnya, wajah kuyunya mendadak berubah segar saat melihat deretan menu makan siang premium yang disajikan di atas meja saji tengah ruangan. Ada sup iga sapi yang mengepulkan uap gurih, ayam panggang mentega, hingga salmon panggang kesukaannya.

"Wah, pas sekali. Mama sudah gemetaran karena lapar dari subuh tadi," ucap Mama sambil berjalan mendekati meja, langsung mengambil piring porselen putih tanpa memedulikan hal lain.

Keysha sibuk menata piring-piring itu, lalu memanggil kedua keponakannya. "Ryan, Riana, ayo sini makan! Tante Keysha sudah pesankan menu anak-anak, ada chicken nugget sama kentang goreng keju kesukaan kalian. Ayo buruan sini!"

Ryan yang baru saja terbangun karena mendengar suara adiknya, langsung turun dari sofa bersama Riana. Namun, alih-alih langsung berlari ke meja makan seperti biasanya, kedua anak kembar itu justru kompak menggandeng erat kedua tangan Pamela, menarik ibunya agar ikut berjalan bersama mereka.

"Mama ikut... Mama harus duduk di samping Ryan. Ryan mau disuapi Mama," pinta Ryan dengan mata bulatnya yang penuh harap.

Pamela tersenyum tipis, membiarkan tubuhnya dituntun oleh kedua anaknya mendekati meja makan saji yang dipenuhi makanan mewah tersebut.

Namun, begitu Pamela berdiri di dekat meja, pergerakan tangan Keysha yang sedang membagikan sendok dan garpu mendadak berhenti. Mantan Adik iparnya itu mendongak, menatap Pamela dengan pandangan mata yang teramat dingin, sinis, dan dipenuhi dengan sisa-sisa kesombongan yang menolak mati.

"Eh, tunggu dulu," desis Keysha dengan nada suara yang sengaja diatur agar terdengar ketus. Dia menarik kembali dua piring kosong yang tersisa ke arah dadanya. "Kak Pamela... maaf ya. Porsi makanan yang kami pesan ini pas-pasan, cuma untuk Mama, aku, Zidan, sama anak-anak. Kami sama sekali gak pesan porsi tambahan."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Keysha, telanjang tanpa ada rasa sungkan sedikit pun.

Pamela tertegun sesaat, namun ekspresi wajahnya tetap datar bagai air di dalam sumur tua. Sifat dingin yang kini membeku di dalam batinnya membuat dia tidak lagi merasa terkejut dengan kekerasan emosional verbal yang dilakukan oleh mantan adik iparnya ini.

Mama yang sedang mengunyah sepotong daging iga sapi ikut menimpali tanpa menoleh, suaranya terdengar meremehkan dari balik sendok peraknya. "Benar kata Keysha. Lagipula, kamu kan ke sini cuma berniat menjenguk Papa seadanya, bukan tamu resmi keluarga Arkatama lagi. Kalau kamu lapar, di luar rumah sakit ini banyak warung tenda pinggir jalan yang harganya murah, sesuai sama saku orang kampung pantai tempat tinggalmu sekarang. Jangan berharap bisa ikut menikmati fasilitas VIP kami setelah kamu nekat minta cerai sepihak."

Kata-kata penuh penghinaan itu kembali mengudara di dalam ruangan, meracuni atmosfer yang baru saja sempat menghangat. Penyesalan keluarga yang sempat mereka tangisi semalaman seolah lenyap tertutup oleh rasa gengsi dan dendam karena Pamela telah berani meruntuhkan takhta harga diri Zidan di pengadilan sepihak kemarin. Mereka ingin membalas dendam, ingin menunjukkan bahwa tanpa uang keluarga Arkatama, Pamela bukanlah siapa-siapa dan tidak layak mendapatkan setitik pun kemewahan, bahkan untuk urusan sesuap nasi siang hari.

Ryan dan Riana yang meskipun masih kecil, bisa merasakan ketegangan dan nada kasar dari ucapan bibi dan nenek mereka. Riana langsung cemberut, matanya kembali berkaca-kaca karena ketakutan, sementara Ryan mencengkeram sweter Pamela lebih erat.

"Tante Keysha jahat! Ryan gak mau makan kalau Mama gak dikasih makan!" teriak Ryan tiba-tiba dengan emosi anak kecilnya yang meledak, menepis kotak berisi kentang goreng di dekatnya hingga isinya berhamburan di atas lantai.

"Ryan! Jangan kurang ajar ya sama Tante!" bentak Keysha, wajahnya memerah karena kesal mainannya ditolak oleh keponakannya sendiri.

"Sudah, Ryan... Riana... jangan menangis," potong Pamela dengan suara yang teramat lembut namun memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menenangkan kedua anaknya. Dia berlutut di depan kedua anaknya, mengusap air mata mereka dengan jemarinya yang tenang. Jiwa seorang ibu di dalam diri Pamela menolak untuk memperlihatkan luka di depan buah hatinya.

Pamela mendongak, menatap Keysha dan Mama mertuanya bergantian dengan pandangan mata yang sangat datar, kosong, dan sedingin hamparan salju di musim dingin. Tidak ada kemarahan, tidak ada dendam yang berkobar di matanya. Hanya ada sebuah kehampaan yang teramat pekat tatapan yang justru membuat Keysha mendadak merasa merinding dan salah tingkah sendiri.

"Kalian tidak perlu khawatir," ucap Pamela tenang, suaranya terdengar begitu renyah namun menusuk ulu hati siapa pun yang mendengarnya. "Sejak tujuh tahun lalu, saya sudah terbiasa memakan sisa makanan kalian di dapur rumah besar setelah kalian selesai berpesta. Jadi, melihat kalian tidak menyediakan makanan untuk saya hari ini... sama sekali tidak mengejutkan bagi saya. Selera makan saya tidak semurah itu untuk mengemis pada makanan yang dibeli dari uang kesombongan kalian."

Pamela berdiri kembali, menegakkan punggungnya dengan penuh harga diri yang merdeka. Dia menatap kedua anaknya dengan senyuman termanisnya. "Ayo, Ryan, Riana... ikut Mama ke kantin bawah. Mama yang akan belikan makanan yang jauh lebih enak dan berkah untuk kalian. Kita makan bertiga, ya?"

"Mau, Ma! Ryan mau makan sama Mama saja!" jawab Ryan cepat, langsung menghapus air matanya.

Saat Pamela hendak menuntun kedua anaknya keluar dari kamar rawat, pintu kamar kembali terbuka dengan sentakan agak keras.

Zidan berdiri di ambang pintu dengan napas yang sedikit memburu. Pria itu baru saja kembali dari mengurus administrasi dan menebus obat tambahan di apotek pusat. Begitu dia melangkah masuk, pandangan matanya langsung menangkap pemandangan kentang goreng yang berserakan di lantai, wajah ketus Keysha, dan Pamela yang sedang menuntun kedua anaknya pergi dengan tatapan yang teramat dingin.

"Ada apa ini?!" tuntut Zidan dengan suara baritonnya yang berat, aura dinginnya seketika menekan seluruh ruangan.

"Ini loh, Kak Zidan! Mantan istrimu itu sombong banget! Sudah bagus dikasih numpang di sini buat nemenin anak-anak makan, malah sengaja mau bawa anak-anak keluar ke kantin kumuh di bawah! Gak tahu diri banget!" adu Keysha terburu-buru, mencoba mencari pembelaan dari kakaknya yang narsis.

Namun, Zidan tidak bodoh. Instingnya langsung bekerja saat melihat meja saji yang hanya berisi empat pasang alat makan tanpa ada jatah untuk Pamela. Sifat narsisnya yang dulu selalu mengabaikan hal-hal kecil seperti ini, siang ini mendadak runtuh digantikan oleh sebuah hantaman rasa bersalah yang teramat perih di dalam dadanya.

Dia teringat bagaimana dulu di rumah mewah mereka, Pamela selalu menunggunya pulang hingga larut malam hanya untuk makan malam bersama, sementara dia sering pulang dalam keadaan kenyang setelah makan mewah dengan Karina, membiarkan masakan Pamela mendingin dan terbuang sia-sia. Dan kini, di depan matanya sendiri, keluarganya kembali mengulangi kekejaman emosional yang sama di saat wanita itu sudah rela datang jauh-jauh demi menyelamatkan nyawa ayahnya.

Zidan menatap ibunya dan Keysha dengan sepasang mata yang merah, memancarkan amarah yang teramat pekat dan dingin hingga membuat adiknya seketika bungkam ketakutan.

"Keysha... Mama..." suara Zidan terdengar begitu rendah dan bergetar menahan gejolak emosi di dadanya. "Siapa yang memberi kalian hak untuk mengatur siapa yang boleh makan di dalam ruangan ini, hah?! Sialan!"

Zidan melangkah lebar, mengabaikan teriakan ibunya. Dia berjalan cepat mengejar langkah kaki Pamela yang sudah berada di koridor rumah sakit, hatinya didera oleh alur lambat penyesalan yang kian mengiris-iris sisa kewarasannya sebagai seorang pria yang telah kehilangan wanita paling berharga dalam hidupnya.

...

1
Ma Em
Pamela setelah papa mantan mertuamu mendingan lbh baik pulang tinggalkan manusia2 yg tdk tau diri itu sekarang mantan mertuamu yg sakit bkn urusan Pamela lagi , lbh baik Pamela kerja yg giat agar nanti kehidupan Pamela bisa berubah menjadi lbh baik .
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!