Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.
Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.
Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.
Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Membagi Tugas
...
Matahari pagi di pesisir pantai terbit dengan membawa kehangatan yang perlahan mengusir sisa-sisa kabut malam. Di lantai bawah Kedai "Selasih", aroma panggangan roti srikaya dan seduhan kopi hitam mulai menguar, memenuhi udara yang bersih.
Pamela sudah berdiri di balik meja konter sejak pukul tujuh pagi, mengenakan celemek kain sederhana berwarna cokelat gelap. Rambut panjangnya yang biasa tergerai kini diikat rapi ke belakang, mengekspos leher jenjangnya dan gurat-gurat kelelahan yang masih membekas di wajah manisnya tanpa riasan.
Hari ini kedai cukup ramai oleh para pelancong dan warga lokal yang mencari sarapan. Tangan Pamela bergerak dengan telaten, menata cangkir-cangkir keramik, menuangkan pesanan kopi, dan sesekali mengantarkan nampan berisi makanan ke meja pelanggan. Senyuman tipis yang ramah selalu ia sunggingkan setiap kali menyapa pembeli.
Namun, di balik topeng profesionalitas itu, batin Pamela sebenarnya terasa sangat pilu.
Setiap kali melihat ada pelanggan yang datang membawa anak kecil seusia Ryan dan Riana, dada Pamela terasa seperti diremas tak kasat mata. Ingatan tentang tangisan histeris kedua anaknya di kantin rumah sakit kemarin siang kembali mencuat, menggores luka yang masih basah di lubuk hatinya. Ada rasa sesak yang tertahan di tenggorokan, memaksa Pamela berkali-kali menarik napas dalam-dalam di balik konter agar air matanya tidak kembali lolos di depan umum. Jiwanya merona perih, menahan kerinduan yang teramat pekat pada buah hatinya.
"Neng Pamela, ini pesanan meja nomor lima ya," panggil Joni dari arah dapur, meletakkan sepiring pisang goreng hangat.
"Iya, Jon. Terima kasih," jawab Pamela lembut. Dia memaksakan dirinya untuk tetap tegar. Langkah kakinya tetap tegak, berjalan mengitari kedai yang asri itu dengan ketetapan hati yang dingin. Dia tahu, ini adalah bagian dari alur lambat yang harus dia lalui demi membangun fondasi hidupnya yang baru, yang mandiri dan lepas dari bayang-bayang masa lalu.
Sementara itu, di waktu yang bersamaan di pusat kota, sebuah pemandangan yang teramat asing tengah terjadi di dalam rumah mewah keluarga Arkatama.
Kamar anak-anak yang biasanya diurus sepenuhnya oleh asisten rumah tangga atau ditinggal begitu saja oleh Zidan yang sibuk, pagi ini dipenuhi oleh deru kepanikan yang sunyi. Zidan berdiri di depan lemari pakaian Ryan dan Riana dengan kemeja kantor yang sudah setengah terkancing, namun dasinya masih menggantung lepas di leher. Wajah tampannya yang biasa dipenuhi keangkuhan narsis kini tampak kuyu dengan lingkaran hitam di bawah mata akibat terjaga semalaman.
Pria dingin itu sedang belajar. Belajar menjadi seorang ayah yang sesungguhnya sebuah peran yang selama tujuh tahun ini selalu dia sepelekan dan dia timpakan seluruh bebannya ke pundak Pamela.
"Papa... kancing baju Riana salah," cicit Riana dengan suara serak khas anak kecil yang baru bangun tidur. Dia berdiri di atas kasur sambil menatap seragam sekolahnya yang terpasang miring akibat tangan kaku Zidan yang tidak terbiasa memasang kancing kecil.
Zidan menghentikan gerakannya, menghela napas panjang untuk meredakan emosinya yang mulai tidak sabar. Sifat diktatornya di kantor sama sekali tidak berguna di hadapan tubuh mungil putrinya. Dia berlutut kembali di tepi ranjang, mencoba melepaskan kancing itu satu per satu dengan jemarinya yang besar dan gemetar, lalu memasangnya kembali dengan sisa-sisa kesabaran yang dia miliki.
"Maafkan Papa, Sayang. Sebentar ya... Papa perbaiki," bisik Zidan, suaranya terdengar serak dan rendah, sarat akan getaran penyesalan suami yang kian mengunci batinnya.
Setelah urusan seragam selesai, perjuangan Zidan belum usai. Di atas meja makan lantai bawah, sudah tersedia dua mangkuk sereal susu yang disiapkan oleh pelayan rumah. Zidan duduk di antara kedua anaknya, mencoba mengambil sendok dan menyuapi Riana yang masih tampak mogok makan karena merindukan ibunya.
"Ayo makan sedikit, Riana. Nanti perutnya sakit seperti kemarin," bujuk Zidan, menyodorkan sendok dengan tangan yang kaku.
Riana memalingkan wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Mau Mama... Biasanya Mama yang buatkan nasi goreng mentega. Riana gak mau sereal."
Hantaman rasa perih kembali meremukkan dada Zidan. Kata-kata itu sederhana, namun efeknya seperti kekerasan psikologis yang menghancurkan sisa harga dirinya. Dia teringat bagaimana dulu Pamela selalu bangun jam empat subuh hanya untuk memasak menu sarapan yang berbeda-beda setiap hari untuk mereka, sementara dia sering langsung pergi begitu saja tanpa mencicipi sedikit pun masakan istrinya karena terburu-buru menemui rekan bisnis atau Karina.
"Hari ini makan ini dulu ya? Nanti... nanti Papa belajar buatkan nasi goreng seperti buatan Mama," ucap Zidan dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Sifat narsisnya runtuh sepenuhnya pagi ini, digantikan oleh rasa putus asa seorang pria yang mulai menyadari betapa berantakannya hidup tanpa sosok wanita yang dulu dia buang sepihak.
Dengan sisa-sisa ketegaran yang dipaksakan, Zidan akhirnya berhasil membujuk anak-anaknya menghabiskan setengah dari makanan mereka. Pria itu kemudian mengikat sendiri tali sepatu sekolah Ryan mengingat mantan istrinya, meski hasilnya tampak tidak se rapi buatan Pamela.
Pukul setengah delapan pagi, mobil sport mewah milik Zidan membelah jalanan kota yang padat, berhenti tepat di depan gerbang sebuah sekolah dasar swasta internasional.
Zidan turun dari mobil, membukakan pintu penumpang, lalu menuntun kedua anak kembarnya berjalan menuju gerbang sekolah. Kehadiran sang CEO sukses yang biasanya hanya bisa dilihat di majalah bisnis atau televisi itu tentu saja menarik perhatian para orang tua murid dan guru-guru di sana. Namun, Zidan tidak memedulikan tatapan orang lain. Fokusnya murni tertuju pada dua pasang tangan mungil yang mencengkeram jemarinya.
"Belajar yang pintar ya, Ryan, Riana. Nanti siang Papa yang akan jemput kalian lagi," ucap Zidan sambil berjongkok di depan mereka, membetulkan letak tas punggung Ryan.
"Papa beneran jemput? Papa gak bohong karena sibuk kerja?" tanya Ryan dengan pandangan mata bulatnya yang sarat akan trauma pengabaian masa lalu.
Zidan menelan ludah yang terasa begitu pahit. Dia mengangguk pasti, memaksakan sebaris senyuman di wajah kuyunya. "Papa janji. Papa tidak akan terlambat."
Setelah melihat punggung kedua anaknya hilang di balik pintu kelas, Zidan kembali ke dalam mobilnya. Dia menyandarkan kepalanya pada setir kemudi, membiarkan keheningan kabin mobil menekannya dengan penyesalan keluarga yang kian pekat.
Separuh harinya dihabiskan untuk berlatih menjadi ayah yang bertanggung jawab, dan kini separuh harinya lagi harus dia habiskan di kantor untuk memimpin perusahaan besar yang mendadak terasa begitu hampa. hukum tabur tuai ini kini resmi mengikat hidup Zidan, di satu sisi ada Pamela yang berjuang tegar di tengah kepiluan hatinya di kedai asri, dan di sisi lain ada Zidan Arkatama yang dipaksa membagi tubuh dan pikirannya demi menebus setiap detik air mata yang pernah dia sia-siakan dulu.
...
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
masa orang kaya bodoh gitu
jangan diulang ulang
makasih
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜